Sunday, October 15, 2006
hero atau pecundang
Ada beberapa mahasiswa yang tinggal di kampus, mulai dari yang hedon menjadikan kampus sebagai tempat mejeng yang menarik, ada banyak orang yang akan melihat penampilan mereka, “pocci-pocci” tetap tak bisa hilang.
Ada juga mahasiswa yang bureng yang menganggap dirinya sebagai mahasiswa yang ideal, rajin masuk kuliah, kumpul tugas, dapat nilai yang baik dan dijadikan teladan para dosen. Sebagian merasa sok hebat dengan menjadi aktivis kampus, disini kemudian terpecah, ada beberapa yang akan menjadikannya batu loncatan untuk karier politik mereka. Mengandalkan nama organisasi dan kemudian lupa pada apa yang pernah dipegangnya ketika masih menjadi mahasiswa. Aku jadi teringat dengan tulisannya Gie yang ditinggalkan teman-temannya dan mendapat jabatan di dewan, semoga aku yang salah tanggap dengan hal ini, aktivis mahasiswa yang ada sekarang masih murni pada garis perjuangan. Aku juga pernah mendapatkan tokoh yang elalu muncul sebagai hero, menurutku ia selalu mencari bagaimana memperlihatkan taringnya,...he...seorang pahlawan tak pernah mengatakan kalo ia seorang pahlawan.
Adalagi cerita tentang organda yang banyak dijadikan batu loncatan untuk mendapat link dengan petinggi-petinggi pemerintahan. untuk apa...?apa agar bisa mendapat jabatan penting nantinya. pengkhianatan terbesar untuk organisasi ketika hal itu menjadi pilihan, dan bahkan untuk semuanya. yang ada adalah rasa sakit...dimana diskusi-diskusi tentang kemahasiswaan yang dilakukan selama ini. kegilaan akan jabatan membuatnya buta.
Sebelum organisasi itu terbentuk, kami sibuk dengan diskusi akan dibawa kemana organisasi itu nantinya. dengan semangat yang membara aku sepakat untuk ikut membangun organisasi itu. dengan harapan aku bisa memberikan sesuatu untuk tanah kelahiranku. terakhir aku hubungi ia hanya mengatakan rela LPJnya tidak diterima asal hubungannya dengan stakeholder berjalan lancar.
status mahasiswa bukan untuk dipermainkan begitu saja, ada amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
selamat jalan
(kelinci kecil)
Tak ada lagi teman kecil yang suka mengganggu ketika kami makan,
keluarga kecil yang kini telah pergi meninggalkan kami.
Sedih…tentu saja, dimanapun perpisahan adalah hal yang sangat menyakitkan.
Kemarin malam sebelum kepergiaanya kami masih sempat bermain di PKM.
Karena tak ada kerjaan dan Pers yang lagi sepi, jadinya aku, ilda dan ia keluar menghirup udara luar yang dingin. Tubuhnya yang putih bersih tak telah berubah, PKM lagi miiskin air…jadi wajar kalo beberapa hari ini ia tak pernah mandi.
Kulit putih yang bercampur debu. Sangat manis melihatnya bermain dengan kucing kecil temannya. Heran sekali…ia bisa bersahabat dengan kucing itu, sementara aku tetap takut pada bulu kucing.
Ia dengan bebas berlari dan melompat, sesekali mendekat di tangga. Aku tahu ia ingin turun kehalaman, tapi takut turun tangga. Kali ini ia tak selincah tadi, takut jatuh membuatnya berjalan merangkak, mendekati tangga.
Kini ia tak ada lagi, hari ini tak ada senyum dari wajah sang pemilik, sebuah tulisan di terror tentang kepedihan menyadarkanku betapa ilda sangat menyayangi sahabat kecilnya. Aku tau ilda sangat menyayanginya. Ia memang sangat lucu, bukan hanya buat kami anak pers, tapi ia juga sering bermain dengan beberapa anak UKM lain.
Selamat jalan putih…aku lebih suka memanggilnya putih, sementara yang lain memanggilnya “lebu” karena tubuhnya yang bulat. Tak lagi ada teman bermain, ia kini telah terbaring damai di belakang PKM 2.
Selamat jalan kawan, masih kuingat ketika penghuni UKPM mengajarimu tentang hidup, mengajakmu diskusi, walau itu adalah ceramah tak berguna…karena kami tau engkau tak akan mengerti.
Untuk saudaraku..perpisahan mengajarkan kita akan tidak kekalnya dunia. Hidup sangatlah singkat, lahir…hidup dan mati. Hal yang samapun akan kita jalani bila tiba waktunya nanti.
Ganti mendung di wajahmu, matahari masih bersinar esok kawan.
Saturday, October 14, 2006
orang miskin dilarang...
"Jadi orang miskin harus tau diri...Aku tak akan lupa perkataan seseorang yang buatku terpelajar. Aku medengarnya ketika suatu hari bertandang kerumahnya, ia marah pada pembantunya. Ntah apa sebabnya, mungkin saja karena lamban mengerjakan pekerjaannya. Tapi apa yang salah...
Orang miskin dilarang sekolah...
Apakah aku juga harus tau diri untuk tak menikmati bangku perguruan tinggi yang kata mereka sangat hebat. Itu salah besar, seperti apa
yang dikatakan seseorang yang menganggapku pembangkang. Aku tak boleh sekolah, aku harusnya tinggal di rumah dan menjadi anak yang baik dan penurut.
Tak ada yang berhak melarangku sekolah. Apalagi seseorang yang tak punya hak atas diriku. Aku yang berkuasa atas diriku, tidak ia atau siapapun. Heran juga...bundaku saja tak melarangku, hanya memberiku syarat untuk mandiri. Aku sadar sepenuhnya, orang tuaku tak akan mampu membayar uang kuliah dan biaya hidupku. Tapi aku yakin aku akan punya jalan untuk itu. Aku ingin siapapun tau, bahwa sekolah, sehat itu bukan hanya hak sekelompok orang, wlau aku sadar sepenuhnya, bentukan media tentang pergaulan, perguruan tinggi yang dibuat semewah mungkin untuk pemilik modal atau rumah sakit yang juga tak mau kalah membuat kaum miskin tak berani menginjakknya, bahkan berpikiran kesanapun tidak.
Menurut birokrat UNHAS ketika wawancara tentang BHP siapapun berhak kuliah di UNHAS, kalo ia orang tak mampu tapi pintar, ia bisa kuliah dengan adanya subsidi silang. Pertanyaan yang muncul dikepalaku, seberapa besar kaum miskin yang bisa memperlihatkan kepintarannya. Bagaimana bisa mereka melalui jenjang pendidikan itu ketika semua tak berpihak padanya. Biaya sekolah yang semakin membumbung tinggi, tak kalah bedanya dengan harga sembako dan bahkan lebih tak bisa dijangkau. Bagaimana mereka mau serius belajar sedang perut melilit minta diisi, atau ketika ikebutuhan lainnya lebih mendesak, tak ada buku, listrik, rumah....tinggal dijalanan.
Tak semua anak jalanan nakal, dan aku yakin mereka jauh lebih kuat, lebih pintar dibanding anaik-anak mall yang hedon dan katanya gaul. Miskin membuat kita lebih survive, hidup seadanya, bahkan tanpa makanan.
Keheranan terus ada dibenakku, kenapa citra harus selalu dilihat dari penampilan fisik, tidakkah penampilan fisik seorang wanita lebih menarik perhatian lelaki hidung belang, lantas wajah Universitas yang semakin menterang akan dilihat oleh siapa... masyarakat miskin di Indonesia jauh lebih banyak kebanding yang kaya, lantas apa universitas ini dibuat untuk mereka. Siapa yang mau mendekat, ketika melihat penampilan yang justru membuat kita ketakutan, karena disana ada sekat yang sangat tebal. Ada wajah-wjah menyeramkan yang siap menelan kita. Tak ada keramahan, yang ada kepahitan hidup ketika semua harus dinilai dengan uang.
Uang bukan segalanya, kecantikan luar bahkan tak ada artinya, semua itu untuk apa, kalo generasi penerus bangsa ini tak lagi bisa bermain dirumahnya sendiri. Mereka harus menjadi anak tiri yang patuh dan tersakiti.
Orang miskin dilarang sakit...
Jangan pernah sakit karena engkau akan memperparah penyakitmu di rumah sakit. Subsidi BBM yang diagung-agungkan akan membantu orangmiskin toh tak punya pengaruh yang besar, berapa banyak masyarakat miskin yang menerima bantuan subsidi itu, seberapa banyak anak sekolah yang harus berhenti karena tak lagi mampu menahan ongkos transport, beli buku, bayar SPP dan hal lain. Beasiswa yang diberikan tak akan mencukupi. Itu tak berarti apa-apa dibandingkan kebutuhan yang terlalu banyak. Ketika aku sakit dan ke puskesmas untuk berobat, aku harus tahan dengan muka judes dari orang puskesmas, atau ketika aku jalan-jalan kerumah sakit dan melihat pengguna JPS yang harus tersiksa mengurus sana-sini untuk bisa mendapat pelayanan, tapi apa yang mereka dapatkan tak sama dengan pasien umum.
Dosenku pernah mengatakan yang beda adalah fasilitas pelengkap yang diberikan, tapi toh kenyataan yang harus diterima dilapangan tak sama.
Aku teringat ketika ayahanda tercinta ketika sakit, keluargaku yang kebetulan dokter malah mencibir dan menertawai kami. Hingga akhirnya aku harus kehilangan seorang sosok ayah.
Aku kadang berpikir dimana rasa kemanusiaan yang mereka miliki, rumah sakit mempunyai tugas sosial untuk semua kalangan, tapi yang sekarang mulai dikotak-kotakkan, hanya untuk segelintir orang, dan hanya untuk oranmg-orang berduit. Kemarin Pak Kausan selama beberapa hari harus terbaring di UGD hanya karena belum mebayar 2,5 juta untuk sepotong besi yang ada di rahangnya. Lantas pemerintah kemana...ternyata tak semua biaya rumah sakit dibebaskan, tak semua obat bisa digratiskan.
Makanya jadi orang miskin harus bisa jaga diri jangan sakit dan jangan berani memdekati sekolah karena ia akan menghabisimu...........................
Tuesday, October 10, 2006
tersenyumlah...
"Hei...lagi ada masalah ya...kamu cerita dong, jangan menyendiri disitu. Katanya kedinginan, kok sekarang malah duduk diluar.ayo keatas disini dingin banget"ajak seorang teman ketika menikmati malam di tepi danau.
Aku hanya ingin sendiri, merasakan keindahan bulan yang sedang bercermin pada air danau yang telah menghijau,ntah karena semakin berkurang airnya ato karena limbah rumah sakit. Tapi danau bagiku tetap sebuah tempat yang selalu memberiku ketenangan. air selalu mampu memberi ketenangan, perpaduan yang indah, air, tanaman hijau, bulan dan cahaya rumah sakit yang sangat mewah. Sayang rumah sakit itu terlalu menyeramkan untukku.
Aku tetap sendiri, menikmati segelas teh manis yang kini mulai dingin. kunikmati tanpa pernah merasa bosan bulan yang menari-nari diatas air.Indah...sangat indah hingga membuatku malas beranjak dari tempat dudukku. aku masih ingin disini, hingga seorang teman datang dan mengajakku kembali kerumahku. Melihatku yang tak bergerak ia akhirnya memilih duduk didekatku.
"Apa yang sedang engkau pikirkan..."
"Terlalu banyak..."
"Dalam hidup kita memang selalu dihadapkan pada berbagai masalah, dan kita tak bisa melepaskan diri. Smuanya selalu berhikmah bukan...!!!!!!!!!!!"
"yup...aku tahu, aku juga tak akan lupa kalo kita harus tersenyum menghadapi semuanya..."
Ia berkata aku seorang perempuan yang luar biasa. Dimana letak keluarbiasaan itu...???Bukankah aku selalu bercerita padanya tentang kepahitan hidup. tentang perjalanan yang melelahkan dan ia dengan setia mendengar setiap ceritaku, memberi semangat dan mengajakku tersenyum.
Aku selalu rindu danau itu
Pada air yang tetap tenang
Pada bulan yang menawan
Pada kawan yang selalu tersenyum
cinta lagi
Pusing...kalo orang udah bahas pacaran, setiap hari aku mendengar kata-kata pacar dan jatuh cinta, sakit hati. Aku kadang berpikir perjalanan pacaran itu seperti sebuah lingkaran.
cinta tak harus diungkap lewat tulisan
juga lisan
karena ia tak terukur
jangan merajuk dan merayu
karena cinta adalah bahasa hati
Monday, October 9, 2006
tentang pacaran dan cinta
Aku bosan mendengar ketika anak-anak di UKPM bertanya tentang pacar. Kenapa ketika kita terus terlihat sendirian pertanyaan itu muncul terus...jawaban malas pacaran terus aku kumandangkan, mo gimana lagi, aku emang udah janji ngga mo pacaran. Trus ketika itu jawabannya, pertanyaan selanjutnya emangnya pernah broken heart. Ngga tuh, aku ngga perlu patah hati, apalagi sampai jatuh dan ngga bangun lagi. untuk orang yang dekat ama aku, pasti ngerti kenapa aku ngga bisa pacaran. jawaban paling pasti...selain pacaran emang ngga dibolehin, aku juga kasian kalo punya pacar, soalnya susah banget ninggalin UKPM plus aku juga harus nyari uang untuk hidupku kan. so...hampir ngga ada waktu nih.
Satu lagi, cinta untukku ngga harus diungkapin lewat pacaran, bahkan aku kadang berpikir ketika pacaran aku belum bisa tau pasti apa itu betul-betul murni sebuah cinta. aku terus berpikir cinta itu seperti apa...gimana menurut orang lain...???apa pandangan kita bisa bertemu. cinta untukku ngga harus memiliki, karena meliat kebahagian orang yang kita cintai akan jauh lebih berarti.
cinta adalah bahasa hati dan biarkan ia membahasakannya sendiri.
pusing....
aku juga....
bukankah kita terus dalam titik pencarian.
dan semoga akan ada ruang untuk bersama, berbagi...
UKPM lagi sepi, semuanya pada sibuk...
aku harus berbahagia dengan kesendirian.
Saturday, October 7, 2006
purnama
purnama indah banget, sayang ngga ada teman menikmatinya... payah anak UKPM lagi sibuk, padahal baca puisi tiap purnama asyik banget.
mungkin juga kelelahan setelah buka puasa bersama d rumah niar, sayang sebagian buka di hotel... jadinya ngga lengkap.
perbedaan emang indah, syiah-sunni ngga ada masalah untuk kami, toh kami semua berasal dari tempat yang berbeda, background awal yang tak sama. HMI,Kammi, PMII, FMD, dan organisasi extra lainnya ada, bahkan yang murni belajar menulis juga ada. ngga ada masalah dengan semua itu. kami bersaudara dan perbedaan itu menyatukan kami. warna yang indah bukan.
dua hari aku ngga menjenguk pak kausan, bukannya malas, aku dua hari ini ngga enak badan, semoga tiphoid ngga akan menggangguku lagi. cukup biaya magangku yang aku pikir. pusing juga mo kerja apa....uang dah sekarat (tapi aku kan emang ngga pernah punya uang) he...jadi sebenarnya ngga usah pusing memikirkannya.
aku pengen banget nikmati purnama...merenung setiap langkah ayang aku lewati, beberapa ramadhan telah akulewati disini, setiap langkah adaka berarti, aku kadang merasa sangat hancur. tak ada sesuatu yang berarti yang tela kuperbuat.......
Thursday, October 5, 2006
buka bersama di rumah pelangi
indahnya kebersamaan...
setiap orang mempunyai titik kebahagian yang berbeda, tetapi aku yakin saudaraku, ini puasa terindah yang kita lalui. kesederhanaan tak pernah jadi masalah buat kita. walaupun beberapa kali kita berkata UKPM adalah UKM termiskin di PKM...he...he...aku tak setuju dengan kata-kata itu. bukankah kebahagian bukan dilihat dari apa yang kita makan atau apa yang kita miliki. seperangkat komputer minus printer dengan sebuah ruangan yang kadang tak memuat kita semua, warna yang berbeda, tapi disitulah letak kebahagian kita. warna yang kita miliki bukan alasan perpecahan tapi justru membuat kita satu dalam sebuah pelangi yang indah.
untuk kak yati sorri banget, aku ngga tau kalo kita ternyata kakakku, syukur banget kalo abiz lebaran akan kembali ke rumah kecilta' aku akan menanti saat itu tiba. jumat kemarin kami buat acara buka puasa bersama dengan senior bede' kata yang lain, tapi aku lebih suka kata kakak (kita bersaudara kan dan lahir dari tempat yang sama) banyak yang hadir kak arqam, bang yoefals, kak bahar...n yang lain. ada juga kak sulvi dari soroako cerita banyak tentang UKPM yang semakin rame dan sibuk...
eitz untuk radio kemarin udah sempat naik, tapi dengan sangat terpaksa harus turun kembali karena ada alat yang harus diganti, tapi janji kami akan kembali mengudara bulan puasa ini. soalnya radio salah satu media perlawanan yang harus ada...
ada banyak kegiatan yang kami lakukan setiap harinya, ada agenda rutin yang berjalan mulai dari
- diskusi wacana hari senin
- sekolah menulis hari selasa
- english meeting hari rabu
- rapat redaksi hari kamis
- rapat pengurus jumat
- sabtu direncanakan sekolah investigasi
- minggu libur
Wednesday, October 4, 2006
green comunity
Sebuah lokasi yang luasnya kira-kira 2 hektar dipinggir danau UNHAS menjadi tempat pembibitan tanaman yang beberapa diantaranya endemik sulsel. Komunitas yang penghuninya dari berbagai kalangan mulai dari alumni UNHAS hingga mahasiswa, beberapa diantaranya mahasiswa luar unhas. Aku senang berada di tempat itu, gimana ngga menikmati danau UNHAS dari sebuah bangku-bangku sedang disampingnya tanaman yang hijau subur terhampar. menjadi seorang petani di tengah UNHAS yang penuh dengan berbagai trend mulai dari hedonis hingga yang mengaku aktivis kampus.
Hebat juga mereka, aku tahu ini adalah sebah proyek yang di sponsori oleh Bank Panin. Aku tak mau peduli dengan berapa dana yang mereka miliki, tapi paling tidak ini akan membantu penhijauan-penhijauan baik di lingkungan kampus UNHAS ataupun di luar dari kampus ini.
Kondisi negeri sedang sekarat, aku pikir ibu pertiwi sedang menangis dirinya diluluhlantahkan oleh anak manusia yang ngga sadar akan adanya kehancuran akibat ulah mereka ini. Alam selalu mencari titik keseimbangannya, ia beberapa kejadian tak mampu menyadarkan manusia, menurutku ini tetap ulah kapitalis yang selalu mengharapkan keuntungan sebanyak-banyaknya.
So....kapitalis itu sadis banget.
Tuesday, October 3, 2006
sakit hati...
Kemarin malam aku ke RS Wahidin bareng penghuni UKPM plus kak rega, kak fathul n alfa. tujuannya untuk menjenguk Pak Kausan. sedih, bercampur kecewa, prihatin plus amarah yang hampir tak tertahan. aku benci rumah sakit, aku sakit hati, kenapa kehidupan ini sangat kejam. Ceritanya gini, kalo ngga salah sabtu kemarin Pak Kausan ditikam oleh sesamanya tukang becak di pintu nol (jalan poltek). Lukanya sangat parah sampai harus di operasi, tapi paling tidak nyawanya masih terselamatkan
(makasih Tuhan) miskin harus membuat semuanya berbeda dan persaudaraan kadang tak diperhitungkan lagi, kita sama-sama butuh makan. Aku bingung mo menyalahkan sang penikam, tapi disisi lain aku sadar ada kondisi tertentu ketika lapar menyerang dan membuat kita lupa segalanya.
Aku sadar sang pelaku juga butuh makan, dan ia sedang memperjuangkan hidupnya, walau harus mengorbankan orang lain, lantas....gimana ini.
Ada sakit yang sangat menyayat melihat istrinya yang buta dengan setia menemani sang suami yang tak berdaya. tubuh yang membengkak, alat kateter, jarum infus dan tubuh yang gemetaran menahan dingin, aku ingat ruangan ini sangat mewah untuk orang miskin dengan AC yang hampir membunuh.
Rumah sakit sebuah gedung yang seharusnya penyelamat kehidupan setiap manusia, tetapi kemudian harus dikomodir untuk tujuan bisnis. Gimana tidak, masuk ruang parkir harus membayar uang parkir sekian rupiah perjamnya (apa bedanya dengan mall). Rumah sakit bukan hanya untuk orang kaya pak. Aku ingin menangis melihat istrinya yang belum makan padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 9, dari pengakuanya ia hanya memakan sisa bubur sang suami.
Tangannya dengan lembut membelai sang suami, sambil bercerita pada kami tentang perlakuan yang diterima di rumah sakit. Tentang dokter yang berkata "andai aku tahu kamu tidak punya uang, maka tak akan ada besi dalam rahang suamimu, atau petugas administrasi yang terus menerus menagih uang 2,5 juta itu, sementara harga obat yang harus ditebus setiap hari seratusan, tentang isi rumahnya yang telah habis terjual untuk membeli obat. Suaminya yang tulang punggung keluarga.
Aku teringat senyuman yang beliau berikan setiap bertemu ketika menyapu halaman rektorat, atau ketika ia mengayuh nasibnya dengan sebuah becak tua di pintu nol.
ketika aku ke mall dengan kak akel, abang dan aco beberapa hari yang lalu, abang berkata negara baik-baik saja, masyarakat masih sibuk dengan belanjaan mereka, menikmati hidangan kaum kapitalis. Tidak ada masalah, hanya kami yang senatiasa pusing memikirkan kehidupan ini, bahaya kapitalis, pembodohan yang dilakukan, BHP yang merambah kampus. dan sebuah bukti kesakitan negara liatlah cerita Pak Kausan. atau betapa menyedihkannya hidup ketika melihat mereka suami istri itu di Rumah sakit sana.
Sunday, September 24, 2006
lewati ramadhan dirumah pelangi
indahnya ramdhan juga tak dilewatkan, penghuni UKPM. suasana yang damai menyelimuti kami, walau aroma diskusi khas UKPM tak juga terganti seperti ceramah tarwih biasa. beberapa mengatakan kita islam yang moderat. tidak harus membebek pada kesadaran massa kalo seblum tarwih harus diisi ceramah. nah ceramahnya diganti jadi diskusi seputar islam yang lebih menyenangkan dan tanpa batas waktu setelah itu dilanjutkan salat tarwih bersama.
nyesal deh anak UKPMyang ngga ngumpul di pkm.
tau ngga ba'da azar nanti kami mo belajar tajwid , rencananya sih mo bedah ayat qur'an gitu, tapi berhubung masih banyak yang baca qur'annya ngadat jadi belajar tajwid aja dulu.
kemarin sebelum puasa aku udah sedih abis ngebayangin puasa pertama di makassar n' ngga bersama orang tuaku. sampe aku mo nangis. untung ngga jadi nagisnya cozz kalo ngga aku bakalan nyesal kaya'nya. aku cerita ya..sabtu sore kita udah rapat gimana sahurnya bentar. alhasil ilda mo nanggung dananya. syukur banget. tapi setelah itu ilda dijempuat ama temannya, jadinya kami kebingunan, uang ngga ada padahal udah mo belanja kepasar nih. angka 8 telah berlalu ilda belum juga nongol, padahal dari tadi sudah dikirmkan pesan singkat untuk cepat kembali. jalanan macet skali katanya, sekarang udah 9 lewat, akhirnya alfa jadi pilihan satusatunya untuk belanja. aku, abang, kak akel ama aco berangkat kesana , jalanan asih saja ramai begitu juga di alfa. penampilan ala hedonis tmpak disana kecuali kami tentunya yang cuek bebk, bodoh amat toh mereka tak mengenaliku. berdebat mo beli apa, mulai dari jumlah ayam, pengunjung lainya heran ketika salah satu diantara kami mengatakan ayamnya cukup seekor saja, karena ada kucing yang akan memaninya. terus ambil bumbu dan ini pertama kalinya ku belanja bumbu dapur loh di mall, jadinya ngga tau kalo harus ditimbang berat barangnya. sori kak akel karena harus rela dimarahi kasirnya.
sampai di pkm kami salat tarwih bersama. ada kak doel yang datang tapi ngga ikut salat sepertinya sangat lelah sepulang dari kantor.
kami bagdang menunggu sahur, tentu dengan memsak, aku, ilda ama kak elu. pkm sedang sepi banyak yang pulang kampung, suara ribut selain terdengar dari pers juga dari SAR.
seusai salat subuh kami melanjutkan dengan tidur sampe poge'...
marhaban ya ramdhan walau udah lewat satu hari. berpuasa membuat kita belajar menjaga diri.
Wednesday, September 20, 2006
habis begadang
untuk kak Firman yang telah kembali, aku akan sangat merindukanmu ...aku yakin yang lain juga. aku merasa kehilangan. seuntai doa semoga tercapai citanya dan mengunjungi rumah pelangi. aku banyak kehilangan orang minggu ini. tapi mo gimana lagi, hidup memang seperti itu datang dan pergi tanpa kita kehendaki.
penghuni sahabat yang lagi kekurangan air, he...kak cia maksudnya, UKPM siap fasilitasi, yang jelas sepanci nasi goreng untuk kami semua, ada amming dan kurnia yang siap mengantarkan, kalo perlu pake si komo untuk ngantar.
tugas....banyak banget, besok aku bisa tenang lagi sampe minggu.
habis begadang
untuk kak Firman yang telah kembali, aku akan sangat merindukanmu ...aku yakin yang lain juga. aku merasa kehilangan. seuntai doa semoga tercapai citanya dan mengunjungi rumah pelangi. aku banyak kehilangan orang minggu ini. tapi mo gimana lagi, hidup memang seperti itu datang dan pergi tanpa kita kehendaki.
penghuni sahabat yang lagi kekurangan air, he...kak cia maksudnya, UKPM siap fasilitasi, yang jelas sepanci nasi goreng untuk kami semua, ada amming dan kurnia yang siap mengantarkan, kalo perlu pake si komo untuk ngantar.
tugas....banyak banget, besok aku bisa tenang lagi sampe minggu.
Tuesday, September 19, 2006
sekolah menulis
Monday, September 18, 2006
sepi, sedih yang setia
Adakah sebuah kesedihan ketika semuanya harus berganti ,
Setiap orang yang dekat denganku memintaku untuk tetap tegar menjalani setiap perjalanan yang memang harus kulalui.
Selalu ada pertanyaan apa aku mampu melewatinya…???ntahlah aku sendiri tak pernah tau, dan bisa menjawabnya, karena memang semuanya hanya bisa dijalani tanpa pernah tau apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa bermimpi, setiap saat…mimpi memang sangat indah namun kadang menyakitkan untukku.
Ada lelah dalam lelah, aku tak tau apa aku orang yang tak tau mengucap syukur. Aku telah diberi hidup…tapi kelelahan dengan setia menemani hari-hariku.
Kesedihan yang tak mau lekang, betul yang dibilang Amming, aku suka mengeluh. Lantas apa yang harus aku perbuat. Aku betul-betul tak mampu melewati semuanya. Sangat menyakitkan. Ketika kita berada pada lingkungan yang seakan tak dikenali. Setiap berada di fakultasku tak jarang aku merasa sendiri, kadang aku berpikir kenapa teman-temanku tidak mau mengerti keadaanku.
Pertama masuk kuliah semester ini , ada banyak tugas yang telah menantiku, namun karena keuanganku telah sekarat dan mati, aku tak mengerjakan tugas itu, karena untuk mencarinya aku harus ke warnet, dan juga punya buku. Tapi aku tak punya semua itu, jadila aku seorang pemalas dimata teman-temanku. Aku tak mementingkan kuliahku, aku hanya seorang aktivis gadungan, apa itu benar. Aku bukan seorang aktivis, juga seorang yang bureng. Aku hanya mencari hidup yang sesungguhnya, mencari diriku. Apa aku sedang kehilangan arah, atau aku seorang yang broken home, karena sekelumit masalah keluargaku yang tak mampu aku lalui. Aku sendiri…aku selalu dianggap kuat, tegar, walau sesungguhnya aku tak memiliki. Ketegaran apa yang aku miliki, toh aku tetap seorang dini yang suka menangis dan mengaku lelah. Kekuatan apa yang aku punya diantara tangisan tanpa bisa berbuat apapun.
Kenapa aku harus tersudutkan dengan kondisiku. Apa itu hanya perasaanku saja. hik…hik…hik…kemarin beberapa kali aku menangis, apa itu hal yang wajar. Atau aku yang terlalu cengeng.
Kapan kata-kata pusing akan mengghilang dari pikiranku, “aku stress”, atau “aku lelah” sering aku ucapkan, sungguh tak sedikitpun kata itu aku suka. Menyakitkan,
Aku berpikir aku adalah seorang pengecut, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Cinta…aku tak tau kapan merasakannya, setiap aku menyukai aku harus sadar, aku tak punya waktu untuk memikirkannya. Aku hanya akan menyakiti dengan kesibukanku, juga satu hal bukankah pacaran itu tidak ada dalam islam.
Untuk seseorang yang pernah dekat dan menemani hari-hariku, aku mohon jangan membuatku mengingat semuanya. Sulit untuk kembali, kita mempunyai jalan yang berbeda, aku ingin menjadi diriku yang sekarang. Terima kasih untuk cinta.
Untuk yang setia menemani dan mendengarkan setiap ceritaku, pertemuan ini memang indah, terima kasih telah berbagi denganku. Biarkan semuanya berjalan apa adanya. Cinta akan mengalir dengan sendirinya tanpa kita sadari. Biarkan aku tetap mencinta dan menyayangi.
Monday, September 11, 2006
caving clinic
malam jum'at ketika ana'2 mempersiapkan bahan pameran sampe subuh, tak aku temani (maafkan aku saudaraku, aku butuh istirahat cukup setelah kemarin malam begadang sampe pagi mengerjakan tugasku tapi toh ternyata aku tak kuat ke kampus. pusing bercampur mual, setelah begadang semalaman tanpa air minum, dan seorang teman. cukup menyedihkan tapi membuatku bisa konsen. makanan yang diberikan anak korpala tak bisa aku sentuh, entah selera makanku menghilang kemana. perutku hanya diisi segelas energen (makasih energennya ya Panji, sering-sering aja membawakan kami). lanjut cerita pagi-pagi semua udah bangun dan membawa mading caka, BBB, buku-buku, juga gambar che guevara yang tak mau sendirian di UKPM. ia melahirkan subuhnya dan tatapannya membuat kami harus membawanya.
menjelang jam 11 aku kembali ke UKPM, aku belum mempersiapkan barang-barang yang hendak aku bawa. pusing juga ini pertama kalinya aku susur gua, aku tak tau bawa apa, jadinya teman-teman korpala harus meladeni setiap pertanyaanku (makasih ya, terutama untuk kak laga atas SB dan sepatu boatnya, persis banget lo dikakiku, trus untuk kak alan ama yang lain) tak lupa juga untuk arni yang rela membawakanku ranselnya.
janji berangkat jam 2, akhirnya molor, peserta yang belum datang, juga mobilnya membuat kita terlambat ke lokasi.
berangkat sekitar jam 4 sore dengan 3 pete-pete. selain aku ada juga ani dari pers. yang lainya pesertanya dari MAPALA makassar, juga 6 orang dari pare. sampai di lokasi matahari mulai meninggalkan peraduannya. aku ama ani tak punya tenda, janji panitia untuk menyiapkan tenda menjadi pegangan kami akan mendapatkan tempat tidur. kenalan dengan peserta, ternyata selain aku ada juga kasuari yang tak punya tenda. emh...gimana ya...? seorang peserta cowok sibuk mendirikan tendanya sendirian, akhirnya kami mendekat padanya dan meminta tumpangan. iya bersedia dengan syarat kami harus rela berdesak-desakan. itu bukan masalah kan. ternyata ia bernama Ammar dari teknik sipil politeknik, juniornya anja.
kami memasak bareng, karena aku tak tau gimana menggunakan kompor lapangan dan nesting jadilah itu tugas kasuari dan Ammar, aku ama ani membantu mengambilkan air dan cuci piring.
selesai makan kami harus breafing tentang kegiatan esok hari, mulai dari pembagian anggota kelompoknya, pendamping dan gua mana yang akan kami kunjungi. setelah itu dilanjutkan dengan materi tentang batuan karst dan fauna yang terdapat di taman nasional bantimurung bulusaraung. materinya sebenarnya menarik, tapi aku tidak punya dasar pengetahuan tentang istilah-istilah yang disebutkan karena aku bukan dari MAPALA. materinya tidak berlangsung lama karena pemateri yang juga dosen UNHAS buru-buru pulang (terlambat datang sih). breafing dilanjutkan kembali dan setelah itu kami harus istirahat.
Wednesday, September 6, 2006
pusing....
apa aku harus bersedih karena itu, kan tidak. makasih banyak untuk keluarga kecilku di UKPM. juga untuk sahabat-sahabatku, maafkan aku yang tak lagi bisa bersama kalian. rindu akan tetap ada untukmu.
kemarin aku habis pulkam, ada sedikit cerita yang aku dapat dari rumah sakit. anak tetanggaku masuk rumah sakit, kena diare. kasian banget umurnya baru 6 bulan. inti ceritanya bukan disitu, tapi perbedaan pelayanan yang diterima antara pasien umum dengan peserta askes gakin. untung saja tetanggaku pasien umum, jadi ia mendapat pelayanan yang cukup baik.pertama masuk kamarnya didapatinya seorang pasien lain, tapi kemudian dipindahkan oleh petugas disana. menurut cerita ibu yang dipindahkan itu untuk ketiga kalinya berpindah tempat. akhirnya kamar yang ditempatinya padat dengan pasien. kamar yang seharunya untuk tiga pasien harus ditempati oleh lima pasien, belum lagi keluarga mereka ditambah tangisan bayi yang kesakitan, pelayanan yang tidak memadai. sangat menyedihkan. aku sangat heran, biaya untuk pengguna JPS ato askes gakin kan pemerintah, trus apa hubungan dengan pelayanan yang mereka dapatkan sementara pihak rumah sakit tidak menderita kerugian apapun karena adanya pasien JPS.
Saturday, August 19, 2006
hari terakhir
akhir-akhir ini setelah pengukuhan anak baru, sibuk dengan aksi penolakan terhadap intervensi nilai yang dilakukan jurusan Kehutanan. ntah apa yang aku mau katakan selain penyesalan atas tindak pelecehan itu. ada dimana hubungan antara aksi yang kami lakukan dengan nilai akademik.
sedih bercapur emosi melihat anak-anak yang kecapean. tidur yang sangat kurang plus logistik yang menipis mengingat sekarang lagi akhir bulan. tapi semangat tetap ada untuk melawan, ini sebuah perjuangan panjang yang harus dilakukan. bagaimana nasib lembaga kemahasiswaan kedepan manakala kita tak punya lagi kebebasan berpikir dan mengitarakan pendapat. ayo bangkit melawan atau diam tertindas.....
kemana mahasiswa yang sesungguhnya, apa kita sekarang sedang mati suri atau mungkin untuk selamanya.
untuk kakak Ochank n adik Fufu, aku turut berduka cita atas berpulangnya Ayahanda tercinta, sekarang kita senasib. semoga tabah menghadapi cobaan ini. kami keluarga kecilmu sangat ingin berada didekatmu saat ini, tapi ,masalah biasa tetap menemani.
tentang aku
saat ini umurku di usia 20 tahun sisa 4 jam lebih, ntah sedih yang ada atau bahagia. jalan yang harus kuhadapi sepertinya semakin terjal apa aku mampu menjalaninya. aku bukannya pesimis dengan semua itu, tapi sungguh aku harus berusaha keras agar aku bisa menggapai mimpi-mimpiku.
umur akan kembali berkurang setahun. besok hari minggu, hal yang paling aku harapkan adalah sahabat yang telah menemaniku selama ini. untuk Anet, Atho, Ani , Upi makasih banyak telah membantuku melewati setahun ini. juga untuk ilda kebersamaan ini sangatlah indah.
Monday, July 31, 2006
aku mo cerita
satu masalahku lagi dapat penyelesaiannya. aku bisa bayar sppku. setelah ketemu ama Pak Dekanku, aku dapat solusi kebetulan hari itu ada dr. citra diruangannya. jadinya ia dengar curhatku...he...he...he...jadinya ia kasih job ke aku, nah uang mukanya untuk bayar uang SPPku. kemarin aku sebenarnya udah berpikir semester ini bakalan cuti coz aku ngga punya uang sepeserpun. thanks banget to kak dewi...tanpa kakak semuanya ngga akan selancar ini. sekarang aku harus nginap di UKPM untuk mengerjakan tugas baruku. udah seminggu ngga pulang-pulang. sori ya bondeng aku ngga lupa ama rumah qta. keadaan yang membuatku harus memilih. kita harus mewujudkan mimpi , membangun rumah masa depan kita.
aku juga harus minta maaf ama ani, coz aku ngga mengantarnya ke bandara, kemarin aku sakit, sampai saat ini. aku sebenarnya takut banget, moga tiphoyd ngga akan menggangguku kembali setelah satu semester tahun lalu membuatku tinggal terus dikampung. ngga asyik banget kuliah ngga jalan begitu juga ngga bisa bermain di pers atau dimana saja aku suka.
nginap di UKPM asyik banget, ayo cewek-ceweknya sesekali nginap. udah ngga ada cowok kok coz habis digusur ke PKM 3 di jl. bung.
Tuesday, July 25, 2006
perempuan seperti apa keberadaanmu...???
Makna antara gender dan sex tidaklah sama, keduanya merupakan pembeda antara laki-laki dan perempuan. Titik bedanya adalah pada sex dilihat dari segi fisik/biologi ataupun dari jenis kelamin yang dimiliki. Sedangkan pada gender lebih menekankan pada perbedaan peran social cultural antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan jenis kelamin melahirkan perbedaan gender, dan perbedaan gender melahirkan ketidakadilan pada perempuan.
Sejarah perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses sosialisasi, penguatan dan konstruksi social cultural, keagamaan bahkan melalui kekuasaan negara lewat proses yang cukup panjang sehingga gender lambat laun menjadi seolah-olah ketentuan Tuhan “Handayani, 2002”. Perbedaan gender lahir dari sebuah kebiasaan yang berlanjut turun temurun, sehingga akhirnya menjadi hal yang kodrati bagi manusia, ia tidak lagi dianggap sebagai sebuah bentukan sosial budaya tapi sebuah ketentuan yang jika tidak dilakukan maka itu adalah sebuah dosa.
Tiga proses social dalam pembentukan realiatas perempuan ditekankan pada tiga hal, yaitu; konstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi. Konstruksi merupakan susunan suatu realitas objektif yang telah diterima dan menjadi kesepakatan umum, meskipun dalam proses tersebut tersirat dinamika social; dekonstruksi terjadi pada saat keabsahan realitas/objektif kehidupan perempuan dipertanyakan yang kemudian memperlihatkan praktik-praktik baru didalam kehidupan perempuan, dekonstruksi kemudian menghasilkan rekonstruksi dimana merupakan proses rekonstualisasi dan redefinisi perempuan.
Bentukan-bentukan social seperti feminis pada perempuan dan konsep maskulin pada laki-laki adalah bentukan-bentukan yang lahir dari pembedaan gender. Bentukan tersebut dipengaruhi oleh faktor sosial, geografis dan budaya yang ada pada masyarakat tertentu. Kelemah lembutan perempuan tidak terdapat pada semua daerah. Implikasi lain yang lahir dari konsep gender yang tidak seimbang adalah lahirnya pemisah antara sektor public dan domestic, dimana domestik dianggap sebagai wilayah kerja perempuan sedangkan public merupakan wilayah kerja laki-laki.
Media massa juga berperan aktif menegaskan kedudukan dan peran perempuan sebagai ibu, maupun istri yang baik, adanya iklan sabun mandi memberi bentukan tentang bagaimana kcantikan perempuan, padahal putih atau hitamnya kulit, mulus atau jerawatannya wajah bukanlah hal yang penting untuk mengukur cantik tidaknya seseorang. Kecantikan dilihat dari dalam bukan sesuatu yang dibuat-buat. Revolusi kapitalis juga ikut menegaskan dan memperkuat peran-peran perempuan dengan memberikan berbagai kemudahan teknologi yang dapat membantu kegiatan perempuan didapur.
Ketidakadilan, apakah disadari???
Adanya bias gender kemudian melahirkan ketidakadilan gender. Hal ini lahir karena adanya pandangan yang lebih mengutamakan salah satu jenis kelamin. Misalnya, lebih berpihak pada laki-laki daripada perempuan atau sebaliknya. Sebagai contoh pandangan atau sikap yang terlihat di dalam gagasan-gagasan bahwa laki-laki itu lebih kompeten, lebih mampu, lebih superior daripada perempuan. Ia sosok yang kuat dan melindungi. Sedangkan perempuan merupakan sosok yang lemah dan harus dilindungi. Saya berpikir ketika perempuan dilahirkan pada kondisi dimana laki-laki tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi, menafkahi maka ia akan menjadi sosok yang kuat dan mampu melidungi dirinya sendiri. Adanya pahaman perempuan sebagai sosok yang lemah kemudian melahirkan marginalisasi.
Marginalisasi perempuan yang muncul kemudian menunjukkan bahwa perempuan menjadi “the second sex” warga kelas dua yang keberadaannya tidak begitu diperhatikan. Paham patriarki yang ada dihampir seluruh bangsa kita kecuali pada daerah minangkabau yang lebih pada marga ibu, menggambarkan dominasi laki-laki pada kaum perempuan, ini tidak hanya terjadi pada area rumah tangga saja, tapi lebih dari itu, kekuasaan laki-laki hampir ada pada semua bidang. Pembagian kerja yang menempatkan perempuan pada wilayah domistic semakin memperkuat kekuasaan tersebut, domestic yang lebih banyak berkutat pada wilayah dapur kemudian melahirkan anggapan bahwa pendidikan tidaklah penting bagi perempuan, karena wilayah domestic bisa dikerjakan tanpa pendidikan. Pahaman bahwa perempuan adalah pembantu laki-laki tetap saja ada pada sebagian besar masyarakat. Akibatnya gerak langkah perempuan menjadi terbatas.
Ketidakadilan gender disadari atau tidak merupakan proses marginalisasi atau pemiskinan pada perempuan, kurangnya pendidikan dan keterampilan pada perempuan membuatnya harus bergantung pada laki-laki, dimana perempuan tidak mempunyuai sepenuhnya atas dirinya, setiap tindakan yang dilakukan harus sepengetahuan laki-laki. Pendidikan yang tidak merata pada perempuan kemudian menyebabkan tenaga perempuan di eksplotasi oleh laki-laki yang menjadi pengambil keputusan, ada banyak perempuan yang kemudian menjadi buruh atau berada pada posisi rendah dalam dunia kerja, hal ini disebabkan karena kurangnya perempuan yang menikmati pendidikan. Banyaknya perempuan yang masuk ke dunia prostitusi juga salah alasan tidak adanya keterampilan atau pengetahuan yang mereka miliki.
Adanya pembedaan peran antara perempuan dan laki-laki telah menghambat potensi dasar yang dimiliki, ini kemudian melahirkan kekerasan-kekerasan yang banyak digunakan oleh laki-laki untuk memenangkan dominasinya, menyatakan ketidakpuasannya, atau kadang hanya untuk menunjukkan bahwa ia berkuasa atas kaum perempuan. Kekerasan yang terjadi disebabkan oleh budaya patriarki yang telah mengakar pada sebagian besar masyarakat.
Dilihat dari beban kerja yang dimiliki perempuan sebenarnya mempunyai beban kerja yang lebih berat, kerja-kerja domestic yang dilakukan perempuan sesungguhnya bukanlah pekerjaan yang ringan, perempuan harus memnghabiskan waktunya lebih banyak untuk kerja-kerja tersebut, belum lagi jika perempuan membantu suaminya/keluarganya mencukupi nafkah keluarga, disini perempuan telah melakukan rangkap pekerjaan. Diperkirakan wanita merupakan pencari nafkah utama pada seperempat hingga sepertiga RT diseluruh dunia (Agarwal et.al.,1990).
Ketidakadilan gender yang dirasakan Kartini, kemudian membuat ia bangkit dan melawan lewat surat-surat pada beberapa sahabatnya di luar negeri. Kartini adalah perempuan yang merasakan ketidakadilan oleh budaya patriarki keluarganya. Pada provinsi lain muncul dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Kristina Martatiahahu. Sederatan pahlawan nasional perempuan yang sudah memiliki tingkat intelegensia tinggi, secara otodidak memahami apa itu kebebasan dan kemerdekaan serta hak asasi manusia. Mereka bangkit dan melawan serta memperlihatkan pada kita kerja-kerja melawan penjajah bukan hanya kewajiban laki-laki.
Perlu diingat bahwa konsep keadilan bukan berarti memiliki porsi yang sama, tapi bagaimana penyetaraan itu terjadi mengerjakan sesuatu sesuai kemampuan. Tidak seperti yang terjadi sekarang ini.
Kesehatan yang terabaikan
Dalam hubungan suami istri pelecahan ini lebih banyak terjadi, ketika seorang perempuan lebih ditekankan untuk menjadi seorang pelayan untuk suaminya, bukankah keberadaan wanita bukan seperti itu, tapi bagaimana kita beriringan bersama menyelesaikan permasalahan yang ada. Adanya ketidakadilan gender ini kemudian berpngaruh langsung pada rentangnya perempuan terkena penyakit, dan sangat disayangkan kepedulian perempuan pada kesehatannya kemudian hampir tidak ada karena pengaruh bahwa laki-laki harus didahulukan. Seorang istri atau ibu selalu mementingkan kepentingan suaminya kebanding dirinya sendiri.
Dua dari tiga wanita saat ini menderita penyakit yang sangat melemahkan. Penderita menunjukkan kerentanan yang tinggi terhadap infeksi traktus respiratoris dan reproduktif yang seringkali mengakibatkan kematian dini. Lebih dari 1M hidup dalam kemiskinan absolute.sedikitnya 2M yang memiliki jumlah pendapatan yang tidak mencukupi kebutuhanyang setingkat diatas kebutuhan yang paling mendasar (Durming,1989.Undisca,1997)
Wanita juga menghadapi ancaman kesehatan reproduksi yang unik. Tingginya angka penyakit yang dapat dicegah. Kematian akibat komplikasi pada kehamilan dan persalinan, aborsi yang tidak aman, serta penyakit menular seksual dan kanker reproduktif sering di jumpai pada wanita yang miskin dan tidak memiliki akses pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif . Penyakit menular seksual sering terjadi pada wanita yang hanya berhubungan dengan suaminya, ini disebabkan laki-laki yang tidak puas pada satu perempuan saja.
Menurut Blair Brooke dari Population Council, di Bangkok. Masalah reproduksi merupakan penyebab utama kesakitan dengan kematian pada wanita usia 15-49 tahun . resiko dari kerja-kerja buruh sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan perempuan Meski demikian resiko kerja yang menjadi semakin penting oleh karena wanita muda bekerja di Industri dan mereka dipaksa kerja lembur dengan upah kecil dan kondisi yang berbahaya (Brooke,1991).
Berbicara pelecehan yang diterima oleh seorang wanita, akankah itu dapat kita sadari, seperti apa makna pelecehan itu, apakah kita akan merasa dilecehkan ketika itu terbukti nyata, tanpa sebuah bungkusan??? Aku selalu berpikir mungkinkah semua wanita pernah berpikir ia lebih sering dieksploitasi oleh lawan jenisnya, banyak hal yang membuat kita terus dilecehkan oleh laki-laki, dalam hubungan kerja sering sekali terdengar majikan memperkosa pelayannya, juga dalam keluarga dimana ayah dengan teganya menghamili anak sendiri, suami yang tidak pernah peduli pada istrinya.
Perempuan sesungguhnya adalah makhluk yang sangat tangguh, ketika laki-laki mengatakan dirinya kuat, tidakkah perempuan lebih kuat. Kekuatan fisik mungkin tidak diandalkannya tapi semangat dan kesabaran yang terus ada membuat ia mampu menjalani kehidupannya. Konsep sehat sakit bukan hanya pada masalah fisik, tapi juga psikis dan lingkungan social. Pelayanan kesehatan yang diberikan pada perempuan sangat minim, lebih banyak berkutat pada masalah reproduksi. Sementara penyakit yang ada tidak sebatas itu saja, tingginya beban kerja, kurangnya gizi yang dikonsumsi, faktor lingkungan semuanya memberi pengaruh. Pada masalah rendahnya IQ anak yang dilahirkan karena konsumsi gizi wanita hamil, sangatlah minim, tugas melayani suami dan mendahulukan kebutuhannya termasuk makanan pada beberapa daerah membuat konsumsi makanannya selalu berada di urutan kedua, demikian juga wanita hamil yang terus terbelenggu oleh tabu yang tidak memperbolehkan mereka mengkonsumsi berbagai makanan (Acsadin dan Acsadin,1990:Kamel,1983). Juga adanya anggapan anak yang dilahirkan ketika seorang suami menginginkan anak laki-laki dan kesalahan akan ditimpakan pada istrinya. Padahal dari segi medis gen penentu jenis kelamin bayi yang dilahitkan berasal dari laki-laki. Nah siapa yang patut disalahkan???