Showing posts with label rekam jejak. Show all posts
Showing posts with label rekam jejak. Show all posts

Tuesday, June 11, 2013

Gua Batu Hamil (Leang Batu Tianang)

“ini bawakaraengnya salenrang” demikian Dg.Rumpa bercerita tentang Bulu Barakka. Barakka artinya berkah. Bukit itu menjadi salah satu kawasan penopang Salenrang. Karst mampu menyimpan air, hingga kebutuhan air bersih masyarakat selalu terpenuhi. Di bulu barakka sungai pute mengalir hingga selat makassar. Sungai yang mempunyai lebar 5 – 10 meter. Melintasi kawasan karst tersebut lebih indah dari atas jolloro atau lepa-lepa. Dg.Rumpa berjanji akan membawa kami berkeliling menggunakan perahu jolloronya jika kami datang lagi. Tapi perahunya hanya bisa muat untuk 3 orang.
Dg Rumpa, salah satu tetua kampung di dusun rammang-rammang Salenrang. Usianya telah beranjak tua, namun beliau masih kuat memanjati bukit karst tanpa menggunakan pengaman apapun. Beliau menemani kami berkeliling.   Mencari gua dengan lukisan purbakalanya.
Leang batu tianang namanya. Kudengar semalam. Namun, lidahku tak pernah  bisa fasih menggunakan bahasa makassar. Maka kutanyakanlah artinya. Leang dalam bahasa indonesia berarti gua, sedangkan tianang artinya hamil. Gua batu hamil, itulah yang mampu kusebut untuk menunjukkan kemana aku memulai petualangan kecil hari ini. Minggu selalu menyenangkan  untuk itu. Dari kak Iwan salah seorang anggota OPA TRANS kudapat informasi , masyarakatnya menyebut batu hamil karena batunya terus bertambah besar. Batuan tersebut merupakan stalagtit yang masih hidup, maka wajar jika besarnya akan terus bertambah. Aku sadar itulah alasan hingga namanya menjadi Leang Batu Tianang.

Letaknya di Desa salenrang yang memang memiliki kawasan karst yang cukup luas dan bagus. Terhitung karst kelas I, walau sampai hari ini belum ada pengklasifikasian kawasan karst yang diadakan pemerintah.  Memasuki Salenrang kita akan menemukan dinding-dinding karst sepanjang jalan. Teratur dan indah, di sela-sela  area persawahan. Masyarakat Salenrang sedang menuai padi. walau, hasil panen tak lagi seperti dulu. Hasil panen mereka telah berkurang lebih dari separuhnya. Sejak revolusi hijau dicanangkan Soeharto masyarakat berbondong-bondong menggunakan pupuk untuk meningkatkan produksi beras mereka. Hasilnya kesuburan tanah telah berkurang.

Leang batu tianang merupakan gabungan gua dan ceruk yang terletak disisi selatan kaki bukit karst Bulu Barakka’. Kendaraan umum bisa sampai kesana. Jaraknya tak terlalu jauh, kurang lebih 1 km. Menurut cerita Dg.Rumpa, salah satu tetua desa tersebut. Pusat desa salenrang terletak disisi bulu barakka’. Ditempat itu juga terdapat sebuah pekuburan tua. Saat berada di kaki gunung tersebut, beberapa kendaraan pesiarah ramai. Selalu seperti itu jelang ramadhan. Bulu barakka terletak 6 Mdpl di atas permukaan laut. dari salenrang, bulu barakka gampang ditemukan. Bukit tertinggi di kawasan itu. Leang batu tianang memili dasar gua yang berbentuk kekar tiang (Columnas Joint) dengan tinggi jarak antara lantai dan atap gua sekitar 20 meter.
Untuk sampai dimulut gua kami harus berjalan kaki beberapa menit. Tak cukup untuk mengeluarkan keringat. Leang batu tianang tak terlalu dalam, namun kita harus memanjati karst setinggi 2 hingga 3 meter. Kemudian dengan berbungkuk dan merangkak menelusuri tepian bebatuan yang penuh dengan lukisan sederhana karya manusia purba. Ada gambar perahu, anak-anak yang bergandengan tangan, gambar tangan. Lukisannya berwarna merah, dan tak bisa terhapus. Dg Rumpa bahkan pernah menggunakan sikat dan detergen untuk membersihkannya, tapi gambar itu tetap disana. Gambar itu tetap bersembunyi dibalik bukit-bukit karst. Disekelilingnya juga kami temukan kulit-kulit kerang yang mulai merapuh. Sangat banyak pada beberapa titik. Tidak hanya satu tapi ada beberapa jenis. Mungkin mereka pernah hidup disini. 
Puas mengambil gambar, kami berpindah ke tempat lain. Menurut Dg. Rumpa ada satu gua yang didalamnya ada tulisan lontara, bertuliskan empat nama. I Baso, I Lele, I Tola, dan I Abo. Beliau mengira itu mungkin sebuah ramalan. Aku berpikir mungkin orang-orang itu adalah mereka yang berkunjung ke gua itu. Manusia purba belum mengenal tulisan, mereka mengekspresikan diri lewat lukisan yang banyak kita jumpai di kawasan Taman Nasional Bantimurung-bulusaraung. BP3 Makassar bahkan menginventarisir 88 gua pra sejarah sepanjang Maros-Pangke,  35 gua di Pangkep dan 53 gua di maros.
 Pembentukan kawasan karst salenrang , di bentuk dari bukit-bukit gamping pada masa oasen awal hingga miosen tengah dan terjadi di dasar laut purba. Adanya pengaruh tektonik yang disertai meletusnya gunung api purba mengakibatkan terjadinya pengangkatan bukit-bukit gamping yang telah terbentuk di dasar laut. kegiatan pengangkatan ini diperkirakan berlangsung sejak masa miosen akhir sampai paliosen (Sunorto, 1997).

Senang rasanya bisa mengunjungi tempat itu, walau bukan rekreasi. Kawasan karst sepanjang Maros- Pangkep telah dilirik oleh pengusaha baik skala lokal maupun nasional. Di Salenrang pun telah ada perusahaan yang akan membangun pabrik marmer. Mereka akan menambang karst untuk memperkaya diri. Dan tak lama lagi taman batu yang menjadi dinding salenrang akan berganti dengan kubangan-kubangan sisa tambang.
Selalu ada waktu untuk melanjutkan perjalanan…

Tuesday, February 12, 2013

Menikmati Pesisir Galesong



Hari ini, bersama Dewi dan Direktur WALHI Sulsel kami jalan jalan ke desa Galesong Kota. Salah satu desa nelayan yang terletak di Kab. Takalar. Kami janjian dengan Djabal, salah satu pemuda yang tergabung dalam organisasi Gramuda Galesong. Kelompok ini telah berdiri sejak lama, bukan organisasi yang hanya kongkow dipinggir jalan, tapi dengan segudang kegiatan yang bermanfaat untuk anak muda.
Jaraknya cukup jauh dari Makassar, ini menurutku. Untuk sampai ke desa tersebut, kita bisa melewati jalur provinsi ataupun lewat Tanjung. Kami lewat jalur Tanjung, jaraknya lebih dekat dan bisa menikmati aroma pantai yang telah dimodernisasi.
Kami singgah sejenak di rumah Djabal. Kedua orang tuanya sangat ramah. Tak perlu berlama lama. Aroma laut telah tercium. Dari depan rumah Djabal kami dapat melihat pantai. Biru langit terpantul sangat indah. Berempat, kami jalan kaki kesana. Selain bisa olah raga, tentu ini akan lebih ramah. Kami bisa berbagi senyum dengan penduduk setempat.
Walau terbilang dekat dari Makassar tapi suasana desa sangat terasa. Seseorang mengajak singgah di rumahnya, padahal orang itu tak mengenal kami.
Beberapa nelayan menyandarkan perahunya. Mereka baru saja berlabuh. Istri istri menyambut, untuk membantu mengambil peralatan melaut suaminya. Aku berbisik ke Dewi. “ mungkin mereka sangat bahagia dengan hal itu. Pulang, dan istri menyambut ramah di tepi pantai.
Transaksi kecil berlangsung, jual beli ikan hasil tangkapan. Ikan segar tentunya, belum tersentuh dinginnya es batu. Ikan katamba, ikan merah, ikan tompo, tongko tongko (pari). Ikan jenis ini diperoleh dengan memancing. Ikan katamba yang besar biasanya di jual ke restoran. Membeli ikan disini tentu sangat murah. Ikan pari yang kubayangkan sangat mahal, untuk ukuran kecil bisa diperoleh dengan 5.000,- . satu ikat ikan katamba hanya membutuhkan 15.000 -  30.000.
Selain memancing ada juga nelayan yang menggunakan pukat/ jarring. Mereka mendapatkan ikan ikan kecil dalam jumlah banyak. Pendapatan sekali melaut bervariasi, tak menentu. Kadang banyak, kadang sangat sedikit. Pak Mustari, seorang nelayan bercerita kadang mendapat 50.000 – 500.000, jika beruntung mereka bisa mendapat hingga 1 juta rupiah.
Ini tentu tak didapat dengan mudah. Iklim mulai tak menentu. Saat ini musim angin barat, biasanya ini berlangsung di bulan januari hingga februari. Katanya menunggu tahun baru Cina. Saat seperti ini merupakan saat yang sangat sulit buat nelayan. Dg. Tayang panggilan Pak Mustari sudah 5 hari tak turun ke laut. Sebagian nelayan akan menggunakan jasa Pappalele untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jika meminjam 1.000.000,- maka akan dikenakan bunga 20% perbulan. Jadi jika nelayan tak bisa membayarnya, maka bunga itu akan terus bertambah. Sebagian besar nelayan sangat bergantung pada jasa Pappalele.
Pappalele tidak sekedar meminjamkan uang, beberapa nelayan menggunakan perahu miliknya. Hasil yang didapat dari melaut akan di bagi dengan pappalele. 40% dari hasil yang didapat akan di serahkan ke Pappalele, dari 40% ini dibagi lagi. 20 % untuk dikantongi Pappalelenya, sedang 20% lagi simpanan nelayan. Sisa 60% akan dibagi dua oleh nelayan yang melaut. Oh, iya untuk melaut biasanya dalam satu perahu akan ada dua nelayan.
Nelayan tak mampu mengakses perbankan. Untuk mendapatkan pinjaman dari bank mereka harus memenuhi beberapa persyaratan administrasi dan jaminan. “ kalau laut ada sertifikatnya, tentu kita bisa dapat pinjaman dari bank” celoteh Pak Mustari. Sementara pinjaman dari tempat lain hampir tak ada. Ide untuk membangun sebuah koperasi nelayan pernah terlontar oleh salah satu kendidat legislative, tapi sayangnya sampai saat ini belum pernah direalisasikan.
Melaut adalah rutinitas yang dimulai malam hari. Nelayan rata rata berangkat melaut jam 12 malam, sebagian yang lain berangkat jam 1 dini hari. Untuk ke wilayah tangkapan mereka harus menempuh jarak sejauh 30 mil, biasanya ini membutuhkan waktu selama 2 jam.
Dulu tak seperti itu. Di tahun 80an untuk mendapatkan ikan mereka hanya perlu ke pulau Sanrobengi. Jarak tempuhnya ±15 menit. Ikan semakin menjauh, tak jarang nelayan galesong ditangkap petugas Australia. Nelayan tak tahu batas batas wilayah, tak tahu sejauhmana mereka harus melaut.
Selain semakin jauhnya wilayah tangkap, nelayan juga harus berhadapan dengan Parere. Parere menangkap ikan dengan menggunakan perahu besar dan pukat harimau. “ mereka menangkap ikan mulai dari kakek sampai cucu cucunya,” lelucon pak Mustari. kehadiran Pa'Parere sudah ada sejak dulu. “seharusnya ada pembagian wilayah tangkap yang jelas antara nelayan kecil dan Parere.
Untuk menyiasati musim tangkap ikan, sebagian besar nelayan mencari ikan di kab.Barru. mereka terkadang menetap hingga sebulan disana. Sejak dulu nelayan Galesong terkenal pelaut tangguh. Lautan telah mengajarkan bagaimana bertahan hidup.
Jalan jalan itu ditutup dengan sajian sederhana dari Ramli. Salah satu anggota Gramuda Galesong yang berprofesi sebagai nelayan. Ramli dan Fathur ketua Gramuda membakar ikan.  Ikan Pari dengan racikan bumbu rahasia ala Ramli. Nasi hangat, tumis kangkung, ikan bakar pari, ikan layang. 

7 februari 2013
Bahagia itu sederhana.
Terima kasih buat Jabal, Fatur, dan Ramli

Saturday, August 25, 2012

Catatan dari Polongbangkeng (edisi riset 3)


Makkio menepati janjinya. Ia datang ke rumah Dg.Imba Bersama beberapa orang. Kecapinya dibawa serta. Kami akan merekam cerita perjuangan sejarah perampasan tanah dan pembentukan organisasi Serikat Tani Polongbangkeng.
Makkio adalah salah seorang petani yang tak bertanah. Ia menceritakan perjuangan hidupnya lewat nyanyian dan petikan kecapi. Tanahnya telah di rampas ketika terjadi perampasan tanah untuk perkebunan tebu. Dia dipaksa untuk menerima ganti rugi. Jika ganti rugi tak diterima maka ia akan ditembaki dan dituduh PKI.
Setelah tak punya tanah, Makkio harus meninggalkan barugayya untuk bisa menghidupi keluarganya. Ia tak mau anak-ananya tak sekolah, tapi tinggal di kampong tanpa tanah sama saja dengan bunuh diri.
Pemerintah telah merampas tanahnya. Membangun perkebunan tebu , menyengsarakan semua rakyat Polongbangkeng.
Enam tahun Makkio bekerja di Malaysia. Menjadi buruh agar bisa mengirim uang untuk anak-anaknya. Makkio bercerita kesyukurannya karena Serikat tani polongbangkeng terbentuk. Ia dapat ikut memperjuangkan haknya agar dikembalikan pemerintah.
Begitu memperlihatkan wajahnya, ia langsung meminta segelas kopi kental tanpa gula. Sejak masuknya PTPN XIV dan merampas paksa tanahnya, sejak itu Makkio tak mau lagi mengkonsumsi gula pasir. Ia sedang mabuk. Untuk dapat memainkan kecapinya, ia memang tidak bisa dalam kondisi normal. Semakin mabuk akan semakin bagus petikan dan nyanyiannya.
Dua jam Makkio bercerita tentang mirisnya hidup Takalar. Masyarakat bertahun-tahun harus hidup seadanya. Ada yang menggali batu di gunung,  menanam jagung di hutan, pergi mencari sisa-sisa panen di daerah lain. Menahan malu untuk mendapatkan sisa panen. Menjadi buruh, menjadi tenaga kerja di luar negeri.
Sekarang Makkio kembali ke Takalar dan ikut berjuang Bersama anggota STP lainnya. Ia diajak oleh Dg.Tutu dan sangat rajin mengikuti setiap pertemuan dan agenda STP.
Sekarang Makkio menjadi pengembala sapi. ia memiliki beberapa ekor sapi yang setiap hari dibawanya keluar. Di Barugayya sedang marak pencurian sapi. Hampir setiap malam ia harus menjaga sapinya agar aman dari tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Ia sangat mencintai keseniannya dan selalu bernyanyi Bersama kawan-kawannya sambil mengembala sapi. menggunakan kecapi atau gambus dan menyanyikan peristiwa hidupnya.

Hari ini telah lengkap dengan nyanyian Makkio dan teman-temannya.
12 agustus 2012

Tuesday, August 14, 2012

Catatan dari Polongbangkeng (edisi riset 2)


Bahagia itu sederhana. Kata-kata yang sangat aku sukai. Membuat hidupku penuh rasa syukur. Aku mencintainya seperti mencintai setiap laku yang memberiku beribu bahagia. Hari ketiga di Polongbangkeng. Setelah menghabiskan siang dengan bermalas-malasan di bale-bale kolong rumah Dg.Imba. Sore, jalan-jalan keliling kampong. Hari ini hendak melanjutkan wawancara, dan meminta Makkio untuk bertutur tentang sejarah perjuangannya lewat petikan kecapinya.
Aku dan Achoz menuju rumah Makkio. Kami tak tahu betul rumahnya. Achoz sekali pernah kesana. Jadi kami singgah bertanya pada warga. Kami berhenti didepan sebuah rumah panggung besar. dua perempuan sedang duduk dibale-bale. Seorang bayi terlelap dalam buaian ibunya. rumah Makkio ternyata. Tapi sayang ia tidak sedang di rumah. Menurut istrinya, sedang mengembala di dekat villa Bupati. 
Di jalan kami bertemu dengan Talassa, seorang pemuda Barugayya yang sering kutemui ikut rapat bersama warga. Ia mengantar kami ke tempat Makkio. Dua motor melaju kesana, dan didekat villa, Talassa bertemu temannya. Laki-laki itu dari tempatnya Makkio. ia berputar arah mengantar kami kesana. Ada juga Dg. Tojeng yang hendak pulang dan diajak jalan. Jadilah empat motor beriringan.
Jalannya tak menyenangkan. Bukan lagi melewati aspal yang mulus. Jalan bebatuan yang dikiri kanannya hutan . ini juga bukan lagi hutan alam, karena disela-selanya ada tanaman masyarakat. Lebih layak dikatakan kebun.
Masyarakat Polongbangkeng untuk bertahan hidup memang menanam tanaman disela-sela tanaman hutan. Hal ini karena tanah yang mereka miliki puluhan tahun telah menjadi lahan tebu.
Petikan gambus terdengar dari jauh. Tak ada rumah, hanya ada tanah lapang dan sebuah gubuk gembala. Disana beberapa orang berkumpul dan menyanyi mengikuti dawai gambus. Makkio salah satu diantaranya.
Aroma tuak tercium. Perutku agak mual.  Makkio mengajak kami salaman. Yang lain juga mendekati kami. Aku menyambut uluran tangan itu. Aku ingat semalam teman-teman bercerita, untuk dapat bernyanyi dengan baik Makkio harus minum tuak. Ia menawari Achoz untuk ikut minum. Untung kawanku ini sangat rajin puasa.
aku memintanya memetik kecapinya disitu, tapi tidak ia bawa. Katanya sedang menggembala sapi. Jadi hanya ada satu kecapi. Ia berjanji malam nanti akan datang ke tempatku menginap untuk memetik kecapinya dan bertutur sejarah perjuangan Serikat Tani Polongbangkeng.
Namun, gambus dipetik kembali dan bergantian mereka bernyanyi. Dua orang bercerita Tanah di Polongbangkeng sangat luas tapi telah diambil oleh PTPN XIV dan menyisakan sengsara buat rakyat. Bergantian mereka bernyanyi bercerita padaku. tapi sayang sekali aku hanya mengerti beberapa kata. petikan yang menggambarkan perihnya hidup setelah tanah mereka dirampas.
Seorang petani lain muncul membawa seember timun yang sangat segar. Sebelum pulang ia memberikan timun itu kami bawa pulang. Aku menolaknya, tapi mereka sangat ngotot kami harus terima. Dg.Tojeng akhirnya membawa timun itu. Aku berterima kasih sebelum pulang dan meminta Makkio untuk datang Bersama teman-temannya.
Aku sangat terharu, seember timun itu tentu akan bernilai di pasar. Tapi petani adalah orang paling sederhana yang sangat tulus.
Sepulangnya kami singgah di danau. Dg.talla berjalan dengan beberapa ekor ikan yang diikat satu. Sebelah tangannya membawa jaring. Ia berjalan mendekati kami dan menyerahkan semua ikan hasil tangkapannya.  Kami menolak halus. Tapi ia juga berkeras memberi ikan itu. Katanya ia masih bisa menangkap ikan untuk dirinya.  
Aku membawa ikan itu  ke rumah Dg.Imba, tempat kami menginap semalam. Bahagia tak dapat kugambarkan hari ini. Petani sederhana dengan hidup yang sangat sulit, namun tak berpikir panjang untuk berbagi.Terima kasih, hari ini aku belajar bahwa berbagi itu tak butuh banyak harta. Dan mereka jauh lebih kaya dibanding orang-orang berduit penguasa PTPN.

lepas menikmati timun dan ikan nila terlezat...
12 Agustus 2012

Catatan dari Polongbangkeng (edisi riset 1)

Hari kedua di Polongbangkeng. Sebenarnya hendak istirahat, Polongbangkeng telah menjadi bagian yang selalu mengingatkanku pada rumah sebenarnya di Sengkang. Bertemu dengan ibu-ibu yang selalu menyambut ramah. Bapak-bapak yang akan bercerita padaku panjang lebar dengan bahasa Makassar. Dan aku dengan payah berusaha untuk mengerti.
Ada riset yang dilakukan WALHI Sulsel, kawan-kawan telah mengumpulkan data sekunder sejak awal Agustus. Data kesehatan, kemiskinan, pendidikan, pekerjaan, semua dikumpul dengan penuh semangat. Ramadhan bukan penghalang, bekerja sambil beribadah jauh lebih baik. Dampaknya sangat baik. Dua kawan baikku akhirnya rajin berkunjung ke mesjid shalat tarwih dan subuh.
Petani adalah orang yang sangat disiplin. Menghabiskan waktu sepanjang malam untuk diskusi tentang perjuangan organisasi, bangun sahur dan menunggu subuh. Setelah itu meninggalkan rumah melakukan berbagai pekerjaan. Dan aku,  Bersama ketiga kawanku dengan alas an kurang tidur terlelap hingga matahari semakin meninggi dan dingin Takalar telah menguap. Aku sangat malu sebenarnya, tapi tak mampu menahan kantuk dan melengkapi kekurangan tidurku. Sejak dulu aku percaya, aku harus tidur 8 jam sehari untuk bisa lebih sehat.
Telah kususun rencana semalam. Hari ini aku akan mendengar cerita dari beberapa orang-orang tua yang menyaksikan perampasan tanah yang dilakukan oleh PTPN XIV Takalar.
Siangnya di posko STP telah ada Dg.Nyampa, Dg.Serang, dan beberapa orang lainnya yang belum aku kenal namanya. Aku mengajak Dg.Nyampa cerita. Mendengarkan sebagian dari kisah hidupnya. Dg.Serang juga telah menceritakan banyak hal padaku tentang hidupnya. ini kali kedua aku tinggal lama di Polongbangkeng. Dan aku ingin mendengar cerita sebanyak mungkin dari mereka yang telah melewati masa-masa suram perampasan tanah yang dilakukan PTPN XIV.
Ini bukan satu-satunya tempat masyarakat di rampas tanahnya atas nama pembangunan.  Dg.Mayang, seorang ibu yang telah berumur 80 tahunan bercerita dengan bahasa Makassar. Dulu mereka dikejar, dicari-cari, kalau tak ada di rumah akan dicari dijalan-jalan. Mereka disuruh datang ke kantor pemerintah desa. Jika tidak menerima uang ganti rugi label PKI akan dilekatkan pada mereka. Masa-masa itu sangat suram, polisi ada dimana-mana.
Aku jadi teringat tahun 2009 lalu, memasuki Polongbangkeng akan membuat jantungku berdegup lebih kencang. Menyaksikan brimob dengan senjata lengkap berjaga di sepanjang jalan Polongbangkeng. Seragam hitam dan senjata laras panjang. Petani yang harus bersembunyi di hutan. Saat itu jauh lebih menakutkan.
Kehidupan petani setelah perampasan tanah jauh sangat miskin. Tak ada lagi tanah yang bisa ditanami. Tak ada pekerjaan lain. Sebagian harus keluar dari desa ke daerah lain untuk bertahan hidup. Makan jagung dan ubi adalah hal biasa yang harus mereka lakoni. Bahkan aku mendapat cerita sepasang suami istri harus menggunakan satu sarung untuk berdua.
kami menghabiskan siang di bale-bale kolong rumah bapak Ila, sambil menunggu acara buka puasa yang diadakan LBH Makassar. Aku mendapat banyak cerita hari ini, mendengar cerita miris yang membuatku terus bersyukur karena hari ini aku kembali belajar pada ibu-ibu dengan semangat yang tak pupus untuk merebut kembali tanahnya.
Usai shalat  tarwih, kami bergerak ke desa Barugayya. Ada diskusi kampong dengan petani malam ini. Pukul 21.00 kami sampai di Barugayya. di Barugayya jauh lebih dingin dibandingkan Timbuseng. Letaknya dipinggiran sebuah bukit.
Lepas diskusi kampong dan mata ini masih saja bersinar terang.
11 agustus 2012

Tuesday, March 27, 2012

Menyusuri Pulau Panikiang

Azan Ashar baru saja berlalu, ketika kami meninggalkan sungai Madello. Kami sempat tertahan di pinggir pantai. Air masih surut, hingga harus menunggu pasang untuk menggerakkan perahu. Upaya Ilo dan Pak Kama, pemilik perahu untuk mendorongnya berakhir sia-sia. Beberapa ratus meter didepan kami, juga ada beberapa perahu yang terdiam. Mereka mengalami hal yang sama. Air hanya sebatas lutut.
Matahari perlahan menarik diri ketika air mulai meninggi. Dengan sebilah bambu Ilo, menggerakkan perahu. Pelan-pelan, akhirnya perahu bisa bergerak, menuju Pulau Panikiang. Pulau itu bisa dilihat dari Madello. Butuh 15 menit untuk sampai di pulau itu, pada batas normal air laut. air laut akan surut sejak pukul 14.00 hingga 17.00, sehingga waktu-waktu itu masyarakat akan mengeluarkan perahu sebelum waktu tersebut.
Awalnya Pulau Panikiang merupakan gusung, gundukan pasir putih, seiring waktu pasir tersebut bertambah menjadi daratan yang bentuknya memanjang. Pelan-pelan tanaman bakau mulai tumbuh. Pulau tersebut kemudian menjadi tempat persinggahan pa’belle. Mereka akan berdiam semalam di pulau tersebut, sambil menunggu hasil belle.
“Masyarakat awalnya takut berdiam di pulau ini, dulunya disini banyak nano . Kalau ada yang datang ke pulau ini mereka akan diambil oleh nano. Tahun 40an waktu jaman penjajahan belanda A.Mattalatta pernah sembunyi di Tembo’e, sebelah timurnya sudah ada rumah waktu itu. Saya sudah generasi keempat yang menghuni pulau ini.” demikian cerita Pak Abu Nawar kepala Kampung tentang sejarah awal Pulau tersebut.
Paniki berarti kelelawar. Pulau tersebut dihuni ribuan kelelawar. Kelelawar hitam dan coklat. Kelelawar hitam menurut cerita Pak Abu Nawar, yang juga biasa dipanggil Pak Buna, kelelawar berasal dari Kab.Soppeng. ketika kelelawar di Soppeng menghilang, mereka bermigrasi ke Pulau Panikiang. Kelelawar di Panikiang belum dilindungi. Terkadang ada orang luar yang datang dan menembak kelelawar. Ada juga orang-orang yang menjaringnya. Kelelawar hitam sudah berkurang, kembali ke Soppeng. Di Kabupaten Soppeng telah ada peraturan yang melarang menembak atau mengambil kelelawar, kecuali untuk alasan tertentu dan seizin aparat yang berwenang. Kelelawar oleh banyak masyarakat digunakan sebagai obat asma.
Menurut Pak Buna yang juga imam di Kampung tersebut , bahwa kelelawar hitam tak seperti kelelawar coklat. Kelelawar hitam akan mematuk buah dan daun mangrove hingga habis. Mereka tak suka bernaung dibalik rimbunya dedaunan,hingga terkadang membunuh mangrovenya. Beda dengan kelelawar coklat yang suka dengan daun-daun yang rimbun hingga tak menganggu pertumbuhan mangrove.
Bakau yang ada di Pulau Panikiang, sangat lebat. Ketika pulau tersebut mulai di huni ada dua orang tokoh masyarakat yang menanami pulau tersebut dengan mangrove. Pak Dalle menanami mangrove di Tembo’e, sedangkan Pak Salle, orang tua Pak Buna menanam di kampung Masigi (Mesjid). Bakau tersebut dulunya dimanfaatkan masyarakat sebagai kayu bakar, ada juga yang memanfaatkan sebagai arang, hasilnya mereka jual ke daratan. Setelah adanya larangan penebangan mangrove, pekerjaan penduduk pulau bergantung pada hasil tangkapan. Pernah sekali Kepala Kampung menebang pohon bakau yang dia tanam, namun mendapat peringatan dari Badan Dinas Lingkungan Hidup. Beliau sebelumnya tidak mengetahui adanya peraturan tersebut, hingga surat pemberitahuan tersebut disampaikan kepadanya.
Ada beberapa jenis bakau yang hidup didaerah tersebut. Rhizopora (bangko/bakau), Avicennia (api-api), sala-sala. pada tahun 60an buah sala-sala oleh penduduk pulau diolah menjadi makanan pengganti nasi. Sala’-sala’ mengandung karbohidrat.
“waktu itu sangat sulit mendapatkan nasi, jadi masyarakat kadang makan buah sala’-sala’, tapi sekarang masyarakat sudah tidak makan lagi. Susah sekali di olah. Harus dikukus dulu, baru dikeringkan, setelah itu dimasak seperti nasi” tutur Pak Buna.
“Sekarang tidak adami yang makan, sudah banyak beras dijual” tambahnya kemudian.
Profesi nelayan telah dilakoni masyarakat sejak dulu. Dari Pa’belle, menjaring ikan terbang, namun sekarang sebagian nelayan menangkap cumi-cumi hingga ke pangkep. Ada juga warga pendatang dari Mandar. Mereka bisa tinggal di pulau itu hingga 3 bulan. Anak dan istri mereka juga diikutsertakan. Mereka mengambil ikan dengan menombaknya. Untuk menombak ikan nelayan tersebut harus menyelam dikedalaman air. Mereka mendapatkan ikan baronang, yang sebagian besar dikirim ke Mandar untuk dijual. Dalam pengirimannya mereka harus membayar 30.000,- untuk setiap gabusnya.
“saya pulang pergiji ke Mandar. Disana juga tinggal dipulau sama seperti disini. Anak-anak ada disana juga” ujar Ibu Eda, ketika kami berbincang-bincang usai FGD dengan beberapa ibu-ibu. Ibu Eda sehari-hari melakukan pekerjaan rumah, mencuci, memasak, mengambil air disumur. Istri-istri nelayan dari Mandar tidak memiliki pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu lowong mereka. Salah satu alasannya juga karena mereka tak menetap di pulau tersebut.
Nelayan mandar awalnya hanya ada satu orang, namun karena hasil tangkapan disana, ikutlah beberapa keluarga. Mereka kemudian meminta izin pada kepala Kampung untuk membuat rumah di pulau tersebut. Rumah mereka, merupakan rumah-rumah kecil beratapkan daun nipah. Mereka pelan-pelan beradaptasi dengan masyarakat tetap yang menggunakan bahasa bugis.
Perempuan tanpa akses
Dalam forum FGD yang dilaksanakan, tim RCL Lemsa menggali informasi mengenai keseharian penduduk. Mereka masih malu-malu menjelaskan kehidupannya. Ibu Hadijah, seorang Janda tua hidup bersama anak perempuannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ibu Hadija mencari kerang. Ia satu-satunya pencari kerang di kampung tersebut.
“Tidak ada pekerjaan lain nak, jadi ini saja yang bisa dilakukan biar bisa makan” ujar Ibu Hadija.
Pernah juga ada tamu dari luar yang datang dan meminta dimasakkan Sala’-sala, namun sayangnya ibu Hasmawati yang memasaknya tak mencicipi sala’-sala tersebut. Penduduk Panikiang belum mengolah hasil dari hutan bakau. Parappa dan buah api-api juga banyak sekali disana. Hanya saja masyarakat tidak tahu bagaimana mengolahnya.
“oh, dimakan itu buah parappe?” tanya seorang ibu. Ibu-ibu di kampung tersebut, hampir tak memiliki aktivitas diluar pekerjaan rumahnya. Paling banyak masyarakat hanya memelihara itik atau ayam. Namun, kedua hewan piaraan tersebut tidak dapat berkembang biak dengan baik. pakan ayam dan itik masih mengandalkan dedak, yang sangat susah dipulau. Masalah lain yang diungkapkan peserta tersebut adalah susahnya air tawar di pulau tersebut. Satu-satunya sumber air dari sumur disamping mesjid.
“pagi-pagi kita harus berebut air, sedikit sekaliji air sumurnya. “ ujar iIbu Suhra, istri Pak Buna. untuk air minum, penduduk pulau harus mengambilnya di Takkalasi. “biasa juga kita bawa cucian kesana” tutur seorang Ibu peserta FGD.
Selain masalah air, persoalan kesehatan belum terjawab di pulau tersebut. Tidak adanya tenaga kesehatan yang tinggal di pulau tersebut, membuat perempuan mengalami kerentanan terhadap kondisi kesehatannya. Tak jarang perempuan harus melahirkan sebelum bidan desanya sampai di pulau.
“kalau mau imunisasi dan periksa kesehatan kita harus ke Madello” ujar Ibu hasmawati.
“bidan datang kesini kalau dipanggilpi, jadi kalau mau melahirkan biasa ditemani orang tuaji, kadang bayinya lahir duluan” tambahnya kemudian. Bayi yang baru lahir tak bisa langsung dibawa ke Madello untuk diperiksa ataupun pemberian imunisasi.
“nanti umur tiga bulan baru bayinya dibawa ke posyandu di Madello” ujar ibu Hasmawati. Akses untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatanpun sangat sulit. Ketika ada warga yang sakit mereka juga harus ke Madello untuk memeriksakan kesehatannya.
“dokter biasa datang, tapi setahun sekali. Kalau datang kita diperiksa semua dan tidak dibayarji” tambah seorang ibu peserta FGD.
Perempuan kampung Panikiang, masih sangat lugu, hidup untuk mendampingi suaminya. Dinas perikanan pernah membentuk kelompok perempuan, untuk membuat abon ikan, namun realisasinya belum ada hingga saat ini.
“dari bulan 3 dibentuk kelompoknya, tapi tidak pernahmi lagi datang itu orang perikanan.” Demikian seorang ibu bercerita. Satu-satunya kelompok di desa tersebut yang aktif adalah kelompok majlis ta’lim. Pada pembuatan kalender harian, sebagian ibu-ibu menghabiskan waktunya di siang.
Perempuan pulau yang tak mampu mandiri secara ekonomi, pun tak memiliki keterampilan akan mengalami kerentanan. Kerentanan tersebut terutama terjadi ketika suami atau laki-laki kepala kelurganya tak mampu lagi memberi nafkah. Ibu hadija menjadi potret masalah tersebut. Ketiadaan keterampilan dan akses membuatnya tak punya pilihan lain. Usia yang harusnya duduk tenang dirumah, tak bisa dirasakannya.
Beberapa Ibu terlihat mulai mengantuk, matahari diatas pulau. Tak lama lagi jemputan kami akan tiba. Ibu-ibu berpamitan. Pada pembuatan kalender harian tadi, mereka akan tidur siang. Aktivitas akan kembali dimulai sore nanti. Memasak dan mengurus anak-anak mereka.

Tuesday, February 7, 2012

Pelajaran Mangrove

Semalam begadang lagi. Hingga subuh mataku sangat berat terbuka. Rasanya aku ingin menikmati tidur sepuasnya. Tapi harus bangun, dan bersiap-siap ke Hotel Sahid. Aku ikut training Ekological Mangrove Restoration , dan hari ini akan ada kuliah lapang dari Roy Robin Lewis. Nama yang sering kutemukan, jadi referensi pada tulisan-tulisan tentang mangrove. Aku harus ikut, dan tak mau ketinggalan bis. Rugi jika tak ikut, walau panitia tak mengharuskan peserta untuk ikut. Hal lain yang menggerakkanku, aku suka mendatangi daerah yang belum pernah kuinjak. Dan tentu saja Tana Keke yang akan kami datangi, hanya sering kudengar dari kawan-kawanku di RCL Lemsa.
Agak telat berangkatnya, walau kemarin sudah di wanti-wanti oleh panitia. Harus berangkat pagi-pagi, biar cepat pulang. Lewat jam 12.00 siang ombak cukup tinggi, jadi harus meninggalkan pulau tersebut sebelum waktu itu.
Sejam di bus membuatku sempat terlelap. Lumayanlah untuk energy tambahan pagi ini, aku bahkan tak sempat sarapan atau meneguk air putih. Sebuah perahu berukuran sedang membawa kami meninggalkan dermaga Takalar lama. Pulaunya lumayan jauh, walau masih bisa terlihat. Butuh waktu sejam untuk sampai ke Tana Keke. Ini kali ketiga aku mendatangi sebuah pulau, yang pertama pulau kulambing di Pangkep, dulu ketika aku dan hera melakukan investigasi terkait pencemaran Tonasa. Kedua ke Pulau Panikiang minggu lalu, melakukan assessment kelompok di desa Madello. Pulau Panikiang termasuk bagian dari desa tersebut, dan sungguh aku masih ingin berkunjung ke tempat itu. Aku telah menuliskan cerita tentang Panikiang untuk media milik OXFAM GB. Tana Keke, tana dalam bahasa bugis adalah Tanah sedangkan keke artinya ketawa. Mungkinkah didesa tersebut, aku bisa terus tertawa,hehehe… angin sangat lembut membelaiku, karena masih pagi, ombak masih sangat bersahabat. Hanya riak-riak kecil yang akan mengingatkan kita pada ayunan bunda pada masa kecil. Membuat matamu ingin terlelap. Aku berusaha melawan kantuk, memperhatikan laut lepas.
Untung UU No.27 tahun 2007 tentang HP3 di yudisial review oleh Mahkamah Konstitusi, tak bisa terbayangkan jika laut pun harus dipetak-petakkan oleh pengusaha, sementara rakyat kecil harus semakin miskin karena tak punya akses. Aku mengingat dibeberapa daerah yang kukunjungi masyarakat masih sangat mengagungkan laut sebagai daerah open acces. Siapapun mempunyai hak yang sama untuk memanfaatkannya. Beda dengan makassar, lautnya telah dibagi-bagi, dipetak-petak kemudian ditimbungi. Dan lihatlah disana, bangunan-bangunan megah ala metropolis berdiri angkuh, menghadapi pemukiman kumuh di Mariso. Pencari kerang Mariso kehilangan akses, area tangkap mereka semakin berkurang. Atau di depan benteng rotterdam yang juga mengalami reklamasi, sebuah resto besar berdiri disana. Lain pula dengan pantai buloa yang juga akan mengalami nasib serupa.
Ada juga UU baru yang sementara digodok, dan aku berdoa semoga tak akan disahkan. Rancangan Undang-Undang Pengadaan Tanah, jadi dengan adanya UU tersebut pemerintah atau swasta bisa mengambil alih hak kepemilikan rakyat dengan dalih kepentingan umum, walau tak tahu banyak tentang RUU tersebut, aku yakin tak akan berpihak ke rakyat kecil. Pemilik tanah berkewajiban melepas tanahnya untuk kepentingan pembangunan. Penolakan tak akan membuat pembangunan terhenti. Ganti rugi akan dititip di pengadilan.
Ada tiga kapal yang membawa kami ke pulau itu. Dua gadis pulau tersebut yang juga ikut pelatihan bersamaku dikapal ini. Katanya kami harus pindah kapal nantinya, karena kapal ini tak bisa sampai ke desa. Dari kejauhan mulai tampak botol-botol bekas mengapung teratur. Namun, terlihat seperti sampah yang mengganggu pantai. Pada beberapa titik yang juga teratur berdiri tonggak-tonggak. Itu bentangan rumput laut, masyarakat pulau ini juga bertani rumput laut. Aku terus melihat kebawah, memperhatikan bentangan rumput laut itu, sejak di pitusunggu, aku sangat ingin melihat langsung bentangan rumput laut, namun belum pernah ada waktu untuk melihatnya.
Hutan mangrove cukup lebat mengelilingi pulau tersebut. Beberapa perahu berukuran kecil telah menunggu. Perahu-perahu itu akan membawa kami ke desa. 3- 4 orang satu perahu, muatannya tak boleh lebih dari itu. Perahu ini mengingatkanku pada perahu-perahu di sengkang yang sering kugunakan jika banjir bertandang. Sebenarnya air tak terlalu dalam, hanya lumpurnya yang lumayan membuat kita tak akan bisa berjalan. Masyarakat harus menggunakan perahu kecil untuk sampai kedesa. Melewati lorong-lorong kecil yang diapit mangrove. Kami langsung ke lokasi mangrovenya.
Dulunya daerah yang direstorasi merupakan tambak-tambak terlantar. Masyarakat tak lagi memanfaatkannya, karena produksi yang berkurang, lagipula mereka menemukan alternative lain, bertani rumput laut, dan hasilnya lebih menjanjikan. Tambak pernah sukses di Sulawesi Selatan, dan hal tersebut pula yang mengambil alih lahan-lahan mangrove, juga pada beberapa provinsi lainnya. Tambak kini menyisakan banyak utang menurut Riza Damanik, sekarang menjabat sebagai Direktur KIARA pada salah satu tulisannya sejak tahun 1987 sampai 2013 mendatang, utang Indonesia untuk kegiatan pertambakan setiap tahunnya rata-rata sebesar Rp 41 triliyun. Konsekuensi yang dirasakan masyarakat adalah berkurangnya lahan mangrove di Indonesia. Saat ini hutan mangrove di Indonesia kurang lebih 1,9 juta hektar. Dampaknya pun di rasakan masyarakat. Bencana-bencana di daerah pesisir kerap terjadi. Abrasi pantai menyebabkan sebagian masyarakat harus kehilangan tempat tinggal mereka. Peningkatan muka air laut juga akan menyebabkan hilangnya beberapa pulau kecil di Indonesia.
Mangrove merupakan tanaman yang sangat bermanfaat tidak hanya bagi masyarakat pesisir tapi oleh seluruh masyarakat. Di hutan mangrove perputaran rantai makanan berjalan terus, keberlangsungan berbagai spesies hewan laut bermula dari tempat ini. Ikan memijah, udang, kepiting, dan berbagai lainnya, belum lagi manfaatnya untuk manusia. Bahkan mangrove berfungsi memecah ombak. Pada daerah yang mempunyai hutan mangrove yang lebat ancaman tsunami bisa diminimalisir. Mangrove mempunyai peran penting terhadap pengurangan panas bumi dengan kemampuannya untuk menyerap karbon.
Mangrove sangat dipengaruhi pasang surut air laut, juga oleh topografi, dan hidrologi. Pada bekas tambak tersebut, bedengan-bedengannya ada yang dibuka. Agar air laut bisa masuk, dan mangrove bisa tumbuh didalammnya. Lewis mengatakan jika mangrove bisa ditumbuhkan dengan sendirinya oleh alam, dan manusia harus belajar pada alam bagaimana pola-polanya.
Berbagai upaya rehabilitasi mangrove lewat penanaman mangrove sangat sedikit yang berhasil. Manusia hanya menanam dan tak memperhatikan kondisi alamnya. Milyaran dana habis untuk ini. Kepala desa Bodie, usai sosialisasi program RCL kemarin bercerita, jika desa Bodie pernah mendapat bantuan 3000 bibit dari dinas kehutanan, namun yang bertahan hidup hanya ada 100 pohon. Ada 2900 bibit yang harus tereleminasi. Program-program yang ada hanya pada proses penyediaan bibit dan menanam, namun upaya membuat bibit itu bertahan hidup itu tak dilakukan.
Kami juga melihat lahan percontohan yang tak luas. Areanya dibatasi oleh tali nilon, tak cukup luas, hanya ada 20an bibit mangrove yang ditanam, dan semuanya masih hidup. Lewis banyak memperlihatkan pola-pola tanaman mangrove, bagaimana di daerah yang agak dalam bibit mangrove hampir tak ditemukan, sementara di bagian lain tak jarang kita menemukan bibit-bibit mangrove yang tumbuh sendiri, juga bagaimana mangrove bisa tumbuh sejajar dan teratur di tepian aliran air. Bukaan-bukaan kecil tak mempunyai sirkulasi air yang lancar, hingga yang terjadi malah sedimentasi, sementara pada bukaan bedengan yang agak lebar, air dengan mudah keluar masuk.
Perjalanan hari ini cukup melelahkan, pakaian yang belepotan pasir, kaki yang terendam lumpur tiram dan kerang yang sesekali memberi kejutan kecil pada telapak kakiku. Matahari yang bersinar cerah, membakar dan memerihkan kulit. Sun block tak berhasil menjaga kulit untuk tak sedikit memerah.
Lebih dari itu hari ini aku berwisata kuliner, mulai dari kepiting, udang,, berbagai jenis kerang-kerangan, ikan bakar, rumput laut segar dan sayuran khas Tanakeke yang baru dilidahku. Lapar dan haus membuat semua peserta menyantap makanan dengan lahap. Semua hendak dicoba, hasil laut yang segar dan bergizi, walau membuatku berpikir seribu kali untuk mencicipi cumi dan kepitingnya. Kolestrolnya cukup tinggi, dan bisa menegangkan urat leherku. Semoga baik-baik saja, aku mencicipi secukupnya untuk menjaga tubuhku baik-baik saja, walau enaknya membuatku masih ngiler dan ingin tambah.
Hari ini sangat indah, walau ombak dalam perjalanan pulang membuatku minta ampun, tinggi dan kencang, hingga percikan ombak dan ayunan kapalnya membuat tangan harus berpegang kuat disisi perahu. Terima kasih untuk perjalanan hari ini, dan aku belum kapok memulai perjalanan lain.

22;36
berteman Bintang Indrianto “pulihkan bumi kita, jaga dan cintailah…Pulihkan Indonesia”
19 juli 2011

Monday, January 16, 2012

Belajar dari Moel

Ke Barrang lompo, tidak sendirian tentunya. Perjalanan pertama menyusuri pulau di wilayah Makassar. Pulau yang kubentuk pada pikiranku jauh berbeda dengan realitas yang kudapatkan. Namun, itu tak penting. Seharusnya 7 orang berangkat bersamaan pagi itu menumpang sebuah kapal besar milik H.Dahri. Novita sari namanya.
Kapal berangkat dari Makassar setiap pukul 11.00, tidak akan menunggu lama, karena setelah itu ombak akan tinggi dan angin timur akan mulai mengganas. Sejam dalam perjalanan, kuhabiskan dengan melelapkan mata. Dermaga Barrang lompo sangat ramai. Banyak orang telah menunggu kapal. Mungkin menunggu pesanan, atau orang-orang yang mereka cintai.
Barrang Lompo merupakan bagian dari Makassar, beberapa kawan mengistilahkan pulau ini sebagai sebuah metropolis kecil. Tanah menjadi barang langka,dan menjadi hal paling mahal. hampir tak ada ruang kosong. Penduduknya pun lebih dari satu etnis.
Barrang lompo seperti kota kecil yang sangat ramai, penduduknya sangat padat. Kumulai sore dengan mengelilingi kota kecil itu, bersama teman kecilku Ija.
Pagi kedua di Barrang Lompo, melewati beberapa menit di dermaga usai mengantar beberapa kawan yang akan kembali ke Makassar hari itu. Pertemuan selalu menyenangkan, namun pada akhirnya kita akan berpisah. Dan pada waktunya nanti kita betul-betul akan pergi, meninggalkan dunia.
Kapal terakhir telah bergerak meninggalkan dermaga. Dua anak kecil berdiri disudut dermaga. Aku mendekat, hendak mengambil gambarnya. Bocah itu mungkin bermimpi suatu hari iapun akan pergi melihat kota.
Salah satu bocah itu menangis. Mungkin mereka bertengkar,pikirku. Air matanya tambah deras. Bajunya ditarik untuk mengelap ingus. Aku mendekati mereka. Membujuknya agar berhenti menangis. Bocah laki-laki dengan tatapan nanar tak bersemangat. Ibunya mungkin diantara orang-orang yang akan beranjak meninggalkan pulau.
Aku bertanya pada temannya.
“ ada kakaknya dikapal itu” temannya menunjuk salah satu kapal yang telah berlalu. Beberapa bocah memang naik ke kapal itu. Mungkin salah satu diantara mereka adalah kakaknya.
“pergimi kakakku, hilangki nanti dikota. Tidak ada natemani. Tidak ada uangnya juga” ia bicara dengan tersendak-sendak.
Moel namanya. Bocah laki-laki berusia 9 tahun yang kutemukan di dermaga. Ia memberiku pelajaran berharga. Tentang cinta dan kesederhanaannya.
Moel hidup berdua dengan kakaknya. Ibunya telah meninggal dunia, sedang bapaknya pergi ntah kemana. Dari teman kecilku Khadijah, ia bercerita tentang Moel. Moel dan kakaknya tinggal bersama tantenya. Setiap pagi dua bersaudara itu akan keliling pulau menjajakan songkola dan penganan lainnya. Setelah itu mereka akan berangkat sekolah. Moel duduk di kelas II SD. Pulang sekolah mereka kembali keliling pulau mencari plastik-plastik bekas dan hasilnya mereka jual ke pengepul.
Pernah saya merasakan hal yang sama. Menangis di pelabuhan. Tak hanya sekali. Berpisah adalah hal berat yang sering terjadi, namun harus kita lalui. Dulu, saya harus melepas kakakku berangkat kerja di Kalimantan. Dan saya tak kuasa mengantar kepergiaanya, berharap akan ada kesempatan untuk melihatnya kembali.
Setiap orang selalu mempunyai cara untuk mengungkapkan cintanya, tak pernah sekalipun kusenandungkan lewat kata, bagaimana kecintaan itu pada mereka. Tak harus, dan aku tak perlu mengatakannya, seperti Moel yang mengurai cintanya lewat tangis. Kuurai cinta itu tanpa sepatah kata.

Friday, September 5, 2008

Sudut Matteko

Angka 14.00 telah lewat, dan jam itu terus bergerak, meninggalkan detik demi detik, menjadi menit. Hingga 60 menit berlalu, akhirnya truk yang akan membawa kami ke Matteko datang juga. Ehm…aku membayangkan kawasan karst yang hijau, penuh kebun buah dan bunga. Perjalanan yang sangat menyenangkan. Aku mengiyakan saja ketika teman-teman dari korpala mengajak kesana. BAKSOS di desa ERELEMBANG, GOWA. Menurut survey katanya daerah itu rawan terserang diare dan batuk. Aku sempat heran, kawasan pegunungan masyarakatnya banyak yang terkena diare. Akhirnya kemarin aku mencari bahan-bahan penyuluhan dengan memanfaatkan akses dunia maya. Air bersih bukan satu-satunya penyebab orang terserang diare. Aku telah membaca beberapa referensi dan membuat power pointnya. Semoga bisa membantu nantinya di lokasi itu.

Untuk sampe ke Matteko, kita harus melewati kawasan wisata Malino, pikiranku tak henti menerawang, membayangkan keindahan alam daerah yang akan kami kunjungi. Truk itu cukup penuh , walau tidak sepadat kondisi busway di Jakarta, paling ngga aku masih bisa mendapat tempat kosong untuk duduk dan meluruskan kakiku. Tumpukan carel berisi pakaian bekas dan buku, depect peserta dan, obat-obatan serta peralatan panitia lainnya mengambil tempat yang tak sedikit dalam truk. Beberapa webbing di ikat melintang tak beraturan jadi tempat pegangan agar tak terjatuh.beberapa orang duduk di dinding truk. Aku tak bisa melihat keluar. dinding truk yang tinggi menghalangi kami, sementara dipinggir-pinggirnya juga ada beberapa orang yang memilih berdiri. Sesekali mereka menjinjitkan kakinya melihat keluar. Ada beberapa orang yang tak aku kenal, dan penampilan mereka lebih mentereng dibanding yang lain. Rambut yang telah direbonding, . Belakangan aku mengetahui kalau mereka kuliah di FKG, pantas saja beberapa orang menggunakan kawat gigi, Memasuki daerah gowa, jalanan mulai tak bersahabat. Terdapat lobang disana-sini, juga debu-debu yang beterbangan. Perbaikan jalan tak henti dilakukan, hampir setiap tahunnya, namun jalan-jalan di Indonesia tak pernah bisa bertahan lama. Sebagian dananya telah lenyap sehingga kualitasnya tak pernah bisa baik.

Jalanan semakin terjal dan mendaki. Setiap orang yang tadinya telah lelap harus terbangun. Mobil berderik keras. Aku berpikir kayu-kayunya telah tua dan mungkin saja jadi hancur. Ahh…berbagai kemungkinan negative muncul dibenakku. Apa mungkin kita akan terlempar masuk jurang, atau badan truk ini akan terpisah, dan kami akan terhempas kesakitan.

Mobil mengerem tanpa bisa bergerak. Beberapa orang yang duduk di dinding truk melompat turun. Seseorang berteriak menyuruh yang lainnya mencari batu. Emh…mobilnya masuk lubang. Sekeliling hanya hutan-hutan dengan bunyi mahluk alam tanpa henti.

Rumah-rumah penduduk mulai kelihatan. Aku berpikir inilah desa yang akan kami tuju. Aku men-aktif-kan HP, sekedar melihat perputaran jarum jam. 22.30. pintu truk dibuka. Sebagian berlompatan turun. Aku masih sibuk mencari depeck dengan memanfaatkan cahaya HP.

“kita akan melanjutkan perjalanan”

D:\PERSONAL\deenie\flash\101MSDCF\DSC09871.JPG

Sebuah rumah dengan cahaya lampu temaram. “kita sudah sampai”, seseorang berteriak dari belakang. Aku tersenyum, perjalanan melelahkan akhirnya berakhir malam ini. Aku akan membaringkan tubuhku dan terlelap.

Rumah penduduk berbentuk rumah panggung. Hanya rumah yang kami tuju yang bercahaya, sementara yang lainnya telah gelap gulita.di daerah ini belum ada listrik, tapi pemilik rumah yang kami tempati kreatif hingga beliau dapat menikmati cahaya lampu dengan memanfaatkan tenaga kincir. Bau kotoran kerbau menusuk hidung. Kemarin kak daud mengatakan kalau kandang sapi penduduk berada di kolong rumah. Sebuah selang air melintas dikolong rumah. Aku mencari sambungannya dan membersihkan kakiku. Airnya sangat dingin. Menusuk hingga ke sum-sum tulang.

Udaranya segar banget. Belum terkena dampak modernisasi. Matteko jauh dari peradaban kota. Untuk sampai ke daerah ini butuh enam jam dari Makassar. Listrik belum ada, sehingga tak ada alat elektronik seperti TV dan radio. Aku merasa jatuh cinta pada desa ini. Menjauh dari peradaban kota lebih baik. Disini masyarakatnya masih ndeso.

Rumah-rumah panggung penduduk yang tak punya ventilasi. Tak ada jendela, kandang sapi di kolong. Tak ada jamban, rumah yang berjauhan jaraknya. Aku terus berpikir kenapa daerah ini rawan diare. Air mereka masih bersih, diambil langsung dari mata air dipegunungan.

Matteko adalah setitik kecil daerah terpencil yang ada di Indonesia. Daerah lain masih banyak yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan. Pedalaman yang belum tersentuh pendidikan sama sekali. Aku bersedih sekaligus gembira dengan kondisi daerah ini. Miris memang, namun ketika membandingkan dengan realitas kota yang jauh lebih kejam. Maka pilihan hidup tenang di desa tanpa gengsi dan kompetisi jauh lebih baik.

Di daerah ini belum ada SD negeri , hanya ada SD dan SMP muhammadiyah, namun itu telah membuat masyarakatnya tak buta huruf. Mereka adalah orang-orang cerdas dengan sarana yang tak memadai. Aku jadi teringat buku lascar pelangi buatan andrea hirata. Anak-anak yang antusias berangkat sekolah walau harus jalan kaki dengan jarak yang tak sedikit, sementara kondisi kota yang tak cukup 1 kiloan harus ditempuh dengan motor ataupun pete-pete. Kondisi lingkungan membentuk kita. Sekolah muhammadiyah yang hanya terdiri dari tiga kelas. Kelas itu dipake berganti-ganti dengan anak SMP.

Ada beberapa masyarakat yang sempat mengenyam pendidikan tinggi hingga bangku kuliah. Mereka yang akhirnya kembali dan mendirikan sekolah itu. Walau tenaga pengajar masih terbatas, tapi tak menurunkan niat anak-anaknya untuk belajar.

Baksos korpala mempunyai beberapa item kegiatan; sirkumsisi, pemeriksaan kesehatan, penyuluhan kesehatan, penyuluhan peternakan, vaksinasi ternak, juga sumbangan pakaian bekas, buku pelajaran dan alqur’an.

Pukul 10.00 masyarakat mulai berdatangan. Mereka tak kenal umur. Mulai dari anak kecil sampe nenek dan kakek-kakek. Setiap perempuan yang datang menggunakan pakaian tertutup. Kerudung menutupi rambut mereka. Seorang gadis dengan jilbab menutupi sekujur tubuhnya, membuatkku terperanjat keget. Anak kecil dengan hidung meler dan tubuh yang hangat karena demam. Mereka berlarian, ada yang mengintip dijendela memperhatikan pak dokter memeriksa pasiennya. Bayi yang terlelap dalam pangkuan sang ibu. Mereka bahagia dan simpatik dengan kegiatan ini. Semuanya datang berobat. Wajar saja, seorang dokter puskesmas tak pernah menginjakkan kaki di desa terpencil seperti ini. Menurut cerita yang aku dengar, kalau ada warga yang sedang sakit, mereka harus dibawa dengan tandu sampai mendapatkan kendaraan umum. Tak jarang ibu hamil yang ditandu melahirkan ditengah jalan.

Ketiadaan tenaga medis di desa-desa terpencil menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian dan pesakitan juga angka kelahiran yang tinggi. diare telah mengambil nyawa beberapa orang. Belum lagi penyakit lainnya.

Sebenarnya disetiap daerah selalu ada satu bidan desa. Namun bidan desa matteko tak pernah menyabanginya. Hamper semua daerah terpencil di Indoensia seperti ini.

Tapi tanpa bidan desa yang memantau perkembangan balitanya. Aku dapat melihat kalau mereka sehat-sehat. Tubuh bongsor yang padat. Mata bercahaya. Saying perubahan cuaca yang tak jelas membuat mereka sakit-sakitan. Cuaca sangat jarang bersahabat beberapa tahun terakhir. Global warming menjadikan musim semakin tak beraturan, musim hujan yang terlalu lama, musimm kemarau yang hanya sebentar, dengan hawa yang sangat panas.

Masyarakat dengan antusias duduk di ruangan. Mereka memperhatikan materi yang terpampang di depan mereka. Ada LCD yang dibawa panitia, hingga masyarakat bisa juga membaca langsung bahannya. Aku memulai dengan memperkenalkan diare pada mereka. Menjelaskan penyebab, hingga pengobatan dan pencegahannya. Sejam berlangsung, aku menjelaskan kalau mereka bisa tak terkena diare lagi asal menjaga pola hidupnya. Air adalah salah satu penyebaran bakteri diare, juga bahwa kandang sapi yang ada di bawah kolong rumah membuat mreka gampang terserang penyakit.

Terakhir mengingatkan bahwa hal sederhana seperti mencuci tangan sebelum menyentuh makanan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan untuk menghindari berbagai penyakit.

Sejam menjelaskan, aku member kesempatan pada masyarakat untuk bertanya. Silih berganti mereka bertanya, aku menjawab seadanya sesuai kemampuanku. Seorang bapak bertanya tentang ibu menyusui, katanya ada seorang bayi yang tidak bisa menyusui dari ibunya sementara ketika ia menyusu pada orang lain, bayi itu tenang-tenang saja. Mukaku memerah mendengarnya. Aku sadar ternyata aku belum siap menjadi seorang penyuluh. Untung saja aku tidak penyuluhan kespro, pasti ngga bisa dan grogi. Kawan-kawan yang ada di ruangan itu tersenyum dan memintaku menjawabnya. Irman tertawa kecil di depan laptopnya.

“ini pertanyaan kedua untuk kasus yang sama hari ini?”aku memulai pembicaraan itu. Bayi itu sangat sensitive, sehingga sedikit saja, mereka bisa merasakan adanya perbedaan rasa. Bisa jadi pada waktu pertama menetek, bayinya merasa asi itu pahit, mungkin karena payudaranya tidak bersih atau ibunya sedang sakit, sehingga asi yang dikeluarkan jadi aneh. Sehingga bayinya tidak suka. Untuk mengatasinya hal paling penting adalah menjaga kebersihan tubuh kita dan memakan makanan yang sehat. “

Tiga jam berlalu. Akhirnya penyuluhan itu usai juga. Pengobatan juga dah selesai dari tadi. Di depan panitia mulai memasang layar untuk nonton sebentar malam. Ada pemutaran film “dennias” sudah lama aku ingin menonton film itu, namun tak pernah kesampaian. Selalu saja ada halangan. Anak kecil berlarian dilapangan. Mereka bermain dengan riang. Permaianan berkelompok sangat berharga. Mereka diajarkan untuk saling menolong, bekerjasama. Sayang di kota permaianan-permainan rakyat harus terganti dengan PS2 dan game computer.

Aku mengitari lapangan. Mencari jejak-jejak lukisan alam yang lain. Gunung yang hijau dari sudut yang lain. Di depanku sebuah sungai dengan aliran air yang kecil membuatku bergerak mendekat. Ada bunga-bunga putih bertebaran menutupinya. Aku berpikir itulah edelweiss. Namun ternyata salah, bunga-bunga itu berasal dari tanaman liar yang tumbuh tinggi menutupi badan sungai. Aku tak bisa menuruni sungai itu. Ada pagar dari pohon yang ditumpuk melintang membatasi setiap sisinya. Pinggirnya sangat terjal, mungkin masyarakat takut mereka terjatuh. Apalagi disekitar sekolah itu menjadi arena bermain anak-anak mereka.

Aku mendekat ke pohon pinus. Dibagian bawah batangnya telah ada guratan pisau melintang yang teratur. Ujungnya menyatu dan ada potongan seng yang sengaja dipasang di ujung tadi. Potongan seng itu berakhir pada sebuah tempurung kelapa yang disangga potongan kayu. Getah-getah pinus mengalir ke tempurung tadi. Aku mengambil sepotong kayu kecil. Mencolek getah tadi. Bening dan lengket.

“getah itu bisa terbakar” kak daud telah berdiri di belakangku.

Katanya getah ini digunakan untuk campuran pernis. Temannya duduk di rumput tak jauh dari tempatku berdiri. Aku berjalan kesana dan duduk di dekatnya. Kami kembali membicarakan masalah kesehatan penduduk, melihat kecenderungan penyakit pasien yang telah diperiksa. Aku menanyakan kasus beberapa warga yang kakinya bengkak. Awalnya aku mengira penyakit tersebut karena alergi, seperti tubuhku yang kadang membengkak karena kena air hujan. Tapi ternyata bukan itu penyebabnya. Katanya bengkak pada kaki bisa karena beberapa hal, termasuk penyakit jantung. Nah pada kasus tersebut, tak ditemukan identifikasi tersebuat. Menurut perkiraan kak daud itu gejala cikungunya. Aku kaget mendengarnya. Kasihan masyarakat kalau perkiraan itu benar, sementara di daerah ini tak pernah didatangi petugas kesehatan.

Panitia sebagian telah kembali ke base camp. Tempat ini tak memberi kebosanan. Keindahan yang tak terungkap. Keindahan yang selalu memberi ketenangan, menyejukkan. Ibu-ibu yang masih duduk bercengkrama, menikmati segarnya udara kala senja. Suasana kampong yang takkan pernah ada di belantara kota.

Matahari semakin bergerak ke barat meninggalkan siluet di belahan barat. Aku beranjak pulang. Esok truk akan kembali membawa kami ke Makassar. Mengembalikan kami pada hiruk pikuk kota.