Showing posts with label tetap melawan. Show all posts
Showing posts with label tetap melawan. Show all posts

Friday, July 13, 2012

Mubes Serikat Tani Polongbangkeng (4)


Musyawarah Besar II Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar
“Perkuat Organisasi, Gelorakan Perjuangan, Gapai cita-cita Kesejahteraan Kaum Tani”
Musyawarah besar bukan hal yang baru. Mahasiswa yang aktif berorganisasi pasti pernah merasakan yang namanya Mubes. Bagaimana dengan Petani?
Petani bukan lagi masyarakat yang hanya mengenal cangkul dan sabit. Berangkat subuh buta dan pulang menjelang sore. Petani pun telah mengorganisir dirinya.
“Organisasi didirikan dalam konflik antara PTPN XIV dengan masyarakat Polongbangkeng. Konflik ini adalah persoalan kepemilikan tanah yasng telah dikelola oleh PTPN XIV Pabrik gula takalar ” Ujar Ahmad Dg.Arsyad.
Petani Polongbangkeng mengadakan Musyawarah Besar II sejak tanggal 9 hingga 10 juli 2012. Organisasi yang menamakan dirinya Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar ini terbentuk sejak Musyawarah besar pertama yang diadakan 30 oktober hingga 1 November 2009 di Benteng Somba Opu.  Anggota yang telah terdaftar secara administrasi 463 orang dengan system keanggotaan individu.
STP terbentuk setelah perjalanan panjang dalam memperjuangkan hak petani merebut kembali tanahnya yang dirampas PTPN XIV. Tanah yang telah didiami sejak tahun 40an oleh PTPN XIV dijadikan perkebunan. 4.000 ha tanah petani diubah menjadi kebun tebu. Berbagai upaya terror, intimidasi dilakukan untuk mengambil lahan petani.
Mubes dilaksanakan sebagai upaya memperkuat organisasi. Enam desa telah merapikan diri dan menjadi Ranting dan Badan Persiapan Ranting. Ranting Timbuseng, Ranting Ko’mara, Ranting barugaya, Badan Persiapan Ranting Kampung Beru, Massamaturu dan Parang luara. Bersatu membangun organisasi untuk merebut hak yang telah dirampas.
“Berorganisasi adalah alat. Mengambil tanah meski tanah masyarakat kalau diambis individu tidak akan bisa dilakukan. Seluruh rakyat di Indonesia harus memperkuat organisasi “ tegas Ali DPP AGRA  yang juga ikut pada pelaksanaan MUBES II STP Takalar.
Untuk kelancaran MUBES peserta penuh yang ikut adalah pimpinan Ranting dan Badan Persiapan Ranting dari enam desa. Sedangkan untuk peninjau berasal dari Anggota dan beberapa jaringan STP. Ada Ahmad SH dari Eksekutif WALHI Nasional, Ali dari DPP AGRA, WALHI Sulsel, AGRA Bulukumba, AJI Makassar, Jurnal Celebes, AMAN Sulsel dan beberapa mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Sayangnya, undangan dari pemerintah tidak ada yang datang sehingga anggota STP sangat kecewa.
Hari pertama dan kedua MUBES berjalan lancar. Pimpinan sidang terpilih terdiri atas lima orang, Dg.Nyaling, Dg.Mone, Dg.Sijaya, Dg.Tonji dan Dg.Imba. secara bergantian memimpin persidangan. Persidangan yang diadakan dibawah tenda halaman rumah Dg.Ila cukup terbuka. Antusias anggota sangat terlihat. Laki-laki dan perempuan datang dan menyaksikan jalannya MUBES. Mereka tak segan-segan untuk bertanya. Bahasa Makassar dan Indonesia bercampur dan tak menjadi penghalang.
Kepemimpinan dalam Serikat Tani Polongbangkeng sangat berbeda dibanding organisasi tani lainnya. Kepemimpinan tidak terpusat pada satu orang. Ada Sembilan pimpinan yang terpilih. Mewakili setiap ranting dan badan persiapan ranting. Diakhir Musyawarah besar terpilih M. Asryad dg.Nyampa, Idris Dg.Nyali, Rusli Dg.Imba, Abd.Hamid Dg.Mone, Dg. Tonji, Zainuddin Dg.Tutu, Rahman Dg.Sijaya, Sudirman Dg.Buang, dan Mammi Dg.Liwang.
sebelum menutup MUBES II STP Takalar pimpinan sidang memberi kesempatan kepada anggota untuk berbicara. bergantian peserta bercerita tentang perjuangan mereka dan semangat yang tak pernah padam untuk merebut tanah mereka.
Bersatulah Kaum Tani Takalar..!!! Bangkit, Bergerak, Berorganisasi..!!!
Jayalah Kaum Tani..!!!

Sunday, July 8, 2012

Mubes Serikat Tani Polongbangkeng (3)


Sejarah Perjuangan Serikat Tani Polongbangkeng
Tinggal dua hari Musyawarah besar II Serikat Tani Polongbangkeng akan dimulai. Aku terlambat berangkat. Beberapa kawan telah duluan kesana. Mempersiapkan kelengkapan Mubes II Serikat Tani Polongbangkeng. Sabtu malam aku berangkat. Berada ditengah petani adalah hal terbaik untuk mengembalikan semangat. Ibu-ibu dengan ribuan semangat juang. Wajah-wajah tua yang seharusnya istirahat di rumah, namun selalu penuh semangat memperjuangkan tanah. Tanah mereka di rampas PTPN XIV sejak puluhan tahun lalu, jauh sebelum aku lahir.
Aku akan sedikit bercerita tentang Sejarah perjuangan rakyat Polongbangkeng. Harusnya diceritakan sejak awal. Tapi sebenarnya tidak juga, sejak tahun 2009 bersama beberapa lembaga dan individu telah berada disana.
Sejak tahun 1942 rakyat Polongbangkeng telah mendiami tanah-tanah yang ada disana. Mereka menggarap,dan mengolah tanah sejak dulu. Bahkan ditahun 1980 mereka telah mendapatkan surat pengakuan hak dari pemerintah. Rakyat Polongbangkeng mayoritas petani, yang hidup dari tanah nenek moyang mereka.
Ah, cerita sejarah akan ada banyak angka yang kita lihat. Di tahun 1974 mulai tersebar informasi akan adanya rencana untuk membangun perkebunan di Polongbangkeng. Perkebunan tebu. Isu ini tersebar di masyarakat.  Tak butuh waktu lama, empat tahun setelah itu di tahun 1978 sebuah surat lahir dari Bupati Takalar. SK pemberian izin kepada PT Madu Baru untuk melaksanakan rencana pembangunan perkebunan. Pada saat yang pula ditetapkan adanya pemberian ganti rugi Rp. 10,-/ meter persegi. Ini keputusan sepihak yang dikeluarkan pemerintah. Masyarakat menolak dan tetap menggarap lahan mereka. Berbagai upayapun dilakukan untuk mewujudkan perkebunan tebu tersebut. Berbagai intimidasi telah diterima rakyat Polongbangkeng, namun itu tidak menyurutkan perjuangan mereka.
Pada tahun 1980 PT. Madu Baru mengundurkan diri, selanjutnya perkebunan tebu tersebut diambil alih oleh PTPN XIV. Bentuk intimidasi tetap terjadi. Upaya penolakan masyarakat tetap terjadi. Ganti rugi sebesar Rp.60,- permeter persegi kembali ditolak masyarakat. Akhirnya PTPN XIV mengumumkan bahwa uang ganti rugi yang diberikan itu sebagai biaya sewa tanah selama 30 tahun. Akhirnya masyarakat menerima dengan paksa.
Beberapa peristiwa berdarah telah terjadi. Telah ada beberapa nyawa yang harus hilang karena konflik PTPN XIV. Di tahun 2008 terjadi insiden Pakkawa, dua orang kena tembak dan beberapa lainnya terluka. Penangkapan pun terus terjadi. Pada 15 juli 2009 kembali terjadi insiden. 2 orang petani harus ditahan di Polres Takalar. Rakyat Polongbangkeng cemas dan mencekam.
Pada tahun yang sama setelah beberapa organisasi mendampingi rakyat Polongbangkeng. Mahasiswa, LBH Makassar, WALHI Sulsel dan beberapa organisasi lainnya. Atas kesadaran rakyat menyatukan diri mereka dalam sebuah organisasi yang diberi nama Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar. STP dibentuk pada Mubes I di benteng Somba Opu pada tanggal 30 Oktober- 1 November 2009.
Organisasi ini terus berjuang hingga saat ini. Telah ada kurang lebih 400 anggota yang bergabung didalamnya. Sebagian tanahpun telah kembali ditangan. Reclaiming bukan sekali dilakukan. Ada ratusan hektar tanah yang telah di Tanami bahkan dinikmati hasilnya.
Tiga tahun lalu, kadang khawatir dan takut ketika memasuki kampong ini. Brimob bisa kita temui di sepanjang jalan. Berjaga-jaga dengan senapan yang terselempang di lengan. Beberapa kawan telah kena pukulan bahkan pernah ditahan aparat hukum.

Mubes Serikat Tani Polongbangkeng Takalar (2)

Dapat tugas lagi. Ke Polongbangkeng tentunya. Ini perjalanan kedua untuk persiapan Mubes STP. Agendanya membagi dua kelompok yang sudah ada. Kali ini kami bertugas di desa Barugaya. Ketua Chivas yang mempunyai seribu nama tak dapat hadir malam ini. Ada screening di kampus orange. Dia jadi steering.  Satu-satunya masalah buatku untuk setiap perjalanan yang menyenangkan adalah setelah bulan ke enam aku masih saja tak bisa mengendarai motor. Harus diantar kemana-mana. Rumah hijau sedang sepi. Aku berangkat sama Budi. Agak telat, tadi aku bertemu dengan teman-teman HIMAJI di Sekolah KAMI.
Kami singgah dulu di rumah Bapak Ila. Orang tua baik hati itu sangat kelelahan. Namun, ditangannya masih ada berkas formulir anggota STP. Ia sedang membenahinya. Bapak Ila bertugas sebagai sekretaris. Beliau memang cukup telaten, dan satu lagi sangat tenang.
Dingin Polongbangkeng membuat mata tak bisa bertahan lama terbuka. Sirat kantuk Nampak dari wajah Bapak Ila. Katanya ia sudah menghubungi Dg.Toro untuk menemani kami ke Desa Barugaya.
Desa itu masih jauh ke dalam, butuh waktu 10 menit untuk sampai kesana. Malam belum terlalu larut, kampung malam itu sangat ramai. Ada pesta pengantin dengan music electon penghibur. Warga yang jarang mendapat hiburan keluar dan menikmatinya. Mereka rela berjalan kaki untuk menyaksikan pesta tersebut.
Sudah dua kali Dg. Imba menelpon. Warga sudah berkumpul di rumahnya. Takut mereka pulang karena kelamaan menunggu. Ini salahku, tak memperkirakan waktu dengan cukup baik.
Sampai disana telah banyak orang yang berkumpul. Suara Dg. Imba terdengar jelas. Ia sedang menjelaskan tentang reforma agraria yang sedang diusung oleh BPN Nasional. Beritanya ada di koran Kompas. Ia sedang menjelaskan isi berita itu. BPN akan melakukan pengukuran terhadap tanah-tanah Negara, dan melakukan pendataan terhadap masyarakat yang tak punya tanah.
Telah ada tiga kelompok di Desa Barugaya. Satu kelompok beranggotakan 30 orang. Ada satu kelompok berjumlah 34 anggota, dan kelompok terakhir ada 28 anggota. Untuk menjadi ranting harus ada 5 kelompok yang terbentuk. Kalau kurang dari lima masih berupa badan persiapan ranting.
Pembagian kelompok di serahkan ke Dg.Imba. untuk membagi dua kelompok yang telah ada harus dilaksanakan sendiri. Pembentukan kelompok itu biasa berdasarkan kedekatan, sehingga Aku dan Budi tak bisa melakukan pembagian kelompok itu.
Untuk setiap kelompok dipilih ketua, sekretaris dan bendahara. Struktur ini dipilih sendiri oleh anggota kelompok. Setelah kelompok terbentuk, selanjutnya memilih pimpinan ranting. Mekanisme pemilihan ini telah diatur. Setiap kelompok memilih dua orang anggotanya yang akan masuk pada struktur ranting. Akan ada sepuluh pimpinan yang terpilih, namun untuk membuatnya jadi ganjil maka pimpinan tersebut harus ditambah satu orang lagi. Satu orang ini dipilih oleh pimpinan yang telah ada. Hasil keputusan Bersama Dg. Imba menjadi kordinator pimpinan kolektif ranting Barugaya.
Pukul 23.00 pertemuan itu selesai. Untuk kelengkapan administrasi dan penambahan anggota baru harus diselesaikan sebelum Mubes Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar yang dilaksanakan pada 9-10 juli 2012 nanti.

Thursday, July 5, 2012

Mubes Serikat Tani Polongbangkeng (1)

Agenda pertama dari perjalanan yang kami lakukan, bertemu petani di Kampung Beru. Salah satu tugas yang diberikan, terlibat pada pendataan anggota dan sosialisasi Mubes STP. Ini kali pertama aku akan masuk ke desa itu. Bersama Bapak Ila dan Dg.Toro, aku dan Budi berangkat kesana.
Untuk ke Kampung Beru kami memasuki jalanan ke PTPN XIV, disisi kanan tampak beberapa bangunan kecil berdinding gamacca dan beratap rumbia. Seperti kios-kios yang menjual makanan, mungkin juga milik buruh PTPN. Beberapa pedagang kecil menggelar jualan begitu saja dipinggir jalan. Tadinya aku berpikir ada pasar malam, tapi tak lebih dari 10 lapak.
Jalanan semakin memburuk. Debu, kerikil yang berserak, lubang yang tak terlalu jelas. Perusahaan berdiri disisi kiri jalan. Semakin jauh semakin sepi, kebun tebu disisi kiri kanan jalanan. Kalau tak ada kedua orang tua itu, aku mungkin telah kehilangan keberanianku. Jalan seperti tak berujung, gelap dan sepi.
Kami dikerjai malam ini. Mendapat lokasi yang jauh dari posko. Aku tak lagi ingat jarak, rasanya cukup jauh dan melelahkan. Kami memasuki perkampungan, jalanan aspal yang sedikit lebih baik. Rumah-rumah berjejeran tapi masih jauh dari tujuan. Sawah-sawah yang masih hijau. Hijaunya tak terlihat oleh malam, tapi belum ada bulir-bulir padi yang keluar dari tangkainya. Aku mencari rumah yang ramai. Kalau ada pasti itulah tempatnya.
Rumah samping kuburan tampak ramai. Kami mengikuti Bapak Ila. Disana puluhan warga telah menunggu. Beberapa orang berdiri dipinggir jalan. Bercerita, mungkin tentang sawahnya yang menunggu panen.
Ada banyak perempuan, aku tersenyum senang. Mendapati ibu-ibu yang terlibat pada kerja-kerja massa tak hanya mengurusi makan dan minum. Senyum tulus mereka telah membuatku berbinar-binar, hilang semua penat sepanjang jalan.
Bahasa selalu menjadi kendala utama yang menyedihkan. Aku tak bisa berkomunikasi langsung. Harus dibantu penerjemah. Sembilan tahun di Makassar tak membuatku bisa menggunakan bahasa Makassar. Dan berada ditengah masyarakat akan membuatku menyesal, kenapa tak juga bisa menggunakannya.
Aku hanya memahami sebagian kecil dari yang mereka bicarakan. Tapi pimpinan STP adalah orang-orang tua yang tangguh. Mereka menghabiskan sisa pensiunnya dengan berjuang. Memperjuangkan hak yang dirampas oleh PTPN.
Agenda pertama pendataan anggota STP. Mengisi formulir yang telah disiapkan. Ini untuk merapikan data kelompok, membuatnya menjadi kelompok-kelompok kecil. Satu kelompok terdiri dari 15 – 30 orang. Tapi, mala mini kami tak sempat melakukan pembentukan kelompok. Pengisian formulir menyita waktu lama. Sebagian anggota tak bias baca tulis. Harus dituliskan satu persatu. Sebagian besar tak bias tanda tangan. Anggota hanya memberikan KTP yang pun kebanyakan tak berlaku lagi. Sesekali aku membantu Dg.Toro mengisi formulir itu.
Ada 30an formulir yang kembali malam ini, sebagian masih menunggu karena form yang disediakan telah habis.
Dg.Toro memulai pertemuan. Beliau membuka dengan menggunakan bahasa Makassar, bercerita bagaimana perjuangan mereka sebelum STP terbentuk dan setelah organisasi itu ada. Dulu, jika melakukan pendudukan aparat keamanan akan melindungi PTPN, berhadapan dengan peluru dan Brimob. Sekarang Polisi tak lagi mengganggu proses reclaiming yang mereka lakukan. Kemarin warga kembali melakukan reclaiming. Ratusan hektar tanah mereka telah ditangan. Ditanami padi dan menuai hasil.
Budi menjelaskan bagaimana pentingnya berorganisasi, juga menjelaskan persiapa Mubes yang akan dilaksanakan tanggal 9 – 10 juli nanti. Massa demikian antusias. Sajian kopi dan penganan ringan menjadi teman melewatkan malam. Sesekali aku bercerita dengan gadis yang duduk disampingku. Aku lupa menanyakan namanya. Ia suka ikut pertemuan-pertemuan STP tapi tidak masuk menjadi anggota. Anak muda yang penuh semangat. Ia tersenyum malu ketika kutanyakan sekolahnya. Hanya tamatan SMP katanya.
Sebelum pulang, pemilik rumah telah menyediakan makan malam untuk kami. Menu sederhana yang mengalahkan enaknya makanan kota. Saying, sebelum berangkat kami duluan mengisi lambung tengah, jadi hanya bias mencicipinya.
Angka jam menunjuk 23.00 kami pamit pulang. “hati-hati nak, “, “ semoga selamatki’. Ada banyak doa malam itu untuk kami. Doa dari ibu-ibu berwajah teduh. Saya pulang dengan seribu bahagia. Bahagia itu sederhana.
(kerja dan berlibur dua hal menyenangkan untuk menutup Juni. 
Persinggahan pertama di Polongbangkeng Utara bersama Serikat Tani Polongbangkeng sebelum lanjut ke Butta Panrita Lopi
25 Juni 2012)

Saturday, March 17, 2012

Seorang Nenek dan Aksi Tolak Kenaikan BBM

Hujan mengguyur Makassar pagi ini, cukup deras dan membuat mata enggan terbuka. yang lain masih terlelap ketika aku membuka mata. Paling nyaman melanjutkan tidur. Aku tak melakukannya, walau sangat menginginkannya. Hari ini aku harus chek up ke dokter, selain itu ada meeting di kantor. Tapi hal paling penting, 12 maret kemarin semua sepakat hari ini turun aksi menolak kenaikan BBM dengan estimasi massa 500 orang. Jam 10 pagi perjanjiannya. Berkumpul di bawah fly over.
Bukan hanya mahasiswa, ada buruh, miskin kota, petani, nelayan, semua bergabung. Tak ada sekat. Kenaikan BBM akan membunuh kita semua.
Jam 10 pagi hujan bukannya mereda, tapi bertambah deras. Dua minggu lalu, sebuah celoteh “ hujan dan revolusi”. Hujan terkadang menghambat kerja itu, walau petani selalu bergembira menyambut hujan.
Aku terlambat kesana bukan karena hujan, tapi kelamaan mengikuti prosedur rumah sakit, dan harus antri dengan pasien lainnya. Angka di Hpku telah melewati angka 11, menuju ke fly over segera. Untung kendaraan tak terlalu macet. Mungkin massanya belum seberapa, mungkin mereka terhalang hujan dan mahasiswa masih harus menunggu jam kuliah.
Bergantian perwakilan setiap organ orasi. Dengan semangat membara mereka menyerukan penolakan BBM. Dan aku tahu sebagian dari penumpang pete-pete akan mengomel karena terhambat. Supir pete-pete protes karena bensin mereka terbuang percuma menunggu macet. Orang-orang dengan mobil mewah pasti kalah, mungkin sebagian dari mereka berpikir, makanya jangan miskin, agar tak terpengaruh pada kenaikan BBM. Sesekali aku melihat muka mereka tak bersahabat melintasi kami.
Aku menjadi lebih bersabar ketika menumpang di pete-pete dan mendengar omelan itu. sejak dulu aku menjadi pelaku, hingga saat ini aksi jalanan masih menjadi pilihan perlawanan, tentu dengan hal lainnya.
Aku tetap menjadi bagian dari aksi ini, walau tak lagi seperti dulu, berdiri dibarisan paling depan, membagikan selebaran dan pernyataan sikap. Aku memilih duduk diatas sebuah motor milik massa. Seorang nenek melintas ditengah kami. Sejenak ia singgah dan membaca spanduk hijau bertuliskan penolakan BBM dan kenaikan TDL. Raut mukanya menyisakan cerita tentang kerasnya hidup. Ia tak lagi berjalan sempurna, sebelah kakinya sedikit terseok. Ia melintas didepanku dan berhenti pada sebuah kardus bekas teh gelas yang berisi ribuan. Di bagian depannya ada tulisan “logistic aksi” dibuat untuk membeli air kemasan pelepas dahaga setelah teriak. Nenek itu lama berdiri disana, ia membuka dompetnya, mencari sesuatu. Dari atas motor kuperhatikan tingkahnya. Juga kulihat pada dompet yang dibuka lebih banyak berisi kertas putih. Lembar berharga itu tak banyak disana.
Ia mengambil selembar dua ribuan yang terlipat dengan baik, diantara kertas putih itu, memasukkannya dengan pelan kedalam kotak, dan berlalu dengan sumringah.
“ia mungkin malaikat” kelakar seorang teman.
Ada haru yang menyusup. Sebagian orang menganggap aksi jalanan tak berguna, juga ada banyak orang yang mencela aksi kami, namun selalu saja ada orang-orang yang peduli. Angka dua ribu mungkin tak berarti sama sekali buat mereka. Tapi aku, kita, dan mereka telah kalah oleh nenek itu.
Pemerintah telah mencekik rakyatnya dengan menaikkan BBM dengan alasan menghindari pembengkakan anggaran Negara, padahal keuntungan yang tak sedikitpun mereka dapatkan dari kenaikan harga minyak. Tapi nenek itu telah mengajarkan pada kita bagaimana mengorbankan hartanya untuk orang-orang yang ada disekitarnya. Seharusnya pemerintah juga belajar pada Nenek itu.

“Maka bangkitlah rakyat Indonesia untuk merebut kembali lading-ladang minyak yang telah dikuasai asing. Tegakkan kedaulatan energy ditangan rakyat Indonesia karena sector energy adalah milik rakyat itu sendiri, bukan orang asing. “

(segala hormat dan takzim untukmu, walau tak mengenalmu, tapi kau telah memberiku pelajaran berharga hari ini)

Rumah Rakyat, 15 Maret 2012

Friday, December 26, 2008

kesehatan gratis

lama tak ke Kassi-kassi, walau nampak mendung rabu kemarin aku menemani seorang kawan berkunjung ke tempat itu. awal tahun depan putusan kasus Kassi-kassi akan keluar. ntah siapa pemenangnya, tapi itu akan membuktikan bagaimana keberpihakan pemerintah dan seberapa lemah proses peradilan di negeri ini.

masyarakat menyambut gembira, di pinggir jalan yang telah ditimbuni kami bercerita. seorang bapak bercerita tentang warga di kampung itu yang habis melewati persalinannya. katanya mereka diminta puskesmas membayar biaya persalinannya. 260ribu, jumlah yang tak sedikit buat keluarga itu. "suaminya hanya tukang becak"ujar bapak itu, aku tak sempat menanyakan namanya.

nada penyesalan telah memilih pada pemilu kemarin terdengar. "katanya kesehatan dan pendidikan gratis, tapi buktinya masih bayar"

Dalam pasal 34 pada ayat 1 menyatakan bahwa "fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara" dan pada ayat 3 "negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang layak". juga telah ada perda tentang JAMKESDA. aku juga tak mengerti kenapa pihak puskesmas harus meminta bayaran dari pasien, padahal tinggal mengajukan jumlah biaya ke pemda.

masyarakat miskin adalah masyarakat yang tak berpendidikan, sehingga seringkali harus dibodoh-bodohi oleh sistem yang ada. seingatku, puskesmas di wilayah makassar telah di gratiskan sejak beberapa tahun lalu. ntahlah kesalahan ini harus dilimpahkan kemana, masyarakat yang jadi korban atau oknum atau pada pemerintah???

Wednesday, September 17, 2008

Bikin Hancur Pendidikan

Kamis,11 september 2008
Akhirnya kuliah hari ini usai sudah. Setelah dosennya keluar, aku juga meninggalkan kelas itu. Tak ada lagi yang membuatku bertahan lama ditempat ini. Tak ada teman, lagi pula telah waktunya memenuhi panggilan Tuhan. Samar…tapi membuatku lebih kuat memilih kembali ke PKM. Dari jauh salah satu petinggi lembaga kemahasiswaan menghadiahkan senyumannya. Tepat di depanku ia berhenti. Pertanyaan biasa ketika lama tak bertemu seseorang.
“gimana kabarnya, kanda?” panggilan yang mulai terasa aneh bagiku.
“biasa aja”
Akhirnya menemaninya cerita. Ia menanyakan aktifitasku di luar kampus. tak ada jawaban yang pasti. Aku tak punya kesibukan akhir-akhir ini, selain menghabiskan waktu di taman belakang Pers.
Ia bercerita tentang BLU yang tak lama lagi akan diterapkan, juga bertanya padaku, kenapa tidak bias menerima BHP.
Aku tak pernah sepakat dengan BHP. Seperti plesetannya kawan-kawan BHP itu Bikin Hancur Pendidikan. Apa yang bias aku dapat dari BHP selain perasaan jengkel dan marah karena sekian banyak orang yang tak lagi bias sekolah. Teringat ade’ku yang ketiga. Waktu pulang awal puasa kemarin, giliran dia yang mengeluh semakin tingginya pembayaran SPPnya, belum kewajiban membeli buku paket dari guru. SPPnya sekarang hamper sama dengan SPP mahasiswa UNHAS non Exact. Diluar pungutan-pungutan lainnya. Anak tetanggaku juga tak jadi melanjutkan sekolah karena membayangkan tak akan mampu membiayai pendidikan anaknya. Kalau demikian pendidikan itu untuk siapa???untuk orang-orang berduit, untuk pejabat , untuk mereka yang berkuasa.
Menurut gadis itu. Sudah saatnya kita menerima BHP, untuk urusan lainnya kita harus mencari jalan keluar agar semuanya bias terwadahi. Katanya perjuangan menolak setiap kebijakan pemerintah out tak akan membuahkan apa-apa. Hanya lelah dan cacian hingga mulut berbusa, namun tak aka nada yang peduli. Perubahan harus oleh banyak orang, tidak dari segelintir orang.
Pernahkah perubahan itu berjalan singkat. Indonesia butuh 52 tahun untuk menumbangkan rezim Soeharto, bukan dalam waktu sehari, sebulan ataupun setahun. Dan haruskah kita berpangku tangan menunggu keajaiban dating. Esok pendidikan di Indonesia telah gratis. Esok tak ada lagi orang yang tak menikmati pendidikan karena ia miskin…
mimpi yang tak akan pernah ada…
Kalau setiap orang harus membayar mahal untuk pendidikannya, dan jika setiap orang tak lagi bias menikmati kekayaan di negerinya sendiri, tak lagi ada gunanya Pembukaan UUD 45 juga UUDnya sendiri.
Lantas apa yang menjadi dasar pembuat kebijakan itu, selain memberikan kepuasan bagi mereka karena melihat anak-anak itu menangis tak bisa menikmati pendidikan lagi…