Ada satu hal bahwa manusia tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Selalu meminta lebih dan lebih. Selalu saja merasa tak cukup dengan apa yang dimilikinya. Lupa bersyukur.
Makassar selalu saja membuatku merasa, aku tak ada apa-apanya dibanding yang lain. Membuatku untuk selalu ingat aku memiliki segala hal yang mereka tak punya. Setelah terakhir ke dokter ahli, hingga hari ini aku tak lagi menginjak rumah sakit. Pertama karena aku jengkel dengan pernyataan dokter itu tentang sakitku. Banyak menggunakan “mungkin” mungkin diabetes, mungkin hipokalsemia. Harus chek lab keseluruhan agar tahu hasilnya. Dan untuk chek lab biayanya tak sedikit, dan jumlah yang dibutuhkannya tak hanya seratus dua ratus ribu. Aku tak ingin menginjak rumah sakit itu lagi, menghabiskan tabunganku untuk sesuatu yang tak kuketahui hasilnya.
Salah satu hal yang menarik kukerjakan adalah jalan-jalan ke tempat yang aku sukai. Bukan pusat perbelanjaan atau tempat hiburan atau restoran mewah. Aku suka berkunjung ke daerah-daerah yang ditempati kaum urban dan miskin kota. Aku belajar pada anak-anak jalanan, pemulung atau siapapun.
Pada salah satu ruang itu aku akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki penyakit jauh lebih parah dariku.
Ketika aku sakit aku masih bisa mengakses rumah sakit dengan mudah, aku punya banyak teman yang bisa kutempati berkonsultasi. Aku punya banyak teman yang selalu bersedia menolongku ketika aku tak lagi mampu membayar biaya pengobatanku. Aku punya pengetahuan dan bisa mengakses dengan mudah tentang sakit yang kuderita. Aku bisa melakukan pencegahan, istirahat di saat aku membutuhkannya. Tapi tidak dengan mereka.
Kemarin sore ketika berkunjung ke rumah warga di Sekolah, salah satu di antara mereka mengatakan suaminya tak bisa membantu. Sedang sakit katanya. Batuk-batuk dan itu sejak lama, badannya semakin kurus demikian ibu itu cerita tentang kondisi suaminya. Ini bukan orang pertama yang kudengar batuk-batuk dan mengalami penurunan berat badan. Bulan lalu, ada kasus yang sama, bapaknya sudah berulang kali ke puskesmas, dan bahkan ke rumah sakit tapi tak sembuh-sembuh.
Itu bronchitis pikirku. Hal ini sangat mungkin terjadi. Warga di sekitar sekolah berprofesi sebagai pemulung. Mereka melakukannya setiap hari, kecuali libur. Mereka bekerja hingga tengah malam, dan tak jarang hingga subuh. Mereka harus mengangkut barang-barang itu dengan mendorong gerobak. Rumah mereka pun mendukung penyakit ini. Rumah dengan bahan-bahan yang tekah dibuang dan tak terpakai. Tripleks bekas, seng, spanduk bekas, kayu dan bamboo bekas sisa bangunan. Daerah yang lembab dan berair. Semua memungkin kan untuk sakit itu. Bronchitis lebih dikenal dengan paru-paru basah. Terjadi karena adanya infeksi pada paru-paru.
Mereka tak bisa mengakses kesehatan dengan mudah, walau sekarang telah ada jamkesda, jamkesmas tapi tak semua orang bisa mendapatkannya.
Lah, emosi saya jadi menanjak naik. Rasanya hendak marah. Marah sejak dulu program kesehatan untuk masyarakat miskin telah berganti-ganti namun tetap hasilnya sama. tidak bisa diakses sama semua orang.
Ah, sudahlah saya harus mengakhiri hari ini, mencari penenang agar emosi tetap stabil.
Friday, May 25, 2012
Sunday, April 8, 2012
Ketika pilihan itu tak berobat medis
Sakit telah membuatku sangat produktif. Membuatku ingin menuliskan banyak hal, tentang setiap hal yang aku alami, atau orang lain rasakan.
Memilih berobat tak semudah yang kita pikirkan. Beberapa malam lalu aku menelpon seorang kawan. Ia juga sedang sakit. Bronchitis, bertahun-tahun ia mengidap penyakit itu, bertahun-tahun pula telah berobat. Penyakitnya lebih sering kambuh, seperti diriku, kelelahan sedikit akan membuat tubuh kami melemah dan drop.
Di telpon ia menasehatiku. Agar aku tak keras kepala. Agar aku berobat dengan baik, minum obat yang rajin, tak memakan makanan pantangan, mengurangi istirahat. Terakhir, ia memintaku pulang istirahat di Sengkang. Aku akan cepat sembuh katanya.
Aku tertawa dengan segala nasehatnya. Aku sangat tahu bagaimana ia keras kepala juga dengan penyakitnya. Baik sedikit akan membuatnya mencari aktifitas baru. Aku hanya bilang padanya tak usah menceramahiku kalau tak bisa melakukannya, hehehe…
Beberapa teman mengatakan aku keras kepala, sangat. Hingga seseorang memohon agar aku berobat dan harus sembuh. Apakah aku tak ingin sembuh?
Aku mengingat beberapa kasus yang pernah ada. Pak Kausang tukang becak yang masih mengayuh becaknya sampai sekarang, harus membiarkan besi yang berada di rongga mulutnya karena tak mamou membiayai operasi untuk membukanya. Aku lupa tahunnya, saat itu ramadhan ( ini ada pada salah satu bagian dari blog ini) pak kausang kena tikam oleh sesamanya tukang becak, karena kesalahpahaman. Pak Kausang sangat baik dan mahasiswa yang sering menggunakan becak, akan lebih memilih menumpangi becak beliau dibanding yang lain. Ini masalahnya. Mahasiswa membawanya ke rumah sakit Wahidin saat itu. beliau harus dioperasi karena rahangnya tertebas parang dan lukanya cukup parah.
Setelah operasi petugas menagih istrinya. Biaya berobatnya 2,5 juta. Istrinya yang buta tentu tak punya uang sebanyak itu. kepala keluarganya terkapar tak berdaya di rumah sakit. Bulan lalu, lewat pintu 2 UNHAS, aku bertemu dengan Pak Kausan, seperti biasa ia akan menghadiahiku senyum lebarnya. Kawat besi yang terpasang beberapa tahun lalu masih ada. Ketika menyinggungnya ia hanya tertawa. Aku tahu untuk membuka besi itu butuh jutaan rupiah. Setiap rupiah akan sangat berarti.
Kasus lain yang pernah terjadi, ketika bocah pemulung pingsan di fakultas ekonomi. Kawan-kawan pengurus Sekolah KAMI membawanya ke rumah sakit. Aku juga pernah menuliskannya di blog ini. Petugas pemerintah itu mengatakan uang 50ribu tak banyakji untuk mengurus KTP yang bisa digunakan untuk banyak hal. Hari itu aku bermaksud mengurus surat keterangan tidak mampu, agar bisa mengakses pengobatan gratis di Wahidin.
Selalu karena uang. Pilihan seseorang untuk mengakses pengobatan bukan karena tak ingin sembuh. Tapi terkadang ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekedar kata sehat. Pilihan untuk mengisi lambung tengah keluarga, untuk membayar biaya sekolah anak, pilihan untuk bertahan hidup.
Teringat juga kasus peristiwa kematian Dg. Basse, dan anaknya karena tak mampu lagi beli beras. Ah, hidup buat sebagian besar orang sangat kejam. Harus mati karena ketidakberesan system yang ada di Negara ini. Lalu teringat seorang kawan “ kita beli saja pulau itu dan kita buat Negara sendiri”.
tubuhku telah bersahabat kembali,hanya butuh senyum...
Memilih berobat tak semudah yang kita pikirkan. Beberapa malam lalu aku menelpon seorang kawan. Ia juga sedang sakit. Bronchitis, bertahun-tahun ia mengidap penyakit itu, bertahun-tahun pula telah berobat. Penyakitnya lebih sering kambuh, seperti diriku, kelelahan sedikit akan membuat tubuh kami melemah dan drop.
Di telpon ia menasehatiku. Agar aku tak keras kepala. Agar aku berobat dengan baik, minum obat yang rajin, tak memakan makanan pantangan, mengurangi istirahat. Terakhir, ia memintaku pulang istirahat di Sengkang. Aku akan cepat sembuh katanya.
Aku tertawa dengan segala nasehatnya. Aku sangat tahu bagaimana ia keras kepala juga dengan penyakitnya. Baik sedikit akan membuatnya mencari aktifitas baru. Aku hanya bilang padanya tak usah menceramahiku kalau tak bisa melakukannya, hehehe…
Beberapa teman mengatakan aku keras kepala, sangat. Hingga seseorang memohon agar aku berobat dan harus sembuh. Apakah aku tak ingin sembuh?
Aku mengingat beberapa kasus yang pernah ada. Pak Kausang tukang becak yang masih mengayuh becaknya sampai sekarang, harus membiarkan besi yang berada di rongga mulutnya karena tak mamou membiayai operasi untuk membukanya. Aku lupa tahunnya, saat itu ramadhan ( ini ada pada salah satu bagian dari blog ini) pak kausang kena tikam oleh sesamanya tukang becak, karena kesalahpahaman. Pak Kausang sangat baik dan mahasiswa yang sering menggunakan becak, akan lebih memilih menumpangi becak beliau dibanding yang lain. Ini masalahnya. Mahasiswa membawanya ke rumah sakit Wahidin saat itu. beliau harus dioperasi karena rahangnya tertebas parang dan lukanya cukup parah.
Setelah operasi petugas menagih istrinya. Biaya berobatnya 2,5 juta. Istrinya yang buta tentu tak punya uang sebanyak itu. kepala keluarganya terkapar tak berdaya di rumah sakit. Bulan lalu, lewat pintu 2 UNHAS, aku bertemu dengan Pak Kausan, seperti biasa ia akan menghadiahiku senyum lebarnya. Kawat besi yang terpasang beberapa tahun lalu masih ada. Ketika menyinggungnya ia hanya tertawa. Aku tahu untuk membuka besi itu butuh jutaan rupiah. Setiap rupiah akan sangat berarti.
Kasus lain yang pernah terjadi, ketika bocah pemulung pingsan di fakultas ekonomi. Kawan-kawan pengurus Sekolah KAMI membawanya ke rumah sakit. Aku juga pernah menuliskannya di blog ini. Petugas pemerintah itu mengatakan uang 50ribu tak banyakji untuk mengurus KTP yang bisa digunakan untuk banyak hal. Hari itu aku bermaksud mengurus surat keterangan tidak mampu, agar bisa mengakses pengobatan gratis di Wahidin.
Selalu karena uang. Pilihan seseorang untuk mengakses pengobatan bukan karena tak ingin sembuh. Tapi terkadang ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekedar kata sehat. Pilihan untuk mengisi lambung tengah keluarga, untuk membayar biaya sekolah anak, pilihan untuk bertahan hidup.
Teringat juga kasus peristiwa kematian Dg. Basse, dan anaknya karena tak mampu lagi beli beras. Ah, hidup buat sebagian besar orang sangat kejam. Harus mati karena ketidakberesan system yang ada di Negara ini. Lalu teringat seorang kawan “ kita beli saja pulau itu dan kita buat Negara sendiri”.
tubuhku telah bersahabat kembali,hanya butuh senyum...
Saturday, April 7, 2012
Katanya Hipertiroid
Keesokan hari setelah mendengar perawat itu mengatakan kadar tiroid dalam darahku cukup tinggi, aku menelpon kakakku. Aku tak hendak membuat mereka cemas, tapi masalah lainnya, aku tak ingin mereka salah paham karena hasil kerjaku kuhabiskan tanpa tersisa.
Dua minggu lalu pangeran dan putri kecil dalam keluargaku sakit dan harus melakukan rawat inap. Aku menanyakan kabar keduanya. Sekarang mereka telah kembali ceria dan bermain. Berat badannya juga mulai naik, tak sekurus waktu sakit kemarin. Aku selalu merindukan pangeran kecil, yang akan memeluk erat dan memberikan ciuman pada kedua pipiku sambil bertanya “apa bawakanka mu ninni?” bocah cilik yang menggemaskan dan tak berhenti bertanya.
Keduanya sedang asyik menonton, mereka tak akan bisa diganggu kalau sedang serius. Aku menceritakan sakitku pada kakak ketigaku. Ia kaget, dan mengatakan kenapa tubuhku tak sehat lagi. Aku hanya tertawa, dan berkata Tuhan sangat menyayangiku, hingga ia selalu memberiku ujian.
Aku mengenal 3 orang yang terkena penyakit hipertiroid. Dua diantara mereka telah dioperasi. Salah seorang bernama baderiah. Ia menderita hipertiroid sejak puluhan tahun lalu. 15 tahun sebelumnya ia melakukan operasi pengangkatan kelenjar gondok yang berlebih, tapi operasi itu sepertinya tak berjalan sempurna, dan dokter memang telah member peringatan sebelumnya, jika 10 atau 15 tahun kedepan kemungkinan benjolan itu akan hadir lagi, dan tak bisa diprediksi akan muncul dimana. Seorang ibu yang telah berbahagia bersama anak-anaknya, dan sekarang ia menetap di Kalimantan setelah kepergian suaminya. Terakhir dia pulang ke sengkang , aku melihat benjolan di kepalanya, tepat di dahinya. Itu telah ada sejak beberapa tahun terakhir. Ibu tak lagi melakukan operasi ia tak mau membuang uang anak-anaknya untuk sesuatu yang akan berulang kembali.
Perempuan kedua yang kukenal adalah tanteku sendiri. Beliau saudara sepupu kedua orang tuaku. Tanteku tak bisa lagi bekerja. Ia juga pernah dioperasi dengan menggunakan kartu jamkesmas, namun setelah operasi bukan kesembuhan yang didapatnya, tapi masih saja tetap sakit dan lemah. Aku kadang merasa sedih karenanya, walau kami tak pernah dekat. Tanteku belum menikah dan ia hidup dirumah salah satu saudaranya. Tanteku menjadi lebih sering sakit, malah bertambah parah dibandingkan sebelum ia melakukan operasi pengangkatan kelenjar tiroid itu.
Perempuan ketiga adalah tetanggaku. Hingga saat ini kelebihan hormone tiroid itu tetap bertengger dilehernya dengan diameter yang terus bertambah. Ah, aku melihat mereka. Aku merasakan sakit mereka. Aku yang tak mempunyai benjolan dileher saja sangat pusing dan terbebani, apalagi mereka yang puluhan tahun menderita penyakit ini.
hipertiroid adalah penyakit yang disebutkan karena system metabolism dalam tubuh tak berjalan dengan baik. Sehingga pengeluaran hormon tiroid sangat berlebih. Aku telah bercerita tentang gejala sakit yang kurasakan, namun aku belum mendapatkannya dari dokter. Waktu kerumah sakit kemarin, setelah bertanya ke perawat keberadaan dokternya ia mengiyakan dan memintaku langsung mendaftar setelah melihat hasil lab yang ada ditanganku, katanya kadar hormon tiroidku cukup tinggi. Aku melakukan prosedur itu, dan menunggu beberapa saat. Namun setelah bertanya kembali doker itu ternyata tidak ada ditempat. Dan aku memilih meninggalkan rumah sakit saat itu.
sakit tak selalu membuat kita benar-benar sakit. Secara fisik akan ada perubahan pada daya tahan tubuh. Aku sudah bercerita banyak tentang rasa sakit yang aku alami, tapi sakit bisa saja menjadi anugrah. Membuatku belajar banyak hal. Sakit membuat aku menyadari bagaimana sehat itu sangat berharga. Sakit membuatku tahu bagaimana orang-orang yang ada didekatku sangat peduli. Sakit membuatku belajar, bahwa Negara telah memiskinkan rakyatnya.
Untuk menjadi sehat, ketika seorang menderita sebuah penyakit membutuhkan biaya yang tak sedikit. Butuh jutaan, puluhan bahkan mungkin ratusan juta. Untuk sesuatu yang bernama kesehatan, dan orang akan membelinya, meski setelah itu akan memiskinkan dirinya. Bertanggung jawabkah pemerintah pada hal ini?
Ada hal lain, pada kondisi tubuh yang fit, aku bisa memberi ceramah pada banyak orang, pada kawan-kawanku yang sakit, bagaimana mengubah pola hidup agar cepat sembuh. Tapi aku tak sadar ada banyak factor ketika seseorang memilih berobat atau tidak.
pada akhirnya sakit mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur, dan sakit itu hanya ketakutan yang melemahkan tubuh kita.
Dua minggu lalu pangeran dan putri kecil dalam keluargaku sakit dan harus melakukan rawat inap. Aku menanyakan kabar keduanya. Sekarang mereka telah kembali ceria dan bermain. Berat badannya juga mulai naik, tak sekurus waktu sakit kemarin. Aku selalu merindukan pangeran kecil, yang akan memeluk erat dan memberikan ciuman pada kedua pipiku sambil bertanya “apa bawakanka mu ninni?” bocah cilik yang menggemaskan dan tak berhenti bertanya.
Keduanya sedang asyik menonton, mereka tak akan bisa diganggu kalau sedang serius. Aku menceritakan sakitku pada kakak ketigaku. Ia kaget, dan mengatakan kenapa tubuhku tak sehat lagi. Aku hanya tertawa, dan berkata Tuhan sangat menyayangiku, hingga ia selalu memberiku ujian.
Aku mengenal 3 orang yang terkena penyakit hipertiroid. Dua diantara mereka telah dioperasi. Salah seorang bernama baderiah. Ia menderita hipertiroid sejak puluhan tahun lalu. 15 tahun sebelumnya ia melakukan operasi pengangkatan kelenjar gondok yang berlebih, tapi operasi itu sepertinya tak berjalan sempurna, dan dokter memang telah member peringatan sebelumnya, jika 10 atau 15 tahun kedepan kemungkinan benjolan itu akan hadir lagi, dan tak bisa diprediksi akan muncul dimana. Seorang ibu yang telah berbahagia bersama anak-anaknya, dan sekarang ia menetap di Kalimantan setelah kepergian suaminya. Terakhir dia pulang ke sengkang , aku melihat benjolan di kepalanya, tepat di dahinya. Itu telah ada sejak beberapa tahun terakhir. Ibu tak lagi melakukan operasi ia tak mau membuang uang anak-anaknya untuk sesuatu yang akan berulang kembali.
Perempuan kedua yang kukenal adalah tanteku sendiri. Beliau saudara sepupu kedua orang tuaku. Tanteku tak bisa lagi bekerja. Ia juga pernah dioperasi dengan menggunakan kartu jamkesmas, namun setelah operasi bukan kesembuhan yang didapatnya, tapi masih saja tetap sakit dan lemah. Aku kadang merasa sedih karenanya, walau kami tak pernah dekat. Tanteku belum menikah dan ia hidup dirumah salah satu saudaranya. Tanteku menjadi lebih sering sakit, malah bertambah parah dibandingkan sebelum ia melakukan operasi pengangkatan kelenjar tiroid itu.
Perempuan ketiga adalah tetanggaku. Hingga saat ini kelebihan hormone tiroid itu tetap bertengger dilehernya dengan diameter yang terus bertambah. Ah, aku melihat mereka. Aku merasakan sakit mereka. Aku yang tak mempunyai benjolan dileher saja sangat pusing dan terbebani, apalagi mereka yang puluhan tahun menderita penyakit ini.
hipertiroid adalah penyakit yang disebutkan karena system metabolism dalam tubuh tak berjalan dengan baik. Sehingga pengeluaran hormon tiroid sangat berlebih. Aku telah bercerita tentang gejala sakit yang kurasakan, namun aku belum mendapatkannya dari dokter. Waktu kerumah sakit kemarin, setelah bertanya ke perawat keberadaan dokternya ia mengiyakan dan memintaku langsung mendaftar setelah melihat hasil lab yang ada ditanganku, katanya kadar hormon tiroidku cukup tinggi. Aku melakukan prosedur itu, dan menunggu beberapa saat. Namun setelah bertanya kembali doker itu ternyata tidak ada ditempat. Dan aku memilih meninggalkan rumah sakit saat itu.
sakit tak selalu membuat kita benar-benar sakit. Secara fisik akan ada perubahan pada daya tahan tubuh. Aku sudah bercerita banyak tentang rasa sakit yang aku alami, tapi sakit bisa saja menjadi anugrah. Membuatku belajar banyak hal. Sakit membuat aku menyadari bagaimana sehat itu sangat berharga. Sakit membuatku tahu bagaimana orang-orang yang ada didekatku sangat peduli. Sakit membuatku belajar, bahwa Negara telah memiskinkan rakyatnya.
Untuk menjadi sehat, ketika seorang menderita sebuah penyakit membutuhkan biaya yang tak sedikit. Butuh jutaan, puluhan bahkan mungkin ratusan juta. Untuk sesuatu yang bernama kesehatan, dan orang akan membelinya, meski setelah itu akan memiskinkan dirinya. Bertanggung jawabkah pemerintah pada hal ini?
Ada hal lain, pada kondisi tubuh yang fit, aku bisa memberi ceramah pada banyak orang, pada kawan-kawanku yang sakit, bagaimana mengubah pola hidup agar cepat sembuh. Tapi aku tak sadar ada banyak factor ketika seseorang memilih berobat atau tidak.
pada akhirnya sakit mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur, dan sakit itu hanya ketakutan yang melemahkan tubuh kita.
Tuesday, April 3, 2012
Asam urat, tak lagi mengenal usia
Dulu penyakit ini terjadi pada kalangan bangsawan. Keluarga yang terbiasa dengan makanan serba mewah dan mengandung kadar purin yang sangat tinggi seperti kaldu, daging, bebek, juga mengkonsumsi minuman beralkohol. Ini penyakit orang kaya kataku, setiap seseorang mengejekku karena sakit ini. Agak berat juga bercerita, apalagi setiap orang membayangkan penyakit ini terjadi hanya pada orang yang lanjut usia.
Umurku 26 tahun dan tentu saja orang berpikiran aku masih sangat muda untuk penyakit yang sangat mengganggu. Gout, demikian istilah lainnya. Penyakit yang menyerang sendi karena penumpukan purin disela-selanya. Selain factor genetic, kebiasaan makan dan pola hidup menjadi salah satu penyebabnya. Hal lain yang mungkin terjadi adalah pengeluaran asam urat dalam tubuh mengalami sedikit masalah. Tubuh kita mampu memproduksi 85% kebutuhan purin, sedangkan 15 %nya diperoleh dari makanan yang dikonsumsi.
Bertahun-tahun jauh dari orang tua, tinggal di kost dan kampus, terakhir di rumah hijau. Hidup tak benar-benar sehat, tapi paling tidak lebih baik dibandingkan waktu kuliah. Sejak selesai kuliah berat badanku tak bergerak banyak, sangat lambat. Padahal, urusan makan aku selalu mengutamakannya. Makan indomie semaksimal mungkin 2 bungkus perminggu, kecuali kalau keuanganku sedang sekarat. Tapi setahun terakhir aku lebih sering makan diluar, juga aku banyak mengkonsumsi sea food. Wilayah pesisir surganya makanan laut segar. Tak hanya di barru, berkunjung ke bulukumba pun aku akan dimanjakan dengan menu ini. Aku pencinta ikan, ikan laut maupun ikan air tawar. Aku juga menyukai segala jenis sayuran. Dan setiap ke daerah, semua akan memanjakanku dengan menu kesukaannku. Orang yang mengenalku dengan baik tentu menyediakan makanan-makanan itu untukku. Hubungan kerja yang kaku tak berlaku untukku, dibeberapa tempat aku menjadi bagian dari keluarga yang kutempati. Memperlakukanku seperti anak mereka sendiri. Aku selalu berbahagia karena itu. dimanapun, aku selalu berasa di rumah sendiri. Tak salah jika aku selalu mengatakan rumahku tak jelas dimana. Aku mempunyai rumah-rumah dimana-mana,hehehe…
Pertama kali kakiku membengkak di Barru, aku kebanyakan mengkonsumsi kerang dan ikan. Pulang ke sengkang pun etta akan menyediakan ikan bakar kesukaanku. Ketika aku mengatakan tak boleh memakannya, beliau tetap menyuruhku memakannya. Akhirnya kulakukan, mengingat usahanya untuk mendapatkan ikan segar itu untuk menyenangkanku. Ah, sudahlah, bicara makanan akan membuatku merindukan makanan itu.
Setiap tahu gejala aneh di tubuhku aku akan mencari informasinya di dunia maya. Aku akan memperhatikan selama beberapa minggu dan mendeteksi sendiri penyakitku. Waktu ke puskesmas, aku menceritakan tentang gejala penyakitku, dan dokter muda di puskesmas bisa ditemani diskusi. Aku telah mendeteksinya, dan dibuktikan dengan uji darah yang dilakukan dokter itu.
Beberapa hari kakiku bengkak dan panas, selain itu sangat nyeri dan menyakitkan. Malam hari aku terkadang tak mampu berjalan dan mengurung diri di kamar. Untuk makan dan minum aku harus minta tolong. Adikku yang menjadi perawatku.
Telah dua bulan aku melakukan diet ketat, bukan untuk menurunkan berat badanku, tapi hendak menaikkannya. Selain itu aku diet untuk menurunkan kadar asam urat dalam tubuhku agar bisa kembali ke angka normal. Ada juga sepupuku yang menderita penyakit ini, asam urat penyakit yang harus disembuhkan dengan pelan. Seperti halnya diriku, setelah mengetahui kadar asam urat dalam tubuhnya cukup tinggi, ia melakukan diet yang sangat ketat hingga kadar asam uratnya berada di angka 3 dalam waktu kurang dari sebulan. Masalah yang timbul, adalah kadar asam urat tak boleh diturunkan dengan drastic karena ia akan menjadi lebih sakit.
Aku jadi percaya pada konsep keseimbangan. Kalau dalam budaya cina dikenal ying dan yang. Tubuh kita juga harus menerima kadar yang secukupnya sesuai kebutuhan kita. Seorang teman yang juga menderita asam urat sepertiku berpesan agar aku tak menghindari semua makanan itu, tapi mengurangi porsinya, karena bagaimanapun tubuh membutuhkan semua elemen itu.
Keep fight…
Umurku 26 tahun dan tentu saja orang berpikiran aku masih sangat muda untuk penyakit yang sangat mengganggu. Gout, demikian istilah lainnya. Penyakit yang menyerang sendi karena penumpukan purin disela-selanya. Selain factor genetic, kebiasaan makan dan pola hidup menjadi salah satu penyebabnya. Hal lain yang mungkin terjadi adalah pengeluaran asam urat dalam tubuh mengalami sedikit masalah. Tubuh kita mampu memproduksi 85% kebutuhan purin, sedangkan 15 %nya diperoleh dari makanan yang dikonsumsi.
Bertahun-tahun jauh dari orang tua, tinggal di kost dan kampus, terakhir di rumah hijau. Hidup tak benar-benar sehat, tapi paling tidak lebih baik dibandingkan waktu kuliah. Sejak selesai kuliah berat badanku tak bergerak banyak, sangat lambat. Padahal, urusan makan aku selalu mengutamakannya. Makan indomie semaksimal mungkin 2 bungkus perminggu, kecuali kalau keuanganku sedang sekarat. Tapi setahun terakhir aku lebih sering makan diluar, juga aku banyak mengkonsumsi sea food. Wilayah pesisir surganya makanan laut segar. Tak hanya di barru, berkunjung ke bulukumba pun aku akan dimanjakan dengan menu ini. Aku pencinta ikan, ikan laut maupun ikan air tawar. Aku juga menyukai segala jenis sayuran. Dan setiap ke daerah, semua akan memanjakanku dengan menu kesukaannku. Orang yang mengenalku dengan baik tentu menyediakan makanan-makanan itu untukku. Hubungan kerja yang kaku tak berlaku untukku, dibeberapa tempat aku menjadi bagian dari keluarga yang kutempati. Memperlakukanku seperti anak mereka sendiri. Aku selalu berbahagia karena itu. dimanapun, aku selalu berasa di rumah sendiri. Tak salah jika aku selalu mengatakan rumahku tak jelas dimana. Aku mempunyai rumah-rumah dimana-mana,hehehe…
Pertama kali kakiku membengkak di Barru, aku kebanyakan mengkonsumsi kerang dan ikan. Pulang ke sengkang pun etta akan menyediakan ikan bakar kesukaanku. Ketika aku mengatakan tak boleh memakannya, beliau tetap menyuruhku memakannya. Akhirnya kulakukan, mengingat usahanya untuk mendapatkan ikan segar itu untuk menyenangkanku. Ah, sudahlah, bicara makanan akan membuatku merindukan makanan itu.
Setiap tahu gejala aneh di tubuhku aku akan mencari informasinya di dunia maya. Aku akan memperhatikan selama beberapa minggu dan mendeteksi sendiri penyakitku. Waktu ke puskesmas, aku menceritakan tentang gejala penyakitku, dan dokter muda di puskesmas bisa ditemani diskusi. Aku telah mendeteksinya, dan dibuktikan dengan uji darah yang dilakukan dokter itu.
Beberapa hari kakiku bengkak dan panas, selain itu sangat nyeri dan menyakitkan. Malam hari aku terkadang tak mampu berjalan dan mengurung diri di kamar. Untuk makan dan minum aku harus minta tolong. Adikku yang menjadi perawatku.
Telah dua bulan aku melakukan diet ketat, bukan untuk menurunkan berat badanku, tapi hendak menaikkannya. Selain itu aku diet untuk menurunkan kadar asam urat dalam tubuhku agar bisa kembali ke angka normal. Ada juga sepupuku yang menderita penyakit ini, asam urat penyakit yang harus disembuhkan dengan pelan. Seperti halnya diriku, setelah mengetahui kadar asam urat dalam tubuhnya cukup tinggi, ia melakukan diet yang sangat ketat hingga kadar asam uratnya berada di angka 3 dalam waktu kurang dari sebulan. Masalah yang timbul, adalah kadar asam urat tak boleh diturunkan dengan drastic karena ia akan menjadi lebih sakit.
Aku jadi percaya pada konsep keseimbangan. Kalau dalam budaya cina dikenal ying dan yang. Tubuh kita juga harus menerima kadar yang secukupnya sesuai kebutuhan kita. Seorang teman yang juga menderita asam urat sepertiku berpesan agar aku tak menghindari semua makanan itu, tapi mengurangi porsinya, karena bagaimanapun tubuh membutuhkan semua elemen itu.
Keep fight…
Tuesday, March 27, 2012
Menyusuri Pulau Panikiang
Azan Ashar baru saja berlalu, ketika kami meninggalkan sungai Madello. Kami sempat tertahan di pinggir pantai. Air masih surut, hingga harus menunggu pasang untuk menggerakkan perahu. Upaya Ilo dan Pak Kama, pemilik perahu untuk mendorongnya berakhir sia-sia. Beberapa ratus meter didepan kami, juga ada beberapa perahu yang terdiam. Mereka mengalami hal yang sama. Air hanya sebatas lutut.
Matahari perlahan menarik diri ketika air mulai meninggi. Dengan sebilah bambu Ilo, menggerakkan perahu. Pelan-pelan, akhirnya perahu bisa bergerak, menuju Pulau Panikiang. Pulau itu bisa dilihat dari Madello. Butuh 15 menit untuk sampai di pulau itu, pada batas normal air laut. air laut akan surut sejak pukul 14.00 hingga 17.00, sehingga waktu-waktu itu masyarakat akan mengeluarkan perahu sebelum waktu tersebut.
Awalnya Pulau Panikiang merupakan gusung, gundukan pasir putih, seiring waktu pasir tersebut bertambah menjadi daratan yang bentuknya memanjang. Pelan-pelan tanaman bakau mulai tumbuh. Pulau tersebut kemudian menjadi tempat persinggahan pa’belle. Mereka akan berdiam semalam di pulau tersebut, sambil menunggu hasil belle.
“Masyarakat awalnya takut berdiam di pulau ini, dulunya disini banyak nano . Kalau ada yang datang ke pulau ini mereka akan diambil oleh nano. Tahun 40an waktu jaman penjajahan belanda A.Mattalatta pernah sembunyi di Tembo’e, sebelah timurnya sudah ada rumah waktu itu. Saya sudah generasi keempat yang menghuni pulau ini.” demikian cerita Pak Abu Nawar kepala Kampung tentang sejarah awal Pulau tersebut.
Paniki berarti kelelawar. Pulau tersebut dihuni ribuan kelelawar. Kelelawar hitam dan coklat. Kelelawar hitam menurut cerita Pak Abu Nawar, yang juga biasa dipanggil Pak Buna, kelelawar berasal dari Kab.Soppeng. ketika kelelawar di Soppeng menghilang, mereka bermigrasi ke Pulau Panikiang. Kelelawar di Panikiang belum dilindungi. Terkadang ada orang luar yang datang dan menembak kelelawar. Ada juga orang-orang yang menjaringnya. Kelelawar hitam sudah berkurang, kembali ke Soppeng. Di Kabupaten Soppeng telah ada peraturan yang melarang menembak atau mengambil kelelawar, kecuali untuk alasan tertentu dan seizin aparat yang berwenang. Kelelawar oleh banyak masyarakat digunakan sebagai obat asma.
Menurut Pak Buna yang juga imam di Kampung tersebut , bahwa kelelawar hitam tak seperti kelelawar coklat. Kelelawar hitam akan mematuk buah dan daun mangrove hingga habis. Mereka tak suka bernaung dibalik rimbunya dedaunan,hingga terkadang membunuh mangrovenya. Beda dengan kelelawar coklat yang suka dengan daun-daun yang rimbun hingga tak menganggu pertumbuhan mangrove.
Bakau yang ada di Pulau Panikiang, sangat lebat. Ketika pulau tersebut mulai di huni ada dua orang tokoh masyarakat yang menanami pulau tersebut dengan mangrove. Pak Dalle menanami mangrove di Tembo’e, sedangkan Pak Salle, orang tua Pak Buna menanam di kampung Masigi (Mesjid). Bakau tersebut dulunya dimanfaatkan masyarakat sebagai kayu bakar, ada juga yang memanfaatkan sebagai arang, hasilnya mereka jual ke daratan. Setelah adanya larangan penebangan mangrove, pekerjaan penduduk pulau bergantung pada hasil tangkapan. Pernah sekali Kepala Kampung menebang pohon bakau yang dia tanam, namun mendapat peringatan dari Badan Dinas Lingkungan Hidup. Beliau sebelumnya tidak mengetahui adanya peraturan tersebut, hingga surat pemberitahuan tersebut disampaikan kepadanya.
Ada beberapa jenis bakau yang hidup didaerah tersebut. Rhizopora (bangko/bakau), Avicennia (api-api), sala-sala. pada tahun 60an buah sala-sala oleh penduduk pulau diolah menjadi makanan pengganti nasi. Sala’-sala’ mengandung karbohidrat.
“waktu itu sangat sulit mendapatkan nasi, jadi masyarakat kadang makan buah sala’-sala’, tapi sekarang masyarakat sudah tidak makan lagi. Susah sekali di olah. Harus dikukus dulu, baru dikeringkan, setelah itu dimasak seperti nasi” tutur Pak Buna.
“Sekarang tidak adami yang makan, sudah banyak beras dijual” tambahnya kemudian.
Profesi nelayan telah dilakoni masyarakat sejak dulu. Dari Pa’belle, menjaring ikan terbang, namun sekarang sebagian nelayan menangkap cumi-cumi hingga ke pangkep. Ada juga warga pendatang dari Mandar. Mereka bisa tinggal di pulau itu hingga 3 bulan. Anak dan istri mereka juga diikutsertakan. Mereka mengambil ikan dengan menombaknya. Untuk menombak ikan nelayan tersebut harus menyelam dikedalaman air. Mereka mendapatkan ikan baronang, yang sebagian besar dikirim ke Mandar untuk dijual. Dalam pengirimannya mereka harus membayar 30.000,- untuk setiap gabusnya.
“saya pulang pergiji ke Mandar. Disana juga tinggal dipulau sama seperti disini. Anak-anak ada disana juga” ujar Ibu Eda, ketika kami berbincang-bincang usai FGD dengan beberapa ibu-ibu. Ibu Eda sehari-hari melakukan pekerjaan rumah, mencuci, memasak, mengambil air disumur. Istri-istri nelayan dari Mandar tidak memiliki pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu lowong mereka. Salah satu alasannya juga karena mereka tak menetap di pulau tersebut.
Nelayan mandar awalnya hanya ada satu orang, namun karena hasil tangkapan disana, ikutlah beberapa keluarga. Mereka kemudian meminta izin pada kepala Kampung untuk membuat rumah di pulau tersebut. Rumah mereka, merupakan rumah-rumah kecil beratapkan daun nipah. Mereka pelan-pelan beradaptasi dengan masyarakat tetap yang menggunakan bahasa bugis.
Perempuan tanpa akses
Dalam forum FGD yang dilaksanakan, tim RCL Lemsa menggali informasi mengenai keseharian penduduk. Mereka masih malu-malu menjelaskan kehidupannya. Ibu Hadijah, seorang Janda tua hidup bersama anak perempuannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ibu Hadija mencari kerang. Ia satu-satunya pencari kerang di kampung tersebut.
“Tidak ada pekerjaan lain nak, jadi ini saja yang bisa dilakukan biar bisa makan” ujar Ibu Hadija.
Pernah juga ada tamu dari luar yang datang dan meminta dimasakkan Sala’-sala, namun sayangnya ibu Hasmawati yang memasaknya tak mencicipi sala’-sala tersebut. Penduduk Panikiang belum mengolah hasil dari hutan bakau. Parappa dan buah api-api juga banyak sekali disana. Hanya saja masyarakat tidak tahu bagaimana mengolahnya.
“oh, dimakan itu buah parappe?” tanya seorang ibu. Ibu-ibu di kampung tersebut, hampir tak memiliki aktivitas diluar pekerjaan rumahnya. Paling banyak masyarakat hanya memelihara itik atau ayam. Namun, kedua hewan piaraan tersebut tidak dapat berkembang biak dengan baik. pakan ayam dan itik masih mengandalkan dedak, yang sangat susah dipulau. Masalah lain yang diungkapkan peserta tersebut adalah susahnya air tawar di pulau tersebut. Satu-satunya sumber air dari sumur disamping mesjid.
“pagi-pagi kita harus berebut air, sedikit sekaliji air sumurnya. “ ujar iIbu Suhra, istri Pak Buna. untuk air minum, penduduk pulau harus mengambilnya di Takkalasi. “biasa juga kita bawa cucian kesana” tutur seorang Ibu peserta FGD.
Selain masalah air, persoalan kesehatan belum terjawab di pulau tersebut. Tidak adanya tenaga kesehatan yang tinggal di pulau tersebut, membuat perempuan mengalami kerentanan terhadap kondisi kesehatannya. Tak jarang perempuan harus melahirkan sebelum bidan desanya sampai di pulau.
“kalau mau imunisasi dan periksa kesehatan kita harus ke Madello” ujar Ibu hasmawati.
“bidan datang kesini kalau dipanggilpi, jadi kalau mau melahirkan biasa ditemani orang tuaji, kadang bayinya lahir duluan” tambahnya kemudian. Bayi yang baru lahir tak bisa langsung dibawa ke Madello untuk diperiksa ataupun pemberian imunisasi.
“nanti umur tiga bulan baru bayinya dibawa ke posyandu di Madello” ujar ibu Hasmawati. Akses untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatanpun sangat sulit. Ketika ada warga yang sakit mereka juga harus ke Madello untuk memeriksakan kesehatannya.
“dokter biasa datang, tapi setahun sekali. Kalau datang kita diperiksa semua dan tidak dibayarji” tambah seorang ibu peserta FGD.
Perempuan kampung Panikiang, masih sangat lugu, hidup untuk mendampingi suaminya. Dinas perikanan pernah membentuk kelompok perempuan, untuk membuat abon ikan, namun realisasinya belum ada hingga saat ini.
“dari bulan 3 dibentuk kelompoknya, tapi tidak pernahmi lagi datang itu orang perikanan.” Demikian seorang ibu bercerita. Satu-satunya kelompok di desa tersebut yang aktif adalah kelompok majlis ta’lim. Pada pembuatan kalender harian, sebagian ibu-ibu menghabiskan waktunya di siang.
Perempuan pulau yang tak mampu mandiri secara ekonomi, pun tak memiliki keterampilan akan mengalami kerentanan. Kerentanan tersebut terutama terjadi ketika suami atau laki-laki kepala kelurganya tak mampu lagi memberi nafkah. Ibu hadija menjadi potret masalah tersebut. Ketiadaan keterampilan dan akses membuatnya tak punya pilihan lain. Usia yang harusnya duduk tenang dirumah, tak bisa dirasakannya.
Beberapa Ibu terlihat mulai mengantuk, matahari diatas pulau. Tak lama lagi jemputan kami akan tiba. Ibu-ibu berpamitan. Pada pembuatan kalender harian tadi, mereka akan tidur siang. Aktivitas akan kembali dimulai sore nanti. Memasak dan mengurus anak-anak mereka.
Matahari perlahan menarik diri ketika air mulai meninggi. Dengan sebilah bambu Ilo, menggerakkan perahu. Pelan-pelan, akhirnya perahu bisa bergerak, menuju Pulau Panikiang. Pulau itu bisa dilihat dari Madello. Butuh 15 menit untuk sampai di pulau itu, pada batas normal air laut. air laut akan surut sejak pukul 14.00 hingga 17.00, sehingga waktu-waktu itu masyarakat akan mengeluarkan perahu sebelum waktu tersebut.
Awalnya Pulau Panikiang merupakan gusung, gundukan pasir putih, seiring waktu pasir tersebut bertambah menjadi daratan yang bentuknya memanjang. Pelan-pelan tanaman bakau mulai tumbuh. Pulau tersebut kemudian menjadi tempat persinggahan pa’belle. Mereka akan berdiam semalam di pulau tersebut, sambil menunggu hasil belle.
“Masyarakat awalnya takut berdiam di pulau ini, dulunya disini banyak nano . Kalau ada yang datang ke pulau ini mereka akan diambil oleh nano. Tahun 40an waktu jaman penjajahan belanda A.Mattalatta pernah sembunyi di Tembo’e, sebelah timurnya sudah ada rumah waktu itu. Saya sudah generasi keempat yang menghuni pulau ini.” demikian cerita Pak Abu Nawar kepala Kampung tentang sejarah awal Pulau tersebut.
Paniki berarti kelelawar. Pulau tersebut dihuni ribuan kelelawar. Kelelawar hitam dan coklat. Kelelawar hitam menurut cerita Pak Abu Nawar, yang juga biasa dipanggil Pak Buna, kelelawar berasal dari Kab.Soppeng. ketika kelelawar di Soppeng menghilang, mereka bermigrasi ke Pulau Panikiang. Kelelawar di Panikiang belum dilindungi. Terkadang ada orang luar yang datang dan menembak kelelawar. Ada juga orang-orang yang menjaringnya. Kelelawar hitam sudah berkurang, kembali ke Soppeng. Di Kabupaten Soppeng telah ada peraturan yang melarang menembak atau mengambil kelelawar, kecuali untuk alasan tertentu dan seizin aparat yang berwenang. Kelelawar oleh banyak masyarakat digunakan sebagai obat asma.
Menurut Pak Buna yang juga imam di Kampung tersebut , bahwa kelelawar hitam tak seperti kelelawar coklat. Kelelawar hitam akan mematuk buah dan daun mangrove hingga habis. Mereka tak suka bernaung dibalik rimbunya dedaunan,hingga terkadang membunuh mangrovenya. Beda dengan kelelawar coklat yang suka dengan daun-daun yang rimbun hingga tak menganggu pertumbuhan mangrove.
Bakau yang ada di Pulau Panikiang, sangat lebat. Ketika pulau tersebut mulai di huni ada dua orang tokoh masyarakat yang menanami pulau tersebut dengan mangrove. Pak Dalle menanami mangrove di Tembo’e, sedangkan Pak Salle, orang tua Pak Buna menanam di kampung Masigi (Mesjid). Bakau tersebut dulunya dimanfaatkan masyarakat sebagai kayu bakar, ada juga yang memanfaatkan sebagai arang, hasilnya mereka jual ke daratan. Setelah adanya larangan penebangan mangrove, pekerjaan penduduk pulau bergantung pada hasil tangkapan. Pernah sekali Kepala Kampung menebang pohon bakau yang dia tanam, namun mendapat peringatan dari Badan Dinas Lingkungan Hidup. Beliau sebelumnya tidak mengetahui adanya peraturan tersebut, hingga surat pemberitahuan tersebut disampaikan kepadanya.
Ada beberapa jenis bakau yang hidup didaerah tersebut. Rhizopora (bangko/bakau), Avicennia (api-api), sala-sala. pada tahun 60an buah sala-sala oleh penduduk pulau diolah menjadi makanan pengganti nasi. Sala’-sala’ mengandung karbohidrat.
“waktu itu sangat sulit mendapatkan nasi, jadi masyarakat kadang makan buah sala’-sala’, tapi sekarang masyarakat sudah tidak makan lagi. Susah sekali di olah. Harus dikukus dulu, baru dikeringkan, setelah itu dimasak seperti nasi” tutur Pak Buna.
“Sekarang tidak adami yang makan, sudah banyak beras dijual” tambahnya kemudian.
Profesi nelayan telah dilakoni masyarakat sejak dulu. Dari Pa’belle, menjaring ikan terbang, namun sekarang sebagian nelayan menangkap cumi-cumi hingga ke pangkep. Ada juga warga pendatang dari Mandar. Mereka bisa tinggal di pulau itu hingga 3 bulan. Anak dan istri mereka juga diikutsertakan. Mereka mengambil ikan dengan menombaknya. Untuk menombak ikan nelayan tersebut harus menyelam dikedalaman air. Mereka mendapatkan ikan baronang, yang sebagian besar dikirim ke Mandar untuk dijual. Dalam pengirimannya mereka harus membayar 30.000,- untuk setiap gabusnya.
“saya pulang pergiji ke Mandar. Disana juga tinggal dipulau sama seperti disini. Anak-anak ada disana juga” ujar Ibu Eda, ketika kami berbincang-bincang usai FGD dengan beberapa ibu-ibu. Ibu Eda sehari-hari melakukan pekerjaan rumah, mencuci, memasak, mengambil air disumur. Istri-istri nelayan dari Mandar tidak memiliki pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu lowong mereka. Salah satu alasannya juga karena mereka tak menetap di pulau tersebut.
Nelayan mandar awalnya hanya ada satu orang, namun karena hasil tangkapan disana, ikutlah beberapa keluarga. Mereka kemudian meminta izin pada kepala Kampung untuk membuat rumah di pulau tersebut. Rumah mereka, merupakan rumah-rumah kecil beratapkan daun nipah. Mereka pelan-pelan beradaptasi dengan masyarakat tetap yang menggunakan bahasa bugis.
Perempuan tanpa akses
Dalam forum FGD yang dilaksanakan, tim RCL Lemsa menggali informasi mengenai keseharian penduduk. Mereka masih malu-malu menjelaskan kehidupannya. Ibu Hadijah, seorang Janda tua hidup bersama anak perempuannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ibu Hadija mencari kerang. Ia satu-satunya pencari kerang di kampung tersebut.
“Tidak ada pekerjaan lain nak, jadi ini saja yang bisa dilakukan biar bisa makan” ujar Ibu Hadija.
Pernah juga ada tamu dari luar yang datang dan meminta dimasakkan Sala’-sala, namun sayangnya ibu Hasmawati yang memasaknya tak mencicipi sala’-sala tersebut. Penduduk Panikiang belum mengolah hasil dari hutan bakau. Parappa dan buah api-api juga banyak sekali disana. Hanya saja masyarakat tidak tahu bagaimana mengolahnya.
“oh, dimakan itu buah parappe?” tanya seorang ibu. Ibu-ibu di kampung tersebut, hampir tak memiliki aktivitas diluar pekerjaan rumahnya. Paling banyak masyarakat hanya memelihara itik atau ayam. Namun, kedua hewan piaraan tersebut tidak dapat berkembang biak dengan baik. pakan ayam dan itik masih mengandalkan dedak, yang sangat susah dipulau. Masalah lain yang diungkapkan peserta tersebut adalah susahnya air tawar di pulau tersebut. Satu-satunya sumber air dari sumur disamping mesjid.
“pagi-pagi kita harus berebut air, sedikit sekaliji air sumurnya. “ ujar iIbu Suhra, istri Pak Buna. untuk air minum, penduduk pulau harus mengambilnya di Takkalasi. “biasa juga kita bawa cucian kesana” tutur seorang Ibu peserta FGD.
Selain masalah air, persoalan kesehatan belum terjawab di pulau tersebut. Tidak adanya tenaga kesehatan yang tinggal di pulau tersebut, membuat perempuan mengalami kerentanan terhadap kondisi kesehatannya. Tak jarang perempuan harus melahirkan sebelum bidan desanya sampai di pulau.
“kalau mau imunisasi dan periksa kesehatan kita harus ke Madello” ujar Ibu hasmawati.
“bidan datang kesini kalau dipanggilpi, jadi kalau mau melahirkan biasa ditemani orang tuaji, kadang bayinya lahir duluan” tambahnya kemudian. Bayi yang baru lahir tak bisa langsung dibawa ke Madello untuk diperiksa ataupun pemberian imunisasi.
“nanti umur tiga bulan baru bayinya dibawa ke posyandu di Madello” ujar ibu Hasmawati. Akses untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatanpun sangat sulit. Ketika ada warga yang sakit mereka juga harus ke Madello untuk memeriksakan kesehatannya.
“dokter biasa datang, tapi setahun sekali. Kalau datang kita diperiksa semua dan tidak dibayarji” tambah seorang ibu peserta FGD.
Perempuan kampung Panikiang, masih sangat lugu, hidup untuk mendampingi suaminya. Dinas perikanan pernah membentuk kelompok perempuan, untuk membuat abon ikan, namun realisasinya belum ada hingga saat ini.
“dari bulan 3 dibentuk kelompoknya, tapi tidak pernahmi lagi datang itu orang perikanan.” Demikian seorang ibu bercerita. Satu-satunya kelompok di desa tersebut yang aktif adalah kelompok majlis ta’lim. Pada pembuatan kalender harian, sebagian ibu-ibu menghabiskan waktunya di siang.
Perempuan pulau yang tak mampu mandiri secara ekonomi, pun tak memiliki keterampilan akan mengalami kerentanan. Kerentanan tersebut terutama terjadi ketika suami atau laki-laki kepala kelurganya tak mampu lagi memberi nafkah. Ibu hadija menjadi potret masalah tersebut. Ketiadaan keterampilan dan akses membuatnya tak punya pilihan lain. Usia yang harusnya duduk tenang dirumah, tak bisa dirasakannya.
Beberapa Ibu terlihat mulai mengantuk, matahari diatas pulau. Tak lama lagi jemputan kami akan tiba. Ibu-ibu berpamitan. Pada pembuatan kalender harian tadi, mereka akan tidur siang. Aktivitas akan kembali dimulai sore nanti. Memasak dan mengurus anak-anak mereka.
Rumah sakit ke puskesmas
Karena tak pernah menetap disatu tempat, aku tak bisa melakukan pengobatan dengan baik. Sepulang dari selatan, aku mendapat panggilan ke utara. Etta dan ponakan kecilku mulai merindu, ada juga diskusi kecil dengan anak muda di Sengkang. Aku harus menyelesaikan beberapa urusan. Bergerak ke utara selalu menyenangkan, rumah itu adalah tempat ternyaman, walau masih saja omelan ibu tentang kerjaku yang tak jelas harus kudengar.
Sabtu adalah bagian dari akhir pekan yang tenang. Unit rawat jalan rumah sakit tak ramai. Tak ada pasien yang sedang menunggu. Aku sendirian. Hari itu aku mengomel sepanjang hari. Masuk ruang itu, tak mendapat sambutan menyenangkan. Beberapa petugas sibuk di depan meja registrasi. Aku mendekat, dan mereka memintaku menunggu. Aku tak tahu apa yang harus kutunggu, sementara tak seorangpun yang dilayaninya. Ah, mereka seharusnya mendahulukanku. 30 menit menunggu aku berpindah ke orang yang disebelahnya. Ia bertanya padaku apa aku membawa surat rujukan dan akan berobat ke dokter mana? Aku bilang ini pertama kalinya aku ke rumah sakit ini dan hendak periksa ke dokter ahli dalam. Dokternya sedang ke Makassar kalau tak salah. Ke dokter umum saja kalau begitu. Ia kembali memintaku menunggu. Lebih sejam menunggu aku mulai gelisah dan emosi. Sejak dulu aku tak pernah nyaman berada di rumah sakit, sehebat dan sebesar apapun rumah sakit itu, aku punya cerita tak mengenakkan.
Sepasangan suami istri masuk ke ruangan itu, mereka langsung menuju meja registrasi. Petugas itu bertanya dengan lembut mau ketemu dengan dokter siapa dan meminta kartu askes milik mereka. Ia menyapanya dengan sangat hormat. Aku sempat mendengar sapaan Pak Haji, dan emosiku tak lagi bisa tertahan. Aku mengajak adikku keluar setelah menatap tajam petugas itu.
Pukul 10 pagi lewat sedikit, puskesmas masih buka. Puskesmas tempe menjadi pilihan terdekat. Aku mau ketemu dokter hari ini. Secepatnya mengarah kesana. Berharap dokternya masih ada.
Beruntung dokternya masih ada. Didalam juga masih banyak pasien yang tersisa bersama anak-anak mereka. Mungkin lagi jadwal imunisasi. Aku segera ke tempat pendaftaran, namun selembar karton bertuliskan tutup terpampang. Harusnya masih buka. Aku berpindah ke sebelah dan menyampaikan protes, kenapa secepat itu mereka menutup pendaftaran padahal belum waktunya. Akhirnya orang itu menyuruh seseorang melayaniku. Satu urusan selesai, sekarang harus melangkah masuk ke ruang tunggu. Seorang teman lama kukenali sedang memeriksa tekanan darah pasien sebelum masuk ke ruang periksa dokter. Aku mendekat dan memberikan mapku. Ia tersenyum mengenaliku, kami sedikit berbincang, mengenang masa lalu ketika masih sekolah. aku satu sekolah di SMU dengannya, tapi kami beda kelas. Sekarang ia telah mempunyai dua orang anak dan menjadi PNS di puskesmas itu. ia langsung menyuruhku masuk ke ruang periksa. Katanya dokter tak lama lagi akan keluar.
Bercerita tentang keluhanku, dan akhinrya aku meminta ia melakukan pengecekan asam urat dalam darahku. Dari temanku aku mendengar ia mempunyai alat pengetes asam urat. Aku telah mencurigai penyakit ini , setelah mantra itu gagal mendeteksi penyakitku. Aku perlu bukti. Dari tes itu kadar asam uratku 6,7. Melewati ambang batas. Untuk perempuan kadar normal asam urat dalam darah adalah 2 -6. Pantas saja aku tak bisa berjalan. Dokter itu lebih baik dari petugas kesehatan yang kutemui hari ini. Beberapa anjuran makanan yang harus kuhindari ia sebutkan. Ia juga menyesal, karena usiaku masih sangat muda untuk menderita penyakit yang satu ini.
Dokter itu cukup menjadi pereda emosiku setelah tak mendapat pelayanan dari rumah sakit. Petugas terkadang merasa dirinya sangat hebat dan dibutuhkan, hingga ia bisa bersikap seenaknya pada pasien.
Sabtu adalah bagian dari akhir pekan yang tenang. Unit rawat jalan rumah sakit tak ramai. Tak ada pasien yang sedang menunggu. Aku sendirian. Hari itu aku mengomel sepanjang hari. Masuk ruang itu, tak mendapat sambutan menyenangkan. Beberapa petugas sibuk di depan meja registrasi. Aku mendekat, dan mereka memintaku menunggu. Aku tak tahu apa yang harus kutunggu, sementara tak seorangpun yang dilayaninya. Ah, mereka seharusnya mendahulukanku. 30 menit menunggu aku berpindah ke orang yang disebelahnya. Ia bertanya padaku apa aku membawa surat rujukan dan akan berobat ke dokter mana? Aku bilang ini pertama kalinya aku ke rumah sakit ini dan hendak periksa ke dokter ahli dalam. Dokternya sedang ke Makassar kalau tak salah. Ke dokter umum saja kalau begitu. Ia kembali memintaku menunggu. Lebih sejam menunggu aku mulai gelisah dan emosi. Sejak dulu aku tak pernah nyaman berada di rumah sakit, sehebat dan sebesar apapun rumah sakit itu, aku punya cerita tak mengenakkan.
Sepasangan suami istri masuk ke ruangan itu, mereka langsung menuju meja registrasi. Petugas itu bertanya dengan lembut mau ketemu dengan dokter siapa dan meminta kartu askes milik mereka. Ia menyapanya dengan sangat hormat. Aku sempat mendengar sapaan Pak Haji, dan emosiku tak lagi bisa tertahan. Aku mengajak adikku keluar setelah menatap tajam petugas itu.
Pukul 10 pagi lewat sedikit, puskesmas masih buka. Puskesmas tempe menjadi pilihan terdekat. Aku mau ketemu dokter hari ini. Secepatnya mengarah kesana. Berharap dokternya masih ada.
Beruntung dokternya masih ada. Didalam juga masih banyak pasien yang tersisa bersama anak-anak mereka. Mungkin lagi jadwal imunisasi. Aku segera ke tempat pendaftaran, namun selembar karton bertuliskan tutup terpampang. Harusnya masih buka. Aku berpindah ke sebelah dan menyampaikan protes, kenapa secepat itu mereka menutup pendaftaran padahal belum waktunya. Akhirnya orang itu menyuruh seseorang melayaniku. Satu urusan selesai, sekarang harus melangkah masuk ke ruang tunggu. Seorang teman lama kukenali sedang memeriksa tekanan darah pasien sebelum masuk ke ruang periksa dokter. Aku mendekat dan memberikan mapku. Ia tersenyum mengenaliku, kami sedikit berbincang, mengenang masa lalu ketika masih sekolah. aku satu sekolah di SMU dengannya, tapi kami beda kelas. Sekarang ia telah mempunyai dua orang anak dan menjadi PNS di puskesmas itu. ia langsung menyuruhku masuk ke ruang periksa. Katanya dokter tak lama lagi akan keluar.
Bercerita tentang keluhanku, dan akhinrya aku meminta ia melakukan pengecekan asam urat dalam darahku. Dari temanku aku mendengar ia mempunyai alat pengetes asam urat. Aku telah mencurigai penyakit ini , setelah mantra itu gagal mendeteksi penyakitku. Aku perlu bukti. Dari tes itu kadar asam uratku 6,7. Melewati ambang batas. Untuk perempuan kadar normal asam urat dalam darah adalah 2 -6. Pantas saja aku tak bisa berjalan. Dokter itu lebih baik dari petugas kesehatan yang kutemui hari ini. Beberapa anjuran makanan yang harus kuhindari ia sebutkan. Ia juga menyesal, karena usiaku masih sangat muda untuk menderita penyakit yang satu ini.
Dokter itu cukup menjadi pereda emosiku setelah tak mendapat pelayanan dari rumah sakit. Petugas terkadang merasa dirinya sangat hebat dan dibutuhkan, hingga ia bisa bersikap seenaknya pada pasien.
Monday, March 26, 2012
Dari alergi hingga penyakit dalam
Minggu kedua desember adalah awal aku mulai menginjakkan kaki untuk berobat sendiri ke petugas medis. Aku mulai dari mantri kesehatan, atas rekomendasi seorang kawan. Aku tak ingin memulai pada pengobatan yang langsung ke ahlinya, karena tubuh tak akan mempan pada obat-obatan ala puskesmas.
Semenjak di Barru badanku gatal dan membengkak. Aku juga flu dan batuk. Pesisir barat selalu terguyur hujan dan cuaca sangat dingin. Bukan sekali dua kali aku harus melawan hujan dan melanjutkan kerja. Akhirnya kuputuskan langsung kembali ke Makassar setelah membereskan kerjaku. Dua hari meringkuk di rumah hijau, tanpa punya kekuatan berjalan dan dilanda insomnia. Padahal aku punya jam tidur yang sangat teratur. Diatas jam 10 mataku akan terlelap hingga subuh.
Desember penuh dengan kesibukan. Berbagai agenda harus diselesaikan. Juga undangan jalan-jalan ke Butta Panrita Lopi, tak akan kulewatkan yang ini. Sejak kuliah, salah satu daerah yang paling ingin kukunjungi adalah daerah Kajang, walau pada akhirnya tak sampai kesana. Aku hanya sampai di Tamatto dengan berbagai alasan yang masuk akal.
Untuk kesana, aku ingin sehat agar tak melewatkan setiap moment berharga dalam setiap perjalanan yang kulakukan. Kali inipun aku tak ingin hal itu terjadi. aku harus sembuh dari segala penyakit. Aku masih punya satu minggu sebelum 18 desember.
Menjelang magrib wawan mengantarku ke tempat praktek langganannya. Katanya sejak kecil mantra kesehatan itu telah menjadi dokternya. Setiap sakit ia akan berobat kesana. Aku setuju dan berharap bisa cepat sembuh dari alergi ini. Tempat itu ternyata memang ramai. Sesak dengan pasien walau cuaca tetap saja tak bersahabat. 5 orang menunggu di depanku. Ada ibu yang membawa gadis ciliknya yang sedang flu, bapak-bapak, hingga anak muda dan mahasiswa. Tempat ini sepertinya bisa kupercaya.
Setelah bercerita tentang sakit yang kurasa. Ia memegang pergelangan kakiku dan sesekali menekannya. Aku alergi katanya, ia menyuruhku mengingat semua makanan yang kukonsumsi seminggu itu. aku bukan orang yang alergi pada makanan. Pola makanku selama di Barru mengikut pada pemilik rumah yang kutempati. Daerah pesisir selalu menjadi gudang seafood segar di tambah kangkung segar dari samping rumah. Satu-satunya hal baru yang kucicipi adalah telur asin rempah.
Ini bukan alergi makanan kataku. Mungkin hal lain, dalam seminggu aku bisa mendatangi tiga penjuru mata angin Sulawesi Selatan, dari utara, barat hingga ke selatan. Cuacanya tak ada yang sama. Utara sangat panas sedangkan barat dan selatan sedang terguyur hujan dan dingin. Apa karena itu tanyaku? Ia memberi beberapa obat dan sebuah bedak penahan alergi. Katanya aku akan baik dalam 3 hari.
Dengan rutin kuhabiskan obat itu, tentu saja aku ingin cepat sembuh dan memulai perjalanan baru. Tiga hari berlalu, tak ada perubahan, kakiku tetap bengkak dan sakit. Tetap saja susah tidur, untung flu dan batuknya mulai berkurang. Aku kembali ke mantri itu. Malam itu tak cukup ramai, aku tak harus menunggu lama. Setelah menyampaikan keluhanku, ia hanya menyarankan satu hal, meminta saya ke dokter ahli dalam. Aku pulang dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Aku juga tak bisa langsung ke rumah sakit. Esok pagi harus berangkat ke selatan, perjalanan ini tak bisa ditunda dan aku melawan sakit.
Semenjak di Barru badanku gatal dan membengkak. Aku juga flu dan batuk. Pesisir barat selalu terguyur hujan dan cuaca sangat dingin. Bukan sekali dua kali aku harus melawan hujan dan melanjutkan kerja. Akhirnya kuputuskan langsung kembali ke Makassar setelah membereskan kerjaku. Dua hari meringkuk di rumah hijau, tanpa punya kekuatan berjalan dan dilanda insomnia. Padahal aku punya jam tidur yang sangat teratur. Diatas jam 10 mataku akan terlelap hingga subuh.
Desember penuh dengan kesibukan. Berbagai agenda harus diselesaikan. Juga undangan jalan-jalan ke Butta Panrita Lopi, tak akan kulewatkan yang ini. Sejak kuliah, salah satu daerah yang paling ingin kukunjungi adalah daerah Kajang, walau pada akhirnya tak sampai kesana. Aku hanya sampai di Tamatto dengan berbagai alasan yang masuk akal.
Untuk kesana, aku ingin sehat agar tak melewatkan setiap moment berharga dalam setiap perjalanan yang kulakukan. Kali inipun aku tak ingin hal itu terjadi. aku harus sembuh dari segala penyakit. Aku masih punya satu minggu sebelum 18 desember.
Menjelang magrib wawan mengantarku ke tempat praktek langganannya. Katanya sejak kecil mantra kesehatan itu telah menjadi dokternya. Setiap sakit ia akan berobat kesana. Aku setuju dan berharap bisa cepat sembuh dari alergi ini. Tempat itu ternyata memang ramai. Sesak dengan pasien walau cuaca tetap saja tak bersahabat. 5 orang menunggu di depanku. Ada ibu yang membawa gadis ciliknya yang sedang flu, bapak-bapak, hingga anak muda dan mahasiswa. Tempat ini sepertinya bisa kupercaya.
Setelah bercerita tentang sakit yang kurasa. Ia memegang pergelangan kakiku dan sesekali menekannya. Aku alergi katanya, ia menyuruhku mengingat semua makanan yang kukonsumsi seminggu itu. aku bukan orang yang alergi pada makanan. Pola makanku selama di Barru mengikut pada pemilik rumah yang kutempati. Daerah pesisir selalu menjadi gudang seafood segar di tambah kangkung segar dari samping rumah. Satu-satunya hal baru yang kucicipi adalah telur asin rempah.
Ini bukan alergi makanan kataku. Mungkin hal lain, dalam seminggu aku bisa mendatangi tiga penjuru mata angin Sulawesi Selatan, dari utara, barat hingga ke selatan. Cuacanya tak ada yang sama. Utara sangat panas sedangkan barat dan selatan sedang terguyur hujan dan dingin. Apa karena itu tanyaku? Ia memberi beberapa obat dan sebuah bedak penahan alergi. Katanya aku akan baik dalam 3 hari.
Dengan rutin kuhabiskan obat itu, tentu saja aku ingin cepat sembuh dan memulai perjalanan baru. Tiga hari berlalu, tak ada perubahan, kakiku tetap bengkak dan sakit. Tetap saja susah tidur, untung flu dan batuknya mulai berkurang. Aku kembali ke mantri itu. Malam itu tak cukup ramai, aku tak harus menunggu lama. Setelah menyampaikan keluhanku, ia hanya menyarankan satu hal, meminta saya ke dokter ahli dalam. Aku pulang dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Aku juga tak bisa langsung ke rumah sakit. Esok pagi harus berangkat ke selatan, perjalanan ini tak bisa ditunda dan aku melawan sakit.
Wednesday, March 21, 2012
Saatnya Uji Lab
Aku harus tes darah, itu hal yang paling ingin kulakukan sejak kejadian kemarin.
Untuk pertama kalinya aku sangat ingin tahu tentang sakitku. Selalu saja susah bangun pagi, apalagi ketika cuaca tak bersahabat. Tubuhku akan sangat berat untuk bergerak, bukan karena malas. Tapi memang terasa sakit. Pukul 10.00 hujan mereda. Adikku mengantarku ke ATM, dompetku tak terisi. Aku mengambil 6 lembar 50 ribuan. Aku pikir itu cukup untuk chek up. Rumah sakit terlihat sepi. Di bagian pendaftaran tak ada calon pasien yang mengantri. Aku sendirian. Nampak didalam beberapa petugas sedang cerita, ada juga yang membolak-balikkan berkas. Aku membunyikan bel di ruangan itu, tapi mereka malah menyuruhku menunggu. Fisikku sangat lemah, aku tak punya cukup tenaga untuk berdiri dan menunggu di ruang itu. aku mulai emosi, seharusnya pasien di nomorsatukan. Aku tak akan berkunjung ke rumah sakit, bila tak benar-benar sakit. Mungkin mereka akan membuat pasien menunggu hingga pingsan dan bahkan mungkin mati.
Akhirnya salah seorang petugas mendekat, menanyakan aku akan berobat ke poli mana? Interna aku menjawabnya singkat. Ia kemudian menanyakan nama, tanggal lahir, alamat dan kelengkapan lainnya. Ia juga menanyakan apa aku menggunakan askes atau yang lainnya. Umum kataku, jika menggunakan jamkesmas atau jamkesda, pelayanannya tentu berbeda pikirku, lagi pula sangat rumit, harus ke puskesmas dulu untuk periksa dan beruntung jika dikasih rujukan. Aku ingin tahu peyakitku secepat mungkin, dan jika menggunakan kesehatan gratis itu aku akan butuh waktu lama dan menghabiskan tenagaku.
Di depan poli interna pasien duduk berjejeran, kurang lebih 10 orang, dan tampaknya aku yang termuda. Beberapa orang tua Nampak di temani anaknya. Ah, penyakit tak lagi mengenal usia. Jika dulu beberapa penyakit hanya terjadi pada orang yang lebih tua, namun sekarang anak muda bahkan anak kecilpun bisa menderita.
Batuk dan flu juga telah menggangguku sejak pulang dari Barru kemarin, angin malam dan dingin sepertinya menjadi pemicu, tentu selain tubuhku yang memang sensitive. Beberapa mahasiswa keperawatan menempati kursi di ruang tunggu, mereka tak ada aktifitas. Rumah sakit ini tak seramai rumah sakit milik pemerintah. Rumah sakit swasta tentu lebih mahal, saya pun berpikir demikian. Tapi rumah sakit milik pemerintah sangat jauh dari tempatku, dan paling tidak aku berharap karena ia swasta aku akan mendapat pelayanan yang lebih baik.
Dalam mata kuliah manajemen pemasaran dulu. Rumah sakitpun adalah penjual, dan selayaknya penjual harusnya menjadikan pembeli sebagai ratu. Ada slogan seperti itu, dan setiap pedagang pasti tahu hal ini.
Kenapa sebagian petugas kesehatan tak bisa melakukannya, memberikan pelayanan yang ramah. Beberapa bulan lalu ini telah didiskusikan, bahwa kesembuhan pasien bukan hanya pada pengobatan fisik yang dilakukan, tapi secara psikis pelayanan yang memuaskan, petugas yang ramah akan member energy positif untuk kesembuhan itu.
Dua jam menunggu akhirnya giliranku datang juga. Aku masuk, seorang dokter dan 3 perawat. Menurutku dua diantara mereka sedang praktek. Setelah perawat memeriksa dan mencatat tekanan darahku, dokter itu mendekat. Memeriksa perutku dengan stetoskop dan menanyakan keluhanku. Tanganku selalu gemetaran. Ia mengatakan mungkin asupan kalsium. Ah, rasanya tidak, aku tahu makanan yang kumakan mampu memenuhi kebutuhan kalsiumku. Aku menceritakan semua gejala yang kurasakan, dan mengatakan aku ingin melakukan tes TSH. Aku ingin memastikan penyakitku. Diagnosis dokter terhadap penyakit adalah dengan mendengat keluhan pasiennya, setelah itu baru melakukan pemeriksaan. Satu-satunya hal yang bisa meyakinkanku adalah lewat tes darah itu.
Pernah beberapa kali aku mendatangi puskesmas yang berbeda, di Makassar dan Sengkang, aku menceritakan keluhan yang berbeda, dan aku akan mendapatkan obat yang berbeda pula. Diagnosis penyakit menjadi berbeda karena hal tersebut, jadi sesekali aku berpikir aku sebenarnya bisa mendiagnosis sendiri penyakitku dan menentukan obat apa yang hendak kukonsumsi. Tapi tidak, itu hanya pikiran nakal ketika kepalaku sudah mumet dan tak mendapat hal yang kuinginkan.
Akhirnya aku diantar ke lab oleh mahasiswa yang sedang praktek, sebelumnya perawat di ruang itu telah mengingatkanku untuk menanyakan biaya tes darahnya dulu. Katanya agak mahal. Aku melewati lorong rumah sakit ke arah dalam. Rumah sakit selalu menjadi momok yang menakutkan buat siapapun. Termasuk aku, masuk rumah sakit berarti harus menyiapkan uang yang tak sedikit. Tak akan masalah jika itu berlaku pada orang kaya, tapi bagaimana dengan kalangan menengah ke bawah? Aku termasuk orang yang tak akan mampu menanggung biayanya, tapi aku juga tak akan pasrah diperlakukan seenak hati oleh petugas. Aku manusia, punya akal dan rasa.
Untuk mengecek kadar TSH dalam darahku, aku harus mengeluarkan biaya 190.000,- , belum untuk mengecek kadar asam urat dalam darahku butuh 29.000,- aku jadi ingat dokter langgananku di puskesmas, untuk mengecek asam uratku aku hanya mengeluarkan 15.000 dari kocekku. Cukup jauh bedanya.
Aku takut disuntik, apalagi melihat darah dikeluarkan dari tubuhku. Petugas lab itu mengambil alat suntik baru. Ia memintaku menggulung lengan bajuku dan mencari urat nadi dilengan kiriku. Ah, cukup sakit dan setelah itu kulihat darah mengalir memenuhi tabung alat suntik itu. aku harus menunggu dua hari untuk menunggu hasil lab itu.
Selesai di lab aku kembali ke poli interna, tentu saja aku harus menyelesaikan pembayarannya. Tak seperti di rumah sakit umum yang akan kita bayar diawal pendaftaran. Pada rumah sakit swasta biaya jasa akan diberikan setelah semua proses kita lewati. Masalahnya adalah jika uang yang kita bawa tak mencukupi. Dan aku merasakannya hari itu. uang di dompetku tak cukup. Tak ada lagi biaya untuk menebus obat. Aku terlalu pede ke rumah sakit swasta dengan modal 300 ribu,hehehe…
Untuk pertama kalinya aku sangat ingin tahu tentang sakitku. Selalu saja susah bangun pagi, apalagi ketika cuaca tak bersahabat. Tubuhku akan sangat berat untuk bergerak, bukan karena malas. Tapi memang terasa sakit. Pukul 10.00 hujan mereda. Adikku mengantarku ke ATM, dompetku tak terisi. Aku mengambil 6 lembar 50 ribuan. Aku pikir itu cukup untuk chek up. Rumah sakit terlihat sepi. Di bagian pendaftaran tak ada calon pasien yang mengantri. Aku sendirian. Nampak didalam beberapa petugas sedang cerita, ada juga yang membolak-balikkan berkas. Aku membunyikan bel di ruangan itu, tapi mereka malah menyuruhku menunggu. Fisikku sangat lemah, aku tak punya cukup tenaga untuk berdiri dan menunggu di ruang itu. aku mulai emosi, seharusnya pasien di nomorsatukan. Aku tak akan berkunjung ke rumah sakit, bila tak benar-benar sakit. Mungkin mereka akan membuat pasien menunggu hingga pingsan dan bahkan mungkin mati.
Akhirnya salah seorang petugas mendekat, menanyakan aku akan berobat ke poli mana? Interna aku menjawabnya singkat. Ia kemudian menanyakan nama, tanggal lahir, alamat dan kelengkapan lainnya. Ia juga menanyakan apa aku menggunakan askes atau yang lainnya. Umum kataku, jika menggunakan jamkesmas atau jamkesda, pelayanannya tentu berbeda pikirku, lagi pula sangat rumit, harus ke puskesmas dulu untuk periksa dan beruntung jika dikasih rujukan. Aku ingin tahu peyakitku secepat mungkin, dan jika menggunakan kesehatan gratis itu aku akan butuh waktu lama dan menghabiskan tenagaku.
Di depan poli interna pasien duduk berjejeran, kurang lebih 10 orang, dan tampaknya aku yang termuda. Beberapa orang tua Nampak di temani anaknya. Ah, penyakit tak lagi mengenal usia. Jika dulu beberapa penyakit hanya terjadi pada orang yang lebih tua, namun sekarang anak muda bahkan anak kecilpun bisa menderita.
Batuk dan flu juga telah menggangguku sejak pulang dari Barru kemarin, angin malam dan dingin sepertinya menjadi pemicu, tentu selain tubuhku yang memang sensitive. Beberapa mahasiswa keperawatan menempati kursi di ruang tunggu, mereka tak ada aktifitas. Rumah sakit ini tak seramai rumah sakit milik pemerintah. Rumah sakit swasta tentu lebih mahal, saya pun berpikir demikian. Tapi rumah sakit milik pemerintah sangat jauh dari tempatku, dan paling tidak aku berharap karena ia swasta aku akan mendapat pelayanan yang lebih baik.
Dalam mata kuliah manajemen pemasaran dulu. Rumah sakitpun adalah penjual, dan selayaknya penjual harusnya menjadikan pembeli sebagai ratu. Ada slogan seperti itu, dan setiap pedagang pasti tahu hal ini.
Kenapa sebagian petugas kesehatan tak bisa melakukannya, memberikan pelayanan yang ramah. Beberapa bulan lalu ini telah didiskusikan, bahwa kesembuhan pasien bukan hanya pada pengobatan fisik yang dilakukan, tapi secara psikis pelayanan yang memuaskan, petugas yang ramah akan member energy positif untuk kesembuhan itu.
Dua jam menunggu akhirnya giliranku datang juga. Aku masuk, seorang dokter dan 3 perawat. Menurutku dua diantara mereka sedang praktek. Setelah perawat memeriksa dan mencatat tekanan darahku, dokter itu mendekat. Memeriksa perutku dengan stetoskop dan menanyakan keluhanku. Tanganku selalu gemetaran. Ia mengatakan mungkin asupan kalsium. Ah, rasanya tidak, aku tahu makanan yang kumakan mampu memenuhi kebutuhan kalsiumku. Aku menceritakan semua gejala yang kurasakan, dan mengatakan aku ingin melakukan tes TSH. Aku ingin memastikan penyakitku. Diagnosis dokter terhadap penyakit adalah dengan mendengat keluhan pasiennya, setelah itu baru melakukan pemeriksaan. Satu-satunya hal yang bisa meyakinkanku adalah lewat tes darah itu.
Pernah beberapa kali aku mendatangi puskesmas yang berbeda, di Makassar dan Sengkang, aku menceritakan keluhan yang berbeda, dan aku akan mendapatkan obat yang berbeda pula. Diagnosis penyakit menjadi berbeda karena hal tersebut, jadi sesekali aku berpikir aku sebenarnya bisa mendiagnosis sendiri penyakitku dan menentukan obat apa yang hendak kukonsumsi. Tapi tidak, itu hanya pikiran nakal ketika kepalaku sudah mumet dan tak mendapat hal yang kuinginkan.
Akhirnya aku diantar ke lab oleh mahasiswa yang sedang praktek, sebelumnya perawat di ruang itu telah mengingatkanku untuk menanyakan biaya tes darahnya dulu. Katanya agak mahal. Aku melewati lorong rumah sakit ke arah dalam. Rumah sakit selalu menjadi momok yang menakutkan buat siapapun. Termasuk aku, masuk rumah sakit berarti harus menyiapkan uang yang tak sedikit. Tak akan masalah jika itu berlaku pada orang kaya, tapi bagaimana dengan kalangan menengah ke bawah? Aku termasuk orang yang tak akan mampu menanggung biayanya, tapi aku juga tak akan pasrah diperlakukan seenak hati oleh petugas. Aku manusia, punya akal dan rasa.
Untuk mengecek kadar TSH dalam darahku, aku harus mengeluarkan biaya 190.000,- , belum untuk mengecek kadar asam urat dalam darahku butuh 29.000,- aku jadi ingat dokter langgananku di puskesmas, untuk mengecek asam uratku aku hanya mengeluarkan 15.000 dari kocekku. Cukup jauh bedanya.
Aku takut disuntik, apalagi melihat darah dikeluarkan dari tubuhku. Petugas lab itu mengambil alat suntik baru. Ia memintaku menggulung lengan bajuku dan mencari urat nadi dilengan kiriku. Ah, cukup sakit dan setelah itu kulihat darah mengalir memenuhi tabung alat suntik itu. aku harus menunggu dua hari untuk menunggu hasil lab itu.
Selesai di lab aku kembali ke poli interna, tentu saja aku harus menyelesaikan pembayarannya. Tak seperti di rumah sakit umum yang akan kita bayar diawal pendaftaran. Pada rumah sakit swasta biaya jasa akan diberikan setelah semua proses kita lewati. Masalahnya adalah jika uang yang kita bawa tak mencukupi. Dan aku merasakannya hari itu. uang di dompetku tak cukup. Tak ada lagi biaya untuk menebus obat. Aku terlalu pede ke rumah sakit swasta dengan modal 300 ribu,hehehe…
Monday, March 19, 2012
Kenapa harus tes darah?
Matahari telah melewati puncaknya, perutku mulai teriak. Aku ingin memasak hari itu, namun didapur tak ada bahan sama sekali. Aku tak selalu memasak, hanya ketika menginginkannya, atau ketika pulang dari daerah dan aku rindu masakan tertentu yang tak ada di warung. Aku sangat suka ikan masak buatanku, tak hanya berbahan asam dan kunyit seperti yang ibu ajarkan, tapi menambahinya beberapa bumbu hingga aku menyukainya. Apalagi ditambah mangga mengkal yang di racca.
Aku tak hendak memasak itu. aku suka sayur tumis, tumis sawi pilihanku hari itu, dengan perkedel jagung. Aku meminta adekku ke pasar, ia memintaku menemaninya. Aku sedang tak ingin ke pasar, diluar sangat dingin, dan aku tak tahan dingin. Seorang kawan disampingku kuminta melakukannya, tapi juga tak mau. Ia malas, dingin , dan katanya giginya sedang sakit. Adikku juga tak mau pergi sendiri.
Aku mulai jengkel, tak ada yang mau melakukannya. Akhirnya uang itu kuambil dan masuk ke kamar. Pintu kamar kukunci, menutup jendela dan menurunkan tirai kamarku. Dekat jendelaku ada sebuah meja lengkap dengan kursinya, pagi biasa kuhabiskan disitu, sambil membaca atau sekedar menatap pagi. Aku sedih dan marah. Lapar yang melilit tak terasa lagi. Aku duduk dekat jendela, menahan emosiku.
Sejam terdiam disitu, dengan emosi yang meledak. Aku menangis, tak lagi karena marah pada mereka. Aku marah pada diriku sendiri, marah karena aku selalu tak jelas. Marah karena hal-hal kecil. Karena adikku sering menunda sesuatu yang kuminta, marah karena melihat adikku main game dan tak peduli padaku. Marah karena ia tak mau memasakkan mie untukku.
Aku mengingat semua hal yang kulakukan beberapa bulan terakhir, dan emosiku selalu meledak-ledak. Aku kadang menangis sendiri tanpa sebab, aku mengira itu karena sindrom pra menstruasi. beberapa kawan sering mengatakan kenapa aku jadi sangat sensitive, dan aku baru menyadarinya.
Sebuah pesan singkat masuk di hpku “baik-baikjeQ?”
Tangisku tambah membuncah hingga sarung yang kugunakan basah. Bulan lalu kakakku menegur, tanganku selalu gemetaran. Ketika chek up di dokter puskesmas, aku menanyakannya. Katanya gejala hipertiroid, dan untuk memastikannya harus melakukan tes darah.
Aku telah menjelajahi dunia maya untuk mengetahui penyakit itu. belajar gejala-gejalannya. Dan aku sadar, beberapa gejalanya ada padaku.
Aku sangat sensitive akhir-akhir ini, aku selalu tak tahan panas dan dengan gampang berkeringat padahal orang disampingku biasa-biasa saja. Aku juga tak bisa berkonsentrasi, dulu aku pikir ini karena aku cepat bosan dan ingin selalu mendapatkan hal-hal baru.
Aku menangis, karena merasa tubuhku tak bersahabat denganku, aku menangis menyadari jika usahaku menaikkan berat badanku tak pernah berhasil karena penyakit ini. Tapi hal yang paling berat dan tak kusukai adalah karena menjadi sensitive dan tak bisa menstabilkan emosiku. Aku tak ingin kerja-kerjaku terganggu, aku tak ingin membuat nyaman orang-orang yang ada di sekelilingku.
Aku mengirim pesan singkat, bercerita pada seorang kawan. Ia menguatkanku, dan memintaku bercerita pada orang-orang yang ada di rumah ini. Agar mereka tahu dan bisa memahamiku. Aku janji akan melakukannya setelah memastikan sakit ini. Aku melakukan tes darah. Aku tak ingin sakitku menyakiti orang lain. Aku bukan lagi gadis manja yang dulu suka mengeluh.
Aku tak hendak memasak itu. aku suka sayur tumis, tumis sawi pilihanku hari itu, dengan perkedel jagung. Aku meminta adekku ke pasar, ia memintaku menemaninya. Aku sedang tak ingin ke pasar, diluar sangat dingin, dan aku tak tahan dingin. Seorang kawan disampingku kuminta melakukannya, tapi juga tak mau. Ia malas, dingin , dan katanya giginya sedang sakit. Adikku juga tak mau pergi sendiri.
Aku mulai jengkel, tak ada yang mau melakukannya. Akhirnya uang itu kuambil dan masuk ke kamar. Pintu kamar kukunci, menutup jendela dan menurunkan tirai kamarku. Dekat jendelaku ada sebuah meja lengkap dengan kursinya, pagi biasa kuhabiskan disitu, sambil membaca atau sekedar menatap pagi. Aku sedih dan marah. Lapar yang melilit tak terasa lagi. Aku duduk dekat jendela, menahan emosiku.
Sejam terdiam disitu, dengan emosi yang meledak. Aku menangis, tak lagi karena marah pada mereka. Aku marah pada diriku sendiri, marah karena aku selalu tak jelas. Marah karena hal-hal kecil. Karena adikku sering menunda sesuatu yang kuminta, marah karena melihat adikku main game dan tak peduli padaku. Marah karena ia tak mau memasakkan mie untukku.
Aku mengingat semua hal yang kulakukan beberapa bulan terakhir, dan emosiku selalu meledak-ledak. Aku kadang menangis sendiri tanpa sebab, aku mengira itu karena sindrom pra menstruasi. beberapa kawan sering mengatakan kenapa aku jadi sangat sensitive, dan aku baru menyadarinya.
Sebuah pesan singkat masuk di hpku “baik-baikjeQ?”
Tangisku tambah membuncah hingga sarung yang kugunakan basah. Bulan lalu kakakku menegur, tanganku selalu gemetaran. Ketika chek up di dokter puskesmas, aku menanyakannya. Katanya gejala hipertiroid, dan untuk memastikannya harus melakukan tes darah.
Aku telah menjelajahi dunia maya untuk mengetahui penyakit itu. belajar gejala-gejalannya. Dan aku sadar, beberapa gejalanya ada padaku.
Aku sangat sensitive akhir-akhir ini, aku selalu tak tahan panas dan dengan gampang berkeringat padahal orang disampingku biasa-biasa saja. Aku juga tak bisa berkonsentrasi, dulu aku pikir ini karena aku cepat bosan dan ingin selalu mendapatkan hal-hal baru.
Aku menangis, karena merasa tubuhku tak bersahabat denganku, aku menangis menyadari jika usahaku menaikkan berat badanku tak pernah berhasil karena penyakit ini. Tapi hal yang paling berat dan tak kusukai adalah karena menjadi sensitive dan tak bisa menstabilkan emosiku. Aku tak ingin kerja-kerjaku terganggu, aku tak ingin membuat nyaman orang-orang yang ada di sekelilingku.
Aku mengirim pesan singkat, bercerita pada seorang kawan. Ia menguatkanku, dan memintaku bercerita pada orang-orang yang ada di rumah ini. Agar mereka tahu dan bisa memahamiku. Aku janji akan melakukannya setelah memastikan sakit ini. Aku melakukan tes darah. Aku tak ingin sakitku menyakiti orang lain. Aku bukan lagi gadis manja yang dulu suka mengeluh.
Sunday, March 18, 2012
Aku tak akan kalah (1)
Ini kisah tak menyenangkan, bukan untuk berbagi keluh, tapi agar kita sama-sama belajar. Pengalaman selalu menjadi guru yang baik, dan ini pelajaran berharga untukku, setelah segala teori yang kudapat dari bangku kuliah, atau buku-buku yang kubaca agar bisa berbagi ilmu dengan ibu-ibu di Barru dan anak muda penuh semangat di Sengkang.
Sejak mei bergabung pada program RCL, dan hal paling nyambung dengan teori kuliahku adalah pelajaran kesehatan reproduksi pada empat desa di kab.Pangkep dan Barru. aku juga belajar bersama 60 anak muda Sengkang pada sebuah pelajaran bernama Promosi Kesehatan.
Bicara kesehatan reproduksi pada kondisi pedesaan adalah hal yang sangat tabu. Berbicara bagaimana system reproduksi perempuan bekerja. Perempuan dan laki-laki, saling melengkapi. Perbedaan seks yang semua orang tau, tak perlu dijelaskan panjang bagaimana seorang laki-laki dan perempuan berbeda, atau apa perbedaan diantara keduanya. Bertanya gender atau seks pada Om Google, akan ada daftar panjang tulisan yang bisa kita buka.
Jadi aku tak perlu menjelaskan tentang hal itu. pada ibu-ibu pun demikian, mereka bisa membedakan sendiri. Mereka tau ketika anak gadis telah mengalami haid pertamanya maka mereka telah bisa melahirkan anak.
System reproduksi bermula ketika kita memasuki tahap pubertas, demikian kujelaskan pada mereka. Mendengar kata puber, mereka tau satu hal, pada masa itu anak mereka jatuh cinta, menyukai lawan jenisnya. Itu satu-satunya hal yang mereka tangkap. Padahal tahap pubertas tak sekedar ketika gadis mulai jatuh cinta.
Aku ingat seorang gadis 15 tahun yang ikut Sekolah perempuan tersipu malu-malu ketika aku membahas masalah ini. Pernah juga sekali aku bercerita pada etta tentang aktifitas yang kulakukan di Barru, belajar kesehatan reproduksi bersama ibu-ibu. Beliau menegurku, katanya apa aku tak malu membicarakan hal tersebut, padahal etta yang tak ikut Sekolah tersebut malu mendengarnya,hehehe…. Aku pernah merasakannya ketika kuliah. Merasa malu membicarakan tentang tubuh kita didepan orang banyak. Beberapa tahun lalu aku ikut Baksos Korpala di desa Erelembang, (aku juga menulis tentang hal tersebut). Waktu itu seorang ibu bertanya padaku, bayinya tak mau menyusu padanya, sementara mau menyusu pada perempuan lain. Ibu itu sangat sedih. Aku menjawabnya malu-malu dengan muka memerah.
Sebenarnya ini bukan ini yang hendak kucerita,hehehe…
Sekarang telah masuk bulan kedua, tubuhku sangat tak bersahabat. Terkena sedikit hujan dan cuaca dingin akan membuatku flu dan batuk akan mengganggu selama beberapa minggu. Payahnya batuk tak hanya membuat tidurku tak nyenyak, tapi mengganggu orang-orang yang ada didekatku. Sangat tidak enak. Sejak dulu, aku tak pernah peduli dengan tubuhku, apalagi hanya demam dan flu. Itu tak pernah mengganggu aktifitasku. Buatku kedua penyakit ini hanya angin lalu yang akan lewat dengan sendirinya. Hal ini membuatku tak peduli jika teman-temanku mengalami hal yang sama. Padahal setiap orang berbeda. Sekali waktu pacar sahabatku marah besar, aku sahabat yang tak peduli katanya. ketika sahabatku sedang demam, aku menganggapnya hal biasa, tak menanyakan keadaannya, apalagi menjenguknya. Kalau mengingat hal ini, aku akan minta maaf dalam hati.
Bertahun-tahun aku tak pernah mengkonsumsi obat-obat kimia. Aku tak ingin bergantung pada obat-obatan ketika sakit. Aku selalu membiarkan penyakit sembuh dengan sendirinya. Selain itu aku selalu berpikir sehat atau sakit adalah sugesti. Tetap saja aku merasa tubuhku baik-baik saja.
18 Maret 2012
pagi pertama setelah membaca kertas itu
Sejak mei bergabung pada program RCL, dan hal paling nyambung dengan teori kuliahku adalah pelajaran kesehatan reproduksi pada empat desa di kab.Pangkep dan Barru. aku juga belajar bersama 60 anak muda Sengkang pada sebuah pelajaran bernama Promosi Kesehatan.
Bicara kesehatan reproduksi pada kondisi pedesaan adalah hal yang sangat tabu. Berbicara bagaimana system reproduksi perempuan bekerja. Perempuan dan laki-laki, saling melengkapi. Perbedaan seks yang semua orang tau, tak perlu dijelaskan panjang bagaimana seorang laki-laki dan perempuan berbeda, atau apa perbedaan diantara keduanya. Bertanya gender atau seks pada Om Google, akan ada daftar panjang tulisan yang bisa kita buka.
Jadi aku tak perlu menjelaskan tentang hal itu. pada ibu-ibu pun demikian, mereka bisa membedakan sendiri. Mereka tau ketika anak gadis telah mengalami haid pertamanya maka mereka telah bisa melahirkan anak.
System reproduksi bermula ketika kita memasuki tahap pubertas, demikian kujelaskan pada mereka. Mendengar kata puber, mereka tau satu hal, pada masa itu anak mereka jatuh cinta, menyukai lawan jenisnya. Itu satu-satunya hal yang mereka tangkap. Padahal tahap pubertas tak sekedar ketika gadis mulai jatuh cinta.
Aku ingat seorang gadis 15 tahun yang ikut Sekolah perempuan tersipu malu-malu ketika aku membahas masalah ini. Pernah juga sekali aku bercerita pada etta tentang aktifitas yang kulakukan di Barru, belajar kesehatan reproduksi bersama ibu-ibu. Beliau menegurku, katanya apa aku tak malu membicarakan hal tersebut, padahal etta yang tak ikut Sekolah tersebut malu mendengarnya,hehehe…. Aku pernah merasakannya ketika kuliah. Merasa malu membicarakan tentang tubuh kita didepan orang banyak. Beberapa tahun lalu aku ikut Baksos Korpala di desa Erelembang, (aku juga menulis tentang hal tersebut). Waktu itu seorang ibu bertanya padaku, bayinya tak mau menyusu padanya, sementara mau menyusu pada perempuan lain. Ibu itu sangat sedih. Aku menjawabnya malu-malu dengan muka memerah.
Sebenarnya ini bukan ini yang hendak kucerita,hehehe…
Sekarang telah masuk bulan kedua, tubuhku sangat tak bersahabat. Terkena sedikit hujan dan cuaca dingin akan membuatku flu dan batuk akan mengganggu selama beberapa minggu. Payahnya batuk tak hanya membuat tidurku tak nyenyak, tapi mengganggu orang-orang yang ada didekatku. Sangat tidak enak. Sejak dulu, aku tak pernah peduli dengan tubuhku, apalagi hanya demam dan flu. Itu tak pernah mengganggu aktifitasku. Buatku kedua penyakit ini hanya angin lalu yang akan lewat dengan sendirinya. Hal ini membuatku tak peduli jika teman-temanku mengalami hal yang sama. Padahal setiap orang berbeda. Sekali waktu pacar sahabatku marah besar, aku sahabat yang tak peduli katanya. ketika sahabatku sedang demam, aku menganggapnya hal biasa, tak menanyakan keadaannya, apalagi menjenguknya. Kalau mengingat hal ini, aku akan minta maaf dalam hati.
Bertahun-tahun aku tak pernah mengkonsumsi obat-obat kimia. Aku tak ingin bergantung pada obat-obatan ketika sakit. Aku selalu membiarkan penyakit sembuh dengan sendirinya. Selain itu aku selalu berpikir sehat atau sakit adalah sugesti. Tetap saja aku merasa tubuhku baik-baik saja.
18 Maret 2012
pagi pertama setelah membaca kertas itu
Saturday, March 17, 2012
Seorang Nenek dan Aksi Tolak Kenaikan BBM
Hujan mengguyur Makassar pagi ini, cukup deras dan membuat mata enggan terbuka. yang lain masih terlelap ketika aku membuka mata. Paling nyaman melanjutkan tidur. Aku tak melakukannya, walau sangat menginginkannya. Hari ini aku harus chek up ke dokter, selain itu ada meeting di kantor. Tapi hal paling penting, 12 maret kemarin semua sepakat hari ini turun aksi menolak kenaikan BBM dengan estimasi massa 500 orang. Jam 10 pagi perjanjiannya. Berkumpul di bawah fly over.
Bukan hanya mahasiswa, ada buruh, miskin kota, petani, nelayan, semua bergabung. Tak ada sekat. Kenaikan BBM akan membunuh kita semua.
Jam 10 pagi hujan bukannya mereda, tapi bertambah deras. Dua minggu lalu, sebuah celoteh “ hujan dan revolusi”. Hujan terkadang menghambat kerja itu, walau petani selalu bergembira menyambut hujan.
Aku terlambat kesana bukan karena hujan, tapi kelamaan mengikuti prosedur rumah sakit, dan harus antri dengan pasien lainnya. Angka di Hpku telah melewati angka 11, menuju ke fly over segera. Untung kendaraan tak terlalu macet. Mungkin massanya belum seberapa, mungkin mereka terhalang hujan dan mahasiswa masih harus menunggu jam kuliah.
Bergantian perwakilan setiap organ orasi. Dengan semangat membara mereka menyerukan penolakan BBM. Dan aku tahu sebagian dari penumpang pete-pete akan mengomel karena terhambat. Supir pete-pete protes karena bensin mereka terbuang percuma menunggu macet. Orang-orang dengan mobil mewah pasti kalah, mungkin sebagian dari mereka berpikir, makanya jangan miskin, agar tak terpengaruh pada kenaikan BBM. Sesekali aku melihat muka mereka tak bersahabat melintasi kami.
Aku menjadi lebih bersabar ketika menumpang di pete-pete dan mendengar omelan itu. sejak dulu aku menjadi pelaku, hingga saat ini aksi jalanan masih menjadi pilihan perlawanan, tentu dengan hal lainnya.
Aku tetap menjadi bagian dari aksi ini, walau tak lagi seperti dulu, berdiri dibarisan paling depan, membagikan selebaran dan pernyataan sikap. Aku memilih duduk diatas sebuah motor milik massa. Seorang nenek melintas ditengah kami. Sejenak ia singgah dan membaca spanduk hijau bertuliskan penolakan BBM dan kenaikan TDL. Raut mukanya menyisakan cerita tentang kerasnya hidup. Ia tak lagi berjalan sempurna, sebelah kakinya sedikit terseok. Ia melintas didepanku dan berhenti pada sebuah kardus bekas teh gelas yang berisi ribuan. Di bagian depannya ada tulisan “logistic aksi” dibuat untuk membeli air kemasan pelepas dahaga setelah teriak. Nenek itu lama berdiri disana, ia membuka dompetnya, mencari sesuatu. Dari atas motor kuperhatikan tingkahnya. Juga kulihat pada dompet yang dibuka lebih banyak berisi kertas putih. Lembar berharga itu tak banyak disana.
Ia mengambil selembar dua ribuan yang terlipat dengan baik, diantara kertas putih itu, memasukkannya dengan pelan kedalam kotak, dan berlalu dengan sumringah.
“ia mungkin malaikat” kelakar seorang teman.
Ada haru yang menyusup. Sebagian orang menganggap aksi jalanan tak berguna, juga ada banyak orang yang mencela aksi kami, namun selalu saja ada orang-orang yang peduli. Angka dua ribu mungkin tak berarti sama sekali buat mereka. Tapi aku, kita, dan mereka telah kalah oleh nenek itu.
Pemerintah telah mencekik rakyatnya dengan menaikkan BBM dengan alasan menghindari pembengkakan anggaran Negara, padahal keuntungan yang tak sedikitpun mereka dapatkan dari kenaikan harga minyak. Tapi nenek itu telah mengajarkan pada kita bagaimana mengorbankan hartanya untuk orang-orang yang ada disekitarnya. Seharusnya pemerintah juga belajar pada Nenek itu.
“Maka bangkitlah rakyat Indonesia untuk merebut kembali lading-ladang minyak yang telah dikuasai asing. Tegakkan kedaulatan energy ditangan rakyat Indonesia karena sector energy adalah milik rakyat itu sendiri, bukan orang asing. “
(segala hormat dan takzim untukmu, walau tak mengenalmu, tapi kau telah memberiku pelajaran berharga hari ini)
Rumah Rakyat, 15 Maret 2012
Bukan hanya mahasiswa, ada buruh, miskin kota, petani, nelayan, semua bergabung. Tak ada sekat. Kenaikan BBM akan membunuh kita semua.
Jam 10 pagi hujan bukannya mereda, tapi bertambah deras. Dua minggu lalu, sebuah celoteh “ hujan dan revolusi”. Hujan terkadang menghambat kerja itu, walau petani selalu bergembira menyambut hujan.
Aku terlambat kesana bukan karena hujan, tapi kelamaan mengikuti prosedur rumah sakit, dan harus antri dengan pasien lainnya. Angka di Hpku telah melewati angka 11, menuju ke fly over segera. Untung kendaraan tak terlalu macet. Mungkin massanya belum seberapa, mungkin mereka terhalang hujan dan mahasiswa masih harus menunggu jam kuliah.
Bergantian perwakilan setiap organ orasi. Dengan semangat membara mereka menyerukan penolakan BBM. Dan aku tahu sebagian dari penumpang pete-pete akan mengomel karena terhambat. Supir pete-pete protes karena bensin mereka terbuang percuma menunggu macet. Orang-orang dengan mobil mewah pasti kalah, mungkin sebagian dari mereka berpikir, makanya jangan miskin, agar tak terpengaruh pada kenaikan BBM. Sesekali aku melihat muka mereka tak bersahabat melintasi kami.
Aku menjadi lebih bersabar ketika menumpang di pete-pete dan mendengar omelan itu. sejak dulu aku menjadi pelaku, hingga saat ini aksi jalanan masih menjadi pilihan perlawanan, tentu dengan hal lainnya.
Aku tetap menjadi bagian dari aksi ini, walau tak lagi seperti dulu, berdiri dibarisan paling depan, membagikan selebaran dan pernyataan sikap. Aku memilih duduk diatas sebuah motor milik massa. Seorang nenek melintas ditengah kami. Sejenak ia singgah dan membaca spanduk hijau bertuliskan penolakan BBM dan kenaikan TDL. Raut mukanya menyisakan cerita tentang kerasnya hidup. Ia tak lagi berjalan sempurna, sebelah kakinya sedikit terseok. Ia melintas didepanku dan berhenti pada sebuah kardus bekas teh gelas yang berisi ribuan. Di bagian depannya ada tulisan “logistic aksi” dibuat untuk membeli air kemasan pelepas dahaga setelah teriak. Nenek itu lama berdiri disana, ia membuka dompetnya, mencari sesuatu. Dari atas motor kuperhatikan tingkahnya. Juga kulihat pada dompet yang dibuka lebih banyak berisi kertas putih. Lembar berharga itu tak banyak disana.
Ia mengambil selembar dua ribuan yang terlipat dengan baik, diantara kertas putih itu, memasukkannya dengan pelan kedalam kotak, dan berlalu dengan sumringah.
“ia mungkin malaikat” kelakar seorang teman.
Ada haru yang menyusup. Sebagian orang menganggap aksi jalanan tak berguna, juga ada banyak orang yang mencela aksi kami, namun selalu saja ada orang-orang yang peduli. Angka dua ribu mungkin tak berarti sama sekali buat mereka. Tapi aku, kita, dan mereka telah kalah oleh nenek itu.
Pemerintah telah mencekik rakyatnya dengan menaikkan BBM dengan alasan menghindari pembengkakan anggaran Negara, padahal keuntungan yang tak sedikitpun mereka dapatkan dari kenaikan harga minyak. Tapi nenek itu telah mengajarkan pada kita bagaimana mengorbankan hartanya untuk orang-orang yang ada disekitarnya. Seharusnya pemerintah juga belajar pada Nenek itu.
“Maka bangkitlah rakyat Indonesia untuk merebut kembali lading-ladang minyak yang telah dikuasai asing. Tegakkan kedaulatan energy ditangan rakyat Indonesia karena sector energy adalah milik rakyat itu sendiri, bukan orang asing. “
(segala hormat dan takzim untukmu, walau tak mengenalmu, tapi kau telah memberiku pelajaran berharga hari ini)
Rumah Rakyat, 15 Maret 2012
Thursday, March 8, 2012
Surat untuk Etta
Untuk bunda tercinta…
Segala takzim dan hormatku untukmu…
Ibu…
Hari ini bukan hari ibu, tapi aku ingin menulis surat untukmu. Aku ingin membacakannya didepan semua orang untuk menghormati segala upaya yang telah kau perbuat untukku. hari ini, hari perempuan. Jutaan perempuan di dunia merayakannya, merayakan kemerdekaan mereka. Di Makassar ada beberapa aksi, perempuan, anak-anak, mahasiswa semua bergabung. Aku tak berada diantara mereka.
Ibu, hari ini aku ingin menulis surat untukmu, menceritakan seluruh kesah yang membuatku sesak.
Bbeberapa hari yang lalu seorang kawan mengirim pesan singkat untukku. “apa persiapan untuk hari perempuan?” , aku tak punya persiapan apapun bu… bahkan untuk sebuah tulisan. Aku bingung, apa yang harus aku persiapkan untuk hari perempuan. Hari ini aku hanya ingin bercerita padamu bu… perempuan terkuat yang pernah kutemui.
Ibu, aku tahu aku bukan siapa-siapa bahkan tak punya hak atas diriku sendiri, tapi kini semuanya telah berubah. Aku bukan lagi anak pingitan yang hanya menunggu jodoh datang dan dinikahkan. Aku ingat bagaimana dulu aku dilarang kuliah hingga semua orang menganggapku pembangkang. Aku bukan gadis baik-baik katanya. Ibu, engkau telah mendidikku menjadi perempuan. aku telah menjadi perempuan mandiri. Ibu, aku harus berterima kasih padamu atas kebebasan dan kepercayaan yang telah kau berikan padaku. Kepercayaan yang sangat mahal bu. Aku tak akan pernah menukarnya dengan apapun.
Aku butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun itu. Aku butuh waktu setahun untuk mendapatkan ijin kuliah, delapan tahun meyakinkanmu untuk memilih jodohku sendiri, dan aku tak akan menyiakan semua kesempatan itu bu. Aku mencintaimu dan sangat bersyukur dilahirkan dari rahimmu.
Ibu aku sangat menyayangimu. Ibu biarkan aku menjadi diriku sendiri untuk selamanya. Ibu aku tak butuh gaji yang tinggi atau pekerjaan tetap yang mendapatkan gaji rutin setiap akhir bulan. aku tak butuh calon suami yang kaya raya tapi membelengguku. aku tak butuh karier tinggi hingga membuatku melupakan keluargaku. Aku hanya ingin menjadi sepertimu, melahirkan perempuan-perempuan kuat yang akan mengubah dunia….
Selamat hari perempuan bu…
Makassar, 8 Maret 2012
Hormatku
anakmu
Segala takzim dan hormatku untukmu…
Ibu…
Hari ini bukan hari ibu, tapi aku ingin menulis surat untukmu. Aku ingin membacakannya didepan semua orang untuk menghormati segala upaya yang telah kau perbuat untukku. hari ini, hari perempuan. Jutaan perempuan di dunia merayakannya, merayakan kemerdekaan mereka. Di Makassar ada beberapa aksi, perempuan, anak-anak, mahasiswa semua bergabung. Aku tak berada diantara mereka.
Ibu, hari ini aku ingin menulis surat untukmu, menceritakan seluruh kesah yang membuatku sesak.
Bbeberapa hari yang lalu seorang kawan mengirim pesan singkat untukku. “apa persiapan untuk hari perempuan?” , aku tak punya persiapan apapun bu… bahkan untuk sebuah tulisan. Aku bingung, apa yang harus aku persiapkan untuk hari perempuan. Hari ini aku hanya ingin bercerita padamu bu… perempuan terkuat yang pernah kutemui.
Ibu, aku tahu aku bukan siapa-siapa bahkan tak punya hak atas diriku sendiri, tapi kini semuanya telah berubah. Aku bukan lagi anak pingitan yang hanya menunggu jodoh datang dan dinikahkan. Aku ingat bagaimana dulu aku dilarang kuliah hingga semua orang menganggapku pembangkang. Aku bukan gadis baik-baik katanya. Ibu, engkau telah mendidikku menjadi perempuan. aku telah menjadi perempuan mandiri. Ibu, aku harus berterima kasih padamu atas kebebasan dan kepercayaan yang telah kau berikan padaku. Kepercayaan yang sangat mahal bu. Aku tak akan pernah menukarnya dengan apapun.
Aku butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun itu. Aku butuh waktu setahun untuk mendapatkan ijin kuliah, delapan tahun meyakinkanmu untuk memilih jodohku sendiri, dan aku tak akan menyiakan semua kesempatan itu bu. Aku mencintaimu dan sangat bersyukur dilahirkan dari rahimmu.
Ibu aku sangat menyayangimu. Ibu biarkan aku menjadi diriku sendiri untuk selamanya. Ibu aku tak butuh gaji yang tinggi atau pekerjaan tetap yang mendapatkan gaji rutin setiap akhir bulan. aku tak butuh calon suami yang kaya raya tapi membelengguku. aku tak butuh karier tinggi hingga membuatku melupakan keluargaku. Aku hanya ingin menjadi sepertimu, melahirkan perempuan-perempuan kuat yang akan mengubah dunia….
Selamat hari perempuan bu…
Makassar, 8 Maret 2012
Hormatku
anakmu
Kekerasan Dalam Rumah Tangga
“setiap orang berhak hidup tentram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin (UU No.39 tentang HAM pasal 9)”
Dari banyaknya jenis kekerasan yang terjadi , kekerasan dalam rumah tangga merupaka salah satu kekerasan yang paling sering terjadi.
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat terjadi kepada siapa saja didalam rumah tangga, termasuk istri, suami, anak, mertua, keponakan, dan bahkan pembantu. Namun dalam banyak literature ditemukan bahka KDRT lebih difokuskan pada perempuan saja.
Jika dirunut secara historis, kekerasan terhadap perempuan merupakan perwujudan ketimpangan historis dari hubungan-hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan yang telah mengakibatkan dominasi dan diskriminasi terhadap perempuan oleh laki-laki dan hambatan bagi kemajuan mereka. Berbagai fakta sejarah peradaban dunia telah merekam betapa perempuan seringkali diperlakukan secara tidak manusiawi dan menjadi objek eksploitasi oleh sebagian besar kaum laki-laki.
Masyarakat Yunani yang terkenal dengan pemikiran-pemikiran filsafatnya, tidak banyak membicarakan hak dan kewajiban wanita. Di kalangan elite mereka, wanita-wanita ditempatkan (disekap) dalam istana-istana. Dan di kalangan bawah, nasib wanita sangat menyedihkan. Mereka diperjualbelikan, sedangkan yang berumah tangga sepenuhnya berada di bawah kekuasaan suaminya. Mereka tidak memiliki hak-hak sipil, bahkan hak waris pun tidak ada. Pada puncak peradaban Yunani, wanita diberi kebebasan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan dan selera lelaki. Hubungan seksual yang bebas tidak dianggap melanggar kesopanan, tempat-tempat pelacuran menjadi pusat-pusat kegiatan politik dan sastra/seni Patung-patung telanjang yang terlihat di negara-negara Barat adalah bukti atau sisa pandangan itu. Dalam pandangan mereka, dewa-dewa melakukan hubungan gelap dengan rakyat bawahan, dan dari hubungan gelap itu lahirlah "Dewi Cinta" yang terkenal dalam peradaban Yunani
Dalam peradaban Romawi, wanita sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan tersebut pindah ke tangan sang suami. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh Keadaan tersebut berlangsung terus sampai abad ke-6 Masehi. Segala hasil usaha wanita, menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki. Pada zaman Kaisar Constantine terjadi sedikit perubahan yaitu dengan diundangkannya hak pemilikan terbatas bagi wanita, dengan catatan bahwa setiap transaksi harus disetujui oleh keluarga (suami atau ayah).
Dalam sejarah peradaban Hindu, hingga Abad ke 6 Masehi, perempuan dianggap sebagai sesajen bagi para dewa. Begitu juga dengan sejarah peradaban Yahudi, Pra abad ke-6, perempuan diangap sebagai sumber laknat dan malapetaka karena menyebabkan Adam terusir dari surga. Hal yang sama juga pernah terjadi dalam sejarah peradaban besar seperti Arab, Hindu, dan China, perempuan dianggap sebagai makhluk tak berguna, remeh, bahkan mereka berhak dibunuh. Sebelum datangnya Islam perempuan di Arab tidak mempunyai posisi tawar. Mereka tak jauh beda dengan binatang. Mempunyai anak perempuan justru menjadi aib pada saat itu dan harus dikuburkan.
Ringkasnya, fakta tindak kekerasan terhadap perempuan setua dengan lahirnya peradaban manusia. Namun, ironisnya kekerasan terhadap perempuan ternyata berlaku hingga zaman modern. Studi kasus yang dilakukan oleh beberapa lembaga independen menyatakan bahwasanya Abad Modern kekerasan terhadap perempuan baik secara fisik, psikis maupun seksual masih marak terjadi khususnya dalam ranah domestik. Fakta inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
’kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya kesalahan laki-laki dan perempuan tapi kesalahan sejarah” ungkap Sjamsiah Achmada komisioner Komnas Perempuan ketika bertandang ke Makassar 4 april kemarin.
Kekerasan dalam Rumah Tangga menurut UU PDKRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 ayat 1).
Studi mengenai KDRT yang dilakukan oleh WHO di 10 negara, yaitu: bangladesh, brazil, ethiopia, jepang, namibia, peru, samoa, serbia-motengro, thailand, dan tanzania menunjukkan bahwa kekerasan yang dilakukan suami merupakan bentuk kekerasan yang paling sering terjadi pada kehidupan seorang wanita, bahkan lebih sering dibandingkan kekerasan atau perkosaan yang dilakukan oleh orang asing maupun orang yang dikenal. Studi yang melibatkan lebih dari 24.000 wanita sebagai responden tersebut melaporkan adanya dampak besar dari kekerasan fisik dan seksual oleh suami dan pasangannya. Fenomena ini telah menimbulkan dampak pada status kesehatan wanita diseluruh dunia. Bahkan jumlah pasangan yang melakukan kekerasan terhadap perempuan lebih banyak lagi. Studi ini menunjukkan bahwa peempuan jauh lebih berisiko dirumah dibandingkan dijalan, dan iniberpengaruh langsung terhadap kesehatan perempuan.
Berdasarkan studi kasus yang dilakukan oleh Komisi Nasional Anti kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada tahun 2006, kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia setiap tahunnya tercatat mengalami peningkatan yang cukup tajam. Pada tahun 2005 kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 20.391, naik 45 persen dari tahun 2004 sebanyak 14.020. Sebelumnya, tahun 2003 sebanyak 5.934 kasus, dan tahun 2002 sebanyak 5.163 kasus.
Dari total 20.391 kasus yang terjadi pada tahun 2005, 82 persen di antaranya merupakan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dari berbagai kasus tersebut, kekerasan terhadap perempuan tidak mengenal latar belakang umur, pekerjaan, dan jenis pendidikan. Korban kekerasan yang berusia 25 hingga 40 tahun dengan jumlah kasus 4.506. Pendidikan tinggi SLTA dengan 2.649 kasus. Sedangkan yang paling banyak menimpa ibu rumah tangga, yakni 9.298 kasus atau 45 persen dari seluruh kasus.
Penyebab utama untuk tahun 2008 yang ditemukan oleh Komnas Perempuan karena faktor ekonomi. ” cikal bakal KDRT itu dari faktor ekonomi” lanjut Sjamsiah Achmad.
Bila dilihat secara hitungan angka. Tak kurang 70% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Mereka tidak mampu menghidupi diri secara layak karena negara mengabaikan pemenuhan kebutuhan pokok mereka. Himpitan ekonomi inilah yang menjadi salah satu pemicu orang berbuat nekat melakukan kejahatan, kasus KDRT dalam keluarga miskin banyak dipicu oleh hal ini.
Akar masalah
Kasus Kekerasan terhadap perempuan merupakan persoalan serius yang disebabkan oleh berbagai hal yang berkait erat satu sama lainnya. Musdah Mulia dalam Muslimah Reformis (Mizan, 2004) berpendapat tentang akar masalah kekerasan terhadap perempuan. Pertama, ketimpangan gender. Laki-laki dianggap sebagai makhluk superior, lebih cakap dan lebih hebat dari pada perempuan yang dianggap makhluk inferior, lemah, kelas dua. Ketidakseimbangan relasi kekuasaan inilah yang menyebabkan perempuan kerap tidak berdaya dihadapan lakli-laki.
Kedua, penegakan hukum yang lemah. Meskipun berbagai peraturan telah dibuat, salah satu contohnya adalah Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), namun dalam praktiknya belum bisa menekan angka kekerasan dalam rumah tangga. UU KDRT memiliki kelemahan di tingkat pelaksanaan karena kurang adanya sosialisi ke seluruh lapisan masyarakat bawah.
Ketiga, dominasi nilai-nilai patriarkhi. Konstruk budaya masyarakat melalui sistem sosial, ekonomi, dan politik yang berlaku secara alamiah dan didukung dengan penilaian agama dan hukum adat yang memberikan otoritas lebih kepada laki-laki daripada perempuan mengakibatkan perempuan terpinggirkan dan menjadi objek kekerasan kaum laki-laki.
Kunci utama untuk memahami KDRT dari perspektif jender adalah untuk memberikan apresiasi bahwa akar masalah dari kekerasan tersebut terletak pada kekuasaan hubungan yang tidak seimbang antara pria dan perempuan yang terjadi pada masyarakat yang didominasi oleh pria. Sebagaimana disampaikan oleh Sally E. Merry, “Kekerasan adalah… suatu tanda dari perjuangan untuk memelihara beberapa fantasi dari identitas dan kekuasaan. Kekerasan muncul, dalam analisa tersebut, sebagai sensitifitas jender dan jenis kelamin”
KDRT memposisikan pria jauh lebih berkuasa dibanding wanita. Ada sikap egois yang terbangun untuk memperlihatkan kekuatan dan kelemahan perempuan. Perempuan yang masih dianggap sebagai orang kedua/pelayan dalam rumah tangga membuatnya rentan mendapatkan perlakuan keras oleh suaminya.
Perjuangan melawan KDRT
‘Perjuangan’ penghapusan KDRT berangkat dari fakta banyaknya kasus KDRT yang terjadi dengan korban mayoritas perempuan dan anak-anak. Hal ini berdasar sejumlah temuan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dari berbagai organisasi penyedia layanan korban kekerasan. Di Provinsi Banten misalnya, hingga pertengahan tahun 2004 terdapat 5.426 perempuan yang dilaporkan menjadi korban tindak kekerasan (KTK). 90 persen diantaranya menjadi korban kekerasan karena berkerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri (Tempo Interaktif, 3/5/04).
Perjuangan penghapusan KDRT nyaring disuarakan organisasi, kelompok atau bahkan negara yang meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Convention on the Elimination of All Form of Discrimination/CEDAW) melalui Undang-undang No 7 tahun 1984. Juga berdasar Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan yang dilahirkan PBB tanggal 20 Desember 1993 dan telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Bahkan di Indonesia telah disahkan Undang-undang No 23 Tahun 2004 tentang ‘Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga’.
Di Makassar perjuangan melawan KDRT banyak dilakukan oleh aktivis-aktivis perempuan yang tergabung dalam LSM yang khusus menangani masalah perempuan. Akibatnya kemudian KDRT masih dianggap sebagai masalah perempuan saja. Dalam upaya penyelesaian kasus KDRT harusnya tiadk dipahami oleh satu pihak saja. Tapi pria juga punya tangguing jawab untuk melakukannya.
KDRT adalah masalah bersama, jadi tidak serta merta melmparkan kesalahan pada satu pihak saja. Untuk menghapus KDRT yang harus dilakukan adalah bagaimana menjadikan perempuan dan laki-laki sebagai mitra. Nah ini harus dipahami bersama. Perjuangan yang hanya dilakukan oleh perempuan tak akan selesai jika tak ada kesadaran dari pria.
Peran Paralegal
Persolan Rumah Tangga sampai saat ini oleh sebagian kalangan masih ditabukan. Urusan rumah tangga adalah bagian dari dapur rumah tangga. Mengekspos keluar berarti membuka aib keluarga. Masyarakat timur sampai sekarang ini masih menganut paham nrimo, pelayan bagi suaminya. Hali ini juga diperkuat oleh dalil-dalil agama yang tidak pernah diselesaikan.
Mengatasi ketidakterbukaan masyarakat adalah peran paralegal untuk melakukan pendekatan. Paralegal sebagai bagian tak terpisah dari masyarakat memberi akses yang lebih luas untuk menyelesaikan masalah-maslaah KDRT yang dihadapi dilapangan. Kasus KDRT dikatakan meningkat setelah adanya UU PKDRT, hal ini seperti fenomena gunung es yang baru kelihatan setelah sekian lama.
UU PKDRT sudah ada sejak tahun 2004 tapi dalam implikasinya belum ada hasil yang nampak. ”perempuan harus nurut sama suaminya, dalam islam juga seperti itu” ungkap Ika (mahasiswa semester akhir).
Dalam buku nikah sebenarnya ada pasal-pasal hak dan kewajiban istri, namun tidak pernah dibaca. Buku nikah hanya menjadi prasyarat pernikahan, padahal esensi hubungan suami istri tercantum dalam buku tersebut.
Satu-satunya perempuan di Indonesia yang pernah bekerja di PBB Sjamsiah Ahmad mengatakan ”Memberdayakan NGO dan juga pemerintah yangharus dilakukan. Yang paling punya andil adalah paralegal. Masyarakat tahu ada UUPDKRT tapi banyak yang tidak paham’. Lanjutnya” kita tidak perlu berkoar-koar di luar negeri, tapi menyadarkan masyarakat yang tidak tahu.”
salah satu tulisan yang pernah dimuat di buletin "Paralegal" LBH Makassar
Dari banyaknya jenis kekerasan yang terjadi , kekerasan dalam rumah tangga merupaka salah satu kekerasan yang paling sering terjadi.
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat terjadi kepada siapa saja didalam rumah tangga, termasuk istri, suami, anak, mertua, keponakan, dan bahkan pembantu. Namun dalam banyak literature ditemukan bahka KDRT lebih difokuskan pada perempuan saja.
Jika dirunut secara historis, kekerasan terhadap perempuan merupakan perwujudan ketimpangan historis dari hubungan-hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan yang telah mengakibatkan dominasi dan diskriminasi terhadap perempuan oleh laki-laki dan hambatan bagi kemajuan mereka. Berbagai fakta sejarah peradaban dunia telah merekam betapa perempuan seringkali diperlakukan secara tidak manusiawi dan menjadi objek eksploitasi oleh sebagian besar kaum laki-laki.
Masyarakat Yunani yang terkenal dengan pemikiran-pemikiran filsafatnya, tidak banyak membicarakan hak dan kewajiban wanita. Di kalangan elite mereka, wanita-wanita ditempatkan (disekap) dalam istana-istana. Dan di kalangan bawah, nasib wanita sangat menyedihkan. Mereka diperjualbelikan, sedangkan yang berumah tangga sepenuhnya berada di bawah kekuasaan suaminya. Mereka tidak memiliki hak-hak sipil, bahkan hak waris pun tidak ada. Pada puncak peradaban Yunani, wanita diberi kebebasan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan dan selera lelaki. Hubungan seksual yang bebas tidak dianggap melanggar kesopanan, tempat-tempat pelacuran menjadi pusat-pusat kegiatan politik dan sastra/seni Patung-patung telanjang yang terlihat di negara-negara Barat adalah bukti atau sisa pandangan itu. Dalam pandangan mereka, dewa-dewa melakukan hubungan gelap dengan rakyat bawahan, dan dari hubungan gelap itu lahirlah "Dewi Cinta" yang terkenal dalam peradaban Yunani
Dalam peradaban Romawi, wanita sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan tersebut pindah ke tangan sang suami. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh Keadaan tersebut berlangsung terus sampai abad ke-6 Masehi. Segala hasil usaha wanita, menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki. Pada zaman Kaisar Constantine terjadi sedikit perubahan yaitu dengan diundangkannya hak pemilikan terbatas bagi wanita, dengan catatan bahwa setiap transaksi harus disetujui oleh keluarga (suami atau ayah).
Dalam sejarah peradaban Hindu, hingga Abad ke 6 Masehi, perempuan dianggap sebagai sesajen bagi para dewa. Begitu juga dengan sejarah peradaban Yahudi, Pra abad ke-6, perempuan diangap sebagai sumber laknat dan malapetaka karena menyebabkan Adam terusir dari surga. Hal yang sama juga pernah terjadi dalam sejarah peradaban besar seperti Arab, Hindu, dan China, perempuan dianggap sebagai makhluk tak berguna, remeh, bahkan mereka berhak dibunuh. Sebelum datangnya Islam perempuan di Arab tidak mempunyai posisi tawar. Mereka tak jauh beda dengan binatang. Mempunyai anak perempuan justru menjadi aib pada saat itu dan harus dikuburkan.
Ringkasnya, fakta tindak kekerasan terhadap perempuan setua dengan lahirnya peradaban manusia. Namun, ironisnya kekerasan terhadap perempuan ternyata berlaku hingga zaman modern. Studi kasus yang dilakukan oleh beberapa lembaga independen menyatakan bahwasanya Abad Modern kekerasan terhadap perempuan baik secara fisik, psikis maupun seksual masih marak terjadi khususnya dalam ranah domestik. Fakta inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
’kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya kesalahan laki-laki dan perempuan tapi kesalahan sejarah” ungkap Sjamsiah Achmada komisioner Komnas Perempuan ketika bertandang ke Makassar 4 april kemarin.
Kekerasan dalam Rumah Tangga menurut UU PDKRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 ayat 1).
Studi mengenai KDRT yang dilakukan oleh WHO di 10 negara, yaitu: bangladesh, brazil, ethiopia, jepang, namibia, peru, samoa, serbia-motengro, thailand, dan tanzania menunjukkan bahwa kekerasan yang dilakukan suami merupakan bentuk kekerasan yang paling sering terjadi pada kehidupan seorang wanita, bahkan lebih sering dibandingkan kekerasan atau perkosaan yang dilakukan oleh orang asing maupun orang yang dikenal. Studi yang melibatkan lebih dari 24.000 wanita sebagai responden tersebut melaporkan adanya dampak besar dari kekerasan fisik dan seksual oleh suami dan pasangannya. Fenomena ini telah menimbulkan dampak pada status kesehatan wanita diseluruh dunia. Bahkan jumlah pasangan yang melakukan kekerasan terhadap perempuan lebih banyak lagi. Studi ini menunjukkan bahwa peempuan jauh lebih berisiko dirumah dibandingkan dijalan, dan iniberpengaruh langsung terhadap kesehatan perempuan.
Berdasarkan studi kasus yang dilakukan oleh Komisi Nasional Anti kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada tahun 2006, kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia setiap tahunnya tercatat mengalami peningkatan yang cukup tajam. Pada tahun 2005 kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 20.391, naik 45 persen dari tahun 2004 sebanyak 14.020. Sebelumnya, tahun 2003 sebanyak 5.934 kasus, dan tahun 2002 sebanyak 5.163 kasus.
Dari total 20.391 kasus yang terjadi pada tahun 2005, 82 persen di antaranya merupakan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dari berbagai kasus tersebut, kekerasan terhadap perempuan tidak mengenal latar belakang umur, pekerjaan, dan jenis pendidikan. Korban kekerasan yang berusia 25 hingga 40 tahun dengan jumlah kasus 4.506. Pendidikan tinggi SLTA dengan 2.649 kasus. Sedangkan yang paling banyak menimpa ibu rumah tangga, yakni 9.298 kasus atau 45 persen dari seluruh kasus.
Penyebab utama untuk tahun 2008 yang ditemukan oleh Komnas Perempuan karena faktor ekonomi. ” cikal bakal KDRT itu dari faktor ekonomi” lanjut Sjamsiah Achmad.
Bila dilihat secara hitungan angka. Tak kurang 70% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Mereka tidak mampu menghidupi diri secara layak karena negara mengabaikan pemenuhan kebutuhan pokok mereka. Himpitan ekonomi inilah yang menjadi salah satu pemicu orang berbuat nekat melakukan kejahatan, kasus KDRT dalam keluarga miskin banyak dipicu oleh hal ini.
Akar masalah
Kasus Kekerasan terhadap perempuan merupakan persoalan serius yang disebabkan oleh berbagai hal yang berkait erat satu sama lainnya. Musdah Mulia dalam Muslimah Reformis (Mizan, 2004) berpendapat tentang akar masalah kekerasan terhadap perempuan. Pertama, ketimpangan gender. Laki-laki dianggap sebagai makhluk superior, lebih cakap dan lebih hebat dari pada perempuan yang dianggap makhluk inferior, lemah, kelas dua. Ketidakseimbangan relasi kekuasaan inilah yang menyebabkan perempuan kerap tidak berdaya dihadapan lakli-laki.
Kedua, penegakan hukum yang lemah. Meskipun berbagai peraturan telah dibuat, salah satu contohnya adalah Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), namun dalam praktiknya belum bisa menekan angka kekerasan dalam rumah tangga. UU KDRT memiliki kelemahan di tingkat pelaksanaan karena kurang adanya sosialisi ke seluruh lapisan masyarakat bawah.
Ketiga, dominasi nilai-nilai patriarkhi. Konstruk budaya masyarakat melalui sistem sosial, ekonomi, dan politik yang berlaku secara alamiah dan didukung dengan penilaian agama dan hukum adat yang memberikan otoritas lebih kepada laki-laki daripada perempuan mengakibatkan perempuan terpinggirkan dan menjadi objek kekerasan kaum laki-laki.
Kunci utama untuk memahami KDRT dari perspektif jender adalah untuk memberikan apresiasi bahwa akar masalah dari kekerasan tersebut terletak pada kekuasaan hubungan yang tidak seimbang antara pria dan perempuan yang terjadi pada masyarakat yang didominasi oleh pria. Sebagaimana disampaikan oleh Sally E. Merry, “Kekerasan adalah… suatu tanda dari perjuangan untuk memelihara beberapa fantasi dari identitas dan kekuasaan. Kekerasan muncul, dalam analisa tersebut, sebagai sensitifitas jender dan jenis kelamin”
KDRT memposisikan pria jauh lebih berkuasa dibanding wanita. Ada sikap egois yang terbangun untuk memperlihatkan kekuatan dan kelemahan perempuan. Perempuan yang masih dianggap sebagai orang kedua/pelayan dalam rumah tangga membuatnya rentan mendapatkan perlakuan keras oleh suaminya.
Perjuangan melawan KDRT
‘Perjuangan’ penghapusan KDRT berangkat dari fakta banyaknya kasus KDRT yang terjadi dengan korban mayoritas perempuan dan anak-anak. Hal ini berdasar sejumlah temuan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dari berbagai organisasi penyedia layanan korban kekerasan. Di Provinsi Banten misalnya, hingga pertengahan tahun 2004 terdapat 5.426 perempuan yang dilaporkan menjadi korban tindak kekerasan (KTK). 90 persen diantaranya menjadi korban kekerasan karena berkerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri (Tempo Interaktif, 3/5/04).
Perjuangan penghapusan KDRT nyaring disuarakan organisasi, kelompok atau bahkan negara yang meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Convention on the Elimination of All Form of Discrimination/CEDAW) melalui Undang-undang No 7 tahun 1984. Juga berdasar Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan yang dilahirkan PBB tanggal 20 Desember 1993 dan telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Bahkan di Indonesia telah disahkan Undang-undang No 23 Tahun 2004 tentang ‘Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga’.
Di Makassar perjuangan melawan KDRT banyak dilakukan oleh aktivis-aktivis perempuan yang tergabung dalam LSM yang khusus menangani masalah perempuan. Akibatnya kemudian KDRT masih dianggap sebagai masalah perempuan saja. Dalam upaya penyelesaian kasus KDRT harusnya tiadk dipahami oleh satu pihak saja. Tapi pria juga punya tangguing jawab untuk melakukannya.
KDRT adalah masalah bersama, jadi tidak serta merta melmparkan kesalahan pada satu pihak saja. Untuk menghapus KDRT yang harus dilakukan adalah bagaimana menjadikan perempuan dan laki-laki sebagai mitra. Nah ini harus dipahami bersama. Perjuangan yang hanya dilakukan oleh perempuan tak akan selesai jika tak ada kesadaran dari pria.
Peran Paralegal
Persolan Rumah Tangga sampai saat ini oleh sebagian kalangan masih ditabukan. Urusan rumah tangga adalah bagian dari dapur rumah tangga. Mengekspos keluar berarti membuka aib keluarga. Masyarakat timur sampai sekarang ini masih menganut paham nrimo, pelayan bagi suaminya. Hali ini juga diperkuat oleh dalil-dalil agama yang tidak pernah diselesaikan.
Mengatasi ketidakterbukaan masyarakat adalah peran paralegal untuk melakukan pendekatan. Paralegal sebagai bagian tak terpisah dari masyarakat memberi akses yang lebih luas untuk menyelesaikan masalah-maslaah KDRT yang dihadapi dilapangan. Kasus KDRT dikatakan meningkat setelah adanya UU PKDRT, hal ini seperti fenomena gunung es yang baru kelihatan setelah sekian lama.
UU PKDRT sudah ada sejak tahun 2004 tapi dalam implikasinya belum ada hasil yang nampak. ”perempuan harus nurut sama suaminya, dalam islam juga seperti itu” ungkap Ika (mahasiswa semester akhir).
Dalam buku nikah sebenarnya ada pasal-pasal hak dan kewajiban istri, namun tidak pernah dibaca. Buku nikah hanya menjadi prasyarat pernikahan, padahal esensi hubungan suami istri tercantum dalam buku tersebut.
Satu-satunya perempuan di Indonesia yang pernah bekerja di PBB Sjamsiah Ahmad mengatakan ”Memberdayakan NGO dan juga pemerintah yangharus dilakukan. Yang paling punya andil adalah paralegal. Masyarakat tahu ada UUPDKRT tapi banyak yang tidak paham’. Lanjutnya” kita tidak perlu berkoar-koar di luar negeri, tapi menyadarkan masyarakat yang tidak tahu.”
salah satu tulisan yang pernah dimuat di buletin "Paralegal" LBH Makassar
Tuesday, February 7, 2012
Pelajaran Mangrove
Semalam begadang lagi. Hingga subuh mataku sangat berat terbuka. Rasanya aku ingin menikmati tidur sepuasnya. Tapi harus bangun, dan bersiap-siap ke Hotel Sahid. Aku ikut training Ekological Mangrove Restoration , dan hari ini akan ada kuliah lapang dari Roy Robin Lewis. Nama yang sering kutemukan, jadi referensi pada tulisan-tulisan tentang mangrove. Aku harus ikut, dan tak mau ketinggalan bis. Rugi jika tak ikut, walau panitia tak mengharuskan peserta untuk ikut. Hal lain yang menggerakkanku, aku suka mendatangi daerah yang belum pernah kuinjak. Dan tentu saja Tana Keke yang akan kami datangi, hanya sering kudengar dari kawan-kawanku di RCL Lemsa.
Agak telat berangkatnya, walau kemarin sudah di wanti-wanti oleh panitia. Harus berangkat pagi-pagi, biar cepat pulang. Lewat jam 12.00 siang ombak cukup tinggi, jadi harus meninggalkan pulau tersebut sebelum waktu itu.
Sejam di bus membuatku sempat terlelap. Lumayanlah untuk energy tambahan pagi ini, aku bahkan tak sempat sarapan atau meneguk air putih. Sebuah perahu berukuran sedang membawa kami meninggalkan dermaga Takalar lama. Pulaunya lumayan jauh, walau masih bisa terlihat. Butuh waktu sejam untuk sampai ke Tana Keke. Ini kali ketiga aku mendatangi sebuah pulau, yang pertama pulau kulambing di Pangkep, dulu ketika aku dan hera melakukan investigasi terkait pencemaran Tonasa. Kedua ke Pulau Panikiang minggu lalu, melakukan assessment kelompok di desa Madello. Pulau Panikiang termasuk bagian dari desa tersebut, dan sungguh aku masih ingin berkunjung ke tempat itu. Aku telah menuliskan cerita tentang Panikiang untuk media milik OXFAM GB. Tana Keke, tana dalam bahasa bugis adalah Tanah sedangkan keke artinya ketawa. Mungkinkah didesa tersebut, aku bisa terus tertawa,hehehe… angin sangat lembut membelaiku, karena masih pagi, ombak masih sangat bersahabat. Hanya riak-riak kecil yang akan mengingatkan kita pada ayunan bunda pada masa kecil. Membuat matamu ingin terlelap. Aku berusaha melawan kantuk, memperhatikan laut lepas.
Untung UU No.27 tahun 2007 tentang HP3 di yudisial review oleh Mahkamah Konstitusi, tak bisa terbayangkan jika laut pun harus dipetak-petakkan oleh pengusaha, sementara rakyat kecil harus semakin miskin karena tak punya akses. Aku mengingat dibeberapa daerah yang kukunjungi masyarakat masih sangat mengagungkan laut sebagai daerah open acces. Siapapun mempunyai hak yang sama untuk memanfaatkannya. Beda dengan makassar, lautnya telah dibagi-bagi, dipetak-petak kemudian ditimbungi. Dan lihatlah disana, bangunan-bangunan megah ala metropolis berdiri angkuh, menghadapi pemukiman kumuh di Mariso. Pencari kerang Mariso kehilangan akses, area tangkap mereka semakin berkurang. Atau di depan benteng rotterdam yang juga mengalami reklamasi, sebuah resto besar berdiri disana. Lain pula dengan pantai buloa yang juga akan mengalami nasib serupa.
Ada juga UU baru yang sementara digodok, dan aku berdoa semoga tak akan disahkan. Rancangan Undang-Undang Pengadaan Tanah, jadi dengan adanya UU tersebut pemerintah atau swasta bisa mengambil alih hak kepemilikan rakyat dengan dalih kepentingan umum, walau tak tahu banyak tentang RUU tersebut, aku yakin tak akan berpihak ke rakyat kecil. Pemilik tanah berkewajiban melepas tanahnya untuk kepentingan pembangunan. Penolakan tak akan membuat pembangunan terhenti. Ganti rugi akan dititip di pengadilan.
Ada tiga kapal yang membawa kami ke pulau itu. Dua gadis pulau tersebut yang juga ikut pelatihan bersamaku dikapal ini. Katanya kami harus pindah kapal nantinya, karena kapal ini tak bisa sampai ke desa. Dari kejauhan mulai tampak botol-botol bekas mengapung teratur. Namun, terlihat seperti sampah yang mengganggu pantai. Pada beberapa titik yang juga teratur berdiri tonggak-tonggak. Itu bentangan rumput laut, masyarakat pulau ini juga bertani rumput laut. Aku terus melihat kebawah, memperhatikan bentangan rumput laut itu, sejak di pitusunggu, aku sangat ingin melihat langsung bentangan rumput laut, namun belum pernah ada waktu untuk melihatnya.
Hutan mangrove cukup lebat mengelilingi pulau tersebut. Beberapa perahu berukuran kecil telah menunggu. Perahu-perahu itu akan membawa kami ke desa. 3- 4 orang satu perahu, muatannya tak boleh lebih dari itu. Perahu ini mengingatkanku pada perahu-perahu di sengkang yang sering kugunakan jika banjir bertandang. Sebenarnya air tak terlalu dalam, hanya lumpurnya yang lumayan membuat kita tak akan bisa berjalan. Masyarakat harus menggunakan perahu kecil untuk sampai kedesa. Melewati lorong-lorong kecil yang diapit mangrove. Kami langsung ke lokasi mangrovenya.
Dulunya daerah yang direstorasi merupakan tambak-tambak terlantar. Masyarakat tak lagi memanfaatkannya, karena produksi yang berkurang, lagipula mereka menemukan alternative lain, bertani rumput laut, dan hasilnya lebih menjanjikan. Tambak pernah sukses di Sulawesi Selatan, dan hal tersebut pula yang mengambil alih lahan-lahan mangrove, juga pada beberapa provinsi lainnya. Tambak kini menyisakan banyak utang menurut Riza Damanik, sekarang menjabat sebagai Direktur KIARA pada salah satu tulisannya sejak tahun 1987 sampai 2013 mendatang, utang Indonesia untuk kegiatan pertambakan setiap tahunnya rata-rata sebesar Rp 41 triliyun. Konsekuensi yang dirasakan masyarakat adalah berkurangnya lahan mangrove di Indonesia. Saat ini hutan mangrove di Indonesia kurang lebih 1,9 juta hektar. Dampaknya pun di rasakan masyarakat. Bencana-bencana di daerah pesisir kerap terjadi. Abrasi pantai menyebabkan sebagian masyarakat harus kehilangan tempat tinggal mereka. Peningkatan muka air laut juga akan menyebabkan hilangnya beberapa pulau kecil di Indonesia.
Mangrove merupakan tanaman yang sangat bermanfaat tidak hanya bagi masyarakat pesisir tapi oleh seluruh masyarakat. Di hutan mangrove perputaran rantai makanan berjalan terus, keberlangsungan berbagai spesies hewan laut bermula dari tempat ini. Ikan memijah, udang, kepiting, dan berbagai lainnya, belum lagi manfaatnya untuk manusia. Bahkan mangrove berfungsi memecah ombak. Pada daerah yang mempunyai hutan mangrove yang lebat ancaman tsunami bisa diminimalisir. Mangrove mempunyai peran penting terhadap pengurangan panas bumi dengan kemampuannya untuk menyerap karbon.
Mangrove sangat dipengaruhi pasang surut air laut, juga oleh topografi, dan hidrologi. Pada bekas tambak tersebut, bedengan-bedengannya ada yang dibuka. Agar air laut bisa masuk, dan mangrove bisa tumbuh didalammnya. Lewis mengatakan jika mangrove bisa ditumbuhkan dengan sendirinya oleh alam, dan manusia harus belajar pada alam bagaimana pola-polanya.
Berbagai upaya rehabilitasi mangrove lewat penanaman mangrove sangat sedikit yang berhasil. Manusia hanya menanam dan tak memperhatikan kondisi alamnya. Milyaran dana habis untuk ini. Kepala desa Bodie, usai sosialisasi program RCL kemarin bercerita, jika desa Bodie pernah mendapat bantuan 3000 bibit dari dinas kehutanan, namun yang bertahan hidup hanya ada 100 pohon. Ada 2900 bibit yang harus tereleminasi. Program-program yang ada hanya pada proses penyediaan bibit dan menanam, namun upaya membuat bibit itu bertahan hidup itu tak dilakukan.
Kami juga melihat lahan percontohan yang tak luas. Areanya dibatasi oleh tali nilon, tak cukup luas, hanya ada 20an bibit mangrove yang ditanam, dan semuanya masih hidup. Lewis banyak memperlihatkan pola-pola tanaman mangrove, bagaimana di daerah yang agak dalam bibit mangrove hampir tak ditemukan, sementara di bagian lain tak jarang kita menemukan bibit-bibit mangrove yang tumbuh sendiri, juga bagaimana mangrove bisa tumbuh sejajar dan teratur di tepian aliran air. Bukaan-bukaan kecil tak mempunyai sirkulasi air yang lancar, hingga yang terjadi malah sedimentasi, sementara pada bukaan bedengan yang agak lebar, air dengan mudah keluar masuk.
Perjalanan hari ini cukup melelahkan, pakaian yang belepotan pasir, kaki yang terendam lumpur tiram dan kerang yang sesekali memberi kejutan kecil pada telapak kakiku. Matahari yang bersinar cerah, membakar dan memerihkan kulit. Sun block tak berhasil menjaga kulit untuk tak sedikit memerah.
Lebih dari itu hari ini aku berwisata kuliner, mulai dari kepiting, udang,, berbagai jenis kerang-kerangan, ikan bakar, rumput laut segar dan sayuran khas Tanakeke yang baru dilidahku. Lapar dan haus membuat semua peserta menyantap makanan dengan lahap. Semua hendak dicoba, hasil laut yang segar dan bergizi, walau membuatku berpikir seribu kali untuk mencicipi cumi dan kepitingnya. Kolestrolnya cukup tinggi, dan bisa menegangkan urat leherku. Semoga baik-baik saja, aku mencicipi secukupnya untuk menjaga tubuhku baik-baik saja, walau enaknya membuatku masih ngiler dan ingin tambah.
Hari ini sangat indah, walau ombak dalam perjalanan pulang membuatku minta ampun, tinggi dan kencang, hingga percikan ombak dan ayunan kapalnya membuat tangan harus berpegang kuat disisi perahu. Terima kasih untuk perjalanan hari ini, dan aku belum kapok memulai perjalanan lain.
22;36
berteman Bintang Indrianto “pulihkan bumi kita, jaga dan cintailah…Pulihkan Indonesia”
19 juli 2011
Agak telat berangkatnya, walau kemarin sudah di wanti-wanti oleh panitia. Harus berangkat pagi-pagi, biar cepat pulang. Lewat jam 12.00 siang ombak cukup tinggi, jadi harus meninggalkan pulau tersebut sebelum waktu itu.
Sejam di bus membuatku sempat terlelap. Lumayanlah untuk energy tambahan pagi ini, aku bahkan tak sempat sarapan atau meneguk air putih. Sebuah perahu berukuran sedang membawa kami meninggalkan dermaga Takalar lama. Pulaunya lumayan jauh, walau masih bisa terlihat. Butuh waktu sejam untuk sampai ke Tana Keke. Ini kali ketiga aku mendatangi sebuah pulau, yang pertama pulau kulambing di Pangkep, dulu ketika aku dan hera melakukan investigasi terkait pencemaran Tonasa. Kedua ke Pulau Panikiang minggu lalu, melakukan assessment kelompok di desa Madello. Pulau Panikiang termasuk bagian dari desa tersebut, dan sungguh aku masih ingin berkunjung ke tempat itu. Aku telah menuliskan cerita tentang Panikiang untuk media milik OXFAM GB. Tana Keke, tana dalam bahasa bugis adalah Tanah sedangkan keke artinya ketawa. Mungkinkah didesa tersebut, aku bisa terus tertawa,hehehe… angin sangat lembut membelaiku, karena masih pagi, ombak masih sangat bersahabat. Hanya riak-riak kecil yang akan mengingatkan kita pada ayunan bunda pada masa kecil. Membuat matamu ingin terlelap. Aku berusaha melawan kantuk, memperhatikan laut lepas.
Untung UU No.27 tahun 2007 tentang HP3 di yudisial review oleh Mahkamah Konstitusi, tak bisa terbayangkan jika laut pun harus dipetak-petakkan oleh pengusaha, sementara rakyat kecil harus semakin miskin karena tak punya akses. Aku mengingat dibeberapa daerah yang kukunjungi masyarakat masih sangat mengagungkan laut sebagai daerah open acces. Siapapun mempunyai hak yang sama untuk memanfaatkannya. Beda dengan makassar, lautnya telah dibagi-bagi, dipetak-petak kemudian ditimbungi. Dan lihatlah disana, bangunan-bangunan megah ala metropolis berdiri angkuh, menghadapi pemukiman kumuh di Mariso. Pencari kerang Mariso kehilangan akses, area tangkap mereka semakin berkurang. Atau di depan benteng rotterdam yang juga mengalami reklamasi, sebuah resto besar berdiri disana. Lain pula dengan pantai buloa yang juga akan mengalami nasib serupa.
Ada juga UU baru yang sementara digodok, dan aku berdoa semoga tak akan disahkan. Rancangan Undang-Undang Pengadaan Tanah, jadi dengan adanya UU tersebut pemerintah atau swasta bisa mengambil alih hak kepemilikan rakyat dengan dalih kepentingan umum, walau tak tahu banyak tentang RUU tersebut, aku yakin tak akan berpihak ke rakyat kecil. Pemilik tanah berkewajiban melepas tanahnya untuk kepentingan pembangunan. Penolakan tak akan membuat pembangunan terhenti. Ganti rugi akan dititip di pengadilan.
Ada tiga kapal yang membawa kami ke pulau itu. Dua gadis pulau tersebut yang juga ikut pelatihan bersamaku dikapal ini. Katanya kami harus pindah kapal nantinya, karena kapal ini tak bisa sampai ke desa. Dari kejauhan mulai tampak botol-botol bekas mengapung teratur. Namun, terlihat seperti sampah yang mengganggu pantai. Pada beberapa titik yang juga teratur berdiri tonggak-tonggak. Itu bentangan rumput laut, masyarakat pulau ini juga bertani rumput laut. Aku terus melihat kebawah, memperhatikan bentangan rumput laut itu, sejak di pitusunggu, aku sangat ingin melihat langsung bentangan rumput laut, namun belum pernah ada waktu untuk melihatnya.
Hutan mangrove cukup lebat mengelilingi pulau tersebut. Beberapa perahu berukuran kecil telah menunggu. Perahu-perahu itu akan membawa kami ke desa. 3- 4 orang satu perahu, muatannya tak boleh lebih dari itu. Perahu ini mengingatkanku pada perahu-perahu di sengkang yang sering kugunakan jika banjir bertandang. Sebenarnya air tak terlalu dalam, hanya lumpurnya yang lumayan membuat kita tak akan bisa berjalan. Masyarakat harus menggunakan perahu kecil untuk sampai kedesa. Melewati lorong-lorong kecil yang diapit mangrove. Kami langsung ke lokasi mangrovenya.
Dulunya daerah yang direstorasi merupakan tambak-tambak terlantar. Masyarakat tak lagi memanfaatkannya, karena produksi yang berkurang, lagipula mereka menemukan alternative lain, bertani rumput laut, dan hasilnya lebih menjanjikan. Tambak pernah sukses di Sulawesi Selatan, dan hal tersebut pula yang mengambil alih lahan-lahan mangrove, juga pada beberapa provinsi lainnya. Tambak kini menyisakan banyak utang menurut Riza Damanik, sekarang menjabat sebagai Direktur KIARA pada salah satu tulisannya sejak tahun 1987 sampai 2013 mendatang, utang Indonesia untuk kegiatan pertambakan setiap tahunnya rata-rata sebesar Rp 41 triliyun. Konsekuensi yang dirasakan masyarakat adalah berkurangnya lahan mangrove di Indonesia. Saat ini hutan mangrove di Indonesia kurang lebih 1,9 juta hektar. Dampaknya pun di rasakan masyarakat. Bencana-bencana di daerah pesisir kerap terjadi. Abrasi pantai menyebabkan sebagian masyarakat harus kehilangan tempat tinggal mereka. Peningkatan muka air laut juga akan menyebabkan hilangnya beberapa pulau kecil di Indonesia.
Mangrove merupakan tanaman yang sangat bermanfaat tidak hanya bagi masyarakat pesisir tapi oleh seluruh masyarakat. Di hutan mangrove perputaran rantai makanan berjalan terus, keberlangsungan berbagai spesies hewan laut bermula dari tempat ini. Ikan memijah, udang, kepiting, dan berbagai lainnya, belum lagi manfaatnya untuk manusia. Bahkan mangrove berfungsi memecah ombak. Pada daerah yang mempunyai hutan mangrove yang lebat ancaman tsunami bisa diminimalisir. Mangrove mempunyai peran penting terhadap pengurangan panas bumi dengan kemampuannya untuk menyerap karbon.
Mangrove sangat dipengaruhi pasang surut air laut, juga oleh topografi, dan hidrologi. Pada bekas tambak tersebut, bedengan-bedengannya ada yang dibuka. Agar air laut bisa masuk, dan mangrove bisa tumbuh didalammnya. Lewis mengatakan jika mangrove bisa ditumbuhkan dengan sendirinya oleh alam, dan manusia harus belajar pada alam bagaimana pola-polanya.
Berbagai upaya rehabilitasi mangrove lewat penanaman mangrove sangat sedikit yang berhasil. Manusia hanya menanam dan tak memperhatikan kondisi alamnya. Milyaran dana habis untuk ini. Kepala desa Bodie, usai sosialisasi program RCL kemarin bercerita, jika desa Bodie pernah mendapat bantuan 3000 bibit dari dinas kehutanan, namun yang bertahan hidup hanya ada 100 pohon. Ada 2900 bibit yang harus tereleminasi. Program-program yang ada hanya pada proses penyediaan bibit dan menanam, namun upaya membuat bibit itu bertahan hidup itu tak dilakukan.
Kami juga melihat lahan percontohan yang tak luas. Areanya dibatasi oleh tali nilon, tak cukup luas, hanya ada 20an bibit mangrove yang ditanam, dan semuanya masih hidup. Lewis banyak memperlihatkan pola-pola tanaman mangrove, bagaimana di daerah yang agak dalam bibit mangrove hampir tak ditemukan, sementara di bagian lain tak jarang kita menemukan bibit-bibit mangrove yang tumbuh sendiri, juga bagaimana mangrove bisa tumbuh sejajar dan teratur di tepian aliran air. Bukaan-bukaan kecil tak mempunyai sirkulasi air yang lancar, hingga yang terjadi malah sedimentasi, sementara pada bukaan bedengan yang agak lebar, air dengan mudah keluar masuk.
Perjalanan hari ini cukup melelahkan, pakaian yang belepotan pasir, kaki yang terendam lumpur tiram dan kerang yang sesekali memberi kejutan kecil pada telapak kakiku. Matahari yang bersinar cerah, membakar dan memerihkan kulit. Sun block tak berhasil menjaga kulit untuk tak sedikit memerah.
Lebih dari itu hari ini aku berwisata kuliner, mulai dari kepiting, udang,, berbagai jenis kerang-kerangan, ikan bakar, rumput laut segar dan sayuran khas Tanakeke yang baru dilidahku. Lapar dan haus membuat semua peserta menyantap makanan dengan lahap. Semua hendak dicoba, hasil laut yang segar dan bergizi, walau membuatku berpikir seribu kali untuk mencicipi cumi dan kepitingnya. Kolestrolnya cukup tinggi, dan bisa menegangkan urat leherku. Semoga baik-baik saja, aku mencicipi secukupnya untuk menjaga tubuhku baik-baik saja, walau enaknya membuatku masih ngiler dan ingin tambah.
Hari ini sangat indah, walau ombak dalam perjalanan pulang membuatku minta ampun, tinggi dan kencang, hingga percikan ombak dan ayunan kapalnya membuat tangan harus berpegang kuat disisi perahu. Terima kasih untuk perjalanan hari ini, dan aku belum kapok memulai perjalanan lain.
22;36
berteman Bintang Indrianto “pulihkan bumi kita, jaga dan cintailah…Pulihkan Indonesia”
19 juli 2011
Monday, January 16, 2012
HAK ATAS TANAH
Tanah mestinya dibagi-bagi
Jika cuma segelintir orang yang menguasai
Bagaimana hari esok kaum tani
Tanah mestinya ditanami
Sebab hidup tak hanya hari ini
Jika sawah diratakan
Rimbun semak pohon dirubuhkan
Apa yang kita harap
Dari cerobong asap besi?
(Wji Tukul; Puisi Tanah,1989 Solo)
Eksistensi tanah merupakan bagian dari sejarah panjang kehidupan ummat manusia , dari sejak jaman batu hingga jaman industri dan teknologi sekarang ini. Begitu pentingnya, tanah merupakan sumber utama dan kelanjutan hidup manusia. Dengan tanah, manusia bisa bercocok tanam untuk konsumsi dan produksi. Dalam perjalanan waktu, tanah kemudian tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan keberlangsungan hidup seperti jaman sebelumnya. Tanah kemudian mengandung berbagai aspek kehidupan seperti aspek ekonomi dan politik.
Dalam kaitan dengan aspek ekonomi, tanah berkembang kearah yang lebih produktif baik untuk sektor pertanian maupun industri. Tidak mengherankan jika tanah dijadikan faktor produksi oleh para pemodal untuk nilai ekonomi seperti perkebunan dan industri kayu. Sementara itu tanah dalam perspektif wilayah , tanah juga merupakan syarat dasar atau faktor berdirinya suatu Negara selain faktor lainnya yakni rakyat dan pemerintahan. Bahkan tanah dalam beberapa kasus sering dijadikan isu politik seperti kasus Kedung Ombo dan Kasus Nipa. Premis inilah yang kemudian membawa kita pada pertanyaan , sejauhmana rakyat berdaulat atas tanah dan airnya?
Ketimpangan Kepemilikan Tanah
Sejatinya Negara tidak memiliki hak menguasai. Kewenangan Negara untuk menguasai tanah tersebut semata-mata untuk kepentingan rakyat lewat pengaturan dan menyelenggarakan persediaan, peruntukan , penggunaan tanah serta menentukan dan mengatur hak-hak yang dapat dipunyai atas tanah.
Pemahaman ini tidak lahir dari konsepsi Negara sebagai organisasi tertinggi yang didasari oleh mandat dari rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Walaupun pemahaman ini tidak sepenuhnya sebangun pada tingkat praksis seperti terlihat pada kebijakan pertanahan atau agraria yang belum pro rakyat. Salah satu persoalan adalah masih timpangnya kepemilikan tanah. Di satu sisi masih banyak rakyat yang tidak memiliki tanah disisi lain ada pemilikan dan penguasaan tanah yang berlebihan. Sebagai salah satu hak dan kebutuhan rakyat, tanah belum sepenuhnya dinikmati oleh sebagian rakyat Indonesia. Kondisi ini pula yang dianggap sebagai biang dari terjadinya kemiskinan. Dalam hal lain, banyak kasus yang justru rakyat yang telah lama hidup lewat penguasaan/pemilikan tanahnya harus tergusur oleh perkebunan atau industri.
Kondisi ini dirasakan oleg Dg.Nyonri dan kawan-kawannya yang mendiami Kelurahan Kassi-Kassi Makassar. Mereka sudah 5 tahun berkonflik dengan Rizal Tandiawan pengusaha terkenal di Makassar. Tanah yang selama ini dikuasai oleh warga tiba-tiba diusik oleh upaya pengambilalihan tanah tempat tinggal mereka oleh pengusaha tersebut dengan alas an sertifikat kepemilikan tanah atas nama pengusaha tersebut. “kami hanya ingin tanah untuk tempat tinggal, kemanami kami tinggal kodong kalau tanah kami harus diambilalih”tegas Dg.Nyonri dengan dialek Makassar. Mereka kini menunggu keputusan hukum yang adil terhadap tanah mereka. ” Semoga Negara masih mau memberi tempat kepada orang-orang miskin seperti kami” harap ketua Persatuan Masyarakat Kassi-Kassi itu.
Lain halnya dengan rakyat Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar , mereka justru sementara mengklaim kembali tanah mereka yang 30 tahun sebelumnya telah dikuasai secara paksa oleh perkebunan tebu PTPN XI Takalar. Beberapa diantara mereka kini telah menguasai kembali tanahnya dengan berbagai resiko seperti bentrok fisik dengan pihak PTPN yang memaksa kembali pengolahan tebu, hingga kriminalisasi aparat kepolisian.
Kedua contoh konflik pertanahan tersebut memiliki latar belakang kasus dan wilayah yang berbeda. Kasus pertama terkait wilayah perkotaan dengan keterbatasan lahan rakyat harus berhadapan dengan penguasa. Kasus kedua yang berada diwilayah pedesaan terkait dengan lahan perkebunan , rakyat mencoba mengambil alih kembali lahan yang menurut mereka akan memberikan masa depan yang lebih baik. Walaupun demikian kedua kasus tersebut menunjukkan persoalan yang sama yakni lahir dari adanya kepemilikan tanah tidak seimbang serta proses penguasaan yang merugikan rakyat.
Kondisi ini menjadi sebuah ironi bagi Indonesia yang mengandalkan pembangunannya pada sector pertanian. Padahal pertanian merupakan penyumbang terbesar, yakni 60% untuk perekonomian nasional. Tapi pada kenyataannya rakyat yang bota bene bertani dan tinggal dipedesaan justru tetap dalam kondisi yang memprihatinkan. Belum termasuk dengan limpahan sumber daya alam. Kekayaan alam Indonesia mulai dari tanah yang sangat subur , tambang, kekayaan laut, berbagai tumbuhan dan binatang. Tapi, kehidupan rakyat khususnya kaum tani ditandai dengan ketiadaan lahan olahan, pendapatan rendah dan serba tak pasti, dan sempitnya peluang usaha diluar sector pertanian. Akibatnya petani tidak mampu mengatasi problem rendahnya pendapatan yang berarti pula terus bertahan hidup dalam kondisi ekonomi yang serba tidak memadai.
Dengan potensi Indonesia sebagai Negara agraris tetapi dalam realitasnya belum mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Tanah yang sangat luas tak menjamin kehidupan yang layak. Salah satu penyebabya adalah tidak adanya pemerataan kepemilikan tanah kepada seluruh rakyat. Adanya pembagian tanah yang tak adil membuat rakyat tak mampu memenuhi kebutuhannya. “ Tanah di Indonesia tidak terbagi rata sejak dulu, tanah dimiliki oleh segelintir orang terutama pemuka agama dan bangsawan” ungkap Sardi Rasak salah seorang aktivis lingkungan.
Melihat kebelakang penyebab ketimpangan kepemilikan tanah di Indonesia akan membawa kita pada sejarah masyarakat Indonesia. Dimulai dari sistem komunal primitif yang hidup tanpa kelas, tetapi dalam kurung waktu yang lama penduduk asli kalah oleh bangsa Mon Khmer. Penduduk asli yang kalah dalam perang dijadikan sebagai budak. Hal ini berimplikasi pada penegakan batas-batas kekuasaan atas tanah. Peralihan dari sistem perbudakan ini dilanjutkan dengan sistem feodalisme oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Di Sulawesi Selatan terdapat puluhan kerajaan, dimana tanah sebagian besar dikuasai oleh keluarga kerajaan. Selanjutnya sistem ini digantikan oleh penjajahan bangsa barat. Kerajaan tak bisa berbuat banyak karena kekuatan penjajah jauh lebih besar dibandingkan kekuatan mereka. Penjajah membuat kehidupan rakyat semakin menderita. Mereka semakin kehilangan hak atas tanah yang mereka kelola. Rakyat kecil akhirnya harus menjadi buruh dan dipaksa bekerja pada tanah-tanah penjajah. Sedangkan tanah milik bangsawan tetap menjadi milik mereka.
Tahun 1945 akhirnya Indonesia dapat mengusir penjajah dan memperoleh kemerdekaannya. Namun hal ini tak membuahkan banyak perubahan. Tanah mereka tetap tak dapat dimiliki. Tanah yang dahulunya menjadi milik penjajah berpindah ke tangan pemerintah yang juga merupakan antek penjajah. Imperialis semakin menanamkan pengaruhnya pada rezim orde baru. Kekayaan alam banyak diserahkan ke bangsa asing. Pada beberapa perkebunan besar, tanah mereka pada awalnya disewa dengan harga yang sangat rendah dan dijadikan milik perusahaan. Kasus yang mengemuka di Sulsel adalah konflik lahan antara Rakyat Polongbangkeng Utara melawan PTPN XIV Takalar.
Masalah ini telah lama menjadi perhatian dan basis perjuangan para aktvis agraria seperti Zulkarnain Yusuf. Menurutnya hingga saat ini tanah masih dikuasai oleh segelintir orang. Tanah menjadi milik penguasa dan digunakan untuk kepentingan mereka. “penguasa mempunyai peran penting dalam ketidakadilan pembagian tanah. Pengeluaran izin HGU kepada pengusaha terlalu mudah , sehingga rakyat harus kehilangan haknya atas tanah yang mereka miliki” ungkap Zulkarnain Yusuf.
“Misalnya kasus PTPN XIV disinikan jelas tanah di Polongbangkeng Utara dan Polongbangkeng Selatan dulunya hanya disewa PTPN XIV dan HGUnya telah berakhir 2006 lalu. Tapi sekarang tanah tersebut telah diklaim PTPN XIV” tambah pria yang sekarang menjadi direktur Walhi Sulsel.
Berdasarkan inventarisasi kasus-kasus sengketa agraria yang dilakukan Resource Center KPA, diseluruh Indonesia sejak tahun 1970 telah terjadi setidaknya 1.920 kasus sengketa yang struktural sifatnya, yang mencakup luasan tidak kurang dari 10.512.938,41 hektar dan mengakibatkan tidak kurang dari 622.450 KK menjadi korban . Data ini menunjukkan intensitas konflik yang tertinggi di propinsi Jawa Barat (506 kasus), DKI Jakarta (186 kasus), Sumatera Selatan (183 kasus), Jawa Timur (172 kasus), dan Sumatera Utara (169 kasus). Sedangkan jenis sengketa yang paling tinggi intensitasnya adalah sengketa dilahan perkebunan atau yang berhubungan dengan perkebunan besar (430 kasus), pembangunan sarana umum dan fasislitas perkotaan (260 kasus), pembangunan perumahan dan kota baru (240 kasus), dan hutan produksi (159 kasus).
Reforma AgrariaPembaruan agraria (reforma agrarian) merupakan agenda penting dalam menghapuskan kemiskinan . berbagai analisis dan penelitian mencatan bahwa kemiskinan rakyat . Terutama petani berakar pada kurangnya akses rakyat terhadap tanah dan sumber daya alam. Dalam pembangunan sistem ekonomi nasional seharusnya pembenahan masalah pangan dan sektor pertanian dijadikan landasan prioritas program land reform, diawali dengan perombakan dan penataan kembali struktur penguasaan tanah yang timpang.
Menurut aktivis lingkungan Sardi Rasak, program land reform yang sempat dilaksanakan pertengahan tahun 60-an akhirnya kandas di tengah jalan karena frame berpikir penguasa yang melahirkan persoalan ketimpangan penguasaan tanah di sektor pertanian. “ reforma agraria dimulai lewat lahirnya Undang-Undang No. 5 tahun 1960 tentang UUPA, tapi menghilang setelah masuknya orde baru. Revolusi hijau pada orde baru menghilangkan reforma agraria” ungkap Sardi Rasak.
Setelah rezim populis yang dipimpin Sekarno digantikan rezim orde baru, seketika ide dan program land reform dibuang ke keranjang sampah. Perubahan sistem politik dan ekonomi dibawah orde baru melaksanakan program pembangunan pertanian seiring perubahan pembangunan ekonomi kapitalis, yang bertumpu pada penguasaan monopoli dan kepentingan modal asing. Sektor pertanian tidak lagi ditempatkan sebagai kerangka ekonomi nasional, tetapi dijadikan penyangga guna memicu industrialisasi kepentingan investasi modal asing.
Mira Wijaya dalam buku “Catatan Tanah Untuk Demokratisasi” menyebutkan bahwa konflik pertanahan menjadi isu strategis yang terbentuk sistematis, akibat kekuasaan Negara yang sangat dominan dengan melakukan hegemoni , eksploitasi dan politik agraria yang tidak berpihak kepada rakyat.
Padahal untuk menuju suksesnya pembangunan pertanian tidak lepas dari persoalan keadilan agrarian yang mencakup redistribusi tanah kepada petani dan buruh tani, penataan produksi melalui pembangunan infrastruktur pertanian, fasilitas permodalan dan teknologi tepat guna., penguatan kelembagaan/organisasi petani dalam bentuk koperasi atau asosiasi petani, dan proteksi terhadap produk-produk pertanian.
Ketidakadilan kepemilikan tanah membuat rakyat harus menjadi buruh tani dan ketika sistem pertanian pun berubah, maka rakyat semakin kesulitan mendapatkan pekerjaan. Mereka banyak yang berpindah ke kota dan menjadi buruh. Lahan pekerjaan di kota tak selalu menjanjikan apalagi keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh rakyat.
Oleh Hamzah Libya menganggap ketidakadilan kepemilikan tanah sangat berdampak pada ketahanan pangan rakyat yang akan menjamin pembaruan Agraria. Menurut aktivis pembaruan agraria yang setia mendampingi petani dan nelayan Bulukumba ini, tidak ada jalan yang menjanjikan untuk mensejahterakan rakyat kecuali dengan distribusi yang adil bagi rakyat khususnya petani. “ kalau Negara ini mau bebas dari belenggu kemiskinan dan tetap berlandaskan pada pertanian maka distribusi tanah kepada rakyat menjadi agenda utama dalam kebijakan agrarian atau pertanahan” harap Hamzah Libya. Tanah diredistribusikan kepada kaum tidak bertanah sehingga kemungkinan penyediaan pangan sendiri lebih meningkat.
Dalam konteks struktur reformasi agraria perlu mendapat beberapa hal terutama jika ingin belajar dari Negara lain, terutama di Negara latin. Kerangka kerja reformasi agraria di Indonesia mesti mengacu pada UU No.5 tahun 1960. UUPA sebagai dasar legal pembaruan agraria. Kendati masihperlu pengkajian ulang kebijakan agraria dan pengelolaan sumber daya alam. Penyempurnaan UUPA perlu dilakukan melalui format amandemen. Atas dasar hasil kaji ulang dan amandemen UUPA maka masalah keagrariaan dapat diatasi dengan dasar hukum yang kuat, komprehensif, adil, danberkelanjutan. Beberapa mandat tentang reforma agraria telah lama dikeluarkan seperti Ketetapan MPR No IX tahun 2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang dikukuhkan TAP MPR No. I tahun 2003, dan ditegaskan dalam TAP MPR No.V tahun 2003.
Jalan Panjang Menuju Keadilan Agraria
Memiliki sejengkal tanah menjadi mimpi buruh tani yang miskin. Namun hal tersebut terasa berat. Pembagian tanah yang adil menjadi tugas penguasa. Penyebab utama terjadinya ketimpangan dalam struktur agraria adalah adanya hubungan produksi yang tidak seimbang dan bersifat dominan antar orang atau kelompok tertentu. Bentuk hubungan produksi yang tidak seimbang ini dapat terjadi dalam berbagai tingkat kehidupan bermasyarakat. Bentuk hubungan ini menciptakan hukum dan birokrasi untuk melanggengkan terjadinya ketimpangan struktur agraria.
Hak atas kepemilikan (the right to property) bisa menjadi jaminan dan dasar keberhakan melalui dua cara. Pertama, pemilikan tanah memungkinkan untuk mengolah beberapa produk pangan yang diperlukan oleh sipenanam dan keluarganya. Kedua, pemilikan asset produktif memungkinkan menghasilkan komoditi yang bisa ditukar dengan barang-barang yang diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Karena itu hak untuk bekerja menjadi elemen penting dalam menjamin keberhakan.
Reforma agraria dikatakan sebagai jalan redistribusi tanah yang adil. “ Reforma agraria merupakan jawaban logis dari berbagai masalah struktur social agraria di masyarakat manapun” ungkap Kurniawan Sabar salah satu aktivis FMN (Front Mahasiswa Nasional) “. Sepanjang sejarah agraria , kelas-kelas penguasa mengambil kekuasaan atas sumber daya ekonomi yangpaling pokok. Kelas feodal menguasai tanah untuk menimbun kekayaan dan kejayaan bagi dirinya sendiri.
Dalam pandangan Sardi rasak, pelaksanaan reforma agrarian harus tetap mengacu pada kondisi social budaya daerahnya. “ Sulawesi dan Jawa berbeda, jadi pelaksanaannya tidak bisa disamakan. Di Jawa tanah sejengkal bisa jadi bahan perkelahian, sedangkan di Sulawesi kehilangan tanah 1 hektar tak jadi masalah” .
“ Untuk mencapai keadilan agraria di Sulawesi haruslah menghilangkan jejak –jejak feodalisme yang masih kental. Keadilan agraria bukan pekerjaan mudah . masyarakat kita masyarakat yang masih menurut pada sisa-sisa feodal. Ini masalah yang harus kita tuntaskan”. Tambah Sardi Razak.
Reforma agraria pada akhirnya membutuhkan konteks yang jelas dan kongkrit untuk keberlangsungan pengembangan suatu wilayah. Untuk konteks Sulawesi menurut Hamzah Libya harus memperhatikan penguatan kapasitas organisasi rakyat . Dalam hal ini organisasi rakyat mestilah ditempatkan sebagai motor utama. Elemen lainnya seperti LSM, akademisi, jurnalis, mahasiswa sebaiknya mengambil peranan sebagai fasilitator untuk memperkuat posisi rakyat.
Hanya saja menurut Zulkarnaen Yusuf , dari berbagai bentuk fasilitasi yang dilakukan tersebut haruslah menyentuh subtansi pendidikan kritis sehingga rakyat kecil sampai pada kesadaran akan haknya atas sumber-sumber agraria.
(tulisan ini telah dipublikasikan pada Buletin Paralegal LBH Makassar tahun 2008)
Jika cuma segelintir orang yang menguasai
Bagaimana hari esok kaum tani
Tanah mestinya ditanami
Sebab hidup tak hanya hari ini
Jika sawah diratakan
Rimbun semak pohon dirubuhkan
Apa yang kita harap
Dari cerobong asap besi?
(Wji Tukul; Puisi Tanah,1989 Solo)
Eksistensi tanah merupakan bagian dari sejarah panjang kehidupan ummat manusia , dari sejak jaman batu hingga jaman industri dan teknologi sekarang ini. Begitu pentingnya, tanah merupakan sumber utama dan kelanjutan hidup manusia. Dengan tanah, manusia bisa bercocok tanam untuk konsumsi dan produksi. Dalam perjalanan waktu, tanah kemudian tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan keberlangsungan hidup seperti jaman sebelumnya. Tanah kemudian mengandung berbagai aspek kehidupan seperti aspek ekonomi dan politik.
Dalam kaitan dengan aspek ekonomi, tanah berkembang kearah yang lebih produktif baik untuk sektor pertanian maupun industri. Tidak mengherankan jika tanah dijadikan faktor produksi oleh para pemodal untuk nilai ekonomi seperti perkebunan dan industri kayu. Sementara itu tanah dalam perspektif wilayah , tanah juga merupakan syarat dasar atau faktor berdirinya suatu Negara selain faktor lainnya yakni rakyat dan pemerintahan. Bahkan tanah dalam beberapa kasus sering dijadikan isu politik seperti kasus Kedung Ombo dan Kasus Nipa. Premis inilah yang kemudian membawa kita pada pertanyaan , sejauhmana rakyat berdaulat atas tanah dan airnya?
Ketimpangan Kepemilikan Tanah
Sejatinya Negara tidak memiliki hak menguasai. Kewenangan Negara untuk menguasai tanah tersebut semata-mata untuk kepentingan rakyat lewat pengaturan dan menyelenggarakan persediaan, peruntukan , penggunaan tanah serta menentukan dan mengatur hak-hak yang dapat dipunyai atas tanah.
Pemahaman ini tidak lahir dari konsepsi Negara sebagai organisasi tertinggi yang didasari oleh mandat dari rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Walaupun pemahaman ini tidak sepenuhnya sebangun pada tingkat praksis seperti terlihat pada kebijakan pertanahan atau agraria yang belum pro rakyat. Salah satu persoalan adalah masih timpangnya kepemilikan tanah. Di satu sisi masih banyak rakyat yang tidak memiliki tanah disisi lain ada pemilikan dan penguasaan tanah yang berlebihan. Sebagai salah satu hak dan kebutuhan rakyat, tanah belum sepenuhnya dinikmati oleh sebagian rakyat Indonesia. Kondisi ini pula yang dianggap sebagai biang dari terjadinya kemiskinan. Dalam hal lain, banyak kasus yang justru rakyat yang telah lama hidup lewat penguasaan/pemilikan tanahnya harus tergusur oleh perkebunan atau industri.
Kondisi ini dirasakan oleg Dg.Nyonri dan kawan-kawannya yang mendiami Kelurahan Kassi-Kassi Makassar. Mereka sudah 5 tahun berkonflik dengan Rizal Tandiawan pengusaha terkenal di Makassar. Tanah yang selama ini dikuasai oleh warga tiba-tiba diusik oleh upaya pengambilalihan tanah tempat tinggal mereka oleh pengusaha tersebut dengan alas an sertifikat kepemilikan tanah atas nama pengusaha tersebut. “kami hanya ingin tanah untuk tempat tinggal, kemanami kami tinggal kodong kalau tanah kami harus diambilalih”tegas Dg.Nyonri dengan dialek Makassar. Mereka kini menunggu keputusan hukum yang adil terhadap tanah mereka. ” Semoga Negara masih mau memberi tempat kepada orang-orang miskin seperti kami” harap ketua Persatuan Masyarakat Kassi-Kassi itu.
Lain halnya dengan rakyat Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar , mereka justru sementara mengklaim kembali tanah mereka yang 30 tahun sebelumnya telah dikuasai secara paksa oleh perkebunan tebu PTPN XI Takalar. Beberapa diantara mereka kini telah menguasai kembali tanahnya dengan berbagai resiko seperti bentrok fisik dengan pihak PTPN yang memaksa kembali pengolahan tebu, hingga kriminalisasi aparat kepolisian.
Kedua contoh konflik pertanahan tersebut memiliki latar belakang kasus dan wilayah yang berbeda. Kasus pertama terkait wilayah perkotaan dengan keterbatasan lahan rakyat harus berhadapan dengan penguasa. Kasus kedua yang berada diwilayah pedesaan terkait dengan lahan perkebunan , rakyat mencoba mengambil alih kembali lahan yang menurut mereka akan memberikan masa depan yang lebih baik. Walaupun demikian kedua kasus tersebut menunjukkan persoalan yang sama yakni lahir dari adanya kepemilikan tanah tidak seimbang serta proses penguasaan yang merugikan rakyat.
Kondisi ini menjadi sebuah ironi bagi Indonesia yang mengandalkan pembangunannya pada sector pertanian. Padahal pertanian merupakan penyumbang terbesar, yakni 60% untuk perekonomian nasional. Tapi pada kenyataannya rakyat yang bota bene bertani dan tinggal dipedesaan justru tetap dalam kondisi yang memprihatinkan. Belum termasuk dengan limpahan sumber daya alam. Kekayaan alam Indonesia mulai dari tanah yang sangat subur , tambang, kekayaan laut, berbagai tumbuhan dan binatang. Tapi, kehidupan rakyat khususnya kaum tani ditandai dengan ketiadaan lahan olahan, pendapatan rendah dan serba tak pasti, dan sempitnya peluang usaha diluar sector pertanian. Akibatnya petani tidak mampu mengatasi problem rendahnya pendapatan yang berarti pula terus bertahan hidup dalam kondisi ekonomi yang serba tidak memadai.
Dengan potensi Indonesia sebagai Negara agraris tetapi dalam realitasnya belum mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Tanah yang sangat luas tak menjamin kehidupan yang layak. Salah satu penyebabya adalah tidak adanya pemerataan kepemilikan tanah kepada seluruh rakyat. Adanya pembagian tanah yang tak adil membuat rakyat tak mampu memenuhi kebutuhannya. “ Tanah di Indonesia tidak terbagi rata sejak dulu, tanah dimiliki oleh segelintir orang terutama pemuka agama dan bangsawan” ungkap Sardi Rasak salah seorang aktivis lingkungan.
Melihat kebelakang penyebab ketimpangan kepemilikan tanah di Indonesia akan membawa kita pada sejarah masyarakat Indonesia. Dimulai dari sistem komunal primitif yang hidup tanpa kelas, tetapi dalam kurung waktu yang lama penduduk asli kalah oleh bangsa Mon Khmer. Penduduk asli yang kalah dalam perang dijadikan sebagai budak. Hal ini berimplikasi pada penegakan batas-batas kekuasaan atas tanah. Peralihan dari sistem perbudakan ini dilanjutkan dengan sistem feodalisme oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Di Sulawesi Selatan terdapat puluhan kerajaan, dimana tanah sebagian besar dikuasai oleh keluarga kerajaan. Selanjutnya sistem ini digantikan oleh penjajahan bangsa barat. Kerajaan tak bisa berbuat banyak karena kekuatan penjajah jauh lebih besar dibandingkan kekuatan mereka. Penjajah membuat kehidupan rakyat semakin menderita. Mereka semakin kehilangan hak atas tanah yang mereka kelola. Rakyat kecil akhirnya harus menjadi buruh dan dipaksa bekerja pada tanah-tanah penjajah. Sedangkan tanah milik bangsawan tetap menjadi milik mereka.
Tahun 1945 akhirnya Indonesia dapat mengusir penjajah dan memperoleh kemerdekaannya. Namun hal ini tak membuahkan banyak perubahan. Tanah mereka tetap tak dapat dimiliki. Tanah yang dahulunya menjadi milik penjajah berpindah ke tangan pemerintah yang juga merupakan antek penjajah. Imperialis semakin menanamkan pengaruhnya pada rezim orde baru. Kekayaan alam banyak diserahkan ke bangsa asing. Pada beberapa perkebunan besar, tanah mereka pada awalnya disewa dengan harga yang sangat rendah dan dijadikan milik perusahaan. Kasus yang mengemuka di Sulsel adalah konflik lahan antara Rakyat Polongbangkeng Utara melawan PTPN XIV Takalar.
Masalah ini telah lama menjadi perhatian dan basis perjuangan para aktvis agraria seperti Zulkarnain Yusuf. Menurutnya hingga saat ini tanah masih dikuasai oleh segelintir orang. Tanah menjadi milik penguasa dan digunakan untuk kepentingan mereka. “penguasa mempunyai peran penting dalam ketidakadilan pembagian tanah. Pengeluaran izin HGU kepada pengusaha terlalu mudah , sehingga rakyat harus kehilangan haknya atas tanah yang mereka miliki” ungkap Zulkarnain Yusuf.
“Misalnya kasus PTPN XIV disinikan jelas tanah di Polongbangkeng Utara dan Polongbangkeng Selatan dulunya hanya disewa PTPN XIV dan HGUnya telah berakhir 2006 lalu. Tapi sekarang tanah tersebut telah diklaim PTPN XIV” tambah pria yang sekarang menjadi direktur Walhi Sulsel.
Berdasarkan inventarisasi kasus-kasus sengketa agraria yang dilakukan Resource Center KPA, diseluruh Indonesia sejak tahun 1970 telah terjadi setidaknya 1.920 kasus sengketa yang struktural sifatnya, yang mencakup luasan tidak kurang dari 10.512.938,41 hektar dan mengakibatkan tidak kurang dari 622.450 KK menjadi korban . Data ini menunjukkan intensitas konflik yang tertinggi di propinsi Jawa Barat (506 kasus), DKI Jakarta (186 kasus), Sumatera Selatan (183 kasus), Jawa Timur (172 kasus), dan Sumatera Utara (169 kasus). Sedangkan jenis sengketa yang paling tinggi intensitasnya adalah sengketa dilahan perkebunan atau yang berhubungan dengan perkebunan besar (430 kasus), pembangunan sarana umum dan fasislitas perkotaan (260 kasus), pembangunan perumahan dan kota baru (240 kasus), dan hutan produksi (159 kasus).
Reforma AgrariaPembaruan agraria (reforma agrarian) merupakan agenda penting dalam menghapuskan kemiskinan . berbagai analisis dan penelitian mencatan bahwa kemiskinan rakyat . Terutama petani berakar pada kurangnya akses rakyat terhadap tanah dan sumber daya alam. Dalam pembangunan sistem ekonomi nasional seharusnya pembenahan masalah pangan dan sektor pertanian dijadikan landasan prioritas program land reform, diawali dengan perombakan dan penataan kembali struktur penguasaan tanah yang timpang.
Menurut aktivis lingkungan Sardi Rasak, program land reform yang sempat dilaksanakan pertengahan tahun 60-an akhirnya kandas di tengah jalan karena frame berpikir penguasa yang melahirkan persoalan ketimpangan penguasaan tanah di sektor pertanian. “ reforma agraria dimulai lewat lahirnya Undang-Undang No. 5 tahun 1960 tentang UUPA, tapi menghilang setelah masuknya orde baru. Revolusi hijau pada orde baru menghilangkan reforma agraria” ungkap Sardi Rasak.
Setelah rezim populis yang dipimpin Sekarno digantikan rezim orde baru, seketika ide dan program land reform dibuang ke keranjang sampah. Perubahan sistem politik dan ekonomi dibawah orde baru melaksanakan program pembangunan pertanian seiring perubahan pembangunan ekonomi kapitalis, yang bertumpu pada penguasaan monopoli dan kepentingan modal asing. Sektor pertanian tidak lagi ditempatkan sebagai kerangka ekonomi nasional, tetapi dijadikan penyangga guna memicu industrialisasi kepentingan investasi modal asing.
Mira Wijaya dalam buku “Catatan Tanah Untuk Demokratisasi” menyebutkan bahwa konflik pertanahan menjadi isu strategis yang terbentuk sistematis, akibat kekuasaan Negara yang sangat dominan dengan melakukan hegemoni , eksploitasi dan politik agraria yang tidak berpihak kepada rakyat.
Padahal untuk menuju suksesnya pembangunan pertanian tidak lepas dari persoalan keadilan agrarian yang mencakup redistribusi tanah kepada petani dan buruh tani, penataan produksi melalui pembangunan infrastruktur pertanian, fasilitas permodalan dan teknologi tepat guna., penguatan kelembagaan/organisasi petani dalam bentuk koperasi atau asosiasi petani, dan proteksi terhadap produk-produk pertanian.
Ketidakadilan kepemilikan tanah membuat rakyat harus menjadi buruh tani dan ketika sistem pertanian pun berubah, maka rakyat semakin kesulitan mendapatkan pekerjaan. Mereka banyak yang berpindah ke kota dan menjadi buruh. Lahan pekerjaan di kota tak selalu menjanjikan apalagi keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh rakyat.
Oleh Hamzah Libya menganggap ketidakadilan kepemilikan tanah sangat berdampak pada ketahanan pangan rakyat yang akan menjamin pembaruan Agraria. Menurut aktivis pembaruan agraria yang setia mendampingi petani dan nelayan Bulukumba ini, tidak ada jalan yang menjanjikan untuk mensejahterakan rakyat kecuali dengan distribusi yang adil bagi rakyat khususnya petani. “ kalau Negara ini mau bebas dari belenggu kemiskinan dan tetap berlandaskan pada pertanian maka distribusi tanah kepada rakyat menjadi agenda utama dalam kebijakan agrarian atau pertanahan” harap Hamzah Libya. Tanah diredistribusikan kepada kaum tidak bertanah sehingga kemungkinan penyediaan pangan sendiri lebih meningkat.
Dalam konteks struktur reformasi agraria perlu mendapat beberapa hal terutama jika ingin belajar dari Negara lain, terutama di Negara latin. Kerangka kerja reformasi agraria di Indonesia mesti mengacu pada UU No.5 tahun 1960. UUPA sebagai dasar legal pembaruan agraria. Kendati masihperlu pengkajian ulang kebijakan agraria dan pengelolaan sumber daya alam. Penyempurnaan UUPA perlu dilakukan melalui format amandemen. Atas dasar hasil kaji ulang dan amandemen UUPA maka masalah keagrariaan dapat diatasi dengan dasar hukum yang kuat, komprehensif, adil, danberkelanjutan. Beberapa mandat tentang reforma agraria telah lama dikeluarkan seperti Ketetapan MPR No IX tahun 2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang dikukuhkan TAP MPR No. I tahun 2003, dan ditegaskan dalam TAP MPR No.V tahun 2003.
Jalan Panjang Menuju Keadilan Agraria
Memiliki sejengkal tanah menjadi mimpi buruh tani yang miskin. Namun hal tersebut terasa berat. Pembagian tanah yang adil menjadi tugas penguasa. Penyebab utama terjadinya ketimpangan dalam struktur agraria adalah adanya hubungan produksi yang tidak seimbang dan bersifat dominan antar orang atau kelompok tertentu. Bentuk hubungan produksi yang tidak seimbang ini dapat terjadi dalam berbagai tingkat kehidupan bermasyarakat. Bentuk hubungan ini menciptakan hukum dan birokrasi untuk melanggengkan terjadinya ketimpangan struktur agraria.
Hak atas kepemilikan (the right to property) bisa menjadi jaminan dan dasar keberhakan melalui dua cara. Pertama, pemilikan tanah memungkinkan untuk mengolah beberapa produk pangan yang diperlukan oleh sipenanam dan keluarganya. Kedua, pemilikan asset produktif memungkinkan menghasilkan komoditi yang bisa ditukar dengan barang-barang yang diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Karena itu hak untuk bekerja menjadi elemen penting dalam menjamin keberhakan.
Reforma agraria dikatakan sebagai jalan redistribusi tanah yang adil. “ Reforma agraria merupakan jawaban logis dari berbagai masalah struktur social agraria di masyarakat manapun” ungkap Kurniawan Sabar salah satu aktivis FMN (Front Mahasiswa Nasional) “. Sepanjang sejarah agraria , kelas-kelas penguasa mengambil kekuasaan atas sumber daya ekonomi yangpaling pokok. Kelas feodal menguasai tanah untuk menimbun kekayaan dan kejayaan bagi dirinya sendiri.
Dalam pandangan Sardi rasak, pelaksanaan reforma agrarian harus tetap mengacu pada kondisi social budaya daerahnya. “ Sulawesi dan Jawa berbeda, jadi pelaksanaannya tidak bisa disamakan. Di Jawa tanah sejengkal bisa jadi bahan perkelahian, sedangkan di Sulawesi kehilangan tanah 1 hektar tak jadi masalah” .
“ Untuk mencapai keadilan agraria di Sulawesi haruslah menghilangkan jejak –jejak feodalisme yang masih kental. Keadilan agraria bukan pekerjaan mudah . masyarakat kita masyarakat yang masih menurut pada sisa-sisa feodal. Ini masalah yang harus kita tuntaskan”. Tambah Sardi Razak.
Reforma agraria pada akhirnya membutuhkan konteks yang jelas dan kongkrit untuk keberlangsungan pengembangan suatu wilayah. Untuk konteks Sulawesi menurut Hamzah Libya harus memperhatikan penguatan kapasitas organisasi rakyat . Dalam hal ini organisasi rakyat mestilah ditempatkan sebagai motor utama. Elemen lainnya seperti LSM, akademisi, jurnalis, mahasiswa sebaiknya mengambil peranan sebagai fasilitator untuk memperkuat posisi rakyat.
Hanya saja menurut Zulkarnaen Yusuf , dari berbagai bentuk fasilitasi yang dilakukan tersebut haruslah menyentuh subtansi pendidikan kritis sehingga rakyat kecil sampai pada kesadaran akan haknya atas sumber-sumber agraria.
(tulisan ini telah dipublikasikan pada Buletin Paralegal LBH Makassar tahun 2008)
Belajar dari Moel
Ke Barrang lompo, tidak sendirian tentunya. Perjalanan pertama menyusuri pulau di wilayah Makassar. Pulau yang kubentuk pada pikiranku jauh berbeda dengan realitas yang kudapatkan. Namun, itu tak penting. Seharusnya 7 orang berangkat bersamaan pagi itu menumpang sebuah kapal besar milik H.Dahri. Novita sari namanya.
Kapal berangkat dari Makassar setiap pukul 11.00, tidak akan menunggu lama, karena setelah itu ombak akan tinggi dan angin timur akan mulai mengganas. Sejam dalam perjalanan, kuhabiskan dengan melelapkan mata. Dermaga Barrang lompo sangat ramai. Banyak orang telah menunggu kapal. Mungkin menunggu pesanan, atau orang-orang yang mereka cintai.
Barrang Lompo merupakan bagian dari Makassar, beberapa kawan mengistilahkan pulau ini sebagai sebuah metropolis kecil. Tanah menjadi barang langka,dan menjadi hal paling mahal. hampir tak ada ruang kosong. Penduduknya pun lebih dari satu etnis.
Barrang lompo seperti kota kecil yang sangat ramai, penduduknya sangat padat. Kumulai sore dengan mengelilingi kota kecil itu, bersama teman kecilku Ija.
Pagi kedua di Barrang Lompo, melewati beberapa menit di dermaga usai mengantar beberapa kawan yang akan kembali ke Makassar hari itu. Pertemuan selalu menyenangkan, namun pada akhirnya kita akan berpisah. Dan pada waktunya nanti kita betul-betul akan pergi, meninggalkan dunia.
Kapal terakhir telah bergerak meninggalkan dermaga. Dua anak kecil berdiri disudut dermaga. Aku mendekat, hendak mengambil gambarnya. Bocah itu mungkin bermimpi suatu hari iapun akan pergi melihat kota.
Salah satu bocah itu menangis. Mungkin mereka bertengkar,pikirku. Air matanya tambah deras. Bajunya ditarik untuk mengelap ingus. Aku mendekati mereka. Membujuknya agar berhenti menangis. Bocah laki-laki dengan tatapan nanar tak bersemangat. Ibunya mungkin diantara orang-orang yang akan beranjak meninggalkan pulau.
Aku bertanya pada temannya.
“ ada kakaknya dikapal itu” temannya menunjuk salah satu kapal yang telah berlalu. Beberapa bocah memang naik ke kapal itu. Mungkin salah satu diantara mereka adalah kakaknya.
“pergimi kakakku, hilangki nanti dikota. Tidak ada natemani. Tidak ada uangnya juga” ia bicara dengan tersendak-sendak.
Moel namanya. Bocah laki-laki berusia 9 tahun yang kutemukan di dermaga. Ia memberiku pelajaran berharga. Tentang cinta dan kesederhanaannya.
Moel hidup berdua dengan kakaknya. Ibunya telah meninggal dunia, sedang bapaknya pergi ntah kemana. Dari teman kecilku Khadijah, ia bercerita tentang Moel. Moel dan kakaknya tinggal bersama tantenya. Setiap pagi dua bersaudara itu akan keliling pulau menjajakan songkola dan penganan lainnya. Setelah itu mereka akan berangkat sekolah. Moel duduk di kelas II SD. Pulang sekolah mereka kembali keliling pulau mencari plastik-plastik bekas dan hasilnya mereka jual ke pengepul.
Pernah saya merasakan hal yang sama. Menangis di pelabuhan. Tak hanya sekali. Berpisah adalah hal berat yang sering terjadi, namun harus kita lalui. Dulu, saya harus melepas kakakku berangkat kerja di Kalimantan. Dan saya tak kuasa mengantar kepergiaanya, berharap akan ada kesempatan untuk melihatnya kembali.
Setiap orang selalu mempunyai cara untuk mengungkapkan cintanya, tak pernah sekalipun kusenandungkan lewat kata, bagaimana kecintaan itu pada mereka. Tak harus, dan aku tak perlu mengatakannya, seperti Moel yang mengurai cintanya lewat tangis. Kuurai cinta itu tanpa sepatah kata.
Kapal berangkat dari Makassar setiap pukul 11.00, tidak akan menunggu lama, karena setelah itu ombak akan tinggi dan angin timur akan mulai mengganas. Sejam dalam perjalanan, kuhabiskan dengan melelapkan mata. Dermaga Barrang lompo sangat ramai. Banyak orang telah menunggu kapal. Mungkin menunggu pesanan, atau orang-orang yang mereka cintai.
Barrang Lompo merupakan bagian dari Makassar, beberapa kawan mengistilahkan pulau ini sebagai sebuah metropolis kecil. Tanah menjadi barang langka,dan menjadi hal paling mahal. hampir tak ada ruang kosong. Penduduknya pun lebih dari satu etnis.
Barrang lompo seperti kota kecil yang sangat ramai, penduduknya sangat padat. Kumulai sore dengan mengelilingi kota kecil itu, bersama teman kecilku Ija.
Pagi kedua di Barrang Lompo, melewati beberapa menit di dermaga usai mengantar beberapa kawan yang akan kembali ke Makassar hari itu. Pertemuan selalu menyenangkan, namun pada akhirnya kita akan berpisah. Dan pada waktunya nanti kita betul-betul akan pergi, meninggalkan dunia.
Kapal terakhir telah bergerak meninggalkan dermaga. Dua anak kecil berdiri disudut dermaga. Aku mendekat, hendak mengambil gambarnya. Bocah itu mungkin bermimpi suatu hari iapun akan pergi melihat kota.
Salah satu bocah itu menangis. Mungkin mereka bertengkar,pikirku. Air matanya tambah deras. Bajunya ditarik untuk mengelap ingus. Aku mendekati mereka. Membujuknya agar berhenti menangis. Bocah laki-laki dengan tatapan nanar tak bersemangat. Ibunya mungkin diantara orang-orang yang akan beranjak meninggalkan pulau.
Aku bertanya pada temannya.
“ ada kakaknya dikapal itu” temannya menunjuk salah satu kapal yang telah berlalu. Beberapa bocah memang naik ke kapal itu. Mungkin salah satu diantara mereka adalah kakaknya.
“pergimi kakakku, hilangki nanti dikota. Tidak ada natemani. Tidak ada uangnya juga” ia bicara dengan tersendak-sendak.
Moel namanya. Bocah laki-laki berusia 9 tahun yang kutemukan di dermaga. Ia memberiku pelajaran berharga. Tentang cinta dan kesederhanaannya.
Moel hidup berdua dengan kakaknya. Ibunya telah meninggal dunia, sedang bapaknya pergi ntah kemana. Dari teman kecilku Khadijah, ia bercerita tentang Moel. Moel dan kakaknya tinggal bersama tantenya. Setiap pagi dua bersaudara itu akan keliling pulau menjajakan songkola dan penganan lainnya. Setelah itu mereka akan berangkat sekolah. Moel duduk di kelas II SD. Pulang sekolah mereka kembali keliling pulau mencari plastik-plastik bekas dan hasilnya mereka jual ke pengepul.
Pernah saya merasakan hal yang sama. Menangis di pelabuhan. Tak hanya sekali. Berpisah adalah hal berat yang sering terjadi, namun harus kita lalui. Dulu, saya harus melepas kakakku berangkat kerja di Kalimantan. Dan saya tak kuasa mengantar kepergiaanya, berharap akan ada kesempatan untuk melihatnya kembali.
Setiap orang selalu mempunyai cara untuk mengungkapkan cintanya, tak pernah sekalipun kusenandungkan lewat kata, bagaimana kecintaan itu pada mereka. Tak harus, dan aku tak perlu mengatakannya, seperti Moel yang mengurai cintanya lewat tangis. Kuurai cinta itu tanpa sepatah kata.
Saturday, January 3, 2009
2009
Tak terasa, ini tahun keenam aq di makazzar. wajar kalo ibu mulai protes aq belum sarjana. kemarin di pete-pete aq dengar radio "medica" ntah apa nama acaranya, tapi yang nyiar sibuk baca sms pendengarnya. emh...harapan mereka di 2009. ada yang berharap korupsi di Indonesia ga ada lagi, BBM akan turun, dan beberapa orang berharap demo mahasiswa yang berakhir chaos dengan polisi tak ada lagi. sebagian menyalahkan mahasiswa. hal serupa ada di kontak sms koran lokal.
iya...sejak 2004 isu BHP telah ada. Upaya penghancuran pendidikan. pemerintah seenaknya bisa lepas tangan kalo PTN jadi BHP. Ada orang-orang yang setuju dengan BHP, mungkin mereka kalangan elit, yang ga pusing masalah uang. buat yang tolak,tentu ada alasan.seperti aq yang ga' mampu. emang SPPku ga akan naik kalo UNHAS jadi BHP, tapi ada adik-adikku yang ga bisa kuliah lagi.
siapa yang salah kalo mahasiswa turun aksi hingga harus bentrok. (buat yang menyalahkan mahasiswa) pernah mikir ga' tujuan mereka aksi. Mahasiswa tetap pada tugas mereka. hal yang bodoh untuk turun ke jalan (aksi) kehujanan dan kepanasan, kalo ga ada yang membuat resah. kalo negara ini berjalan baik-baik saja, buat apa turun kejalan?
harusnya bertanya pada pemerintah, apa yang telah mereka perbuat hingga mahasiswa resah...(bukankah ada yang tidak beres)
di Tahun 2009 aku berharap BHP digagalkan, akan ada pendidikan gratis untuk semua.
aku berharap tak ada lagi yang sakit karena tak punya kartu Jamkesmas, dan tak mendapat pelayanan yang memanusiakan mereka.
Aku berharap esok Indonesia lebih baik...
Aku berharap semoga cepat dapat gelar "SKM"
iya...sejak 2004 isu BHP telah ada. Upaya penghancuran pendidikan. pemerintah seenaknya bisa lepas tangan kalo PTN jadi BHP. Ada orang-orang yang setuju dengan BHP, mungkin mereka kalangan elit, yang ga pusing masalah uang. buat yang tolak,tentu ada alasan.seperti aq yang ga' mampu. emang SPPku ga akan naik kalo UNHAS jadi BHP, tapi ada adik-adikku yang ga bisa kuliah lagi.
siapa yang salah kalo mahasiswa turun aksi hingga harus bentrok. (buat yang menyalahkan mahasiswa) pernah mikir ga' tujuan mereka aksi. Mahasiswa tetap pada tugas mereka. hal yang bodoh untuk turun ke jalan (aksi) kehujanan dan kepanasan, kalo ga ada yang membuat resah. kalo negara ini berjalan baik-baik saja, buat apa turun kejalan?
harusnya bertanya pada pemerintah, apa yang telah mereka perbuat hingga mahasiswa resah...(bukankah ada yang tidak beres)
di Tahun 2009 aku berharap BHP digagalkan, akan ada pendidikan gratis untuk semua.
aku berharap tak ada lagi yang sakit karena tak punya kartu Jamkesmas, dan tak mendapat pelayanan yang memanusiakan mereka.
Aku berharap esok Indonesia lebih baik...
Aku berharap semoga cepat dapat gelar "SKM"
Friday, December 26, 2008
kesehatan gratis
lama tak ke Kassi-kassi, walau nampak mendung rabu kemarin aku menemani seorang kawan berkunjung ke tempat itu. awal tahun depan putusan kasus Kassi-kassi akan keluar. ntah siapa pemenangnya, tapi itu akan membuktikan bagaimana keberpihakan pemerintah dan seberapa lemah proses peradilan di negeri ini.
masyarakat menyambut gembira, di pinggir jalan yang telah ditimbuni kami bercerita. seorang bapak bercerita tentang warga di kampung itu yang habis melewati persalinannya. katanya mereka diminta puskesmas membayar biaya persalinannya. 260ribu, jumlah yang tak sedikit buat keluarga itu. "suaminya hanya tukang becak"ujar bapak itu, aku tak sempat menanyakan namanya.
nada penyesalan telah memilih pada pemilu kemarin terdengar. "katanya kesehatan dan pendidikan gratis, tapi buktinya masih bayar"
Dalam pasal 34 pada ayat 1 menyatakan bahwa "fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara" dan pada ayat 3 "negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang layak". juga telah ada perda tentang JAMKESDA. aku juga tak mengerti kenapa pihak puskesmas harus meminta bayaran dari pasien, padahal tinggal mengajukan jumlah biaya ke pemda.
masyarakat miskin adalah masyarakat yang tak berpendidikan, sehingga seringkali harus dibodoh-bodohi oleh sistem yang ada. seingatku, puskesmas di wilayah makassar telah di gratiskan sejak beberapa tahun lalu. ntahlah kesalahan ini harus dilimpahkan kemana, masyarakat yang jadi korban atau oknum atau pada pemerintah???
masyarakat menyambut gembira, di pinggir jalan yang telah ditimbuni kami bercerita. seorang bapak bercerita tentang warga di kampung itu yang habis melewati persalinannya. katanya mereka diminta puskesmas membayar biaya persalinannya. 260ribu, jumlah yang tak sedikit buat keluarga itu. "suaminya hanya tukang becak"ujar bapak itu, aku tak sempat menanyakan namanya.
nada penyesalan telah memilih pada pemilu kemarin terdengar. "katanya kesehatan dan pendidikan gratis, tapi buktinya masih bayar"
Dalam pasal 34 pada ayat 1 menyatakan bahwa "fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara" dan pada ayat 3 "negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang layak". juga telah ada perda tentang JAMKESDA. aku juga tak mengerti kenapa pihak puskesmas harus meminta bayaran dari pasien, padahal tinggal mengajukan jumlah biaya ke pemda.
masyarakat miskin adalah masyarakat yang tak berpendidikan, sehingga seringkali harus dibodoh-bodohi oleh sistem yang ada. seingatku, puskesmas di wilayah makassar telah di gratiskan sejak beberapa tahun lalu. ntahlah kesalahan ini harus dilimpahkan kemana, masyarakat yang jadi korban atau oknum atau pada pemerintah???
lelah...
masuk di unhas katanya susah banget, tapi ternyata lebih susah keluarnya...
padahal biaya pendidikan semakin mahal. Kemarin RUU BHP telah disahkan,ntah apa landasan anggota Dewan yang (katanya)terhormat. aku tida habis pikir, gimana mungkin anggota dewan bisa membuat peraturan yang tumpang tindih.anak muda Indonesia mempunyai hak mendapatkan pendidikan yang layak, dan pemerintah yang harus menyediakannya, tapi pendidikan telah dikomersilkan.
sebulan lebih proposalku mendekam di file komputer,selalu saja ada masalah. komputer, print, hingga dana yang selalu minim. ahh...rasanya ingin istirahat dari segala aktifitas, pulang kampung dan terlelap dalam buaian bunda.
aku tau itu tak akan menyelesaikan masalah. tapi aku sangat lelah...
padahal biaya pendidikan semakin mahal. Kemarin RUU BHP telah disahkan,ntah apa landasan anggota Dewan yang (katanya)terhormat. aku tida habis pikir, gimana mungkin anggota dewan bisa membuat peraturan yang tumpang tindih.anak muda Indonesia mempunyai hak mendapatkan pendidikan yang layak, dan pemerintah yang harus menyediakannya, tapi pendidikan telah dikomersilkan.
sebulan lebih proposalku mendekam di file komputer,selalu saja ada masalah. komputer, print, hingga dana yang selalu minim. ahh...rasanya ingin istirahat dari segala aktifitas, pulang kampung dan terlelap dalam buaian bunda.
aku tau itu tak akan menyelesaikan masalah. tapi aku sangat lelah...
Thursday, December 4, 2008
BBM sejak awal desember dah turun, tapi siapapun tau itu ga' ada pengaruh apa-apanya buat rakyat miskin. harga barang-barang masih sama dan mungkin bertambah. harga solar dan minyak tanah juga masih sama.
malah BBM jadi langka, dan masyarakat semakin tersiksa.
penurunannya emang politis kok, menenangkan masyarakat...
malah BBM jadi langka, dan masyarakat semakin tersiksa.
penurunannya emang politis kok, menenangkan masyarakat...
Subscribe to:
Posts (Atom)