Ada satu hal bahwa manusia tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Selalu meminta lebih dan lebih. Selalu saja merasa tak cukup dengan apa yang dimilikinya. Lupa bersyukur.
Makassar selalu saja membuatku merasa, aku tak ada apa-apanya dibanding yang lain. Membuatku untuk selalu ingat aku memiliki segala hal yang mereka tak punya. Setelah terakhir ke dokter ahli, hingga hari ini aku tak lagi menginjak rumah sakit. Pertama karena aku jengkel dengan pernyataan dokter itu tentang sakitku. Banyak menggunakan “mungkin” mungkin diabetes, mungkin hipokalsemia. Harus chek lab keseluruhan agar tahu hasilnya. Dan untuk chek lab biayanya tak sedikit, dan jumlah yang dibutuhkannya tak hanya seratus dua ratus ribu. Aku tak ingin menginjak rumah sakit itu lagi, menghabiskan tabunganku untuk sesuatu yang tak kuketahui hasilnya.
Salah satu hal yang menarik kukerjakan adalah jalan-jalan ke tempat yang aku sukai. Bukan pusat perbelanjaan atau tempat hiburan atau restoran mewah. Aku suka berkunjung ke daerah-daerah yang ditempati kaum urban dan miskin kota. Aku belajar pada anak-anak jalanan, pemulung atau siapapun.
Pada salah satu ruang itu aku akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki penyakit jauh lebih parah dariku.
Ketika aku sakit aku masih bisa mengakses rumah sakit dengan mudah, aku punya banyak teman yang bisa kutempati berkonsultasi. Aku punya banyak teman yang selalu bersedia menolongku ketika aku tak lagi mampu membayar biaya pengobatanku. Aku punya pengetahuan dan bisa mengakses dengan mudah tentang sakit yang kuderita. Aku bisa melakukan pencegahan, istirahat di saat aku membutuhkannya. Tapi tidak dengan mereka.
Kemarin sore ketika berkunjung ke rumah warga di Sekolah, salah satu di antara mereka mengatakan suaminya tak bisa membantu. Sedang sakit katanya. Batuk-batuk dan itu sejak lama, badannya semakin kurus demikian ibu itu cerita tentang kondisi suaminya. Ini bukan orang pertama yang kudengar batuk-batuk dan mengalami penurunan berat badan. Bulan lalu, ada kasus yang sama, bapaknya sudah berulang kali ke puskesmas, dan bahkan ke rumah sakit tapi tak sembuh-sembuh.
Itu bronchitis pikirku. Hal ini sangat mungkin terjadi. Warga di sekitar sekolah berprofesi sebagai pemulung. Mereka melakukannya setiap hari, kecuali libur. Mereka bekerja hingga tengah malam, dan tak jarang hingga subuh. Mereka harus mengangkut barang-barang itu dengan mendorong gerobak. Rumah mereka pun mendukung penyakit ini. Rumah dengan bahan-bahan yang tekah dibuang dan tak terpakai. Tripleks bekas, seng, spanduk bekas, kayu dan bamboo bekas sisa bangunan. Daerah yang lembab dan berair. Semua memungkin kan untuk sakit itu. Bronchitis lebih dikenal dengan paru-paru basah. Terjadi karena adanya infeksi pada paru-paru.
Mereka tak bisa mengakses kesehatan dengan mudah, walau sekarang telah ada jamkesda, jamkesmas tapi tak semua orang bisa mendapatkannya.
Lah, emosi saya jadi menanjak naik. Rasanya hendak marah. Marah sejak dulu program kesehatan untuk masyarakat miskin telah berganti-ganti namun tetap hasilnya sama. tidak bisa diakses sama semua orang.
Ah, sudahlah saya harus mengakhiri hari ini, mencari penenang agar emosi tetap stabil.
cahyalangit
Hidup ini indah...
Friday, May 25, 2012
Sunday, April 8, 2012
Ketika pilihan itu tak berobat medis
Sakit telah membuatku sangat produktif. Membuatku ingin menuliskan banyak hal, tentang setiap hal yang aku alami, atau orang lain rasakan.
Memilih berobat tak semudah yang kita pikirkan. Beberapa malam lalu aku menelpon seorang kawan. Ia juga sedang sakit. Bronchitis, bertahun-tahun ia mengidap penyakit itu, bertahun-tahun pula telah berobat. Penyakitnya lebih sering kambuh, seperti diriku, kelelahan sedikit akan membuat tubuh kami melemah dan drop.
Di telpon ia menasehatiku. Agar aku tak keras kepala. Agar aku berobat dengan baik, minum obat yang rajin, tak memakan makanan pantangan, mengurangi istirahat. Terakhir, ia memintaku pulang istirahat di Sengkang. Aku akan cepat sembuh katanya.
Aku tertawa dengan segala nasehatnya. Aku sangat tahu bagaimana ia keras kepala juga dengan penyakitnya. Baik sedikit akan membuatnya mencari aktifitas baru. Aku hanya bilang padanya tak usah menceramahiku kalau tak bisa melakukannya, hehehe…
Beberapa teman mengatakan aku keras kepala, sangat. Hingga seseorang memohon agar aku berobat dan harus sembuh. Apakah aku tak ingin sembuh?
Aku mengingat beberapa kasus yang pernah ada. Pak Kausang tukang becak yang masih mengayuh becaknya sampai sekarang, harus membiarkan besi yang berada di rongga mulutnya karena tak mamou membiayai operasi untuk membukanya. Aku lupa tahunnya, saat itu ramadhan ( ini ada pada salah satu bagian dari blog ini) pak kausang kena tikam oleh sesamanya tukang becak, karena kesalahpahaman. Pak Kausang sangat baik dan mahasiswa yang sering menggunakan becak, akan lebih memilih menumpangi becak beliau dibanding yang lain. Ini masalahnya. Mahasiswa membawanya ke rumah sakit Wahidin saat itu. beliau harus dioperasi karena rahangnya tertebas parang dan lukanya cukup parah.
Setelah operasi petugas menagih istrinya. Biaya berobatnya 2,5 juta. Istrinya yang buta tentu tak punya uang sebanyak itu. kepala keluarganya terkapar tak berdaya di rumah sakit. Bulan lalu, lewat pintu 2 UNHAS, aku bertemu dengan Pak Kausan, seperti biasa ia akan menghadiahiku senyum lebarnya. Kawat besi yang terpasang beberapa tahun lalu masih ada. Ketika menyinggungnya ia hanya tertawa. Aku tahu untuk membuka besi itu butuh jutaan rupiah. Setiap rupiah akan sangat berarti.
Kasus lain yang pernah terjadi, ketika bocah pemulung pingsan di fakultas ekonomi. Kawan-kawan pengurus Sekolah KAMI membawanya ke rumah sakit. Aku juga pernah menuliskannya di blog ini. Petugas pemerintah itu mengatakan uang 50ribu tak banyakji untuk mengurus KTP yang bisa digunakan untuk banyak hal. Hari itu aku bermaksud mengurus surat keterangan tidak mampu, agar bisa mengakses pengobatan gratis di Wahidin.
Selalu karena uang. Pilihan seseorang untuk mengakses pengobatan bukan karena tak ingin sembuh. Tapi terkadang ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekedar kata sehat. Pilihan untuk mengisi lambung tengah keluarga, untuk membayar biaya sekolah anak, pilihan untuk bertahan hidup.
Teringat juga kasus peristiwa kematian Dg. Basse, dan anaknya karena tak mampu lagi beli beras. Ah, hidup buat sebagian besar orang sangat kejam. Harus mati karena ketidakberesan system yang ada di Negara ini. Lalu teringat seorang kawan “ kita beli saja pulau itu dan kita buat Negara sendiri”.
tubuhku telah bersahabat kembali,hanya butuh senyum...
Memilih berobat tak semudah yang kita pikirkan. Beberapa malam lalu aku menelpon seorang kawan. Ia juga sedang sakit. Bronchitis, bertahun-tahun ia mengidap penyakit itu, bertahun-tahun pula telah berobat. Penyakitnya lebih sering kambuh, seperti diriku, kelelahan sedikit akan membuat tubuh kami melemah dan drop.
Di telpon ia menasehatiku. Agar aku tak keras kepala. Agar aku berobat dengan baik, minum obat yang rajin, tak memakan makanan pantangan, mengurangi istirahat. Terakhir, ia memintaku pulang istirahat di Sengkang. Aku akan cepat sembuh katanya.
Aku tertawa dengan segala nasehatnya. Aku sangat tahu bagaimana ia keras kepala juga dengan penyakitnya. Baik sedikit akan membuatnya mencari aktifitas baru. Aku hanya bilang padanya tak usah menceramahiku kalau tak bisa melakukannya, hehehe…
Beberapa teman mengatakan aku keras kepala, sangat. Hingga seseorang memohon agar aku berobat dan harus sembuh. Apakah aku tak ingin sembuh?
Aku mengingat beberapa kasus yang pernah ada. Pak Kausang tukang becak yang masih mengayuh becaknya sampai sekarang, harus membiarkan besi yang berada di rongga mulutnya karena tak mamou membiayai operasi untuk membukanya. Aku lupa tahunnya, saat itu ramadhan ( ini ada pada salah satu bagian dari blog ini) pak kausang kena tikam oleh sesamanya tukang becak, karena kesalahpahaman. Pak Kausang sangat baik dan mahasiswa yang sering menggunakan becak, akan lebih memilih menumpangi becak beliau dibanding yang lain. Ini masalahnya. Mahasiswa membawanya ke rumah sakit Wahidin saat itu. beliau harus dioperasi karena rahangnya tertebas parang dan lukanya cukup parah.
Setelah operasi petugas menagih istrinya. Biaya berobatnya 2,5 juta. Istrinya yang buta tentu tak punya uang sebanyak itu. kepala keluarganya terkapar tak berdaya di rumah sakit. Bulan lalu, lewat pintu 2 UNHAS, aku bertemu dengan Pak Kausan, seperti biasa ia akan menghadiahiku senyum lebarnya. Kawat besi yang terpasang beberapa tahun lalu masih ada. Ketika menyinggungnya ia hanya tertawa. Aku tahu untuk membuka besi itu butuh jutaan rupiah. Setiap rupiah akan sangat berarti.
Kasus lain yang pernah terjadi, ketika bocah pemulung pingsan di fakultas ekonomi. Kawan-kawan pengurus Sekolah KAMI membawanya ke rumah sakit. Aku juga pernah menuliskannya di blog ini. Petugas pemerintah itu mengatakan uang 50ribu tak banyakji untuk mengurus KTP yang bisa digunakan untuk banyak hal. Hari itu aku bermaksud mengurus surat keterangan tidak mampu, agar bisa mengakses pengobatan gratis di Wahidin.
Selalu karena uang. Pilihan seseorang untuk mengakses pengobatan bukan karena tak ingin sembuh. Tapi terkadang ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekedar kata sehat. Pilihan untuk mengisi lambung tengah keluarga, untuk membayar biaya sekolah anak, pilihan untuk bertahan hidup.
Teringat juga kasus peristiwa kematian Dg. Basse, dan anaknya karena tak mampu lagi beli beras. Ah, hidup buat sebagian besar orang sangat kejam. Harus mati karena ketidakberesan system yang ada di Negara ini. Lalu teringat seorang kawan “ kita beli saja pulau itu dan kita buat Negara sendiri”.
tubuhku telah bersahabat kembali,hanya butuh senyum...
Saturday, April 7, 2012
Katanya Hipertiroid
Keesokan hari setelah mendengar perawat itu mengatakan kadar tiroid dalam darahku cukup tinggi, aku menelpon kakakku. Aku tak hendak membuat mereka cemas, tapi masalah lainnya, aku tak ingin mereka salah paham karena hasil kerjaku kuhabiskan tanpa tersisa.
Dua minggu lalu pangeran dan putri kecil dalam keluargaku sakit dan harus melakukan rawat inap. Aku menanyakan kabar keduanya. Sekarang mereka telah kembali ceria dan bermain. Berat badannya juga mulai naik, tak sekurus waktu sakit kemarin. Aku selalu merindukan pangeran kecil, yang akan memeluk erat dan memberikan ciuman pada kedua pipiku sambil bertanya “apa bawakanka mu ninni?” bocah cilik yang menggemaskan dan tak berhenti bertanya.
Keduanya sedang asyik menonton, mereka tak akan bisa diganggu kalau sedang serius. Aku menceritakan sakitku pada kakak ketigaku. Ia kaget, dan mengatakan kenapa tubuhku tak sehat lagi. Aku hanya tertawa, dan berkata Tuhan sangat menyayangiku, hingga ia selalu memberiku ujian.
Aku mengenal 3 orang yang terkena penyakit hipertiroid. Dua diantara mereka telah dioperasi. Salah seorang bernama baderiah. Ia menderita hipertiroid sejak puluhan tahun lalu. 15 tahun sebelumnya ia melakukan operasi pengangkatan kelenjar gondok yang berlebih, tapi operasi itu sepertinya tak berjalan sempurna, dan dokter memang telah member peringatan sebelumnya, jika 10 atau 15 tahun kedepan kemungkinan benjolan itu akan hadir lagi, dan tak bisa diprediksi akan muncul dimana. Seorang ibu yang telah berbahagia bersama anak-anaknya, dan sekarang ia menetap di Kalimantan setelah kepergian suaminya. Terakhir dia pulang ke sengkang , aku melihat benjolan di kepalanya, tepat di dahinya. Itu telah ada sejak beberapa tahun terakhir. Ibu tak lagi melakukan operasi ia tak mau membuang uang anak-anaknya untuk sesuatu yang akan berulang kembali.
Perempuan kedua yang kukenal adalah tanteku sendiri. Beliau saudara sepupu kedua orang tuaku. Tanteku tak bisa lagi bekerja. Ia juga pernah dioperasi dengan menggunakan kartu jamkesmas, namun setelah operasi bukan kesembuhan yang didapatnya, tapi masih saja tetap sakit dan lemah. Aku kadang merasa sedih karenanya, walau kami tak pernah dekat. Tanteku belum menikah dan ia hidup dirumah salah satu saudaranya. Tanteku menjadi lebih sering sakit, malah bertambah parah dibandingkan sebelum ia melakukan operasi pengangkatan kelenjar tiroid itu.
Perempuan ketiga adalah tetanggaku. Hingga saat ini kelebihan hormone tiroid itu tetap bertengger dilehernya dengan diameter yang terus bertambah. Ah, aku melihat mereka. Aku merasakan sakit mereka. Aku yang tak mempunyai benjolan dileher saja sangat pusing dan terbebani, apalagi mereka yang puluhan tahun menderita penyakit ini.
hipertiroid adalah penyakit yang disebutkan karena system metabolism dalam tubuh tak berjalan dengan baik. Sehingga pengeluaran hormon tiroid sangat berlebih. Aku telah bercerita tentang gejala sakit yang kurasakan, namun aku belum mendapatkannya dari dokter. Waktu kerumah sakit kemarin, setelah bertanya ke perawat keberadaan dokternya ia mengiyakan dan memintaku langsung mendaftar setelah melihat hasil lab yang ada ditanganku, katanya kadar hormon tiroidku cukup tinggi. Aku melakukan prosedur itu, dan menunggu beberapa saat. Namun setelah bertanya kembali doker itu ternyata tidak ada ditempat. Dan aku memilih meninggalkan rumah sakit saat itu.
sakit tak selalu membuat kita benar-benar sakit. Secara fisik akan ada perubahan pada daya tahan tubuh. Aku sudah bercerita banyak tentang rasa sakit yang aku alami, tapi sakit bisa saja menjadi anugrah. Membuatku belajar banyak hal. Sakit membuat aku menyadari bagaimana sehat itu sangat berharga. Sakit membuatku tahu bagaimana orang-orang yang ada didekatku sangat peduli. Sakit membuatku belajar, bahwa Negara telah memiskinkan rakyatnya.
Untuk menjadi sehat, ketika seorang menderita sebuah penyakit membutuhkan biaya yang tak sedikit. Butuh jutaan, puluhan bahkan mungkin ratusan juta. Untuk sesuatu yang bernama kesehatan, dan orang akan membelinya, meski setelah itu akan memiskinkan dirinya. Bertanggung jawabkah pemerintah pada hal ini?
Ada hal lain, pada kondisi tubuh yang fit, aku bisa memberi ceramah pada banyak orang, pada kawan-kawanku yang sakit, bagaimana mengubah pola hidup agar cepat sembuh. Tapi aku tak sadar ada banyak factor ketika seseorang memilih berobat atau tidak.
pada akhirnya sakit mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur, dan sakit itu hanya ketakutan yang melemahkan tubuh kita.
Dua minggu lalu pangeran dan putri kecil dalam keluargaku sakit dan harus melakukan rawat inap. Aku menanyakan kabar keduanya. Sekarang mereka telah kembali ceria dan bermain. Berat badannya juga mulai naik, tak sekurus waktu sakit kemarin. Aku selalu merindukan pangeran kecil, yang akan memeluk erat dan memberikan ciuman pada kedua pipiku sambil bertanya “apa bawakanka mu ninni?” bocah cilik yang menggemaskan dan tak berhenti bertanya.
Keduanya sedang asyik menonton, mereka tak akan bisa diganggu kalau sedang serius. Aku menceritakan sakitku pada kakak ketigaku. Ia kaget, dan mengatakan kenapa tubuhku tak sehat lagi. Aku hanya tertawa, dan berkata Tuhan sangat menyayangiku, hingga ia selalu memberiku ujian.
Aku mengenal 3 orang yang terkena penyakit hipertiroid. Dua diantara mereka telah dioperasi. Salah seorang bernama baderiah. Ia menderita hipertiroid sejak puluhan tahun lalu. 15 tahun sebelumnya ia melakukan operasi pengangkatan kelenjar gondok yang berlebih, tapi operasi itu sepertinya tak berjalan sempurna, dan dokter memang telah member peringatan sebelumnya, jika 10 atau 15 tahun kedepan kemungkinan benjolan itu akan hadir lagi, dan tak bisa diprediksi akan muncul dimana. Seorang ibu yang telah berbahagia bersama anak-anaknya, dan sekarang ia menetap di Kalimantan setelah kepergian suaminya. Terakhir dia pulang ke sengkang , aku melihat benjolan di kepalanya, tepat di dahinya. Itu telah ada sejak beberapa tahun terakhir. Ibu tak lagi melakukan operasi ia tak mau membuang uang anak-anaknya untuk sesuatu yang akan berulang kembali.
Perempuan kedua yang kukenal adalah tanteku sendiri. Beliau saudara sepupu kedua orang tuaku. Tanteku tak bisa lagi bekerja. Ia juga pernah dioperasi dengan menggunakan kartu jamkesmas, namun setelah operasi bukan kesembuhan yang didapatnya, tapi masih saja tetap sakit dan lemah. Aku kadang merasa sedih karenanya, walau kami tak pernah dekat. Tanteku belum menikah dan ia hidup dirumah salah satu saudaranya. Tanteku menjadi lebih sering sakit, malah bertambah parah dibandingkan sebelum ia melakukan operasi pengangkatan kelenjar tiroid itu.
Perempuan ketiga adalah tetanggaku. Hingga saat ini kelebihan hormone tiroid itu tetap bertengger dilehernya dengan diameter yang terus bertambah. Ah, aku melihat mereka. Aku merasakan sakit mereka. Aku yang tak mempunyai benjolan dileher saja sangat pusing dan terbebani, apalagi mereka yang puluhan tahun menderita penyakit ini.
hipertiroid adalah penyakit yang disebutkan karena system metabolism dalam tubuh tak berjalan dengan baik. Sehingga pengeluaran hormon tiroid sangat berlebih. Aku telah bercerita tentang gejala sakit yang kurasakan, namun aku belum mendapatkannya dari dokter. Waktu kerumah sakit kemarin, setelah bertanya ke perawat keberadaan dokternya ia mengiyakan dan memintaku langsung mendaftar setelah melihat hasil lab yang ada ditanganku, katanya kadar hormon tiroidku cukup tinggi. Aku melakukan prosedur itu, dan menunggu beberapa saat. Namun setelah bertanya kembali doker itu ternyata tidak ada ditempat. Dan aku memilih meninggalkan rumah sakit saat itu.
sakit tak selalu membuat kita benar-benar sakit. Secara fisik akan ada perubahan pada daya tahan tubuh. Aku sudah bercerita banyak tentang rasa sakit yang aku alami, tapi sakit bisa saja menjadi anugrah. Membuatku belajar banyak hal. Sakit membuat aku menyadari bagaimana sehat itu sangat berharga. Sakit membuatku tahu bagaimana orang-orang yang ada didekatku sangat peduli. Sakit membuatku belajar, bahwa Negara telah memiskinkan rakyatnya.
Untuk menjadi sehat, ketika seorang menderita sebuah penyakit membutuhkan biaya yang tak sedikit. Butuh jutaan, puluhan bahkan mungkin ratusan juta. Untuk sesuatu yang bernama kesehatan, dan orang akan membelinya, meski setelah itu akan memiskinkan dirinya. Bertanggung jawabkah pemerintah pada hal ini?
Ada hal lain, pada kondisi tubuh yang fit, aku bisa memberi ceramah pada banyak orang, pada kawan-kawanku yang sakit, bagaimana mengubah pola hidup agar cepat sembuh. Tapi aku tak sadar ada banyak factor ketika seseorang memilih berobat atau tidak.
pada akhirnya sakit mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur, dan sakit itu hanya ketakutan yang melemahkan tubuh kita.
Tuesday, April 3, 2012
Asam urat, tak lagi mengenal usia
Dulu penyakit ini terjadi pada kalangan bangsawan. Keluarga yang terbiasa dengan makanan serba mewah dan mengandung kadar purin yang sangat tinggi seperti kaldu, daging, bebek, juga mengkonsumsi minuman beralkohol. Ini penyakit orang kaya kataku, setiap seseorang mengejekku karena sakit ini. Agak berat juga bercerita, apalagi setiap orang membayangkan penyakit ini terjadi hanya pada orang yang lanjut usia.
Umurku 26 tahun dan tentu saja orang berpikiran aku masih sangat muda untuk penyakit yang sangat mengganggu. Gout, demikian istilah lainnya. Penyakit yang menyerang sendi karena penumpukan purin disela-selanya. Selain factor genetic, kebiasaan makan dan pola hidup menjadi salah satu penyebabnya. Hal lain yang mungkin terjadi adalah pengeluaran asam urat dalam tubuh mengalami sedikit masalah. Tubuh kita mampu memproduksi 85% kebutuhan purin, sedangkan 15 %nya diperoleh dari makanan yang dikonsumsi.
Bertahun-tahun jauh dari orang tua, tinggal di kost dan kampus, terakhir di rumah hijau. Hidup tak benar-benar sehat, tapi paling tidak lebih baik dibandingkan waktu kuliah. Sejak selesai kuliah berat badanku tak bergerak banyak, sangat lambat. Padahal, urusan makan aku selalu mengutamakannya. Makan indomie semaksimal mungkin 2 bungkus perminggu, kecuali kalau keuanganku sedang sekarat. Tapi setahun terakhir aku lebih sering makan diluar, juga aku banyak mengkonsumsi sea food. Wilayah pesisir surganya makanan laut segar. Tak hanya di barru, berkunjung ke bulukumba pun aku akan dimanjakan dengan menu ini. Aku pencinta ikan, ikan laut maupun ikan air tawar. Aku juga menyukai segala jenis sayuran. Dan setiap ke daerah, semua akan memanjakanku dengan menu kesukaannku. Orang yang mengenalku dengan baik tentu menyediakan makanan-makanan itu untukku. Hubungan kerja yang kaku tak berlaku untukku, dibeberapa tempat aku menjadi bagian dari keluarga yang kutempati. Memperlakukanku seperti anak mereka sendiri. Aku selalu berbahagia karena itu. dimanapun, aku selalu berasa di rumah sendiri. Tak salah jika aku selalu mengatakan rumahku tak jelas dimana. Aku mempunyai rumah-rumah dimana-mana,hehehe…
Pertama kali kakiku membengkak di Barru, aku kebanyakan mengkonsumsi kerang dan ikan. Pulang ke sengkang pun etta akan menyediakan ikan bakar kesukaanku. Ketika aku mengatakan tak boleh memakannya, beliau tetap menyuruhku memakannya. Akhirnya kulakukan, mengingat usahanya untuk mendapatkan ikan segar itu untuk menyenangkanku. Ah, sudahlah, bicara makanan akan membuatku merindukan makanan itu.
Setiap tahu gejala aneh di tubuhku aku akan mencari informasinya di dunia maya. Aku akan memperhatikan selama beberapa minggu dan mendeteksi sendiri penyakitku. Waktu ke puskesmas, aku menceritakan tentang gejala penyakitku, dan dokter muda di puskesmas bisa ditemani diskusi. Aku telah mendeteksinya, dan dibuktikan dengan uji darah yang dilakukan dokter itu.
Beberapa hari kakiku bengkak dan panas, selain itu sangat nyeri dan menyakitkan. Malam hari aku terkadang tak mampu berjalan dan mengurung diri di kamar. Untuk makan dan minum aku harus minta tolong. Adikku yang menjadi perawatku.
Telah dua bulan aku melakukan diet ketat, bukan untuk menurunkan berat badanku, tapi hendak menaikkannya. Selain itu aku diet untuk menurunkan kadar asam urat dalam tubuhku agar bisa kembali ke angka normal. Ada juga sepupuku yang menderita penyakit ini, asam urat penyakit yang harus disembuhkan dengan pelan. Seperti halnya diriku, setelah mengetahui kadar asam urat dalam tubuhnya cukup tinggi, ia melakukan diet yang sangat ketat hingga kadar asam uratnya berada di angka 3 dalam waktu kurang dari sebulan. Masalah yang timbul, adalah kadar asam urat tak boleh diturunkan dengan drastic karena ia akan menjadi lebih sakit.
Aku jadi percaya pada konsep keseimbangan. Kalau dalam budaya cina dikenal ying dan yang. Tubuh kita juga harus menerima kadar yang secukupnya sesuai kebutuhan kita. Seorang teman yang juga menderita asam urat sepertiku berpesan agar aku tak menghindari semua makanan itu, tapi mengurangi porsinya, karena bagaimanapun tubuh membutuhkan semua elemen itu.
Keep fight…
Umurku 26 tahun dan tentu saja orang berpikiran aku masih sangat muda untuk penyakit yang sangat mengganggu. Gout, demikian istilah lainnya. Penyakit yang menyerang sendi karena penumpukan purin disela-selanya. Selain factor genetic, kebiasaan makan dan pola hidup menjadi salah satu penyebabnya. Hal lain yang mungkin terjadi adalah pengeluaran asam urat dalam tubuh mengalami sedikit masalah. Tubuh kita mampu memproduksi 85% kebutuhan purin, sedangkan 15 %nya diperoleh dari makanan yang dikonsumsi.
Bertahun-tahun jauh dari orang tua, tinggal di kost dan kampus, terakhir di rumah hijau. Hidup tak benar-benar sehat, tapi paling tidak lebih baik dibandingkan waktu kuliah. Sejak selesai kuliah berat badanku tak bergerak banyak, sangat lambat. Padahal, urusan makan aku selalu mengutamakannya. Makan indomie semaksimal mungkin 2 bungkus perminggu, kecuali kalau keuanganku sedang sekarat. Tapi setahun terakhir aku lebih sering makan diluar, juga aku banyak mengkonsumsi sea food. Wilayah pesisir surganya makanan laut segar. Tak hanya di barru, berkunjung ke bulukumba pun aku akan dimanjakan dengan menu ini. Aku pencinta ikan, ikan laut maupun ikan air tawar. Aku juga menyukai segala jenis sayuran. Dan setiap ke daerah, semua akan memanjakanku dengan menu kesukaannku. Orang yang mengenalku dengan baik tentu menyediakan makanan-makanan itu untukku. Hubungan kerja yang kaku tak berlaku untukku, dibeberapa tempat aku menjadi bagian dari keluarga yang kutempati. Memperlakukanku seperti anak mereka sendiri. Aku selalu berbahagia karena itu. dimanapun, aku selalu berasa di rumah sendiri. Tak salah jika aku selalu mengatakan rumahku tak jelas dimana. Aku mempunyai rumah-rumah dimana-mana,hehehe…
Pertama kali kakiku membengkak di Barru, aku kebanyakan mengkonsumsi kerang dan ikan. Pulang ke sengkang pun etta akan menyediakan ikan bakar kesukaanku. Ketika aku mengatakan tak boleh memakannya, beliau tetap menyuruhku memakannya. Akhirnya kulakukan, mengingat usahanya untuk mendapatkan ikan segar itu untuk menyenangkanku. Ah, sudahlah, bicara makanan akan membuatku merindukan makanan itu.
Setiap tahu gejala aneh di tubuhku aku akan mencari informasinya di dunia maya. Aku akan memperhatikan selama beberapa minggu dan mendeteksi sendiri penyakitku. Waktu ke puskesmas, aku menceritakan tentang gejala penyakitku, dan dokter muda di puskesmas bisa ditemani diskusi. Aku telah mendeteksinya, dan dibuktikan dengan uji darah yang dilakukan dokter itu.
Beberapa hari kakiku bengkak dan panas, selain itu sangat nyeri dan menyakitkan. Malam hari aku terkadang tak mampu berjalan dan mengurung diri di kamar. Untuk makan dan minum aku harus minta tolong. Adikku yang menjadi perawatku.
Telah dua bulan aku melakukan diet ketat, bukan untuk menurunkan berat badanku, tapi hendak menaikkannya. Selain itu aku diet untuk menurunkan kadar asam urat dalam tubuhku agar bisa kembali ke angka normal. Ada juga sepupuku yang menderita penyakit ini, asam urat penyakit yang harus disembuhkan dengan pelan. Seperti halnya diriku, setelah mengetahui kadar asam urat dalam tubuhnya cukup tinggi, ia melakukan diet yang sangat ketat hingga kadar asam uratnya berada di angka 3 dalam waktu kurang dari sebulan. Masalah yang timbul, adalah kadar asam urat tak boleh diturunkan dengan drastic karena ia akan menjadi lebih sakit.
Aku jadi percaya pada konsep keseimbangan. Kalau dalam budaya cina dikenal ying dan yang. Tubuh kita juga harus menerima kadar yang secukupnya sesuai kebutuhan kita. Seorang teman yang juga menderita asam urat sepertiku berpesan agar aku tak menghindari semua makanan itu, tapi mengurangi porsinya, karena bagaimanapun tubuh membutuhkan semua elemen itu.
Keep fight…
Tuesday, March 27, 2012
Menyusuri Pulau Panikiang
Azan Ashar baru saja berlalu, ketika kami meninggalkan sungai Madello. Kami sempat tertahan di pinggir pantai. Air masih surut, hingga harus menunggu pasang untuk menggerakkan perahu. Upaya Ilo dan Pak Kama, pemilik perahu untuk mendorongnya berakhir sia-sia. Beberapa ratus meter didepan kami, juga ada beberapa perahu yang terdiam. Mereka mengalami hal yang sama. Air hanya sebatas lutut.
Matahari perlahan menarik diri ketika air mulai meninggi. Dengan sebilah bambu Ilo, menggerakkan perahu. Pelan-pelan, akhirnya perahu bisa bergerak, menuju Pulau Panikiang. Pulau itu bisa dilihat dari Madello. Butuh 15 menit untuk sampai di pulau itu, pada batas normal air laut. air laut akan surut sejak pukul 14.00 hingga 17.00, sehingga waktu-waktu itu masyarakat akan mengeluarkan perahu sebelum waktu tersebut.
Awalnya Pulau Panikiang merupakan gusung, gundukan pasir putih, seiring waktu pasir tersebut bertambah menjadi daratan yang bentuknya memanjang. Pelan-pelan tanaman bakau mulai tumbuh. Pulau tersebut kemudian menjadi tempat persinggahan pa’belle. Mereka akan berdiam semalam di pulau tersebut, sambil menunggu hasil belle.
“Masyarakat awalnya takut berdiam di pulau ini, dulunya disini banyak nano . Kalau ada yang datang ke pulau ini mereka akan diambil oleh nano. Tahun 40an waktu jaman penjajahan belanda A.Mattalatta pernah sembunyi di Tembo’e, sebelah timurnya sudah ada rumah waktu itu. Saya sudah generasi keempat yang menghuni pulau ini.” demikian cerita Pak Abu Nawar kepala Kampung tentang sejarah awal Pulau tersebut.
Paniki berarti kelelawar. Pulau tersebut dihuni ribuan kelelawar. Kelelawar hitam dan coklat. Kelelawar hitam menurut cerita Pak Abu Nawar, yang juga biasa dipanggil Pak Buna, kelelawar berasal dari Kab.Soppeng. ketika kelelawar di Soppeng menghilang, mereka bermigrasi ke Pulau Panikiang. Kelelawar di Panikiang belum dilindungi. Terkadang ada orang luar yang datang dan menembak kelelawar. Ada juga orang-orang yang menjaringnya. Kelelawar hitam sudah berkurang, kembali ke Soppeng. Di Kabupaten Soppeng telah ada peraturan yang melarang menembak atau mengambil kelelawar, kecuali untuk alasan tertentu dan seizin aparat yang berwenang. Kelelawar oleh banyak masyarakat digunakan sebagai obat asma.
Menurut Pak Buna yang juga imam di Kampung tersebut , bahwa kelelawar hitam tak seperti kelelawar coklat. Kelelawar hitam akan mematuk buah dan daun mangrove hingga habis. Mereka tak suka bernaung dibalik rimbunya dedaunan,hingga terkadang membunuh mangrovenya. Beda dengan kelelawar coklat yang suka dengan daun-daun yang rimbun hingga tak menganggu pertumbuhan mangrove.
Bakau yang ada di Pulau Panikiang, sangat lebat. Ketika pulau tersebut mulai di huni ada dua orang tokoh masyarakat yang menanami pulau tersebut dengan mangrove. Pak Dalle menanami mangrove di Tembo’e, sedangkan Pak Salle, orang tua Pak Buna menanam di kampung Masigi (Mesjid). Bakau tersebut dulunya dimanfaatkan masyarakat sebagai kayu bakar, ada juga yang memanfaatkan sebagai arang, hasilnya mereka jual ke daratan. Setelah adanya larangan penebangan mangrove, pekerjaan penduduk pulau bergantung pada hasil tangkapan. Pernah sekali Kepala Kampung menebang pohon bakau yang dia tanam, namun mendapat peringatan dari Badan Dinas Lingkungan Hidup. Beliau sebelumnya tidak mengetahui adanya peraturan tersebut, hingga surat pemberitahuan tersebut disampaikan kepadanya.
Ada beberapa jenis bakau yang hidup didaerah tersebut. Rhizopora (bangko/bakau), Avicennia (api-api), sala-sala. pada tahun 60an buah sala-sala oleh penduduk pulau diolah menjadi makanan pengganti nasi. Sala’-sala’ mengandung karbohidrat.
“waktu itu sangat sulit mendapatkan nasi, jadi masyarakat kadang makan buah sala’-sala’, tapi sekarang masyarakat sudah tidak makan lagi. Susah sekali di olah. Harus dikukus dulu, baru dikeringkan, setelah itu dimasak seperti nasi” tutur Pak Buna.
“Sekarang tidak adami yang makan, sudah banyak beras dijual” tambahnya kemudian.
Profesi nelayan telah dilakoni masyarakat sejak dulu. Dari Pa’belle, menjaring ikan terbang, namun sekarang sebagian nelayan menangkap cumi-cumi hingga ke pangkep. Ada juga warga pendatang dari Mandar. Mereka bisa tinggal di pulau itu hingga 3 bulan. Anak dan istri mereka juga diikutsertakan. Mereka mengambil ikan dengan menombaknya. Untuk menombak ikan nelayan tersebut harus menyelam dikedalaman air. Mereka mendapatkan ikan baronang, yang sebagian besar dikirim ke Mandar untuk dijual. Dalam pengirimannya mereka harus membayar 30.000,- untuk setiap gabusnya.
“saya pulang pergiji ke Mandar. Disana juga tinggal dipulau sama seperti disini. Anak-anak ada disana juga” ujar Ibu Eda, ketika kami berbincang-bincang usai FGD dengan beberapa ibu-ibu. Ibu Eda sehari-hari melakukan pekerjaan rumah, mencuci, memasak, mengambil air disumur. Istri-istri nelayan dari Mandar tidak memiliki pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu lowong mereka. Salah satu alasannya juga karena mereka tak menetap di pulau tersebut.
Nelayan mandar awalnya hanya ada satu orang, namun karena hasil tangkapan disana, ikutlah beberapa keluarga. Mereka kemudian meminta izin pada kepala Kampung untuk membuat rumah di pulau tersebut. Rumah mereka, merupakan rumah-rumah kecil beratapkan daun nipah. Mereka pelan-pelan beradaptasi dengan masyarakat tetap yang menggunakan bahasa bugis.
Perempuan tanpa akses
Dalam forum FGD yang dilaksanakan, tim RCL Lemsa menggali informasi mengenai keseharian penduduk. Mereka masih malu-malu menjelaskan kehidupannya. Ibu Hadijah, seorang Janda tua hidup bersama anak perempuannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ibu Hadija mencari kerang. Ia satu-satunya pencari kerang di kampung tersebut.
“Tidak ada pekerjaan lain nak, jadi ini saja yang bisa dilakukan biar bisa makan” ujar Ibu Hadija.
Pernah juga ada tamu dari luar yang datang dan meminta dimasakkan Sala’-sala, namun sayangnya ibu Hasmawati yang memasaknya tak mencicipi sala’-sala tersebut. Penduduk Panikiang belum mengolah hasil dari hutan bakau. Parappa dan buah api-api juga banyak sekali disana. Hanya saja masyarakat tidak tahu bagaimana mengolahnya.
“oh, dimakan itu buah parappe?” tanya seorang ibu. Ibu-ibu di kampung tersebut, hampir tak memiliki aktivitas diluar pekerjaan rumahnya. Paling banyak masyarakat hanya memelihara itik atau ayam. Namun, kedua hewan piaraan tersebut tidak dapat berkembang biak dengan baik. pakan ayam dan itik masih mengandalkan dedak, yang sangat susah dipulau. Masalah lain yang diungkapkan peserta tersebut adalah susahnya air tawar di pulau tersebut. Satu-satunya sumber air dari sumur disamping mesjid.
“pagi-pagi kita harus berebut air, sedikit sekaliji air sumurnya. “ ujar iIbu Suhra, istri Pak Buna. untuk air minum, penduduk pulau harus mengambilnya di Takkalasi. “biasa juga kita bawa cucian kesana” tutur seorang Ibu peserta FGD.
Selain masalah air, persoalan kesehatan belum terjawab di pulau tersebut. Tidak adanya tenaga kesehatan yang tinggal di pulau tersebut, membuat perempuan mengalami kerentanan terhadap kondisi kesehatannya. Tak jarang perempuan harus melahirkan sebelum bidan desanya sampai di pulau.
“kalau mau imunisasi dan periksa kesehatan kita harus ke Madello” ujar Ibu hasmawati.
“bidan datang kesini kalau dipanggilpi, jadi kalau mau melahirkan biasa ditemani orang tuaji, kadang bayinya lahir duluan” tambahnya kemudian. Bayi yang baru lahir tak bisa langsung dibawa ke Madello untuk diperiksa ataupun pemberian imunisasi.
“nanti umur tiga bulan baru bayinya dibawa ke posyandu di Madello” ujar ibu Hasmawati. Akses untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatanpun sangat sulit. Ketika ada warga yang sakit mereka juga harus ke Madello untuk memeriksakan kesehatannya.
“dokter biasa datang, tapi setahun sekali. Kalau datang kita diperiksa semua dan tidak dibayarji” tambah seorang ibu peserta FGD.
Perempuan kampung Panikiang, masih sangat lugu, hidup untuk mendampingi suaminya. Dinas perikanan pernah membentuk kelompok perempuan, untuk membuat abon ikan, namun realisasinya belum ada hingga saat ini.
“dari bulan 3 dibentuk kelompoknya, tapi tidak pernahmi lagi datang itu orang perikanan.” Demikian seorang ibu bercerita. Satu-satunya kelompok di desa tersebut yang aktif adalah kelompok majlis ta’lim. Pada pembuatan kalender harian, sebagian ibu-ibu menghabiskan waktunya di siang.
Perempuan pulau yang tak mampu mandiri secara ekonomi, pun tak memiliki keterampilan akan mengalami kerentanan. Kerentanan tersebut terutama terjadi ketika suami atau laki-laki kepala kelurganya tak mampu lagi memberi nafkah. Ibu hadija menjadi potret masalah tersebut. Ketiadaan keterampilan dan akses membuatnya tak punya pilihan lain. Usia yang harusnya duduk tenang dirumah, tak bisa dirasakannya.
Beberapa Ibu terlihat mulai mengantuk, matahari diatas pulau. Tak lama lagi jemputan kami akan tiba. Ibu-ibu berpamitan. Pada pembuatan kalender harian tadi, mereka akan tidur siang. Aktivitas akan kembali dimulai sore nanti. Memasak dan mengurus anak-anak mereka.
Matahari perlahan menarik diri ketika air mulai meninggi. Dengan sebilah bambu Ilo, menggerakkan perahu. Pelan-pelan, akhirnya perahu bisa bergerak, menuju Pulau Panikiang. Pulau itu bisa dilihat dari Madello. Butuh 15 menit untuk sampai di pulau itu, pada batas normal air laut. air laut akan surut sejak pukul 14.00 hingga 17.00, sehingga waktu-waktu itu masyarakat akan mengeluarkan perahu sebelum waktu tersebut.
Awalnya Pulau Panikiang merupakan gusung, gundukan pasir putih, seiring waktu pasir tersebut bertambah menjadi daratan yang bentuknya memanjang. Pelan-pelan tanaman bakau mulai tumbuh. Pulau tersebut kemudian menjadi tempat persinggahan pa’belle. Mereka akan berdiam semalam di pulau tersebut, sambil menunggu hasil belle.
“Masyarakat awalnya takut berdiam di pulau ini, dulunya disini banyak nano . Kalau ada yang datang ke pulau ini mereka akan diambil oleh nano. Tahun 40an waktu jaman penjajahan belanda A.Mattalatta pernah sembunyi di Tembo’e, sebelah timurnya sudah ada rumah waktu itu. Saya sudah generasi keempat yang menghuni pulau ini.” demikian cerita Pak Abu Nawar kepala Kampung tentang sejarah awal Pulau tersebut.
Paniki berarti kelelawar. Pulau tersebut dihuni ribuan kelelawar. Kelelawar hitam dan coklat. Kelelawar hitam menurut cerita Pak Abu Nawar, yang juga biasa dipanggil Pak Buna, kelelawar berasal dari Kab.Soppeng. ketika kelelawar di Soppeng menghilang, mereka bermigrasi ke Pulau Panikiang. Kelelawar di Panikiang belum dilindungi. Terkadang ada orang luar yang datang dan menembak kelelawar. Ada juga orang-orang yang menjaringnya. Kelelawar hitam sudah berkurang, kembali ke Soppeng. Di Kabupaten Soppeng telah ada peraturan yang melarang menembak atau mengambil kelelawar, kecuali untuk alasan tertentu dan seizin aparat yang berwenang. Kelelawar oleh banyak masyarakat digunakan sebagai obat asma.
Menurut Pak Buna yang juga imam di Kampung tersebut , bahwa kelelawar hitam tak seperti kelelawar coklat. Kelelawar hitam akan mematuk buah dan daun mangrove hingga habis. Mereka tak suka bernaung dibalik rimbunya dedaunan,hingga terkadang membunuh mangrovenya. Beda dengan kelelawar coklat yang suka dengan daun-daun yang rimbun hingga tak menganggu pertumbuhan mangrove.
Bakau yang ada di Pulau Panikiang, sangat lebat. Ketika pulau tersebut mulai di huni ada dua orang tokoh masyarakat yang menanami pulau tersebut dengan mangrove. Pak Dalle menanami mangrove di Tembo’e, sedangkan Pak Salle, orang tua Pak Buna menanam di kampung Masigi (Mesjid). Bakau tersebut dulunya dimanfaatkan masyarakat sebagai kayu bakar, ada juga yang memanfaatkan sebagai arang, hasilnya mereka jual ke daratan. Setelah adanya larangan penebangan mangrove, pekerjaan penduduk pulau bergantung pada hasil tangkapan. Pernah sekali Kepala Kampung menebang pohon bakau yang dia tanam, namun mendapat peringatan dari Badan Dinas Lingkungan Hidup. Beliau sebelumnya tidak mengetahui adanya peraturan tersebut, hingga surat pemberitahuan tersebut disampaikan kepadanya.
Ada beberapa jenis bakau yang hidup didaerah tersebut. Rhizopora (bangko/bakau), Avicennia (api-api), sala-sala. pada tahun 60an buah sala-sala oleh penduduk pulau diolah menjadi makanan pengganti nasi. Sala’-sala’ mengandung karbohidrat.
“waktu itu sangat sulit mendapatkan nasi, jadi masyarakat kadang makan buah sala’-sala’, tapi sekarang masyarakat sudah tidak makan lagi. Susah sekali di olah. Harus dikukus dulu, baru dikeringkan, setelah itu dimasak seperti nasi” tutur Pak Buna.
“Sekarang tidak adami yang makan, sudah banyak beras dijual” tambahnya kemudian.
Profesi nelayan telah dilakoni masyarakat sejak dulu. Dari Pa’belle, menjaring ikan terbang, namun sekarang sebagian nelayan menangkap cumi-cumi hingga ke pangkep. Ada juga warga pendatang dari Mandar. Mereka bisa tinggal di pulau itu hingga 3 bulan. Anak dan istri mereka juga diikutsertakan. Mereka mengambil ikan dengan menombaknya. Untuk menombak ikan nelayan tersebut harus menyelam dikedalaman air. Mereka mendapatkan ikan baronang, yang sebagian besar dikirim ke Mandar untuk dijual. Dalam pengirimannya mereka harus membayar 30.000,- untuk setiap gabusnya.
“saya pulang pergiji ke Mandar. Disana juga tinggal dipulau sama seperti disini. Anak-anak ada disana juga” ujar Ibu Eda, ketika kami berbincang-bincang usai FGD dengan beberapa ibu-ibu. Ibu Eda sehari-hari melakukan pekerjaan rumah, mencuci, memasak, mengambil air disumur. Istri-istri nelayan dari Mandar tidak memiliki pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu lowong mereka. Salah satu alasannya juga karena mereka tak menetap di pulau tersebut.
Nelayan mandar awalnya hanya ada satu orang, namun karena hasil tangkapan disana, ikutlah beberapa keluarga. Mereka kemudian meminta izin pada kepala Kampung untuk membuat rumah di pulau tersebut. Rumah mereka, merupakan rumah-rumah kecil beratapkan daun nipah. Mereka pelan-pelan beradaptasi dengan masyarakat tetap yang menggunakan bahasa bugis.
Perempuan tanpa akses
Dalam forum FGD yang dilaksanakan, tim RCL Lemsa menggali informasi mengenai keseharian penduduk. Mereka masih malu-malu menjelaskan kehidupannya. Ibu Hadijah, seorang Janda tua hidup bersama anak perempuannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ibu Hadija mencari kerang. Ia satu-satunya pencari kerang di kampung tersebut.
“Tidak ada pekerjaan lain nak, jadi ini saja yang bisa dilakukan biar bisa makan” ujar Ibu Hadija.
Pernah juga ada tamu dari luar yang datang dan meminta dimasakkan Sala’-sala, namun sayangnya ibu Hasmawati yang memasaknya tak mencicipi sala’-sala tersebut. Penduduk Panikiang belum mengolah hasil dari hutan bakau. Parappa dan buah api-api juga banyak sekali disana. Hanya saja masyarakat tidak tahu bagaimana mengolahnya.
“oh, dimakan itu buah parappe?” tanya seorang ibu. Ibu-ibu di kampung tersebut, hampir tak memiliki aktivitas diluar pekerjaan rumahnya. Paling banyak masyarakat hanya memelihara itik atau ayam. Namun, kedua hewan piaraan tersebut tidak dapat berkembang biak dengan baik. pakan ayam dan itik masih mengandalkan dedak, yang sangat susah dipulau. Masalah lain yang diungkapkan peserta tersebut adalah susahnya air tawar di pulau tersebut. Satu-satunya sumber air dari sumur disamping mesjid.
“pagi-pagi kita harus berebut air, sedikit sekaliji air sumurnya. “ ujar iIbu Suhra, istri Pak Buna. untuk air minum, penduduk pulau harus mengambilnya di Takkalasi. “biasa juga kita bawa cucian kesana” tutur seorang Ibu peserta FGD.
Selain masalah air, persoalan kesehatan belum terjawab di pulau tersebut. Tidak adanya tenaga kesehatan yang tinggal di pulau tersebut, membuat perempuan mengalami kerentanan terhadap kondisi kesehatannya. Tak jarang perempuan harus melahirkan sebelum bidan desanya sampai di pulau.
“kalau mau imunisasi dan periksa kesehatan kita harus ke Madello” ujar Ibu hasmawati.
“bidan datang kesini kalau dipanggilpi, jadi kalau mau melahirkan biasa ditemani orang tuaji, kadang bayinya lahir duluan” tambahnya kemudian. Bayi yang baru lahir tak bisa langsung dibawa ke Madello untuk diperiksa ataupun pemberian imunisasi.
“nanti umur tiga bulan baru bayinya dibawa ke posyandu di Madello” ujar ibu Hasmawati. Akses untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatanpun sangat sulit. Ketika ada warga yang sakit mereka juga harus ke Madello untuk memeriksakan kesehatannya.
“dokter biasa datang, tapi setahun sekali. Kalau datang kita diperiksa semua dan tidak dibayarji” tambah seorang ibu peserta FGD.
Perempuan kampung Panikiang, masih sangat lugu, hidup untuk mendampingi suaminya. Dinas perikanan pernah membentuk kelompok perempuan, untuk membuat abon ikan, namun realisasinya belum ada hingga saat ini.
“dari bulan 3 dibentuk kelompoknya, tapi tidak pernahmi lagi datang itu orang perikanan.” Demikian seorang ibu bercerita. Satu-satunya kelompok di desa tersebut yang aktif adalah kelompok majlis ta’lim. Pada pembuatan kalender harian, sebagian ibu-ibu menghabiskan waktunya di siang.
Perempuan pulau yang tak mampu mandiri secara ekonomi, pun tak memiliki keterampilan akan mengalami kerentanan. Kerentanan tersebut terutama terjadi ketika suami atau laki-laki kepala kelurganya tak mampu lagi memberi nafkah. Ibu hadija menjadi potret masalah tersebut. Ketiadaan keterampilan dan akses membuatnya tak punya pilihan lain. Usia yang harusnya duduk tenang dirumah, tak bisa dirasakannya.
Beberapa Ibu terlihat mulai mengantuk, matahari diatas pulau. Tak lama lagi jemputan kami akan tiba. Ibu-ibu berpamitan. Pada pembuatan kalender harian tadi, mereka akan tidur siang. Aktivitas akan kembali dimulai sore nanti. Memasak dan mengurus anak-anak mereka.
Rumah sakit ke puskesmas
Karena tak pernah menetap disatu tempat, aku tak bisa melakukan pengobatan dengan baik. Sepulang dari selatan, aku mendapat panggilan ke utara. Etta dan ponakan kecilku mulai merindu, ada juga diskusi kecil dengan anak muda di Sengkang. Aku harus menyelesaikan beberapa urusan. Bergerak ke utara selalu menyenangkan, rumah itu adalah tempat ternyaman, walau masih saja omelan ibu tentang kerjaku yang tak jelas harus kudengar.
Sabtu adalah bagian dari akhir pekan yang tenang. Unit rawat jalan rumah sakit tak ramai. Tak ada pasien yang sedang menunggu. Aku sendirian. Hari itu aku mengomel sepanjang hari. Masuk ruang itu, tak mendapat sambutan menyenangkan. Beberapa petugas sibuk di depan meja registrasi. Aku mendekat, dan mereka memintaku menunggu. Aku tak tahu apa yang harus kutunggu, sementara tak seorangpun yang dilayaninya. Ah, mereka seharusnya mendahulukanku. 30 menit menunggu aku berpindah ke orang yang disebelahnya. Ia bertanya padaku apa aku membawa surat rujukan dan akan berobat ke dokter mana? Aku bilang ini pertama kalinya aku ke rumah sakit ini dan hendak periksa ke dokter ahli dalam. Dokternya sedang ke Makassar kalau tak salah. Ke dokter umum saja kalau begitu. Ia kembali memintaku menunggu. Lebih sejam menunggu aku mulai gelisah dan emosi. Sejak dulu aku tak pernah nyaman berada di rumah sakit, sehebat dan sebesar apapun rumah sakit itu, aku punya cerita tak mengenakkan.
Sepasangan suami istri masuk ke ruangan itu, mereka langsung menuju meja registrasi. Petugas itu bertanya dengan lembut mau ketemu dengan dokter siapa dan meminta kartu askes milik mereka. Ia menyapanya dengan sangat hormat. Aku sempat mendengar sapaan Pak Haji, dan emosiku tak lagi bisa tertahan. Aku mengajak adikku keluar setelah menatap tajam petugas itu.
Pukul 10 pagi lewat sedikit, puskesmas masih buka. Puskesmas tempe menjadi pilihan terdekat. Aku mau ketemu dokter hari ini. Secepatnya mengarah kesana. Berharap dokternya masih ada.
Beruntung dokternya masih ada. Didalam juga masih banyak pasien yang tersisa bersama anak-anak mereka. Mungkin lagi jadwal imunisasi. Aku segera ke tempat pendaftaran, namun selembar karton bertuliskan tutup terpampang. Harusnya masih buka. Aku berpindah ke sebelah dan menyampaikan protes, kenapa secepat itu mereka menutup pendaftaran padahal belum waktunya. Akhirnya orang itu menyuruh seseorang melayaniku. Satu urusan selesai, sekarang harus melangkah masuk ke ruang tunggu. Seorang teman lama kukenali sedang memeriksa tekanan darah pasien sebelum masuk ke ruang periksa dokter. Aku mendekat dan memberikan mapku. Ia tersenyum mengenaliku, kami sedikit berbincang, mengenang masa lalu ketika masih sekolah. aku satu sekolah di SMU dengannya, tapi kami beda kelas. Sekarang ia telah mempunyai dua orang anak dan menjadi PNS di puskesmas itu. ia langsung menyuruhku masuk ke ruang periksa. Katanya dokter tak lama lagi akan keluar.
Bercerita tentang keluhanku, dan akhinrya aku meminta ia melakukan pengecekan asam urat dalam darahku. Dari temanku aku mendengar ia mempunyai alat pengetes asam urat. Aku telah mencurigai penyakit ini , setelah mantra itu gagal mendeteksi penyakitku. Aku perlu bukti. Dari tes itu kadar asam uratku 6,7. Melewati ambang batas. Untuk perempuan kadar normal asam urat dalam darah adalah 2 -6. Pantas saja aku tak bisa berjalan. Dokter itu lebih baik dari petugas kesehatan yang kutemui hari ini. Beberapa anjuran makanan yang harus kuhindari ia sebutkan. Ia juga menyesal, karena usiaku masih sangat muda untuk menderita penyakit yang satu ini.
Dokter itu cukup menjadi pereda emosiku setelah tak mendapat pelayanan dari rumah sakit. Petugas terkadang merasa dirinya sangat hebat dan dibutuhkan, hingga ia bisa bersikap seenaknya pada pasien.
Sabtu adalah bagian dari akhir pekan yang tenang. Unit rawat jalan rumah sakit tak ramai. Tak ada pasien yang sedang menunggu. Aku sendirian. Hari itu aku mengomel sepanjang hari. Masuk ruang itu, tak mendapat sambutan menyenangkan. Beberapa petugas sibuk di depan meja registrasi. Aku mendekat, dan mereka memintaku menunggu. Aku tak tahu apa yang harus kutunggu, sementara tak seorangpun yang dilayaninya. Ah, mereka seharusnya mendahulukanku. 30 menit menunggu aku berpindah ke orang yang disebelahnya. Ia bertanya padaku apa aku membawa surat rujukan dan akan berobat ke dokter mana? Aku bilang ini pertama kalinya aku ke rumah sakit ini dan hendak periksa ke dokter ahli dalam. Dokternya sedang ke Makassar kalau tak salah. Ke dokter umum saja kalau begitu. Ia kembali memintaku menunggu. Lebih sejam menunggu aku mulai gelisah dan emosi. Sejak dulu aku tak pernah nyaman berada di rumah sakit, sehebat dan sebesar apapun rumah sakit itu, aku punya cerita tak mengenakkan.
Sepasangan suami istri masuk ke ruangan itu, mereka langsung menuju meja registrasi. Petugas itu bertanya dengan lembut mau ketemu dengan dokter siapa dan meminta kartu askes milik mereka. Ia menyapanya dengan sangat hormat. Aku sempat mendengar sapaan Pak Haji, dan emosiku tak lagi bisa tertahan. Aku mengajak adikku keluar setelah menatap tajam petugas itu.
Pukul 10 pagi lewat sedikit, puskesmas masih buka. Puskesmas tempe menjadi pilihan terdekat. Aku mau ketemu dokter hari ini. Secepatnya mengarah kesana. Berharap dokternya masih ada.
Beruntung dokternya masih ada. Didalam juga masih banyak pasien yang tersisa bersama anak-anak mereka. Mungkin lagi jadwal imunisasi. Aku segera ke tempat pendaftaran, namun selembar karton bertuliskan tutup terpampang. Harusnya masih buka. Aku berpindah ke sebelah dan menyampaikan protes, kenapa secepat itu mereka menutup pendaftaran padahal belum waktunya. Akhirnya orang itu menyuruh seseorang melayaniku. Satu urusan selesai, sekarang harus melangkah masuk ke ruang tunggu. Seorang teman lama kukenali sedang memeriksa tekanan darah pasien sebelum masuk ke ruang periksa dokter. Aku mendekat dan memberikan mapku. Ia tersenyum mengenaliku, kami sedikit berbincang, mengenang masa lalu ketika masih sekolah. aku satu sekolah di SMU dengannya, tapi kami beda kelas. Sekarang ia telah mempunyai dua orang anak dan menjadi PNS di puskesmas itu. ia langsung menyuruhku masuk ke ruang periksa. Katanya dokter tak lama lagi akan keluar.
Bercerita tentang keluhanku, dan akhinrya aku meminta ia melakukan pengecekan asam urat dalam darahku. Dari temanku aku mendengar ia mempunyai alat pengetes asam urat. Aku telah mencurigai penyakit ini , setelah mantra itu gagal mendeteksi penyakitku. Aku perlu bukti. Dari tes itu kadar asam uratku 6,7. Melewati ambang batas. Untuk perempuan kadar normal asam urat dalam darah adalah 2 -6. Pantas saja aku tak bisa berjalan. Dokter itu lebih baik dari petugas kesehatan yang kutemui hari ini. Beberapa anjuran makanan yang harus kuhindari ia sebutkan. Ia juga menyesal, karena usiaku masih sangat muda untuk menderita penyakit yang satu ini.
Dokter itu cukup menjadi pereda emosiku setelah tak mendapat pelayanan dari rumah sakit. Petugas terkadang merasa dirinya sangat hebat dan dibutuhkan, hingga ia bisa bersikap seenaknya pada pasien.
Monday, March 26, 2012
Dari alergi hingga penyakit dalam
Minggu kedua desember adalah awal aku mulai menginjakkan kaki untuk berobat sendiri ke petugas medis. Aku mulai dari mantri kesehatan, atas rekomendasi seorang kawan. Aku tak ingin memulai pada pengobatan yang langsung ke ahlinya, karena tubuh tak akan mempan pada obat-obatan ala puskesmas.
Semenjak di Barru badanku gatal dan membengkak. Aku juga flu dan batuk. Pesisir barat selalu terguyur hujan dan cuaca sangat dingin. Bukan sekali dua kali aku harus melawan hujan dan melanjutkan kerja. Akhirnya kuputuskan langsung kembali ke Makassar setelah membereskan kerjaku. Dua hari meringkuk di rumah hijau, tanpa punya kekuatan berjalan dan dilanda insomnia. Padahal aku punya jam tidur yang sangat teratur. Diatas jam 10 mataku akan terlelap hingga subuh.
Desember penuh dengan kesibukan. Berbagai agenda harus diselesaikan. Juga undangan jalan-jalan ke Butta Panrita Lopi, tak akan kulewatkan yang ini. Sejak kuliah, salah satu daerah yang paling ingin kukunjungi adalah daerah Kajang, walau pada akhirnya tak sampai kesana. Aku hanya sampai di Tamatto dengan berbagai alasan yang masuk akal.
Untuk kesana, aku ingin sehat agar tak melewatkan setiap moment berharga dalam setiap perjalanan yang kulakukan. Kali inipun aku tak ingin hal itu terjadi. aku harus sembuh dari segala penyakit. Aku masih punya satu minggu sebelum 18 desember.
Menjelang magrib wawan mengantarku ke tempat praktek langganannya. Katanya sejak kecil mantra kesehatan itu telah menjadi dokternya. Setiap sakit ia akan berobat kesana. Aku setuju dan berharap bisa cepat sembuh dari alergi ini. Tempat itu ternyata memang ramai. Sesak dengan pasien walau cuaca tetap saja tak bersahabat. 5 orang menunggu di depanku. Ada ibu yang membawa gadis ciliknya yang sedang flu, bapak-bapak, hingga anak muda dan mahasiswa. Tempat ini sepertinya bisa kupercaya.
Setelah bercerita tentang sakit yang kurasa. Ia memegang pergelangan kakiku dan sesekali menekannya. Aku alergi katanya, ia menyuruhku mengingat semua makanan yang kukonsumsi seminggu itu. aku bukan orang yang alergi pada makanan. Pola makanku selama di Barru mengikut pada pemilik rumah yang kutempati. Daerah pesisir selalu menjadi gudang seafood segar di tambah kangkung segar dari samping rumah. Satu-satunya hal baru yang kucicipi adalah telur asin rempah.
Ini bukan alergi makanan kataku. Mungkin hal lain, dalam seminggu aku bisa mendatangi tiga penjuru mata angin Sulawesi Selatan, dari utara, barat hingga ke selatan. Cuacanya tak ada yang sama. Utara sangat panas sedangkan barat dan selatan sedang terguyur hujan dan dingin. Apa karena itu tanyaku? Ia memberi beberapa obat dan sebuah bedak penahan alergi. Katanya aku akan baik dalam 3 hari.
Dengan rutin kuhabiskan obat itu, tentu saja aku ingin cepat sembuh dan memulai perjalanan baru. Tiga hari berlalu, tak ada perubahan, kakiku tetap bengkak dan sakit. Tetap saja susah tidur, untung flu dan batuknya mulai berkurang. Aku kembali ke mantri itu. Malam itu tak cukup ramai, aku tak harus menunggu lama. Setelah menyampaikan keluhanku, ia hanya menyarankan satu hal, meminta saya ke dokter ahli dalam. Aku pulang dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Aku juga tak bisa langsung ke rumah sakit. Esok pagi harus berangkat ke selatan, perjalanan ini tak bisa ditunda dan aku melawan sakit.
Semenjak di Barru badanku gatal dan membengkak. Aku juga flu dan batuk. Pesisir barat selalu terguyur hujan dan cuaca sangat dingin. Bukan sekali dua kali aku harus melawan hujan dan melanjutkan kerja. Akhirnya kuputuskan langsung kembali ke Makassar setelah membereskan kerjaku. Dua hari meringkuk di rumah hijau, tanpa punya kekuatan berjalan dan dilanda insomnia. Padahal aku punya jam tidur yang sangat teratur. Diatas jam 10 mataku akan terlelap hingga subuh.
Desember penuh dengan kesibukan. Berbagai agenda harus diselesaikan. Juga undangan jalan-jalan ke Butta Panrita Lopi, tak akan kulewatkan yang ini. Sejak kuliah, salah satu daerah yang paling ingin kukunjungi adalah daerah Kajang, walau pada akhirnya tak sampai kesana. Aku hanya sampai di Tamatto dengan berbagai alasan yang masuk akal.
Untuk kesana, aku ingin sehat agar tak melewatkan setiap moment berharga dalam setiap perjalanan yang kulakukan. Kali inipun aku tak ingin hal itu terjadi. aku harus sembuh dari segala penyakit. Aku masih punya satu minggu sebelum 18 desember.
Menjelang magrib wawan mengantarku ke tempat praktek langganannya. Katanya sejak kecil mantra kesehatan itu telah menjadi dokternya. Setiap sakit ia akan berobat kesana. Aku setuju dan berharap bisa cepat sembuh dari alergi ini. Tempat itu ternyata memang ramai. Sesak dengan pasien walau cuaca tetap saja tak bersahabat. 5 orang menunggu di depanku. Ada ibu yang membawa gadis ciliknya yang sedang flu, bapak-bapak, hingga anak muda dan mahasiswa. Tempat ini sepertinya bisa kupercaya.
Setelah bercerita tentang sakit yang kurasa. Ia memegang pergelangan kakiku dan sesekali menekannya. Aku alergi katanya, ia menyuruhku mengingat semua makanan yang kukonsumsi seminggu itu. aku bukan orang yang alergi pada makanan. Pola makanku selama di Barru mengikut pada pemilik rumah yang kutempati. Daerah pesisir selalu menjadi gudang seafood segar di tambah kangkung segar dari samping rumah. Satu-satunya hal baru yang kucicipi adalah telur asin rempah.
Ini bukan alergi makanan kataku. Mungkin hal lain, dalam seminggu aku bisa mendatangi tiga penjuru mata angin Sulawesi Selatan, dari utara, barat hingga ke selatan. Cuacanya tak ada yang sama. Utara sangat panas sedangkan barat dan selatan sedang terguyur hujan dan dingin. Apa karena itu tanyaku? Ia memberi beberapa obat dan sebuah bedak penahan alergi. Katanya aku akan baik dalam 3 hari.
Dengan rutin kuhabiskan obat itu, tentu saja aku ingin cepat sembuh dan memulai perjalanan baru. Tiga hari berlalu, tak ada perubahan, kakiku tetap bengkak dan sakit. Tetap saja susah tidur, untung flu dan batuknya mulai berkurang. Aku kembali ke mantri itu. Malam itu tak cukup ramai, aku tak harus menunggu lama. Setelah menyampaikan keluhanku, ia hanya menyarankan satu hal, meminta saya ke dokter ahli dalam. Aku pulang dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Aku juga tak bisa langsung ke rumah sakit. Esok pagi harus berangkat ke selatan, perjalanan ini tak bisa ditunda dan aku melawan sakit.
Wednesday, March 21, 2012
Saatnya Uji Lab
Aku harus tes darah, itu hal yang paling ingin kulakukan sejak kejadian kemarin.
Untuk pertama kalinya aku sangat ingin tahu tentang sakitku. Selalu saja susah bangun pagi, apalagi ketika cuaca tak bersahabat. Tubuhku akan sangat berat untuk bergerak, bukan karena malas. Tapi memang terasa sakit. Pukul 10.00 hujan mereda. Adikku mengantarku ke ATM, dompetku tak terisi. Aku mengambil 6 lembar 50 ribuan. Aku pikir itu cukup untuk chek up. Rumah sakit terlihat sepi. Di bagian pendaftaran tak ada calon pasien yang mengantri. Aku sendirian. Nampak didalam beberapa petugas sedang cerita, ada juga yang membolak-balikkan berkas. Aku membunyikan bel di ruangan itu, tapi mereka malah menyuruhku menunggu. Fisikku sangat lemah, aku tak punya cukup tenaga untuk berdiri dan menunggu di ruang itu. aku mulai emosi, seharusnya pasien di nomorsatukan. Aku tak akan berkunjung ke rumah sakit, bila tak benar-benar sakit. Mungkin mereka akan membuat pasien menunggu hingga pingsan dan bahkan mungkin mati.
Akhirnya salah seorang petugas mendekat, menanyakan aku akan berobat ke poli mana? Interna aku menjawabnya singkat. Ia kemudian menanyakan nama, tanggal lahir, alamat dan kelengkapan lainnya. Ia juga menanyakan apa aku menggunakan askes atau yang lainnya. Umum kataku, jika menggunakan jamkesmas atau jamkesda, pelayanannya tentu berbeda pikirku, lagi pula sangat rumit, harus ke puskesmas dulu untuk periksa dan beruntung jika dikasih rujukan. Aku ingin tahu peyakitku secepat mungkin, dan jika menggunakan kesehatan gratis itu aku akan butuh waktu lama dan menghabiskan tenagaku.
Di depan poli interna pasien duduk berjejeran, kurang lebih 10 orang, dan tampaknya aku yang termuda. Beberapa orang tua Nampak di temani anaknya. Ah, penyakit tak lagi mengenal usia. Jika dulu beberapa penyakit hanya terjadi pada orang yang lebih tua, namun sekarang anak muda bahkan anak kecilpun bisa menderita.
Batuk dan flu juga telah menggangguku sejak pulang dari Barru kemarin, angin malam dan dingin sepertinya menjadi pemicu, tentu selain tubuhku yang memang sensitive. Beberapa mahasiswa keperawatan menempati kursi di ruang tunggu, mereka tak ada aktifitas. Rumah sakit ini tak seramai rumah sakit milik pemerintah. Rumah sakit swasta tentu lebih mahal, saya pun berpikir demikian. Tapi rumah sakit milik pemerintah sangat jauh dari tempatku, dan paling tidak aku berharap karena ia swasta aku akan mendapat pelayanan yang lebih baik.
Dalam mata kuliah manajemen pemasaran dulu. Rumah sakitpun adalah penjual, dan selayaknya penjual harusnya menjadikan pembeli sebagai ratu. Ada slogan seperti itu, dan setiap pedagang pasti tahu hal ini.
Kenapa sebagian petugas kesehatan tak bisa melakukannya, memberikan pelayanan yang ramah. Beberapa bulan lalu ini telah didiskusikan, bahwa kesembuhan pasien bukan hanya pada pengobatan fisik yang dilakukan, tapi secara psikis pelayanan yang memuaskan, petugas yang ramah akan member energy positif untuk kesembuhan itu.
Dua jam menunggu akhirnya giliranku datang juga. Aku masuk, seorang dokter dan 3 perawat. Menurutku dua diantara mereka sedang praktek. Setelah perawat memeriksa dan mencatat tekanan darahku, dokter itu mendekat. Memeriksa perutku dengan stetoskop dan menanyakan keluhanku. Tanganku selalu gemetaran. Ia mengatakan mungkin asupan kalsium. Ah, rasanya tidak, aku tahu makanan yang kumakan mampu memenuhi kebutuhan kalsiumku. Aku menceritakan semua gejala yang kurasakan, dan mengatakan aku ingin melakukan tes TSH. Aku ingin memastikan penyakitku. Diagnosis dokter terhadap penyakit adalah dengan mendengat keluhan pasiennya, setelah itu baru melakukan pemeriksaan. Satu-satunya hal yang bisa meyakinkanku adalah lewat tes darah itu.
Pernah beberapa kali aku mendatangi puskesmas yang berbeda, di Makassar dan Sengkang, aku menceritakan keluhan yang berbeda, dan aku akan mendapatkan obat yang berbeda pula. Diagnosis penyakit menjadi berbeda karena hal tersebut, jadi sesekali aku berpikir aku sebenarnya bisa mendiagnosis sendiri penyakitku dan menentukan obat apa yang hendak kukonsumsi. Tapi tidak, itu hanya pikiran nakal ketika kepalaku sudah mumet dan tak mendapat hal yang kuinginkan.
Akhirnya aku diantar ke lab oleh mahasiswa yang sedang praktek, sebelumnya perawat di ruang itu telah mengingatkanku untuk menanyakan biaya tes darahnya dulu. Katanya agak mahal. Aku melewati lorong rumah sakit ke arah dalam. Rumah sakit selalu menjadi momok yang menakutkan buat siapapun. Termasuk aku, masuk rumah sakit berarti harus menyiapkan uang yang tak sedikit. Tak akan masalah jika itu berlaku pada orang kaya, tapi bagaimana dengan kalangan menengah ke bawah? Aku termasuk orang yang tak akan mampu menanggung biayanya, tapi aku juga tak akan pasrah diperlakukan seenak hati oleh petugas. Aku manusia, punya akal dan rasa.
Untuk mengecek kadar TSH dalam darahku, aku harus mengeluarkan biaya 190.000,- , belum untuk mengecek kadar asam urat dalam darahku butuh 29.000,- aku jadi ingat dokter langgananku di puskesmas, untuk mengecek asam uratku aku hanya mengeluarkan 15.000 dari kocekku. Cukup jauh bedanya.
Aku takut disuntik, apalagi melihat darah dikeluarkan dari tubuhku. Petugas lab itu mengambil alat suntik baru. Ia memintaku menggulung lengan bajuku dan mencari urat nadi dilengan kiriku. Ah, cukup sakit dan setelah itu kulihat darah mengalir memenuhi tabung alat suntik itu. aku harus menunggu dua hari untuk menunggu hasil lab itu.
Selesai di lab aku kembali ke poli interna, tentu saja aku harus menyelesaikan pembayarannya. Tak seperti di rumah sakit umum yang akan kita bayar diawal pendaftaran. Pada rumah sakit swasta biaya jasa akan diberikan setelah semua proses kita lewati. Masalahnya adalah jika uang yang kita bawa tak mencukupi. Dan aku merasakannya hari itu. uang di dompetku tak cukup. Tak ada lagi biaya untuk menebus obat. Aku terlalu pede ke rumah sakit swasta dengan modal 300 ribu,hehehe…
Untuk pertama kalinya aku sangat ingin tahu tentang sakitku. Selalu saja susah bangun pagi, apalagi ketika cuaca tak bersahabat. Tubuhku akan sangat berat untuk bergerak, bukan karena malas. Tapi memang terasa sakit. Pukul 10.00 hujan mereda. Adikku mengantarku ke ATM, dompetku tak terisi. Aku mengambil 6 lembar 50 ribuan. Aku pikir itu cukup untuk chek up. Rumah sakit terlihat sepi. Di bagian pendaftaran tak ada calon pasien yang mengantri. Aku sendirian. Nampak didalam beberapa petugas sedang cerita, ada juga yang membolak-balikkan berkas. Aku membunyikan bel di ruangan itu, tapi mereka malah menyuruhku menunggu. Fisikku sangat lemah, aku tak punya cukup tenaga untuk berdiri dan menunggu di ruang itu. aku mulai emosi, seharusnya pasien di nomorsatukan. Aku tak akan berkunjung ke rumah sakit, bila tak benar-benar sakit. Mungkin mereka akan membuat pasien menunggu hingga pingsan dan bahkan mungkin mati.
Akhirnya salah seorang petugas mendekat, menanyakan aku akan berobat ke poli mana? Interna aku menjawabnya singkat. Ia kemudian menanyakan nama, tanggal lahir, alamat dan kelengkapan lainnya. Ia juga menanyakan apa aku menggunakan askes atau yang lainnya. Umum kataku, jika menggunakan jamkesmas atau jamkesda, pelayanannya tentu berbeda pikirku, lagi pula sangat rumit, harus ke puskesmas dulu untuk periksa dan beruntung jika dikasih rujukan. Aku ingin tahu peyakitku secepat mungkin, dan jika menggunakan kesehatan gratis itu aku akan butuh waktu lama dan menghabiskan tenagaku.
Di depan poli interna pasien duduk berjejeran, kurang lebih 10 orang, dan tampaknya aku yang termuda. Beberapa orang tua Nampak di temani anaknya. Ah, penyakit tak lagi mengenal usia. Jika dulu beberapa penyakit hanya terjadi pada orang yang lebih tua, namun sekarang anak muda bahkan anak kecilpun bisa menderita.
Batuk dan flu juga telah menggangguku sejak pulang dari Barru kemarin, angin malam dan dingin sepertinya menjadi pemicu, tentu selain tubuhku yang memang sensitive. Beberapa mahasiswa keperawatan menempati kursi di ruang tunggu, mereka tak ada aktifitas. Rumah sakit ini tak seramai rumah sakit milik pemerintah. Rumah sakit swasta tentu lebih mahal, saya pun berpikir demikian. Tapi rumah sakit milik pemerintah sangat jauh dari tempatku, dan paling tidak aku berharap karena ia swasta aku akan mendapat pelayanan yang lebih baik.
Dalam mata kuliah manajemen pemasaran dulu. Rumah sakitpun adalah penjual, dan selayaknya penjual harusnya menjadikan pembeli sebagai ratu. Ada slogan seperti itu, dan setiap pedagang pasti tahu hal ini.
Kenapa sebagian petugas kesehatan tak bisa melakukannya, memberikan pelayanan yang ramah. Beberapa bulan lalu ini telah didiskusikan, bahwa kesembuhan pasien bukan hanya pada pengobatan fisik yang dilakukan, tapi secara psikis pelayanan yang memuaskan, petugas yang ramah akan member energy positif untuk kesembuhan itu.
Dua jam menunggu akhirnya giliranku datang juga. Aku masuk, seorang dokter dan 3 perawat. Menurutku dua diantara mereka sedang praktek. Setelah perawat memeriksa dan mencatat tekanan darahku, dokter itu mendekat. Memeriksa perutku dengan stetoskop dan menanyakan keluhanku. Tanganku selalu gemetaran. Ia mengatakan mungkin asupan kalsium. Ah, rasanya tidak, aku tahu makanan yang kumakan mampu memenuhi kebutuhan kalsiumku. Aku menceritakan semua gejala yang kurasakan, dan mengatakan aku ingin melakukan tes TSH. Aku ingin memastikan penyakitku. Diagnosis dokter terhadap penyakit adalah dengan mendengat keluhan pasiennya, setelah itu baru melakukan pemeriksaan. Satu-satunya hal yang bisa meyakinkanku adalah lewat tes darah itu.
Pernah beberapa kali aku mendatangi puskesmas yang berbeda, di Makassar dan Sengkang, aku menceritakan keluhan yang berbeda, dan aku akan mendapatkan obat yang berbeda pula. Diagnosis penyakit menjadi berbeda karena hal tersebut, jadi sesekali aku berpikir aku sebenarnya bisa mendiagnosis sendiri penyakitku dan menentukan obat apa yang hendak kukonsumsi. Tapi tidak, itu hanya pikiran nakal ketika kepalaku sudah mumet dan tak mendapat hal yang kuinginkan.
Akhirnya aku diantar ke lab oleh mahasiswa yang sedang praktek, sebelumnya perawat di ruang itu telah mengingatkanku untuk menanyakan biaya tes darahnya dulu. Katanya agak mahal. Aku melewati lorong rumah sakit ke arah dalam. Rumah sakit selalu menjadi momok yang menakutkan buat siapapun. Termasuk aku, masuk rumah sakit berarti harus menyiapkan uang yang tak sedikit. Tak akan masalah jika itu berlaku pada orang kaya, tapi bagaimana dengan kalangan menengah ke bawah? Aku termasuk orang yang tak akan mampu menanggung biayanya, tapi aku juga tak akan pasrah diperlakukan seenak hati oleh petugas. Aku manusia, punya akal dan rasa.
Untuk mengecek kadar TSH dalam darahku, aku harus mengeluarkan biaya 190.000,- , belum untuk mengecek kadar asam urat dalam darahku butuh 29.000,- aku jadi ingat dokter langgananku di puskesmas, untuk mengecek asam uratku aku hanya mengeluarkan 15.000 dari kocekku. Cukup jauh bedanya.
Aku takut disuntik, apalagi melihat darah dikeluarkan dari tubuhku. Petugas lab itu mengambil alat suntik baru. Ia memintaku menggulung lengan bajuku dan mencari urat nadi dilengan kiriku. Ah, cukup sakit dan setelah itu kulihat darah mengalir memenuhi tabung alat suntik itu. aku harus menunggu dua hari untuk menunggu hasil lab itu.
Selesai di lab aku kembali ke poli interna, tentu saja aku harus menyelesaikan pembayarannya. Tak seperti di rumah sakit umum yang akan kita bayar diawal pendaftaran. Pada rumah sakit swasta biaya jasa akan diberikan setelah semua proses kita lewati. Masalahnya adalah jika uang yang kita bawa tak mencukupi. Dan aku merasakannya hari itu. uang di dompetku tak cukup. Tak ada lagi biaya untuk menebus obat. Aku terlalu pede ke rumah sakit swasta dengan modal 300 ribu,hehehe…
Subscribe to:
Posts (Atom)