Saturday, July 14, 2012

HIV AIDS


Aku mengenal mereka. Belum terlalu lama. Menulis cerita ini rasanya sangat berat. Hal pertama aku tak mendengar cerita ini langsung dari mereka. Aku takut salah, tapi jika aku salah, itu akan menjadi rasa syukur yang sangat besar. Kedua, hal ini terlalu sensitive, aku tak hendak melukai siapapun.
Keluarga dengan enam orang anak yang usianya tak terpaut jauh. Aku salah, belum melakukan apa-apa. Masih bingung mencari jalan yan tepat agar mereka mau brcerita padaku. tapi biarlah aku menulis ini, paling tidak membuatku lega dan bisa bernafas.
Yang bungsu menderita AIDS. Saya mendengarnya dari teman.  Beberapa kali mendiskusikannya. Tapi belum ada hasil, bagaimana pendekatan yang dilakukan agar mereka mau berbagi cerita. Tapi, aku belajar. Merasakan kehidupan mereka, berpikir bagaimana kerasnya hidup yang dijalani.
Keluarga urban yang berasal dari desa. Ada banyak di Makassar, tersebar diberbagai tempat. Tanpa tanah dan rumah yang layak huni, sedang disamping tempat mereka berdiri gedung-gedung bertingkat milik orang kaya. Keluarga yang mendapat hasil dari memungut botol-botol bekas minuman orang-orang berduit.
Ada banyak kita temui di Makassar. Pertama mendengar aku sangat shock, tentu saja. Siapapun yang mendengarnya pasti akan melakukan hal yang sama.
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) sebuah penyakit yang menyerang system kekebalan kita setelah terjangkiti virus HIV dalam rentan waktu cukup lama. Lima hingga sepuluh tahun, atau mungkin juga lebih. Penyakit yang hingga hari ini belum ditemukan obatnya. Mungkin harus makan jintan hitam. Saya ingat pada salah satu bagian merk dari obat herbal yang kadang saya konsumsi itu, ada hadist tertulis. Obat bagi seluruh penyakit kecuali kematian.  Mungkin bisa menyembuhkan sakit ini.
Keluarga yang cukup besar. Pernah saya berpikir, kenapa orang tuanya tak menghentikan proses reproduksinya setelah mengetahui penyakit itu. Tapi, mereka bukan orang kaya yang bisa melakukan chek up rutin tiap bulan untuk mendeteksi penyakit mereka. Mereka tak mungkin berkunjung ke pelayanan kesehatan, seperti yang saya lakukan beberapa bulan lalu. Bukankah pelayanan kesehatan tak pernah berpihak pada orang miskin. Kesehatan selalu menjual jasa, dan siapa yang akan mampu membelinya.
Ini pelajaran penting. Bagaimana kenakalan itu bisa menjadi bencana buat keluarga kita. Dengar cerita, dulu ayahnya nakal. Menghabiskan banyak waktu bersama yang lain. Melakukan hubungan tanpa pengaman. Tanpa menyadari resiko yang akan muncul. Ia menularkan penyakit itu ke istrinya lalu ke anak-anaknya. Untung anak pertama mereka lolos. Menjadi satu-satunya yang tak positive, dan suatu hari mungkin akan menjadi satu-satunya penopang.
Beberapa hari lalu aku menangis mengingat hal ini. Membayangkan bocah kecil tak berdosa harus menanggung derita. Semua orang akan mati, dan kita tak pernah tahu seberapa lama umur kita. Tapi ini bukan hanya hidup dan mati. AIDS bukan penyakit yang bisa menular lewat udara. Virus HIV tak bisa bertahan lama di udara terbuka. Penularannya lewat darah, lewat ASI, dan juga lewat cairan vagina atau sperma. Bisa jadi juga lewat jarum suntik atau transfusi darah. Untuk anak-anaknya hal yang palin mungkin adalah lewat ASI. Atau mungkin sejak dalam kandungan.
Penderita AIDS tidak boleh dikucilkan, karena tak akan membuat sekelilingnya tertular dengan mudah. Lingkungan tempat tinggal mereka mengetahui penyakit itu. Mereka menerima hak tersebut. Mereka memberi ruang untuk tinggal bersama. Sementara kita orang-orang yang berada di luar selalu jijik dan tak berempati. Kita tak pernah peduli pada apa yang terjadi disekeliling kita.  

Friday, July 13, 2012

Mubes Serikat Tani Polongbangkeng (4)


Musyawarah Besar II Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar
“Perkuat Organisasi, Gelorakan Perjuangan, Gapai cita-cita Kesejahteraan Kaum Tani”
Musyawarah besar bukan hal yang baru. Mahasiswa yang aktif berorganisasi pasti pernah merasakan yang namanya Mubes. Bagaimana dengan Petani?
Petani bukan lagi masyarakat yang hanya mengenal cangkul dan sabit. Berangkat subuh buta dan pulang menjelang sore. Petani pun telah mengorganisir dirinya.
“Organisasi didirikan dalam konflik antara PTPN XIV dengan masyarakat Polongbangkeng. Konflik ini adalah persoalan kepemilikan tanah yasng telah dikelola oleh PTPN XIV Pabrik gula takalar ” Ujar Ahmad Dg.Arsyad.
Petani Polongbangkeng mengadakan Musyawarah Besar II sejak tanggal 9 hingga 10 juli 2012. Organisasi yang menamakan dirinya Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar ini terbentuk sejak Musyawarah besar pertama yang diadakan 30 oktober hingga 1 November 2009 di Benteng Somba Opu.  Anggota yang telah terdaftar secara administrasi 463 orang dengan system keanggotaan individu.
STP terbentuk setelah perjalanan panjang dalam memperjuangkan hak petani merebut kembali tanahnya yang dirampas PTPN XIV. Tanah yang telah didiami sejak tahun 40an oleh PTPN XIV dijadikan perkebunan. 4.000 ha tanah petani diubah menjadi kebun tebu. Berbagai upaya terror, intimidasi dilakukan untuk mengambil lahan petani.
Mubes dilaksanakan sebagai upaya memperkuat organisasi. Enam desa telah merapikan diri dan menjadi Ranting dan Badan Persiapan Ranting. Ranting Timbuseng, Ranting Ko’mara, Ranting barugaya, Badan Persiapan Ranting Kampung Beru, Massamaturu dan Parang luara. Bersatu membangun organisasi untuk merebut hak yang telah dirampas.
“Berorganisasi adalah alat. Mengambil tanah meski tanah masyarakat kalau diambis individu tidak akan bisa dilakukan. Seluruh rakyat di Indonesia harus memperkuat organisasi “ tegas Ali DPP AGRA  yang juga ikut pada pelaksanaan MUBES II STP Takalar.
Untuk kelancaran MUBES peserta penuh yang ikut adalah pimpinan Ranting dan Badan Persiapan Ranting dari enam desa. Sedangkan untuk peninjau berasal dari Anggota dan beberapa jaringan STP. Ada Ahmad SH dari Eksekutif WALHI Nasional, Ali dari DPP AGRA, WALHI Sulsel, AGRA Bulukumba, AJI Makassar, Jurnal Celebes, AMAN Sulsel dan beberapa mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Sayangnya, undangan dari pemerintah tidak ada yang datang sehingga anggota STP sangat kecewa.
Hari pertama dan kedua MUBES berjalan lancar. Pimpinan sidang terpilih terdiri atas lima orang, Dg.Nyaling, Dg.Mone, Dg.Sijaya, Dg.Tonji dan Dg.Imba. secara bergantian memimpin persidangan. Persidangan yang diadakan dibawah tenda halaman rumah Dg.Ila cukup terbuka. Antusias anggota sangat terlihat. Laki-laki dan perempuan datang dan menyaksikan jalannya MUBES. Mereka tak segan-segan untuk bertanya. Bahasa Makassar dan Indonesia bercampur dan tak menjadi penghalang.
Kepemimpinan dalam Serikat Tani Polongbangkeng sangat berbeda dibanding organisasi tani lainnya. Kepemimpinan tidak terpusat pada satu orang. Ada Sembilan pimpinan yang terpilih. Mewakili setiap ranting dan badan persiapan ranting. Diakhir Musyawarah besar terpilih M. Asryad dg.Nyampa, Idris Dg.Nyali, Rusli Dg.Imba, Abd.Hamid Dg.Mone, Dg. Tonji, Zainuddin Dg.Tutu, Rahman Dg.Sijaya, Sudirman Dg.Buang, dan Mammi Dg.Liwang.
sebelum menutup MUBES II STP Takalar pimpinan sidang memberi kesempatan kepada anggota untuk berbicara. bergantian peserta bercerita tentang perjuangan mereka dan semangat yang tak pernah padam untuk merebut tanah mereka.
Bersatulah Kaum Tani Takalar..!!! Bangkit, Bergerak, Berorganisasi..!!!
Jayalah Kaum Tani..!!!

Sunday, July 8, 2012

Mubes Serikat Tani Polongbangkeng (3)


Sejarah Perjuangan Serikat Tani Polongbangkeng
Tinggal dua hari Musyawarah besar II Serikat Tani Polongbangkeng akan dimulai. Aku terlambat berangkat. Beberapa kawan telah duluan kesana. Mempersiapkan kelengkapan Mubes II Serikat Tani Polongbangkeng. Sabtu malam aku berangkat. Berada ditengah petani adalah hal terbaik untuk mengembalikan semangat. Ibu-ibu dengan ribuan semangat juang. Wajah-wajah tua yang seharusnya istirahat di rumah, namun selalu penuh semangat memperjuangkan tanah. Tanah mereka di rampas PTPN XIV sejak puluhan tahun lalu, jauh sebelum aku lahir.
Aku akan sedikit bercerita tentang Sejarah perjuangan rakyat Polongbangkeng. Harusnya diceritakan sejak awal. Tapi sebenarnya tidak juga, sejak tahun 2009 bersama beberapa lembaga dan individu telah berada disana.
Sejak tahun 1942 rakyat Polongbangkeng telah mendiami tanah-tanah yang ada disana. Mereka menggarap,dan mengolah tanah sejak dulu. Bahkan ditahun 1980 mereka telah mendapatkan surat pengakuan hak dari pemerintah. Rakyat Polongbangkeng mayoritas petani, yang hidup dari tanah nenek moyang mereka.
Ah, cerita sejarah akan ada banyak angka yang kita lihat. Di tahun 1974 mulai tersebar informasi akan adanya rencana untuk membangun perkebunan di Polongbangkeng. Perkebunan tebu. Isu ini tersebar di masyarakat.  Tak butuh waktu lama, empat tahun setelah itu di tahun 1978 sebuah surat lahir dari Bupati Takalar. SK pemberian izin kepada PT Madu Baru untuk melaksanakan rencana pembangunan perkebunan. Pada saat yang pula ditetapkan adanya pemberian ganti rugi Rp. 10,-/ meter persegi. Ini keputusan sepihak yang dikeluarkan pemerintah. Masyarakat menolak dan tetap menggarap lahan mereka. Berbagai upayapun dilakukan untuk mewujudkan perkebunan tebu tersebut. Berbagai intimidasi telah diterima rakyat Polongbangkeng, namun itu tidak menyurutkan perjuangan mereka.
Pada tahun 1980 PT. Madu Baru mengundurkan diri, selanjutnya perkebunan tebu tersebut diambil alih oleh PTPN XIV. Bentuk intimidasi tetap terjadi. Upaya penolakan masyarakat tetap terjadi. Ganti rugi sebesar Rp.60,- permeter persegi kembali ditolak masyarakat. Akhirnya PTPN XIV mengumumkan bahwa uang ganti rugi yang diberikan itu sebagai biaya sewa tanah selama 30 tahun. Akhirnya masyarakat menerima dengan paksa.
Beberapa peristiwa berdarah telah terjadi. Telah ada beberapa nyawa yang harus hilang karena konflik PTPN XIV. Di tahun 2008 terjadi insiden Pakkawa, dua orang kena tembak dan beberapa lainnya terluka. Penangkapan pun terus terjadi. Pada 15 juli 2009 kembali terjadi insiden. 2 orang petani harus ditahan di Polres Takalar. Rakyat Polongbangkeng cemas dan mencekam.
Pada tahun yang sama setelah beberapa organisasi mendampingi rakyat Polongbangkeng. Mahasiswa, LBH Makassar, WALHI Sulsel dan beberapa organisasi lainnya. Atas kesadaran rakyat menyatukan diri mereka dalam sebuah organisasi yang diberi nama Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar. STP dibentuk pada Mubes I di benteng Somba Opu pada tanggal 30 Oktober- 1 November 2009.
Organisasi ini terus berjuang hingga saat ini. Telah ada kurang lebih 400 anggota yang bergabung didalamnya. Sebagian tanahpun telah kembali ditangan. Reclaiming bukan sekali dilakukan. Ada ratusan hektar tanah yang telah di Tanami bahkan dinikmati hasilnya.
Tiga tahun lalu, kadang khawatir dan takut ketika memasuki kampong ini. Brimob bisa kita temui di sepanjang jalan. Berjaga-jaga dengan senapan yang terselempang di lengan. Beberapa kawan telah kena pukulan bahkan pernah ditahan aparat hukum.

Mubes Serikat Tani Polongbangkeng Takalar (2)

Dapat tugas lagi. Ke Polongbangkeng tentunya. Ini perjalanan kedua untuk persiapan Mubes STP. Agendanya membagi dua kelompok yang sudah ada. Kali ini kami bertugas di desa Barugaya. Ketua Chivas yang mempunyai seribu nama tak dapat hadir malam ini. Ada screening di kampus orange. Dia jadi steering.  Satu-satunya masalah buatku untuk setiap perjalanan yang menyenangkan adalah setelah bulan ke enam aku masih saja tak bisa mengendarai motor. Harus diantar kemana-mana. Rumah hijau sedang sepi. Aku berangkat sama Budi. Agak telat, tadi aku bertemu dengan teman-teman HIMAJI di Sekolah KAMI.
Kami singgah dulu di rumah Bapak Ila. Orang tua baik hati itu sangat kelelahan. Namun, ditangannya masih ada berkas formulir anggota STP. Ia sedang membenahinya. Bapak Ila bertugas sebagai sekretaris. Beliau memang cukup telaten, dan satu lagi sangat tenang.
Dingin Polongbangkeng membuat mata tak bisa bertahan lama terbuka. Sirat kantuk Nampak dari wajah Bapak Ila. Katanya ia sudah menghubungi Dg.Toro untuk menemani kami ke Desa Barugaya.
Desa itu masih jauh ke dalam, butuh waktu 10 menit untuk sampai kesana. Malam belum terlalu larut, kampung malam itu sangat ramai. Ada pesta pengantin dengan music electon penghibur. Warga yang jarang mendapat hiburan keluar dan menikmatinya. Mereka rela berjalan kaki untuk menyaksikan pesta tersebut.
Sudah dua kali Dg. Imba menelpon. Warga sudah berkumpul di rumahnya. Takut mereka pulang karena kelamaan menunggu. Ini salahku, tak memperkirakan waktu dengan cukup baik.
Sampai disana telah banyak orang yang berkumpul. Suara Dg. Imba terdengar jelas. Ia sedang menjelaskan tentang reforma agraria yang sedang diusung oleh BPN Nasional. Beritanya ada di koran Kompas. Ia sedang menjelaskan isi berita itu. BPN akan melakukan pengukuran terhadap tanah-tanah Negara, dan melakukan pendataan terhadap masyarakat yang tak punya tanah.
Telah ada tiga kelompok di Desa Barugaya. Satu kelompok beranggotakan 30 orang. Ada satu kelompok berjumlah 34 anggota, dan kelompok terakhir ada 28 anggota. Untuk menjadi ranting harus ada 5 kelompok yang terbentuk. Kalau kurang dari lima masih berupa badan persiapan ranting.
Pembagian kelompok di serahkan ke Dg.Imba. untuk membagi dua kelompok yang telah ada harus dilaksanakan sendiri. Pembentukan kelompok itu biasa berdasarkan kedekatan, sehingga Aku dan Budi tak bisa melakukan pembagian kelompok itu.
Untuk setiap kelompok dipilih ketua, sekretaris dan bendahara. Struktur ini dipilih sendiri oleh anggota kelompok. Setelah kelompok terbentuk, selanjutnya memilih pimpinan ranting. Mekanisme pemilihan ini telah diatur. Setiap kelompok memilih dua orang anggotanya yang akan masuk pada struktur ranting. Akan ada sepuluh pimpinan yang terpilih, namun untuk membuatnya jadi ganjil maka pimpinan tersebut harus ditambah satu orang lagi. Satu orang ini dipilih oleh pimpinan yang telah ada. Hasil keputusan Bersama Dg. Imba menjadi kordinator pimpinan kolektif ranting Barugaya.
Pukul 23.00 pertemuan itu selesai. Untuk kelengkapan administrasi dan penambahan anggota baru harus diselesaikan sebelum Mubes Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar yang dilaksanakan pada 9-10 juli 2012 nanti.

Friday, July 6, 2012

LELAKI YANG (tak) MENCINTAIKU


Praak… tamparan itu terus menghantuiku. Mengganggu tidurku. Aku memilih untuk tidak pacaran, jika hanya untuk mendapat tamparan itu. Laki-laki itu melukaiku semalam. Lebih dari luka memar di pipi kananku.  Tamparan pertama yang kudapat, justru dari laki-laki yang (tak) menyayangiku.  Ah… benarkah ia menyayangiku setelah semua yang dilakukannya padaku. Setelah semua malam yang kami habiskan bersama. Tahun ketujuh yang kuhabiskan bersamanya. Seiring waktu, di penghujung studiku. Ia telah menemaniku sejak awal, dan tak sekalipun ia pernah melayangkan tangannya padaku, termasuk menghadiahiku dengan kata-kata kotor.
Pukul tiga dini hari, ditemani kokok ayam. Ia meninggalkanku, dan aku tak mau kalah. Aku meninggalkan kosan itu. Aku punya banyak teman di Makassar. Pasti ada satu yang mau menerima tamu dini hari. Pagi masih lama, dan aku tak bisa menunggu hingga mentari menghangatkan pagiku. Hatiku masih beku, dingin dan kaku. Matahari atau apapun di dunia ini, tak akan mampu mencairkannya.
Rumah sahabatku, rumah yang selalu terbuka untuk siapapun yang pulang malam dan tak menemukan tempat untuk merebahkan kepala.  Aku membawa motorku kesana, tanpa pelindung sedikitpun. Dinginnya malam tak lagi kurasa, amarah telah mendekam dalam dada.  Memanaskan malam. Untung jalanan sangat sepi. Aku bisa lebih cepat sampai kesana. Sahabatku telah terlelap, walau rumahnya tak terkunci, seperti tahu aku datang malam ini.
Sahabatku telah lelap bersama mimpinya. Namun, ia akhirnya terbangun dan membukakan pintu kamarnya untukku. Ia memegang tanganku yang dingin hingga ke tulang-tulang. Ia menatapku dengan tatapan sayu penuh tanya.
“ katanya sakit, kenapa keluyuran jam segini?” ada nada protes pada ucapannya.
“sakitku lebih dari sakit fisik yang kurasakan. Saya bertengkar dengannya”
Sahabatku berjuang agar matanya tak terkatup, dan mendengar cerita-ceritaku. Ia hanya diam. Tak hendak bersuara, ia mendengarku sepenuh hati.
Aku bertengkar dengannya. Masalah yang sangat sepele. Aku bertanya kemana ia semalam, hingga tak ingat waktu, bahkan untuk berbagi pesan singkat denganku. Ia marah karena aku hendak bertemu dengan temanku. Ia menuduhku selingkuh, padahal aku tau justru ia yang melakukannya.
Empat hari yang lalu aku sakit. Demam tinggi, mungkin gejala tifoid. Bahkan untuk bangunpun terasa berat. Apalagi  menyelesaikan semua kerjaanku. Pakaian yang bau apek. Piring menumpuk kotor tak dibersihkan. Sarang laba-laba mulai membuat rumahnya di dalam kamarku. Lantai yang penuh debu, hingga ia berinisiatif membersihkannya. Menyapu lantai, membersihkan laba-laba, mencuci piring dan menanak nasi. Namun, ia marah karena melakukan itu, rasa lapar mungkin yang menggerakkannya. Itu pekerjaan perempuan katanya.
 Ia juga tak pernah bertanya aku sakit apa, atau menanyakan apakah aku butuh sesuatu. Ia tak peduli sama sekali. Ia hanya peduli pada perutnya. Rasa lapar yang menggigit.  Setiap malam ia keluyuran dengan sepeda motorku, dan membiarkanku sendirian. Ia menjenguk temannya di Rumah Sakit, sementara pacarnya hanya mampu menggigit bibir menahan sakit.
Ia selalu menuntutku ada disampingnya, setiap saat. Namun, ia tak pernah melakukannya padaku. Ia pergi semau hatinya. Tanpa pernah pamit, atau mengatakan kemana tujuannya. Dan ia marah ketika aku bertanya padanya. Sekali lagi karena aku perempuan dan ia laki-laki. Perempuan harus menjaga rumah sementara ia laki-laki bebas kemana saja. Ah… ini pacaran, bukan ikatan perkawinan.
Sahabatku terdiam, namun dari tatapannya aku tahu ia protes padaku.
“apa kau masih mencintainya?” sahabatku bertanya.
“ia telah menghapus cinta itu dengan kebencian, ia melakukannya.” Ujarku.
Aku tak tahu cinta yang selama ini kujaga untuknya, telah raib malam ini. mengingatnya pun membuatku muak. Cinta itu hilang sepanjang jalan tadi bersama embun. Dan besok mentari pagi akan menguapkannya hingga tak tersisa untukku. Akupun bertanya benarkah ia mencintaiku setelah semua rasa sakit yang ia berikan. Mencintai untuk membuat bahagia, tapi kenapa ini malah sebaliknya. Kami hanya mendapat kesakitan. Mungkin ego telah menghilangkan segala rasa yang ia simpan untukku. Atau semua hanya kepura-puraan.
Sahabatku kembali lelap. Ia tak kuasa lagi menahan matanya untuk mendengar cerita-ceritaku. Aku merebahkan diri disampingnya. Mengistirahatkan raga dan pikiranku.
Berhari-hari aku mengurung diri di rumah sahabatku. Rumahku tak pernah kutengok. Mungkin ia masih disana. Atau telah pergi menemui perempuan-perempuannya. Seperti yang ia katakan padaku dalam sebuah pesan singkat.  Telah berapa laki-laki kau dapat? Apakah mereka telah memuaskanmu?  Ia pacar pertamaku. aku menyukai sikapnya yang cuek. Ia tak pernah memperhatikan penampilannya seperti orang-orang pada umumnya. Rambut berombak yang terurai panjang. wajah yang tegas dan keras. Walau tak punya pekerjaan, aku bisa menerimanya. Ia benci dengan keteraturan. Hidup  yang mengalir seperti air. Kemana ia terbawa arus, ia akan ikut. Kami sama kerasnya. Aku yang dulu hidup merdeka, bebas seperti burung. Terbang kemana angin membawanya. Iapun demikian, dari kota-kekota, tanpa tujuan jelas. Hanya melampiaskan hasrat. Bebas.  Namun, setahun terakhir ia mengurungku. Aku tak sebebas dulu. Untuk ke warungpun harus izin padanya. Ia memintaku tinggal dirumah, menunggunya dating seperti seorang istri yang menunggu suaminya datang.
Ia mencariku kemana-mana. Mendatangi setiap rumah temanku. Ia seperti kesetanan. Datang dan memaki teman-temanku. Ia tak menemukanku. Teman-temanku silih berganti menanyakan kabarku. Mereka bingung dengan kedatangannya yang tidak bersahabat. Aku menghilang selama berhari-hari. Walau, tak jauh dari mereka. Aku hanya menenangkan diri di rumah ini. Tak ada yang tahu, aku sembunyi dirumah ini. Rumah bersama milik sahabatku.
Namun, pada akhirnya Ia menemukanku. Saat menyelesaikan urusan kampusku. Dosenku mengejar. Memintaku menyelesaikan tugas akhirku. Ah… laki-laki itu Berlutut didepanku. Ia menangis-nangis memohon ampun. Namun, hatiku telah membatu. Tangisnya tak mampu membersihkan lukaku, mengembalikan cinta yang telah menguap setiap pagi. Setiap mengingat tamparan itu, seluruh harga diriku meluruh. Tamparan untuk kaumku harus dibayar dengan darah. Tamparan membuat kita tak berharga lagi. Dan ia telah memberikan hadiah itu. Walau, sakitnya tak lagi kurasakan. Aku hanya mampu menitikkan air mata, sekali. Dan setelah itu tak ada lagi tangis untuknya.
Ia merengek seperti anak kecil. Berjam-jam hingga badanku terasa kaku. Ia tak mau melepasku sebelum aku kembali padanya.  Benarkah cinta yang menggerakkannya untuk melakukan ini semua. Aku mencari pada tatapannya, namun tak kutemukan. Air matanya telah membasahi pakaianku. Ia menangis terlalu lama. Namun, aku tak peduli. Aku tetap bertahan. Aku menolak untuk kembali padanya. Sikapnya telah menghantuiku, mengganggu tidurku. Merendahkanku hingga dititik terendah.
Ia mengambil batu besar dan menghantamkan ke kepalanya. ia mungkin muak, karena aku tak bergeming. Atau mencari iba, agar aku kembali padanya. Darah menetes dari sela-sela rambutnya. Tak lama ia tak sadarkan diri. Aku hanya menatapnya. Tak ada lagi rasa, bahkan untuk iba sedikitpun.

Thursday, July 5, 2012

Mubes Serikat Tani Polongbangkeng (1)

Agenda pertama dari perjalanan yang kami lakukan, bertemu petani di Kampung Beru. Salah satu tugas yang diberikan, terlibat pada pendataan anggota dan sosialisasi Mubes STP. Ini kali pertama aku akan masuk ke desa itu. Bersama Bapak Ila dan Dg.Toro, aku dan Budi berangkat kesana.
Untuk ke Kampung Beru kami memasuki jalanan ke PTPN XIV, disisi kanan tampak beberapa bangunan kecil berdinding gamacca dan beratap rumbia. Seperti kios-kios yang menjual makanan, mungkin juga milik buruh PTPN. Beberapa pedagang kecil menggelar jualan begitu saja dipinggir jalan. Tadinya aku berpikir ada pasar malam, tapi tak lebih dari 10 lapak.
Jalanan semakin memburuk. Debu, kerikil yang berserak, lubang yang tak terlalu jelas. Perusahaan berdiri disisi kiri jalan. Semakin jauh semakin sepi, kebun tebu disisi kiri kanan jalanan. Kalau tak ada kedua orang tua itu, aku mungkin telah kehilangan keberanianku. Jalan seperti tak berujung, gelap dan sepi.
Kami dikerjai malam ini. Mendapat lokasi yang jauh dari posko. Aku tak lagi ingat jarak, rasanya cukup jauh dan melelahkan. Kami memasuki perkampungan, jalanan aspal yang sedikit lebih baik. Rumah-rumah berjejeran tapi masih jauh dari tujuan. Sawah-sawah yang masih hijau. Hijaunya tak terlihat oleh malam, tapi belum ada bulir-bulir padi yang keluar dari tangkainya. Aku mencari rumah yang ramai. Kalau ada pasti itulah tempatnya.
Rumah samping kuburan tampak ramai. Kami mengikuti Bapak Ila. Disana puluhan warga telah menunggu. Beberapa orang berdiri dipinggir jalan. Bercerita, mungkin tentang sawahnya yang menunggu panen.
Ada banyak perempuan, aku tersenyum senang. Mendapati ibu-ibu yang terlibat pada kerja-kerja massa tak hanya mengurusi makan dan minum. Senyum tulus mereka telah membuatku berbinar-binar, hilang semua penat sepanjang jalan.
Bahasa selalu menjadi kendala utama yang menyedihkan. Aku tak bisa berkomunikasi langsung. Harus dibantu penerjemah. Sembilan tahun di Makassar tak membuatku bisa menggunakan bahasa Makassar. Dan berada ditengah masyarakat akan membuatku menyesal, kenapa tak juga bisa menggunakannya.
Aku hanya memahami sebagian kecil dari yang mereka bicarakan. Tapi pimpinan STP adalah orang-orang tua yang tangguh. Mereka menghabiskan sisa pensiunnya dengan berjuang. Memperjuangkan hak yang dirampas oleh PTPN.
Agenda pertama pendataan anggota STP. Mengisi formulir yang telah disiapkan. Ini untuk merapikan data kelompok, membuatnya menjadi kelompok-kelompok kecil. Satu kelompok terdiri dari 15 – 30 orang. Tapi, mala mini kami tak sempat melakukan pembentukan kelompok. Pengisian formulir menyita waktu lama. Sebagian anggota tak bias baca tulis. Harus dituliskan satu persatu. Sebagian besar tak bias tanda tangan. Anggota hanya memberikan KTP yang pun kebanyakan tak berlaku lagi. Sesekali aku membantu Dg.Toro mengisi formulir itu.
Ada 30an formulir yang kembali malam ini, sebagian masih menunggu karena form yang disediakan telah habis.
Dg.Toro memulai pertemuan. Beliau membuka dengan menggunakan bahasa Makassar, bercerita bagaimana perjuangan mereka sebelum STP terbentuk dan setelah organisasi itu ada. Dulu, jika melakukan pendudukan aparat keamanan akan melindungi PTPN, berhadapan dengan peluru dan Brimob. Sekarang Polisi tak lagi mengganggu proses reclaiming yang mereka lakukan. Kemarin warga kembali melakukan reclaiming. Ratusan hektar tanah mereka telah ditangan. Ditanami padi dan menuai hasil.
Budi menjelaskan bagaimana pentingnya berorganisasi, juga menjelaskan persiapa Mubes yang akan dilaksanakan tanggal 9 – 10 juli nanti. Massa demikian antusias. Sajian kopi dan penganan ringan menjadi teman melewatkan malam. Sesekali aku bercerita dengan gadis yang duduk disampingku. Aku lupa menanyakan namanya. Ia suka ikut pertemuan-pertemuan STP tapi tidak masuk menjadi anggota. Anak muda yang penuh semangat. Ia tersenyum malu ketika kutanyakan sekolahnya. Hanya tamatan SMP katanya.
Sebelum pulang, pemilik rumah telah menyediakan makan malam untuk kami. Menu sederhana yang mengalahkan enaknya makanan kota. Saying, sebelum berangkat kami duluan mengisi lambung tengah, jadi hanya bias mencicipinya.
Angka jam menunjuk 23.00 kami pamit pulang. “hati-hati nak, “, “ semoga selamatki’. Ada banyak doa malam itu untuk kami. Doa dari ibu-ibu berwajah teduh. Saya pulang dengan seribu bahagia. Bahagia itu sederhana.
(kerja dan berlibur dua hal menyenangkan untuk menutup Juni. 
Persinggahan pertama di Polongbangkeng Utara bersama Serikat Tani Polongbangkeng sebelum lanjut ke Butta Panrita Lopi
25 Juni 2012)

Friday, May 25, 2012

Tak sebanding dengan sakit mereka

Ada satu hal bahwa manusia tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Selalu meminta lebih dan lebih. Selalu saja merasa tak cukup dengan apa yang dimilikinya. Lupa bersyukur.

Makassar selalu saja membuatku merasa, aku tak ada apa-apanya dibanding yang lain. Membuatku untuk selalu ingat aku memiliki segala hal yang mereka tak punya. Setelah terakhir ke dokter ahli, hingga hari ini aku tak lagi menginjak rumah sakit. Pertama karena aku jengkel dengan pernyataan dokter itu tentang sakitku. Banyak menggunakan “mungkin” mungkin diabetes, mungkin hipokalsemia. Harus chek lab keseluruhan agar tahu hasilnya. Dan untuk chek lab biayanya tak sedikit, dan jumlah yang dibutuhkannya tak hanya seratus dua ratus ribu. Aku tak ingin menginjak rumah sakit itu lagi, menghabiskan tabunganku untuk sesuatu yang tak kuketahui hasilnya.

Salah satu hal yang menarik kukerjakan adalah jalan-jalan ke tempat yang aku sukai. Bukan pusat perbelanjaan atau tempat hiburan atau restoran mewah. Aku suka berkunjung ke daerah-daerah yang ditempati kaum urban dan miskin kota. Aku belajar pada anak-anak jalanan, pemulung atau siapapun.
Pada salah satu ruang itu aku akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki penyakit jauh lebih parah dariku.
Ketika aku sakit aku masih bisa mengakses rumah sakit dengan mudah, aku punya banyak teman yang bisa kutempati berkonsultasi. Aku punya banyak teman yang selalu bersedia menolongku ketika aku tak lagi mampu membayar biaya pengobatanku. Aku punya pengetahuan dan bisa mengakses dengan mudah tentang sakit yang kuderita. Aku bisa melakukan pencegahan, istirahat di saat aku membutuhkannya. Tapi tidak dengan mereka.

Kemarin sore ketika berkunjung ke rumah warga di Sekolah, salah satu di antara mereka mengatakan suaminya tak bisa membantu. Sedang sakit katanya. Batuk-batuk dan itu sejak lama, badannya semakin kurus demikian ibu itu cerita tentang kondisi suaminya. Ini bukan orang pertama yang kudengar batuk-batuk dan mengalami penurunan berat badan. Bulan lalu, ada kasus yang sama, bapaknya sudah berulang kali ke puskesmas, dan bahkan ke rumah sakit tapi tak sembuh-sembuh.
Itu bronchitis pikirku. Hal ini sangat mungkin terjadi. Warga di sekitar sekolah berprofesi sebagai pemulung. Mereka melakukannya setiap hari, kecuali libur. Mereka bekerja hingga tengah malam, dan tak jarang hingga subuh. Mereka harus mengangkut barang-barang itu dengan mendorong gerobak. Rumah mereka pun mendukung penyakit ini. Rumah dengan bahan-bahan yang tekah dibuang dan tak terpakai. Tripleks bekas, seng, spanduk bekas, kayu dan bamboo bekas sisa bangunan. Daerah yang lembab dan berair. Semua memungkin kan untuk sakit itu. Bronchitis lebih dikenal dengan paru-paru basah. Terjadi karena adanya infeksi pada paru-paru.
Mereka tak bisa mengakses kesehatan dengan mudah, walau sekarang telah ada jamkesda, jamkesmas tapi tak semua orang bisa mendapatkannya.

Lah, emosi saya jadi menanjak naik. Rasanya hendak marah. Marah sejak dulu program kesehatan untuk masyarakat miskin telah berganti-ganti namun tetap hasilnya sama. tidak bisa diakses sama semua orang.

Ah, sudahlah saya harus mengakhiri hari ini, mencari penenang agar emosi tetap stabil.

Sunday, April 8, 2012

Ketika pilihan itu tak berobat medis

Sakit telah membuatku sangat produktif. Membuatku ingin menuliskan banyak hal, tentang setiap hal yang aku alami, atau orang lain rasakan.
Memilih berobat tak semudah yang kita pikirkan. Beberapa malam lalu aku menelpon seorang kawan. Ia juga sedang sakit. Bronchitis, bertahun-tahun ia mengidap penyakit itu, bertahun-tahun pula telah berobat. Penyakitnya lebih sering kambuh, seperti diriku, kelelahan sedikit akan membuat tubuh kami melemah dan drop.
Di telpon ia menasehatiku. Agar aku tak keras kepala. Agar aku berobat dengan baik, minum obat yang rajin, tak memakan makanan pantangan, mengurangi istirahat. Terakhir, ia memintaku pulang istirahat di Sengkang. Aku akan cepat sembuh katanya.
Aku tertawa dengan segala nasehatnya. Aku sangat tahu bagaimana ia keras kepala juga dengan penyakitnya. Baik sedikit akan membuatnya mencari aktifitas baru. Aku hanya bilang padanya tak usah menceramahiku kalau tak bisa melakukannya, hehehe…
Beberapa teman mengatakan aku keras kepala, sangat. Hingga seseorang memohon agar aku berobat dan harus sembuh. Apakah aku tak ingin sembuh?
Aku mengingat beberapa kasus yang pernah ada. Pak Kausang tukang becak yang masih mengayuh becaknya sampai sekarang, harus membiarkan besi yang berada di rongga mulutnya karena tak mamou membiayai operasi untuk membukanya. Aku lupa tahunnya, saat itu ramadhan ( ini ada pada salah satu bagian dari blog ini) pak kausang kena tikam oleh sesamanya tukang becak, karena kesalahpahaman. Pak Kausang sangat baik dan mahasiswa yang sering menggunakan becak, akan lebih memilih menumpangi becak beliau dibanding yang lain. Ini masalahnya. Mahasiswa membawanya ke rumah sakit Wahidin saat itu. beliau harus dioperasi karena rahangnya tertebas parang dan lukanya cukup parah.
Setelah operasi petugas menagih istrinya. Biaya berobatnya 2,5 juta. Istrinya yang buta tentu tak punya uang sebanyak itu. kepala keluarganya terkapar tak berdaya di rumah sakit. Bulan lalu, lewat pintu 2 UNHAS, aku bertemu dengan Pak Kausan, seperti biasa ia akan menghadiahiku senyum lebarnya. Kawat besi yang terpasang beberapa tahun lalu masih ada. Ketika menyinggungnya ia hanya tertawa. Aku tahu untuk membuka besi itu butuh jutaan rupiah. Setiap rupiah akan sangat berarti.
Kasus lain yang pernah terjadi, ketika bocah pemulung pingsan di fakultas ekonomi. Kawan-kawan pengurus Sekolah KAMI membawanya ke rumah sakit. Aku juga pernah menuliskannya di blog ini. Petugas pemerintah itu mengatakan uang 50ribu tak banyakji untuk mengurus KTP yang bisa digunakan untuk banyak hal. Hari itu aku bermaksud mengurus surat keterangan tidak mampu, agar bisa mengakses pengobatan gratis di Wahidin.
Selalu karena uang. Pilihan seseorang untuk mengakses pengobatan bukan karena tak ingin sembuh. Tapi terkadang ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekedar kata sehat. Pilihan untuk mengisi lambung tengah keluarga, untuk membayar biaya sekolah anak, pilihan untuk bertahan hidup.
Teringat juga kasus peristiwa kematian Dg. Basse, dan anaknya karena tak mampu lagi beli beras. Ah, hidup buat sebagian besar orang sangat kejam. Harus mati karena ketidakberesan system yang ada di Negara ini. Lalu teringat seorang kawan “ kita beli saja pulau itu dan kita buat Negara sendiri”.

tubuhku telah bersahabat kembali,hanya butuh senyum...

Saturday, April 7, 2012

Katanya Hipertiroid

Keesokan hari setelah mendengar perawat itu mengatakan kadar tiroid dalam darahku cukup tinggi, aku menelpon kakakku. Aku tak hendak membuat mereka cemas, tapi masalah lainnya, aku tak ingin mereka salah paham karena hasil kerjaku kuhabiskan tanpa tersisa.
Dua minggu lalu pangeran dan putri kecil dalam keluargaku sakit dan harus melakukan rawat inap. Aku menanyakan kabar keduanya. Sekarang mereka telah kembali ceria dan bermain. Berat badannya juga mulai naik, tak sekurus waktu sakit kemarin. Aku selalu merindukan pangeran kecil, yang akan memeluk erat dan memberikan ciuman pada kedua pipiku sambil bertanya “apa bawakanka mu ninni?” bocah cilik yang menggemaskan dan tak berhenti bertanya.
Keduanya sedang asyik menonton, mereka tak akan bisa diganggu kalau sedang serius. Aku menceritakan sakitku pada kakak ketigaku. Ia kaget, dan mengatakan kenapa tubuhku tak sehat lagi. Aku hanya tertawa, dan berkata Tuhan sangat menyayangiku, hingga ia selalu memberiku ujian.
Aku mengenal 3 orang yang terkena penyakit hipertiroid. Dua diantara mereka telah dioperasi. Salah seorang bernama baderiah. Ia menderita hipertiroid sejak puluhan tahun lalu. 15 tahun sebelumnya ia melakukan operasi pengangkatan kelenjar gondok yang berlebih, tapi operasi itu sepertinya tak berjalan sempurna, dan dokter memang telah member peringatan sebelumnya, jika 10 atau 15 tahun kedepan kemungkinan benjolan itu akan hadir lagi, dan tak bisa diprediksi akan muncul dimana. Seorang ibu yang telah berbahagia bersama anak-anaknya, dan sekarang ia menetap di Kalimantan setelah kepergian suaminya. Terakhir dia pulang ke sengkang , aku melihat benjolan di kepalanya, tepat di dahinya. Itu telah ada sejak beberapa tahun terakhir. Ibu tak lagi melakukan operasi ia tak mau membuang uang anak-anaknya untuk sesuatu yang akan berulang kembali.
Perempuan kedua yang kukenal adalah tanteku sendiri. Beliau saudara sepupu kedua orang tuaku. Tanteku tak bisa lagi bekerja. Ia juga pernah dioperasi dengan menggunakan kartu jamkesmas, namun setelah operasi bukan kesembuhan yang didapatnya, tapi masih saja tetap sakit dan lemah. Aku kadang merasa sedih karenanya, walau kami tak pernah dekat. Tanteku belum menikah dan ia hidup dirumah salah satu saudaranya. Tanteku menjadi lebih sering sakit, malah bertambah parah dibandingkan sebelum ia melakukan operasi pengangkatan kelenjar tiroid itu.
Perempuan ketiga adalah tetanggaku. Hingga saat ini kelebihan hormone tiroid itu tetap bertengger dilehernya dengan diameter yang terus bertambah. Ah, aku melihat mereka. Aku merasakan sakit mereka. Aku yang tak mempunyai benjolan dileher saja sangat pusing dan terbebani, apalagi mereka yang puluhan tahun menderita penyakit ini.
hipertiroid adalah penyakit yang disebutkan karena system metabolism dalam tubuh tak berjalan dengan baik. Sehingga pengeluaran hormon tiroid sangat berlebih. Aku telah bercerita tentang gejala sakit yang kurasakan, namun aku belum mendapatkannya dari dokter. Waktu kerumah sakit kemarin, setelah bertanya ke perawat keberadaan dokternya ia mengiyakan dan memintaku langsung mendaftar setelah melihat hasil lab yang ada ditanganku, katanya kadar hormon tiroidku cukup tinggi. Aku melakukan prosedur itu, dan menunggu beberapa saat. Namun setelah bertanya kembali doker itu ternyata tidak ada ditempat. Dan aku memilih meninggalkan rumah sakit saat itu.


sakit tak selalu membuat kita benar-benar sakit. Secara fisik akan ada perubahan pada daya tahan tubuh. Aku sudah bercerita banyak tentang rasa sakit yang aku alami, tapi sakit bisa saja menjadi anugrah. Membuatku belajar banyak hal. Sakit membuat aku menyadari bagaimana sehat itu sangat berharga. Sakit membuatku tahu bagaimana orang-orang yang ada didekatku sangat peduli. Sakit membuatku belajar, bahwa Negara telah memiskinkan rakyatnya.
Untuk menjadi sehat, ketika seorang menderita sebuah penyakit membutuhkan biaya yang tak sedikit. Butuh jutaan, puluhan bahkan mungkin ratusan juta. Untuk sesuatu yang bernama kesehatan, dan orang akan membelinya, meski setelah itu akan memiskinkan dirinya. Bertanggung jawabkah pemerintah pada hal ini?
Ada hal lain, pada kondisi tubuh yang fit, aku bisa memberi ceramah pada banyak orang, pada kawan-kawanku yang sakit, bagaimana mengubah pola hidup agar cepat sembuh. Tapi aku tak sadar ada banyak factor ketika seseorang memilih berobat atau tidak.

pada akhirnya sakit mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur, dan sakit itu hanya ketakutan yang melemahkan tubuh kita.

Tuesday, April 3, 2012

Asam urat, tak lagi mengenal usia

Dulu penyakit ini terjadi pada kalangan bangsawan. Keluarga yang terbiasa dengan makanan serba mewah dan mengandung kadar purin yang sangat tinggi seperti kaldu, daging, bebek, juga mengkonsumsi minuman beralkohol. Ini penyakit orang kaya kataku, setiap seseorang mengejekku karena sakit ini. Agak berat juga bercerita, apalagi setiap orang membayangkan penyakit ini terjadi hanya pada orang yang lanjut usia.
Umurku 26 tahun dan tentu saja orang berpikiran aku masih sangat muda untuk penyakit yang sangat mengganggu. Gout, demikian istilah lainnya. Penyakit yang menyerang sendi karena penumpukan purin disela-selanya. Selain factor genetic, kebiasaan makan dan pola hidup menjadi salah satu penyebabnya. Hal lain yang mungkin terjadi adalah pengeluaran asam urat dalam tubuh mengalami sedikit masalah. Tubuh kita mampu memproduksi 85% kebutuhan purin, sedangkan 15 %nya diperoleh dari makanan yang dikonsumsi.
Bertahun-tahun jauh dari orang tua, tinggal di kost dan kampus, terakhir di rumah hijau. Hidup tak benar-benar sehat, tapi paling tidak lebih baik dibandingkan waktu kuliah. Sejak selesai kuliah berat badanku tak bergerak banyak, sangat lambat. Padahal, urusan makan aku selalu mengutamakannya. Makan indomie semaksimal mungkin 2 bungkus perminggu, kecuali kalau keuanganku sedang sekarat. Tapi setahun terakhir aku lebih sering makan diluar, juga aku banyak mengkonsumsi sea food. Wilayah pesisir surganya makanan laut segar. Tak hanya di barru, berkunjung ke bulukumba pun aku akan dimanjakan dengan menu ini. Aku pencinta ikan, ikan laut maupun ikan air tawar. Aku juga menyukai segala jenis sayuran. Dan setiap ke daerah, semua akan memanjakanku dengan menu kesukaannku. Orang yang mengenalku dengan baik tentu menyediakan makanan-makanan itu untukku. Hubungan kerja yang kaku tak berlaku untukku, dibeberapa tempat aku menjadi bagian dari keluarga yang kutempati. Memperlakukanku seperti anak mereka sendiri. Aku selalu berbahagia karena itu. dimanapun, aku selalu berasa di rumah sendiri. Tak salah jika aku selalu mengatakan rumahku tak jelas dimana. Aku mempunyai rumah-rumah dimana-mana,hehehe…
Pertama kali kakiku membengkak di Barru, aku kebanyakan mengkonsumsi kerang dan ikan. Pulang ke sengkang pun etta akan menyediakan ikan bakar kesukaanku. Ketika aku mengatakan tak boleh memakannya, beliau tetap menyuruhku memakannya. Akhirnya kulakukan, mengingat usahanya untuk mendapatkan ikan segar itu untuk menyenangkanku. Ah, sudahlah, bicara makanan akan membuatku merindukan makanan itu.
Setiap tahu gejala aneh di tubuhku aku akan mencari informasinya di dunia maya. Aku akan memperhatikan selama beberapa minggu dan mendeteksi sendiri penyakitku. Waktu ke puskesmas, aku menceritakan tentang gejala penyakitku, dan dokter muda di puskesmas bisa ditemani diskusi. Aku telah mendeteksinya, dan dibuktikan dengan uji darah yang dilakukan dokter itu.
Beberapa hari kakiku bengkak dan panas, selain itu sangat nyeri dan menyakitkan. Malam hari aku terkadang tak mampu berjalan dan mengurung diri di kamar. Untuk makan dan minum aku harus minta tolong. Adikku yang menjadi perawatku.
Telah dua bulan aku melakukan diet ketat, bukan untuk menurunkan berat badanku, tapi hendak menaikkannya. Selain itu aku diet untuk menurunkan kadar asam urat dalam tubuhku agar bisa kembali ke angka normal. Ada juga sepupuku yang menderita penyakit ini, asam urat penyakit yang harus disembuhkan dengan pelan. Seperti halnya diriku, setelah mengetahui kadar asam urat dalam tubuhnya cukup tinggi, ia melakukan diet yang sangat ketat hingga kadar asam uratnya berada di angka 3 dalam waktu kurang dari sebulan. Masalah yang timbul, adalah kadar asam urat tak boleh diturunkan dengan drastic karena ia akan menjadi lebih sakit.
Aku jadi percaya pada konsep keseimbangan. Kalau dalam budaya cina dikenal ying dan yang. Tubuh kita juga harus menerima kadar yang secukupnya sesuai kebutuhan kita. Seorang teman yang juga menderita asam urat sepertiku berpesan agar aku tak menghindari semua makanan itu, tapi mengurangi porsinya, karena bagaimanapun tubuh membutuhkan semua elemen itu.
Keep fight…

Tuesday, March 27, 2012

Menyusuri Pulau Panikiang

Azan Ashar baru saja berlalu, ketika kami meninggalkan sungai Madello. Kami sempat tertahan di pinggir pantai. Air masih surut, hingga harus menunggu pasang untuk menggerakkan perahu. Upaya Ilo dan Pak Kama, pemilik perahu untuk mendorongnya berakhir sia-sia. Beberapa ratus meter didepan kami, juga ada beberapa perahu yang terdiam. Mereka mengalami hal yang sama. Air hanya sebatas lutut.
Matahari perlahan menarik diri ketika air mulai meninggi. Dengan sebilah bambu Ilo, menggerakkan perahu. Pelan-pelan, akhirnya perahu bisa bergerak, menuju Pulau Panikiang. Pulau itu bisa dilihat dari Madello. Butuh 15 menit untuk sampai di pulau itu, pada batas normal air laut. air laut akan surut sejak pukul 14.00 hingga 17.00, sehingga waktu-waktu itu masyarakat akan mengeluarkan perahu sebelum waktu tersebut.
Awalnya Pulau Panikiang merupakan gusung, gundukan pasir putih, seiring waktu pasir tersebut bertambah menjadi daratan yang bentuknya memanjang. Pelan-pelan tanaman bakau mulai tumbuh. Pulau tersebut kemudian menjadi tempat persinggahan pa’belle. Mereka akan berdiam semalam di pulau tersebut, sambil menunggu hasil belle.
“Masyarakat awalnya takut berdiam di pulau ini, dulunya disini banyak nano . Kalau ada yang datang ke pulau ini mereka akan diambil oleh nano. Tahun 40an waktu jaman penjajahan belanda A.Mattalatta pernah sembunyi di Tembo’e, sebelah timurnya sudah ada rumah waktu itu. Saya sudah generasi keempat yang menghuni pulau ini.” demikian cerita Pak Abu Nawar kepala Kampung tentang sejarah awal Pulau tersebut.
Paniki berarti kelelawar. Pulau tersebut dihuni ribuan kelelawar. Kelelawar hitam dan coklat. Kelelawar hitam menurut cerita Pak Abu Nawar, yang juga biasa dipanggil Pak Buna, kelelawar berasal dari Kab.Soppeng. ketika kelelawar di Soppeng menghilang, mereka bermigrasi ke Pulau Panikiang. Kelelawar di Panikiang belum dilindungi. Terkadang ada orang luar yang datang dan menembak kelelawar. Ada juga orang-orang yang menjaringnya. Kelelawar hitam sudah berkurang, kembali ke Soppeng. Di Kabupaten Soppeng telah ada peraturan yang melarang menembak atau mengambil kelelawar, kecuali untuk alasan tertentu dan seizin aparat yang berwenang. Kelelawar oleh banyak masyarakat digunakan sebagai obat asma.
Menurut Pak Buna yang juga imam di Kampung tersebut , bahwa kelelawar hitam tak seperti kelelawar coklat. Kelelawar hitam akan mematuk buah dan daun mangrove hingga habis. Mereka tak suka bernaung dibalik rimbunya dedaunan,hingga terkadang membunuh mangrovenya. Beda dengan kelelawar coklat yang suka dengan daun-daun yang rimbun hingga tak menganggu pertumbuhan mangrove.
Bakau yang ada di Pulau Panikiang, sangat lebat. Ketika pulau tersebut mulai di huni ada dua orang tokoh masyarakat yang menanami pulau tersebut dengan mangrove. Pak Dalle menanami mangrove di Tembo’e, sedangkan Pak Salle, orang tua Pak Buna menanam di kampung Masigi (Mesjid). Bakau tersebut dulunya dimanfaatkan masyarakat sebagai kayu bakar, ada juga yang memanfaatkan sebagai arang, hasilnya mereka jual ke daratan. Setelah adanya larangan penebangan mangrove, pekerjaan penduduk pulau bergantung pada hasil tangkapan. Pernah sekali Kepala Kampung menebang pohon bakau yang dia tanam, namun mendapat peringatan dari Badan Dinas Lingkungan Hidup. Beliau sebelumnya tidak mengetahui adanya peraturan tersebut, hingga surat pemberitahuan tersebut disampaikan kepadanya.
Ada beberapa jenis bakau yang hidup didaerah tersebut. Rhizopora (bangko/bakau), Avicennia (api-api), sala-sala. pada tahun 60an buah sala-sala oleh penduduk pulau diolah menjadi makanan pengganti nasi. Sala’-sala’ mengandung karbohidrat.
“waktu itu sangat sulit mendapatkan nasi, jadi masyarakat kadang makan buah sala’-sala’, tapi sekarang masyarakat sudah tidak makan lagi. Susah sekali di olah. Harus dikukus dulu, baru dikeringkan, setelah itu dimasak seperti nasi” tutur Pak Buna.
“Sekarang tidak adami yang makan, sudah banyak beras dijual” tambahnya kemudian.
Profesi nelayan telah dilakoni masyarakat sejak dulu. Dari Pa’belle, menjaring ikan terbang, namun sekarang sebagian nelayan menangkap cumi-cumi hingga ke pangkep. Ada juga warga pendatang dari Mandar. Mereka bisa tinggal di pulau itu hingga 3 bulan. Anak dan istri mereka juga diikutsertakan. Mereka mengambil ikan dengan menombaknya. Untuk menombak ikan nelayan tersebut harus menyelam dikedalaman air. Mereka mendapatkan ikan baronang, yang sebagian besar dikirim ke Mandar untuk dijual. Dalam pengirimannya mereka harus membayar 30.000,- untuk setiap gabusnya.
“saya pulang pergiji ke Mandar. Disana juga tinggal dipulau sama seperti disini. Anak-anak ada disana juga” ujar Ibu Eda, ketika kami berbincang-bincang usai FGD dengan beberapa ibu-ibu. Ibu Eda sehari-hari melakukan pekerjaan rumah, mencuci, memasak, mengambil air disumur. Istri-istri nelayan dari Mandar tidak memiliki pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu lowong mereka. Salah satu alasannya juga karena mereka tak menetap di pulau tersebut.
Nelayan mandar awalnya hanya ada satu orang, namun karena hasil tangkapan disana, ikutlah beberapa keluarga. Mereka kemudian meminta izin pada kepala Kampung untuk membuat rumah di pulau tersebut. Rumah mereka, merupakan rumah-rumah kecil beratapkan daun nipah. Mereka pelan-pelan beradaptasi dengan masyarakat tetap yang menggunakan bahasa bugis.
Perempuan tanpa akses
Dalam forum FGD yang dilaksanakan, tim RCL Lemsa menggali informasi mengenai keseharian penduduk. Mereka masih malu-malu menjelaskan kehidupannya. Ibu Hadijah, seorang Janda tua hidup bersama anak perempuannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ibu Hadija mencari kerang. Ia satu-satunya pencari kerang di kampung tersebut.
“Tidak ada pekerjaan lain nak, jadi ini saja yang bisa dilakukan biar bisa makan” ujar Ibu Hadija.
Pernah juga ada tamu dari luar yang datang dan meminta dimasakkan Sala’-sala, namun sayangnya ibu Hasmawati yang memasaknya tak mencicipi sala’-sala tersebut. Penduduk Panikiang belum mengolah hasil dari hutan bakau. Parappa dan buah api-api juga banyak sekali disana. Hanya saja masyarakat tidak tahu bagaimana mengolahnya.
“oh, dimakan itu buah parappe?” tanya seorang ibu. Ibu-ibu di kampung tersebut, hampir tak memiliki aktivitas diluar pekerjaan rumahnya. Paling banyak masyarakat hanya memelihara itik atau ayam. Namun, kedua hewan piaraan tersebut tidak dapat berkembang biak dengan baik. pakan ayam dan itik masih mengandalkan dedak, yang sangat susah dipulau. Masalah lain yang diungkapkan peserta tersebut adalah susahnya air tawar di pulau tersebut. Satu-satunya sumber air dari sumur disamping mesjid.
“pagi-pagi kita harus berebut air, sedikit sekaliji air sumurnya. “ ujar iIbu Suhra, istri Pak Buna. untuk air minum, penduduk pulau harus mengambilnya di Takkalasi. “biasa juga kita bawa cucian kesana” tutur seorang Ibu peserta FGD.
Selain masalah air, persoalan kesehatan belum terjawab di pulau tersebut. Tidak adanya tenaga kesehatan yang tinggal di pulau tersebut, membuat perempuan mengalami kerentanan terhadap kondisi kesehatannya. Tak jarang perempuan harus melahirkan sebelum bidan desanya sampai di pulau.
“kalau mau imunisasi dan periksa kesehatan kita harus ke Madello” ujar Ibu hasmawati.
“bidan datang kesini kalau dipanggilpi, jadi kalau mau melahirkan biasa ditemani orang tuaji, kadang bayinya lahir duluan” tambahnya kemudian. Bayi yang baru lahir tak bisa langsung dibawa ke Madello untuk diperiksa ataupun pemberian imunisasi.
“nanti umur tiga bulan baru bayinya dibawa ke posyandu di Madello” ujar ibu Hasmawati. Akses untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatanpun sangat sulit. Ketika ada warga yang sakit mereka juga harus ke Madello untuk memeriksakan kesehatannya.
“dokter biasa datang, tapi setahun sekali. Kalau datang kita diperiksa semua dan tidak dibayarji” tambah seorang ibu peserta FGD.
Perempuan kampung Panikiang, masih sangat lugu, hidup untuk mendampingi suaminya. Dinas perikanan pernah membentuk kelompok perempuan, untuk membuat abon ikan, namun realisasinya belum ada hingga saat ini.
“dari bulan 3 dibentuk kelompoknya, tapi tidak pernahmi lagi datang itu orang perikanan.” Demikian seorang ibu bercerita. Satu-satunya kelompok di desa tersebut yang aktif adalah kelompok majlis ta’lim. Pada pembuatan kalender harian, sebagian ibu-ibu menghabiskan waktunya di siang.
Perempuan pulau yang tak mampu mandiri secara ekonomi, pun tak memiliki keterampilan akan mengalami kerentanan. Kerentanan tersebut terutama terjadi ketika suami atau laki-laki kepala kelurganya tak mampu lagi memberi nafkah. Ibu hadija menjadi potret masalah tersebut. Ketiadaan keterampilan dan akses membuatnya tak punya pilihan lain. Usia yang harusnya duduk tenang dirumah, tak bisa dirasakannya.
Beberapa Ibu terlihat mulai mengantuk, matahari diatas pulau. Tak lama lagi jemputan kami akan tiba. Ibu-ibu berpamitan. Pada pembuatan kalender harian tadi, mereka akan tidur siang. Aktivitas akan kembali dimulai sore nanti. Memasak dan mengurus anak-anak mereka.

Rumah sakit ke puskesmas

Karena tak pernah menetap disatu tempat, aku tak bisa melakukan pengobatan dengan baik. Sepulang dari selatan, aku mendapat panggilan ke utara. Etta dan ponakan kecilku mulai merindu, ada juga diskusi kecil dengan anak muda di Sengkang. Aku harus menyelesaikan beberapa urusan. Bergerak ke utara selalu menyenangkan, rumah itu adalah tempat ternyaman, walau masih saja omelan ibu tentang kerjaku yang tak jelas harus kudengar.
Sabtu adalah bagian dari akhir pekan yang tenang. Unit rawat jalan rumah sakit tak ramai. Tak ada pasien yang sedang menunggu. Aku sendirian. Hari itu aku mengomel sepanjang hari. Masuk ruang itu, tak mendapat sambutan menyenangkan. Beberapa petugas sibuk di depan meja registrasi. Aku mendekat, dan mereka memintaku menunggu. Aku tak tahu apa yang harus kutunggu, sementara tak seorangpun yang dilayaninya. Ah, mereka seharusnya mendahulukanku. 30 menit menunggu aku berpindah ke orang yang disebelahnya. Ia bertanya padaku apa aku membawa surat rujukan dan akan berobat ke dokter mana? Aku bilang ini pertama kalinya aku ke rumah sakit ini dan hendak periksa ke dokter ahli dalam. Dokternya sedang ke Makassar kalau tak salah. Ke dokter umum saja kalau begitu. Ia kembali memintaku menunggu. Lebih sejam menunggu aku mulai gelisah dan emosi. Sejak dulu aku tak pernah nyaman berada di rumah sakit, sehebat dan sebesar apapun rumah sakit itu, aku punya cerita tak mengenakkan.
Sepasangan suami istri masuk ke ruangan itu, mereka langsung menuju meja registrasi. Petugas itu bertanya dengan lembut mau ketemu dengan dokter siapa dan meminta kartu askes milik mereka. Ia menyapanya dengan sangat hormat. Aku sempat mendengar sapaan Pak Haji, dan emosiku tak lagi bisa tertahan. Aku mengajak adikku keluar setelah menatap tajam petugas itu.
Pukul 10 pagi lewat sedikit, puskesmas masih buka. Puskesmas tempe menjadi pilihan terdekat. Aku mau ketemu dokter hari ini. Secepatnya mengarah kesana. Berharap dokternya masih ada.
Beruntung dokternya masih ada. Didalam juga masih banyak pasien yang tersisa bersama anak-anak mereka. Mungkin lagi jadwal imunisasi. Aku segera ke tempat pendaftaran, namun selembar karton bertuliskan tutup terpampang. Harusnya masih buka. Aku berpindah ke sebelah dan menyampaikan protes, kenapa secepat itu mereka menutup pendaftaran padahal belum waktunya. Akhirnya orang itu menyuruh seseorang melayaniku. Satu urusan selesai, sekarang harus melangkah masuk ke ruang tunggu. Seorang teman lama kukenali sedang memeriksa tekanan darah pasien sebelum masuk ke ruang periksa dokter. Aku mendekat dan memberikan mapku. Ia tersenyum mengenaliku, kami sedikit berbincang, mengenang masa lalu ketika masih sekolah. aku satu sekolah di SMU dengannya, tapi kami beda kelas. Sekarang ia telah mempunyai dua orang anak dan menjadi PNS di puskesmas itu. ia langsung menyuruhku masuk ke ruang periksa. Katanya dokter tak lama lagi akan keluar.
Bercerita tentang keluhanku, dan akhinrya aku meminta ia melakukan pengecekan asam urat dalam darahku. Dari temanku aku mendengar ia mempunyai alat pengetes asam urat. Aku telah mencurigai penyakit ini , setelah mantra itu gagal mendeteksi penyakitku. Aku perlu bukti. Dari tes itu kadar asam uratku 6,7. Melewati ambang batas. Untuk perempuan kadar normal asam urat dalam darah adalah 2 -6. Pantas saja aku tak bisa berjalan. Dokter itu lebih baik dari petugas kesehatan yang kutemui hari ini. Beberapa anjuran makanan yang harus kuhindari ia sebutkan. Ia juga menyesal, karena usiaku masih sangat muda untuk menderita penyakit yang satu ini.
Dokter itu cukup menjadi pereda emosiku setelah tak mendapat pelayanan dari rumah sakit. Petugas terkadang merasa dirinya sangat hebat dan dibutuhkan, hingga ia bisa bersikap seenaknya pada pasien.

Monday, March 26, 2012

Dari alergi hingga penyakit dalam

Minggu kedua desember adalah awal aku mulai menginjakkan kaki untuk berobat sendiri ke petugas medis. Aku mulai dari mantri kesehatan, atas rekomendasi seorang kawan. Aku tak ingin memulai pada pengobatan yang langsung ke ahlinya, karena tubuh tak akan mempan pada obat-obatan ala puskesmas.
Semenjak di Barru badanku gatal dan membengkak. Aku juga flu dan batuk. Pesisir barat selalu terguyur hujan dan cuaca sangat dingin. Bukan sekali dua kali aku harus melawan hujan dan melanjutkan kerja. Akhirnya kuputuskan langsung kembali ke Makassar setelah membereskan kerjaku. Dua hari meringkuk di rumah hijau, tanpa punya kekuatan berjalan dan dilanda insomnia. Padahal aku punya jam tidur yang sangat teratur. Diatas jam 10 mataku akan terlelap hingga subuh.
Desember penuh dengan kesibukan. Berbagai agenda harus diselesaikan. Juga undangan jalan-jalan ke Butta Panrita Lopi, tak akan kulewatkan yang ini. Sejak kuliah, salah satu daerah yang paling ingin kukunjungi adalah daerah Kajang, walau pada akhirnya tak sampai kesana. Aku hanya sampai di Tamatto dengan berbagai alasan yang masuk akal.
Untuk kesana, aku ingin sehat agar tak melewatkan setiap moment berharga dalam setiap perjalanan yang kulakukan. Kali inipun aku tak ingin hal itu terjadi. aku harus sembuh dari segala penyakit. Aku masih punya satu minggu sebelum 18 desember.
Menjelang magrib wawan mengantarku ke tempat praktek langganannya. Katanya sejak kecil mantra kesehatan itu telah menjadi dokternya. Setiap sakit ia akan berobat kesana. Aku setuju dan berharap bisa cepat sembuh dari alergi ini. Tempat itu ternyata memang ramai. Sesak dengan pasien walau cuaca tetap saja tak bersahabat. 5 orang menunggu di depanku. Ada ibu yang membawa gadis ciliknya yang sedang flu, bapak-bapak, hingga anak muda dan mahasiswa. Tempat ini sepertinya bisa kupercaya.
Setelah bercerita tentang sakit yang kurasa. Ia memegang pergelangan kakiku dan sesekali menekannya. Aku alergi katanya, ia menyuruhku mengingat semua makanan yang kukonsumsi seminggu itu. aku bukan orang yang alergi pada makanan. Pola makanku selama di Barru mengikut pada pemilik rumah yang kutempati. Daerah pesisir selalu menjadi gudang seafood segar di tambah kangkung segar dari samping rumah. Satu-satunya hal baru yang kucicipi adalah telur asin rempah.
Ini bukan alergi makanan kataku. Mungkin hal lain, dalam seminggu aku bisa mendatangi tiga penjuru mata angin Sulawesi Selatan, dari utara, barat hingga ke selatan. Cuacanya tak ada yang sama. Utara sangat panas sedangkan barat dan selatan sedang terguyur hujan dan dingin. Apa karena itu tanyaku? Ia memberi beberapa obat dan sebuah bedak penahan alergi. Katanya aku akan baik dalam 3 hari.
Dengan rutin kuhabiskan obat itu, tentu saja aku ingin cepat sembuh dan memulai perjalanan baru. Tiga hari berlalu, tak ada perubahan, kakiku tetap bengkak dan sakit. Tetap saja susah tidur, untung flu dan batuknya mulai berkurang. Aku kembali ke mantri itu. Malam itu tak cukup ramai, aku tak harus menunggu lama. Setelah menyampaikan keluhanku, ia hanya menyarankan satu hal, meminta saya ke dokter ahli dalam. Aku pulang dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Aku juga tak bisa langsung ke rumah sakit. Esok pagi harus berangkat ke selatan, perjalanan ini tak bisa ditunda dan aku melawan sakit.

Wednesday, March 21, 2012

Saatnya Uji Lab

Aku harus tes darah, itu hal yang paling ingin kulakukan sejak kejadian kemarin.
Untuk pertama kalinya aku sangat ingin tahu tentang sakitku. Selalu saja susah bangun pagi, apalagi ketika cuaca tak bersahabat. Tubuhku akan sangat berat untuk bergerak, bukan karena malas. Tapi memang terasa sakit. Pukul 10.00 hujan mereda. Adikku mengantarku ke ATM, dompetku tak terisi. Aku mengambil 6 lembar 50 ribuan. Aku pikir itu cukup untuk chek up. Rumah sakit terlihat sepi. Di bagian pendaftaran tak ada calon pasien yang mengantri. Aku sendirian. Nampak didalam beberapa petugas sedang cerita, ada juga yang membolak-balikkan berkas. Aku membunyikan bel di ruangan itu, tapi mereka malah menyuruhku menunggu. Fisikku sangat lemah, aku tak punya cukup tenaga untuk berdiri dan menunggu di ruang itu. aku mulai emosi, seharusnya pasien di nomorsatukan. Aku tak akan berkunjung ke rumah sakit, bila tak benar-benar sakit. Mungkin mereka akan membuat pasien menunggu hingga pingsan dan bahkan mungkin mati.
Akhirnya salah seorang petugas mendekat, menanyakan aku akan berobat ke poli mana? Interna aku menjawabnya singkat. Ia kemudian menanyakan nama, tanggal lahir, alamat dan kelengkapan lainnya. Ia juga menanyakan apa aku menggunakan askes atau yang lainnya. Umum kataku, jika menggunakan jamkesmas atau jamkesda, pelayanannya tentu berbeda pikirku, lagi pula sangat rumit, harus ke puskesmas dulu untuk periksa dan beruntung jika dikasih rujukan. Aku ingin tahu peyakitku secepat mungkin, dan jika menggunakan kesehatan gratis itu aku akan butuh waktu lama dan menghabiskan tenagaku.
Di depan poli interna pasien duduk berjejeran, kurang lebih 10 orang, dan tampaknya aku yang termuda. Beberapa orang tua Nampak di temani anaknya. Ah, penyakit tak lagi mengenal usia. Jika dulu beberapa penyakit hanya terjadi pada orang yang lebih tua, namun sekarang anak muda bahkan anak kecilpun bisa menderita.
Batuk dan flu juga telah menggangguku sejak pulang dari Barru kemarin, angin malam dan dingin sepertinya menjadi pemicu, tentu selain tubuhku yang memang sensitive. Beberapa mahasiswa keperawatan menempati kursi di ruang tunggu, mereka tak ada aktifitas. Rumah sakit ini tak seramai rumah sakit milik pemerintah. Rumah sakit swasta tentu lebih mahal, saya pun berpikir demikian. Tapi rumah sakit milik pemerintah sangat jauh dari tempatku, dan paling tidak aku berharap karena ia swasta aku akan mendapat pelayanan yang lebih baik.
Dalam mata kuliah manajemen pemasaran dulu. Rumah sakitpun adalah penjual, dan selayaknya penjual harusnya menjadikan pembeli sebagai ratu. Ada slogan seperti itu, dan setiap pedagang pasti tahu hal ini.
Kenapa sebagian petugas kesehatan tak bisa melakukannya, memberikan pelayanan yang ramah. Beberapa bulan lalu ini telah didiskusikan, bahwa kesembuhan pasien bukan hanya pada pengobatan fisik yang dilakukan, tapi secara psikis pelayanan yang memuaskan, petugas yang ramah akan member energy positif untuk kesembuhan itu.
Dua jam menunggu akhirnya giliranku datang juga. Aku masuk, seorang dokter dan 3 perawat. Menurutku dua diantara mereka sedang praktek. Setelah perawat memeriksa dan mencatat tekanan darahku, dokter itu mendekat. Memeriksa perutku dengan stetoskop dan menanyakan keluhanku. Tanganku selalu gemetaran. Ia mengatakan mungkin asupan kalsium. Ah, rasanya tidak, aku tahu makanan yang kumakan mampu memenuhi kebutuhan kalsiumku. Aku menceritakan semua gejala yang kurasakan, dan mengatakan aku ingin melakukan tes TSH. Aku ingin memastikan penyakitku. Diagnosis dokter terhadap penyakit adalah dengan mendengat keluhan pasiennya, setelah itu baru melakukan pemeriksaan. Satu-satunya hal yang bisa meyakinkanku adalah lewat tes darah itu.
Pernah beberapa kali aku mendatangi puskesmas yang berbeda, di Makassar dan Sengkang, aku menceritakan keluhan yang berbeda, dan aku akan mendapatkan obat yang berbeda pula. Diagnosis penyakit menjadi berbeda karena hal tersebut, jadi sesekali aku berpikir aku sebenarnya bisa mendiagnosis sendiri penyakitku dan menentukan obat apa yang hendak kukonsumsi. Tapi tidak, itu hanya pikiran nakal ketika kepalaku sudah mumet dan tak mendapat hal yang kuinginkan.
Akhirnya aku diantar ke lab oleh mahasiswa yang sedang praktek, sebelumnya perawat di ruang itu telah mengingatkanku untuk menanyakan biaya tes darahnya dulu. Katanya agak mahal. Aku melewati lorong rumah sakit ke arah dalam. Rumah sakit selalu menjadi momok yang menakutkan buat siapapun. Termasuk aku, masuk rumah sakit berarti harus menyiapkan uang yang tak sedikit. Tak akan masalah jika itu berlaku pada orang kaya, tapi bagaimana dengan kalangan menengah ke bawah? Aku termasuk orang yang tak akan mampu menanggung biayanya, tapi aku juga tak akan pasrah diperlakukan seenak hati oleh petugas. Aku manusia, punya akal dan rasa.
Untuk mengecek kadar TSH dalam darahku, aku harus mengeluarkan biaya 190.000,- , belum untuk mengecek kadar asam urat dalam darahku butuh 29.000,- aku jadi ingat dokter langgananku di puskesmas, untuk mengecek asam uratku aku hanya mengeluarkan 15.000 dari kocekku. Cukup jauh bedanya.
Aku takut disuntik, apalagi melihat darah dikeluarkan dari tubuhku. Petugas lab itu mengambil alat suntik baru. Ia memintaku menggulung lengan bajuku dan mencari urat nadi dilengan kiriku. Ah, cukup sakit dan setelah itu kulihat darah mengalir memenuhi tabung alat suntik itu. aku harus menunggu dua hari untuk menunggu hasil lab itu.
Selesai di lab aku kembali ke poli interna, tentu saja aku harus menyelesaikan pembayarannya. Tak seperti di rumah sakit umum yang akan kita bayar diawal pendaftaran. Pada rumah sakit swasta biaya jasa akan diberikan setelah semua proses kita lewati. Masalahnya adalah jika uang yang kita bawa tak mencukupi. Dan aku merasakannya hari itu. uang di dompetku tak cukup. Tak ada lagi biaya untuk menebus obat. Aku terlalu pede ke rumah sakit swasta dengan modal 300 ribu,hehehe…

Monday, March 19, 2012

Kenapa harus tes darah?

Matahari telah melewati puncaknya, perutku mulai teriak. Aku ingin memasak hari itu, namun didapur tak ada bahan sama sekali. Aku tak selalu memasak, hanya ketika menginginkannya, atau ketika pulang dari daerah dan aku rindu masakan tertentu yang tak ada di warung. Aku sangat suka ikan masak buatanku, tak hanya berbahan asam dan kunyit seperti yang ibu ajarkan, tapi menambahinya beberapa bumbu hingga aku menyukainya. Apalagi ditambah mangga mengkal yang di racca.
Aku tak hendak memasak itu. aku suka sayur tumis, tumis sawi pilihanku hari itu, dengan perkedel jagung. Aku meminta adekku ke pasar, ia memintaku menemaninya. Aku sedang tak ingin ke pasar, diluar sangat dingin, dan aku tak tahan dingin. Seorang kawan disampingku kuminta melakukannya, tapi juga tak mau. Ia malas, dingin , dan katanya giginya sedang sakit. Adikku juga tak mau pergi sendiri.
Aku mulai jengkel, tak ada yang mau melakukannya. Akhirnya uang itu kuambil dan masuk ke kamar. Pintu kamar kukunci, menutup jendela dan menurunkan tirai kamarku. Dekat jendelaku ada sebuah meja lengkap dengan kursinya, pagi biasa kuhabiskan disitu, sambil membaca atau sekedar menatap pagi. Aku sedih dan marah. Lapar yang melilit tak terasa lagi. Aku duduk dekat jendela, menahan emosiku.
Sejam terdiam disitu, dengan emosi yang meledak. Aku menangis, tak lagi karena marah pada mereka. Aku marah pada diriku sendiri, marah karena aku selalu tak jelas. Marah karena hal-hal kecil. Karena adikku sering menunda sesuatu yang kuminta, marah karena melihat adikku main game dan tak peduli padaku. Marah karena ia tak mau memasakkan mie untukku.
Aku mengingat semua hal yang kulakukan beberapa bulan terakhir, dan emosiku selalu meledak-ledak. Aku kadang menangis sendiri tanpa sebab, aku mengira itu karena sindrom pra menstruasi. beberapa kawan sering mengatakan kenapa aku jadi sangat sensitive, dan aku baru menyadarinya.
Sebuah pesan singkat masuk di hpku “baik-baikjeQ?”
Tangisku tambah membuncah hingga sarung yang kugunakan basah. Bulan lalu kakakku menegur, tanganku selalu gemetaran. Ketika chek up di dokter puskesmas, aku menanyakannya. Katanya gejala hipertiroid, dan untuk memastikannya harus melakukan tes darah.
Aku telah menjelajahi dunia maya untuk mengetahui penyakit itu. belajar gejala-gejalannya. Dan aku sadar, beberapa gejalanya ada padaku.
Aku sangat sensitive akhir-akhir ini, aku selalu tak tahan panas dan dengan gampang berkeringat padahal orang disampingku biasa-biasa saja. Aku juga tak bisa berkonsentrasi, dulu aku pikir ini karena aku cepat bosan dan ingin selalu mendapatkan hal-hal baru.
Aku menangis, karena merasa tubuhku tak bersahabat denganku, aku menangis menyadari jika usahaku menaikkan berat badanku tak pernah berhasil karena penyakit ini. Tapi hal yang paling berat dan tak kusukai adalah karena menjadi sensitive dan tak bisa menstabilkan emosiku. Aku tak ingin kerja-kerjaku terganggu, aku tak ingin membuat nyaman orang-orang yang ada di sekelilingku.
Aku mengirim pesan singkat, bercerita pada seorang kawan. Ia menguatkanku, dan memintaku bercerita pada orang-orang yang ada di rumah ini. Agar mereka tahu dan bisa memahamiku. Aku janji akan melakukannya setelah memastikan sakit ini. Aku melakukan tes darah. Aku tak ingin sakitku menyakiti orang lain. Aku bukan lagi gadis manja yang dulu suka mengeluh.

Sunday, March 18, 2012

Aku tak akan kalah (1)

Ini kisah tak menyenangkan, bukan untuk berbagi keluh, tapi agar kita sama-sama belajar. Pengalaman selalu menjadi guru yang baik, dan ini pelajaran berharga untukku, setelah segala teori yang kudapat dari bangku kuliah, atau buku-buku yang kubaca agar bisa berbagi ilmu dengan ibu-ibu di Barru dan anak muda penuh semangat di Sengkang.
Sejak mei bergabung pada program RCL, dan hal paling nyambung dengan teori kuliahku adalah pelajaran kesehatan reproduksi pada empat desa di kab.Pangkep dan Barru. aku juga belajar bersama 60 anak muda Sengkang pada sebuah pelajaran bernama Promosi Kesehatan.
Bicara kesehatan reproduksi pada kondisi pedesaan adalah hal yang sangat tabu. Berbicara bagaimana system reproduksi perempuan bekerja. Perempuan dan laki-laki, saling melengkapi. Perbedaan seks yang semua orang tau, tak perlu dijelaskan panjang bagaimana seorang laki-laki dan perempuan berbeda, atau apa perbedaan diantara keduanya. Bertanya gender atau seks pada Om Google, akan ada daftar panjang tulisan yang bisa kita buka.
Jadi aku tak perlu menjelaskan tentang hal itu. pada ibu-ibu pun demikian, mereka bisa membedakan sendiri. Mereka tau ketika anak gadis telah mengalami haid pertamanya maka mereka telah bisa melahirkan anak.
System reproduksi bermula ketika kita memasuki tahap pubertas, demikian kujelaskan pada mereka. Mendengar kata puber, mereka tau satu hal, pada masa itu anak mereka jatuh cinta, menyukai lawan jenisnya. Itu satu-satunya hal yang mereka tangkap. Padahal tahap pubertas tak sekedar ketika gadis mulai jatuh cinta.
Aku ingat seorang gadis 15 tahun yang ikut Sekolah perempuan tersipu malu-malu ketika aku membahas masalah ini. Pernah juga sekali aku bercerita pada etta tentang aktifitas yang kulakukan di Barru, belajar kesehatan reproduksi bersama ibu-ibu. Beliau menegurku, katanya apa aku tak malu membicarakan hal tersebut, padahal etta yang tak ikut Sekolah tersebut malu mendengarnya,hehehe…. Aku pernah merasakannya ketika kuliah. Merasa malu membicarakan tentang tubuh kita didepan orang banyak. Beberapa tahun lalu aku ikut Baksos Korpala di desa Erelembang, (aku juga menulis tentang hal tersebut). Waktu itu seorang ibu bertanya padaku, bayinya tak mau menyusu padanya, sementara mau menyusu pada perempuan lain. Ibu itu sangat sedih. Aku menjawabnya malu-malu dengan muka memerah.
Sebenarnya ini bukan ini yang hendak kucerita,hehehe…
Sekarang telah masuk bulan kedua, tubuhku sangat tak bersahabat. Terkena sedikit hujan dan cuaca dingin akan membuatku flu dan batuk akan mengganggu selama beberapa minggu. Payahnya batuk tak hanya membuat tidurku tak nyenyak, tapi mengganggu orang-orang yang ada didekatku. Sangat tidak enak. Sejak dulu, aku tak pernah peduli dengan tubuhku, apalagi hanya demam dan flu. Itu tak pernah mengganggu aktifitasku. Buatku kedua penyakit ini hanya angin lalu yang akan lewat dengan sendirinya. Hal ini membuatku tak peduli jika teman-temanku mengalami hal yang sama. Padahal setiap orang berbeda. Sekali waktu pacar sahabatku marah besar, aku sahabat yang tak peduli katanya. ketika sahabatku sedang demam, aku menganggapnya hal biasa, tak menanyakan keadaannya, apalagi menjenguknya. Kalau mengingat hal ini, aku akan minta maaf dalam hati.
Bertahun-tahun aku tak pernah mengkonsumsi obat-obat kimia. Aku tak ingin bergantung pada obat-obatan ketika sakit. Aku selalu membiarkan penyakit sembuh dengan sendirinya. Selain itu aku selalu berpikir sehat atau sakit adalah sugesti. Tetap saja aku merasa tubuhku baik-baik saja.

18 Maret 2012
pagi pertama setelah membaca kertas itu

Saturday, March 17, 2012

Seorang Nenek dan Aksi Tolak Kenaikan BBM

Hujan mengguyur Makassar pagi ini, cukup deras dan membuat mata enggan terbuka. yang lain masih terlelap ketika aku membuka mata. Paling nyaman melanjutkan tidur. Aku tak melakukannya, walau sangat menginginkannya. Hari ini aku harus chek up ke dokter, selain itu ada meeting di kantor. Tapi hal paling penting, 12 maret kemarin semua sepakat hari ini turun aksi menolak kenaikan BBM dengan estimasi massa 500 orang. Jam 10 pagi perjanjiannya. Berkumpul di bawah fly over.
Bukan hanya mahasiswa, ada buruh, miskin kota, petani, nelayan, semua bergabung. Tak ada sekat. Kenaikan BBM akan membunuh kita semua.
Jam 10 pagi hujan bukannya mereda, tapi bertambah deras. Dua minggu lalu, sebuah celoteh “ hujan dan revolusi”. Hujan terkadang menghambat kerja itu, walau petani selalu bergembira menyambut hujan.
Aku terlambat kesana bukan karena hujan, tapi kelamaan mengikuti prosedur rumah sakit, dan harus antri dengan pasien lainnya. Angka di Hpku telah melewati angka 11, menuju ke fly over segera. Untung kendaraan tak terlalu macet. Mungkin massanya belum seberapa, mungkin mereka terhalang hujan dan mahasiswa masih harus menunggu jam kuliah.
Bergantian perwakilan setiap organ orasi. Dengan semangat membara mereka menyerukan penolakan BBM. Dan aku tahu sebagian dari penumpang pete-pete akan mengomel karena terhambat. Supir pete-pete protes karena bensin mereka terbuang percuma menunggu macet. Orang-orang dengan mobil mewah pasti kalah, mungkin sebagian dari mereka berpikir, makanya jangan miskin, agar tak terpengaruh pada kenaikan BBM. Sesekali aku melihat muka mereka tak bersahabat melintasi kami.
Aku menjadi lebih bersabar ketika menumpang di pete-pete dan mendengar omelan itu. sejak dulu aku menjadi pelaku, hingga saat ini aksi jalanan masih menjadi pilihan perlawanan, tentu dengan hal lainnya.
Aku tetap menjadi bagian dari aksi ini, walau tak lagi seperti dulu, berdiri dibarisan paling depan, membagikan selebaran dan pernyataan sikap. Aku memilih duduk diatas sebuah motor milik massa. Seorang nenek melintas ditengah kami. Sejenak ia singgah dan membaca spanduk hijau bertuliskan penolakan BBM dan kenaikan TDL. Raut mukanya menyisakan cerita tentang kerasnya hidup. Ia tak lagi berjalan sempurna, sebelah kakinya sedikit terseok. Ia melintas didepanku dan berhenti pada sebuah kardus bekas teh gelas yang berisi ribuan. Di bagian depannya ada tulisan “logistic aksi” dibuat untuk membeli air kemasan pelepas dahaga setelah teriak. Nenek itu lama berdiri disana, ia membuka dompetnya, mencari sesuatu. Dari atas motor kuperhatikan tingkahnya. Juga kulihat pada dompet yang dibuka lebih banyak berisi kertas putih. Lembar berharga itu tak banyak disana.
Ia mengambil selembar dua ribuan yang terlipat dengan baik, diantara kertas putih itu, memasukkannya dengan pelan kedalam kotak, dan berlalu dengan sumringah.
“ia mungkin malaikat” kelakar seorang teman.
Ada haru yang menyusup. Sebagian orang menganggap aksi jalanan tak berguna, juga ada banyak orang yang mencela aksi kami, namun selalu saja ada orang-orang yang peduli. Angka dua ribu mungkin tak berarti sama sekali buat mereka. Tapi aku, kita, dan mereka telah kalah oleh nenek itu.
Pemerintah telah mencekik rakyatnya dengan menaikkan BBM dengan alasan menghindari pembengkakan anggaran Negara, padahal keuntungan yang tak sedikitpun mereka dapatkan dari kenaikan harga minyak. Tapi nenek itu telah mengajarkan pada kita bagaimana mengorbankan hartanya untuk orang-orang yang ada disekitarnya. Seharusnya pemerintah juga belajar pada Nenek itu.

“Maka bangkitlah rakyat Indonesia untuk merebut kembali lading-ladang minyak yang telah dikuasai asing. Tegakkan kedaulatan energy ditangan rakyat Indonesia karena sector energy adalah milik rakyat itu sendiri, bukan orang asing. “

(segala hormat dan takzim untukmu, walau tak mengenalmu, tapi kau telah memberiku pelajaran berharga hari ini)

Rumah Rakyat, 15 Maret 2012