Tuesday, February 12, 2013

Menikmati Pesisir Galesong



Hari ini, bersama Dewi dan Direktur WALHI Sulsel kami jalan jalan ke desa Galesong Kota. Salah satu desa nelayan yang terletak di Kab. Takalar. Kami janjian dengan Djabal, salah satu pemuda yang tergabung dalam organisasi Gramuda Galesong. Kelompok ini telah berdiri sejak lama, bukan organisasi yang hanya kongkow dipinggir jalan, tapi dengan segudang kegiatan yang bermanfaat untuk anak muda.
Jaraknya cukup jauh dari Makassar, ini menurutku. Untuk sampai ke desa tersebut, kita bisa melewati jalur provinsi ataupun lewat Tanjung. Kami lewat jalur Tanjung, jaraknya lebih dekat dan bisa menikmati aroma pantai yang telah dimodernisasi.
Kami singgah sejenak di rumah Djabal. Kedua orang tuanya sangat ramah. Tak perlu berlama lama. Aroma laut telah tercium. Dari depan rumah Djabal kami dapat melihat pantai. Biru langit terpantul sangat indah. Berempat, kami jalan kaki kesana. Selain bisa olah raga, tentu ini akan lebih ramah. Kami bisa berbagi senyum dengan penduduk setempat.
Walau terbilang dekat dari Makassar tapi suasana desa sangat terasa. Seseorang mengajak singgah di rumahnya, padahal orang itu tak mengenal kami.
Beberapa nelayan menyandarkan perahunya. Mereka baru saja berlabuh. Istri istri menyambut, untuk membantu mengambil peralatan melaut suaminya. Aku berbisik ke Dewi. “ mungkin mereka sangat bahagia dengan hal itu. Pulang, dan istri menyambut ramah di tepi pantai.
Transaksi kecil berlangsung, jual beli ikan hasil tangkapan. Ikan segar tentunya, belum tersentuh dinginnya es batu. Ikan katamba, ikan merah, ikan tompo, tongko tongko (pari). Ikan jenis ini diperoleh dengan memancing. Ikan katamba yang besar biasanya di jual ke restoran. Membeli ikan disini tentu sangat murah. Ikan pari yang kubayangkan sangat mahal, untuk ukuran kecil bisa diperoleh dengan 5.000,- . satu ikat ikan katamba hanya membutuhkan 15.000 -  30.000.
Selain memancing ada juga nelayan yang menggunakan pukat/ jarring. Mereka mendapatkan ikan ikan kecil dalam jumlah banyak. Pendapatan sekali melaut bervariasi, tak menentu. Kadang banyak, kadang sangat sedikit. Pak Mustari, seorang nelayan bercerita kadang mendapat 50.000 – 500.000, jika beruntung mereka bisa mendapat hingga 1 juta rupiah.
Ini tentu tak didapat dengan mudah. Iklim mulai tak menentu. Saat ini musim angin barat, biasanya ini berlangsung di bulan januari hingga februari. Katanya menunggu tahun baru Cina. Saat seperti ini merupakan saat yang sangat sulit buat nelayan. Dg. Tayang panggilan Pak Mustari sudah 5 hari tak turun ke laut. Sebagian nelayan akan menggunakan jasa Pappalele untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jika meminjam 1.000.000,- maka akan dikenakan bunga 20% perbulan. Jadi jika nelayan tak bisa membayarnya, maka bunga itu akan terus bertambah. Sebagian besar nelayan sangat bergantung pada jasa Pappalele.
Pappalele tidak sekedar meminjamkan uang, beberapa nelayan menggunakan perahu miliknya. Hasil yang didapat dari melaut akan di bagi dengan pappalele. 40% dari hasil yang didapat akan di serahkan ke Pappalele, dari 40% ini dibagi lagi. 20 % untuk dikantongi Pappalelenya, sedang 20% lagi simpanan nelayan. Sisa 60% akan dibagi dua oleh nelayan yang melaut. Oh, iya untuk melaut biasanya dalam satu perahu akan ada dua nelayan.
Nelayan tak mampu mengakses perbankan. Untuk mendapatkan pinjaman dari bank mereka harus memenuhi beberapa persyaratan administrasi dan jaminan. “ kalau laut ada sertifikatnya, tentu kita bisa dapat pinjaman dari bank” celoteh Pak Mustari. Sementara pinjaman dari tempat lain hampir tak ada. Ide untuk membangun sebuah koperasi nelayan pernah terlontar oleh salah satu kendidat legislative, tapi sayangnya sampai saat ini belum pernah direalisasikan.
Melaut adalah rutinitas yang dimulai malam hari. Nelayan rata rata berangkat melaut jam 12 malam, sebagian yang lain berangkat jam 1 dini hari. Untuk ke wilayah tangkapan mereka harus menempuh jarak sejauh 30 mil, biasanya ini membutuhkan waktu selama 2 jam.
Dulu tak seperti itu. Di tahun 80an untuk mendapatkan ikan mereka hanya perlu ke pulau Sanrobengi. Jarak tempuhnya ±15 menit. Ikan semakin menjauh, tak jarang nelayan galesong ditangkap petugas Australia. Nelayan tak tahu batas batas wilayah, tak tahu sejauhmana mereka harus melaut.
Selain semakin jauhnya wilayah tangkap, nelayan juga harus berhadapan dengan Parere. Parere menangkap ikan dengan menggunakan perahu besar dan pukat harimau. “ mereka menangkap ikan mulai dari kakek sampai cucu cucunya,” lelucon pak Mustari. kehadiran Pa'Parere sudah ada sejak dulu. “seharusnya ada pembagian wilayah tangkap yang jelas antara nelayan kecil dan Parere.
Untuk menyiasati musim tangkap ikan, sebagian besar nelayan mencari ikan di kab.Barru. mereka terkadang menetap hingga sebulan disana. Sejak dulu nelayan Galesong terkenal pelaut tangguh. Lautan telah mengajarkan bagaimana bertahan hidup.
Jalan jalan itu ditutup dengan sajian sederhana dari Ramli. Salah satu anggota Gramuda Galesong yang berprofesi sebagai nelayan. Ramli dan Fathur ketua Gramuda membakar ikan.  Ikan Pari dengan racikan bumbu rahasia ala Ramli. Nasi hangat, tumis kangkung, ikan bakar pari, ikan layang. 

7 februari 2013
Bahagia itu sederhana.
Terima kasih buat Jabal, Fatur, dan Ramli

Wednesday, January 9, 2013

Tentang hujan dan banjir


Hampir seminggu saya berada disini. Kamar segi empat yang kusebut rumah. Makassar sedang diguyur hujan dan aku malas keluar. Beberapa hari aku keluar namun menghasilkan lelah yang berkepanjangan. Tubuh yang menghangat. Kepala yang berdenyut keras seakan mau pecah. Menambah pakaian basah dan kotor. Jalanan macet karena banjir dimana mana. Jipratan air hujan bercampur air got.
Aih, tak ada yang menyenangkan, selain menikmati rinai hujan didalam kamar. Mendengar music kesukaanku. Mendekam dibalik hangatnya selimut. Membaca hingga mata terasa berat kemudian menggantinya dengan tontonan menarik dari film film lebay yang ku copy dari teman temanku.
Makassar diselimuti awan gelap dan hujan yang deras. Banjir dimana mana, hampir  seluruh daerah di Sulsel. Sulsel dalam Kondisi darurat ekologis, demikian kami menyebutnya. Adikku di kost-an mengirim pesan singkat ia terjebak macet di Pangkep, sejak sore  berteduh di Pertamina. Salah satu sungai besar di Pangkep meluap. Katanya mereka mungkin tertahan sampai pagi. Seorang kawan di Jeneponto menulis status di walk facebooknya, banjir menggenangi kampungnya. Sisa tiga anak tangga dan rumah mereka akan tersapu air. Berita di TV empat titik di kota Makassar paling parah, air setinggi dada orang dewasa. Masyarakat harus dievakuasi menggunakan perahu karet. Kantorku juga tak luput, Rumah Hijau kebanjiran, bukan hanya sehari, tapi dua hari penghuninya harus sibuk membersihkan. Kostku juga tak mau kalah,  beberapa kamar harus ditongkrongi karena air meresap hingga ke tembok tembok kamar. Untung kamarku tak jadi korban.
Seingatku aku pernah merasakan hujan yang lebih parah. Ini baru dua hari hujan dan berita banjir harus memenuhi semua ruang. Dunia maya, televise, radio, media cetak, semua. Aku mengenang musim hujan yang pernah kulewati di Makassar. Dulu, kalau musim hujan aku tak suka membawa tas dan segala jenis barang yang akan basah ketika musim hujan. Aku selalu menggunakan pakaian kebangganku. Jeans, kaos oblong, jaket dan sandal jepit serta beberapa lembar rupiah di kantong. Aku tak mau repot, kalau mau pulang ke rumah aku tak punya beban. Tak ada yang aku khawatirkan akan basah. Aku akan menikmati hujan dengan jalan kaki pulang ke rumah.
Berhari hari hujan juga tak membuatku takut. Aku jarang mendengar berita banjir. Satu satunya banjir yang kudengar adalah dari rumahku di Sengkang. Selebihnya aku menikmati musim hujan. Aku mencintai hujan, mencintai desember seperti lagunya Efek Rumah Kaca.
Sekarang musim hujan menjadi sangat menakutkan. Apakah curah hujannya yang bertambah? Tidak, hujan masih sama, masih seperti dulu. Yang berubah adalah di sepanjang perintis rawa rawa yang dulunya menjadi daerah resapan air, kini berganti menjadi  pohon pohon beton yang akan membawa air masuk ke jalanan. Tak lagi banyak ruang untuk resapan air. Pembangunan Makassar berlangsung terus menerus, pusat perbelanjaan, perumahan mewah, perhotelan. Sayangnya pembangunan itu tak beriringan dengan perbaikan drainase.
Kompleks gubernuran yang menjadi salah satu pemukiman mewah di Makassar telah menjadi langganan banjir 3 tahun terakhir. Rumah rumah mewah namun tanpa pembuangan yang beres, tanpa taman hijau, semuanya telah menjadi taman beton.
Hujan masih sama, yang beda adalah pohon pohon terus tergerus di hulu. Jangan salahkan hujan ketika banjir memenuhi halaman rumah, memenuhi jalanan, meluapkan sungai, membuat macet. Salahkan mereka yang serakah menebang hutan, menggunduli gunung, mengganti kawasan karst menjadi kawasan tambang.
Di maros Pangkep terdapat dua perusahaan besar penghasil semen. Berkali kali aku menemukan kebanggan mereka di papan pinggir jalan Tol Makassar, kebanggaan atas pembangunan tol tersebut menggunakan salah satu merk semen (aku lupa namanya) gedung gedung di Makassar pun pasti menggunakan salah satu dari mereka. Jadi gedung gedung yang kita tempati berasal dari pegunungan karst yang ada di maros dan Pangkep.
Aku ingat pernah mengikuti diskusi singkat waktu ikut kegiatannya Korpala di maros. Menurut salah satu pembicara kawasan karst adalah penyimpan cadanngan air. Kita sama sama tahu hutan, pohon adalah pengikat dan penahan air. Sekarang aku berada di salah satu LSM Lingkungan yang ada di Indonesia, banjir telah menjadi masalah dan akan terus terjadi. Pulihkan Indonesia, demi keselamatan hidup rakyat.
Jangan menyalahkan hujan, pun membencinya. Aku masih mencintainya meski pakaianku telah seminggu tak juga mengering. Aku mencintai hujan walau aku mulai merindukan aktifitasku di luar rumah. Aku mencintai hujan  karena air adalah salah satu rahmat terbesar Tuhan dan tanpanya aku, kamu, mereka, kita tak akan bisa hidup.
Sabtu, 5 januari 2013
(Bersama kawan kawan di kost yang sibuk membersihkan rembesan air dikamarnya
Dan aku tetap mencintai hujan)


Friday, December 21, 2012

Cinta pada Sebotol Obat dan Tikar Lontar


Hari ini  22 desember, diperingati sebagai hari ibu. Pasti ada banyak acara yang dibuat untuk peringatan itu. Aksi bagi-bagi bunga, diskusi dengan tema perempuan, dan kegiatan positif lainnya. Ada juga adikku yang hendak membelikan kado untuk ibunya. Aku tak punya kado untuk etta , Aku hanya ingin menulis malam ini dengan penuh ribuan terima kasih yang tak akan mampu aku sampaikan pada etta.
Aku menulis, walaupun tahu etta tak akan bisa membaca tulisan ini. Tak ada akses internet di rumahku. Etta juga tak mengenal bangku sekolah seperti aku. Tak bisa baca tulis, tapi etta adalah guru terhebat yang ada di dunia.
Aku baru saja mengeluarkan seluruh isi tasku setelah menempuh perjalanan panjang dari Sengkang.  Masih ada sejuta rindu yang belum tuntas. Rumah selalu menjadi tempat menyenangkan untuk melepas lelah dan menghabiskan waktu sepanjang hari. Setumpuk pekerjaan yang kubawa ke Sengkang tak selesai karena waktu selalu saja tak cukup untuk berbagi.  Seminggu masih sangat kurang. Aku masih ingin seminggu lagi dan lagi.
Aku menemukan botol obat yang diselip di sela-sela buku dan pakaianku. Aku ingin menangis, haru menyeruak membuatku kembali merindukan etta. Obat itu sejenis minyak gosok, cairan berwarna merah yang sangat harum. Kata etta kalau tubuh kita sakit obat itu akan panas dan pedis, kalau tak sakit dia tak akan mempunyai efek apa-apa, selainnya baunya yang sangat nyaman.
Seminggu di Sengkang, etta akan membalurkannya ke tubuhku. Setiap malam, ketika aku meringis menahan sakit dan tak kuat berjalan, atau ketika tubuhku sangat lelah di depan komputer.  Asam urat  masih bertengger manis dan mengganggu aktifitasku apalagi setelah perjalanan jauh yang melelahkan.    
Obat itu tak dijual di toko-toko obat yang ada di Sengkang. Setiap enam bulan sekali , ada penjual keliling dari Makassar yang membawa obat tersebut. Pemiliknya berjualan dengan menggunakan mobil, berkeliling desa. Sekali aku pernah mendapati etta berlari mengejarnya. Etta tak pernah membelinya dalam jumlah banyak. Selalu membeli sebotol dan menggunakannya dengan tepat.
Aku ingat kemarin etta mencari botol bekas untuk menyimpan obat itu. Aku tahu etta juga tak bisa berpisah jauh dari obat gosoknya. Bagaimana etta  bisa menahan sakitnya. Etta mungkin tak bisa tidur lelap malam ini , dan malam-malam selanjutnya akan seperti itu. Etta sangat butuh obat itu, dan sekarang telah berpindah tangan padaku. Rasanya aku ingin pulang dan memeluknya erat. berterima kasih untuk cinta yang tak bisa aku balas.
Aku menemukan ribuan cinta malam ini. aku tahu setiap ibu mencintai anaknya. cinta yang tak bisa dibalas. kadang kita lupa dan larut pada setiap mimpi yang kita bangun. Hari ini aku terbangun, bahwa ada orang yang menungguku pulang, yang mendoakan keselamatan dan kesehatanku setiap. Yang bernazar puasa setiap mendengar aku sakit.
Dulu ada pohon lontar tumbuh di belakang rumah nenekku. pohon yang telah ada puluhan tahun lalu. telah ada jauh sebelum aku lahir. Usianya membuat ditebang sebagai satu-satunya pilihan. Etta mengambil daun lontarnya. menganyamnya menjadi tikar yang cantik.
Etta membuatkan satu untukku. Tikar dengan aroma yang sangat khas, sehingga kamarku menjadi harum. Harum daun lontar yang belum sepenuhnya kering. Lontar oleh sebagian masyarakat dipercaya bisa menangkal pengaruh jahat , ilmu hitam dan teman-temannya.  Etta membuatkannya dengan alas an yang sama.
Tikar itu sangat kecil, tak cukup untuk seluruh tubuhku. Ukurannya sangat imut, tak melebihi tinggi badanku. Aku membawanya ke Makassar. Aku merasakan cinta pada setiap helai daun lontar. kubayangkan etta menganyam dengan harapan menggunakannya akan membuatku sehat seperti dulu.
Hari ini hari ibu, tapi tidak semua ibu di dunia ini tahu kalau setiap tanggal 22 desember diperingati  sebagai hari ibu. Etta juga tak tahu. Hari ini, besok, lusa, semua sama saja. Etta tetap akan menghabiskan waktunya di rumah.
Rasanya aku ingin pulang, membawa kembali botol obat itu. Sekarang aku jauh lebih sehat, bukan karena obat itu. Tapi karena aku tahu ada rindu yang akan terus menarikku pulang. Aku punya rumah, rumah yang sebenar-benarnya. Rumah dengan jutaan mimpi yang telah kubangun sejak kecil.
Aku ingin pulang tanpa harus menunggu Hari Ibu. Aku ingin pulang untuk ribuan maaf atas cinta yang tak bisa kubalas. Untuk setiap mimpi etta yang belum bisa kuwujudkan.

Aku belajar bahwa cinta menjadi sangat indah dengan kesederhanaannya.
terima kasih untuk Cinta yang selalu ada untukku. 
Selamat Hari Ibu...

Wednesday, November 21, 2012

Pacarku Rani


Sejak seseorang memberikan nomor HPku pada gadis itu, ia sering menelponku. kami menjadi sangat akrab. Setiap malam ia akan bercerita hingga matahari perlahan menampakkan diri di bagian timur rumahku. Ah, apa ini pantas aku sebut rumah, sedang yang aku tempati hanya sebuah kamar berukuran 3 x 4. Tak  ada kasur. Pakainku teronggok begitu saja dalam ransel yang telah usang. Hanya sebuah tas besar berisi kain dagangan disudut kamar.
Aku berada jauh dari kampung. Sebagai seorang pemuda kampungku, sebuah keharusan untuk tidak tinggal dirumah. Pemuda dikampungku tak pernah tinggal di desa. Mereka  berkelana ke daerah lain untuk mencari peruntungannya dengan menjual kain dan sarung. Aku telah setahun lebih berada di daerah kalimantan, dan telah mendapatkan sebuah sepeda motor baru yang dicicil tiap bulan.
Rani, nama gadis itu. Sekalipun belum pernah melihat wajahnya, tapi aku sangat menyukai suaranya. Dari ceritanya ia seorang karyawan di sebuah toko pakaian . Kami masih satu daerah. Nasehat-nasehatnya selalu bisa membuatku tenang. Setiap malam ketika ia menelponku. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana wajah gadis itu. Apakah wajahnya secantik  suaranya yang merdu. Orangnya mungkin telah dewasa. Usia kami memang sudah cukup matang. Usiaku tak kurang dari 26 tahun, dan mungkin Rani tak jauh beda denganku. Rani selalu memanggilku kakak, ntah siapa yang lebih tua.  Ia telah berulang kali memintaku kembali. Aku tak punya alasan pasti, tak mungkin kukatakan motorku membuatku tertinggal di tempat ini. Ia tak setuju aku menyicil motor disini. Katanya itu akan membuat aku tinggal lebih lama.  .
Seperti biasa malam ini ia menelponku.  Kami bercerita banyak, tentang adikku yang sedang kuliah, juga memakai jilbab seperti rani. Walau tak pernah bertemu dengan rani aku sangat mengaguminya. Sangat sulit menemukan gadis berjilbab di daerahku. Kebanyakan yang menggunakannya adalah anak pesantren dan mereka yang sedang kuliah. Apa ia seperti adikku ya? tak pernah melepas jilbabnya kecuali dirumah. Ia seperti adikku yang selalu menasehatiku, kecuali untuk begadang sampai subuh tak pernah ada larangan. Ia rela menghabiskan waktu tidurnya untuk bercerita denganku.
Aku orang yang paling sulit jatuh cinta pada perempuan. Aku sebenarnya tak terlalu pusing dengan kecantikan fisiknya. Aku membutuhkan gadis  sederhana dan sangat perhatian dan sangat sulit menemukannya saat ini, apalagi gadis-gadis belia seumuran adikku. Sangat sulit dipercaya. Mereka lebih banyak yang main-main.
Malam ini aku memintanya menjadi kekasihku. Ia telah menarikku sedemikian dalam, sehingga aku selalu merindukan suaranya di setiap malam. Ia tak menjawab permintaanku,  malah memintaku berpikir kembali. Aku belum pernah melihat bagaimana wajahnya, begitu alasannya. Aku tau aku tak begitu mengenalnya. Ia bertanya bagaimana kalau ia tak secantik yang aku bayangkan. Aku tak peduli, karena aku telah jatuh cinta dan itu semakin menyiksaku.
Seminggu ia tak pernah menelponku. Apa rani marah padaku, HPnya tak pernah aktif. Aku jadi kebingungan sendiri. Dengan setia aku menunggu deringan hp setiap malam, juga berusaha menelponnya.  semoga ia mau mengangkat telponku dan melanjutkan cerita cerita yang telah tertunda. Tahun depan aku akan kembali. Aku akan melamarnya. Aku telah yakin dengan pilihanku. Aku tak peduli wajahnya seperti apa. Kata-katanya telah menjadi nyanyian pengantar tidurku.
Tidak tahan dengan kerinduanku, akhirnya aku menelpon adikku. Ia menertawakanku, mengatakan aku sudah cukup tua untuk jatuh cinta. Tau apa dia tentang   cinta, atau mungkin adikku juga telah jatuh cinta pada teman kuliahnya tapi tak berani mengatakannya padaku. Seperti rani, ia menasehatiku. Bagaimana kalau rani tak seperti yang aku harapkan. Aku akan kecewa dan sakit hati. Ah, adikku, sifatnya sangat mirip denganmu, dan semoga kecantikannya pun sepertimu.
Aku memberikan alamat dan no handphone rani. Adikku janji akan mencarikannya. Ia akan pulang jumat nanti, katanya ia memang sudah rindu pada keluargaku. Andai boleh aku ingin memutar waktu dan sekarang adikku telah berada di rumah, tapi itu tidak mungkin.
Aku bersemangat mengeluarkan motorku. Keinginan untuk pulang semakin besar. Hari ini aku akan masuk ke perbatasan malaysia, menjual barang disana mendapatkan untung yang lumayan. Nilai tukar mata uangnya lebih tinggi, jadi untungnya bisa dua kali lipat. Tiga jam naik motor akhirnya aku sampai ke daerah perbatasan. Ntah apa  nama kampungnya, tapi aku tidak peduli. Yang aku butuhkan orang-orang yang mau membeli barang-barangku.
Aku istirahat sebentar di sebuah warung, setelah letihku hilang aku mulai memasuki rumah rumah penduduk satu persatu. Mereka menyambutku dengan baik. Sangat mudah menjual kain batik karena itu sangat langka disana. Beberapa barangku telah terjual. Hari belum lagi sore, masih ada waktu beberapa jam untuk berkeliling.  
Aku masih sempat memasuki sepuluh rumah sebelum jarum jam tangaku menunjuk angka 4. Sudah saatnya kembali ke rumah. Aku tidak bisa menginap di tempat ini, disini  tak ada penginapan, selain itu juga tidak ada surat izin masuk ke negara lain.
Aku kembali ke warung tadi dan menikmati segelas kopi , mengisi perutku dengan semangkuk mie. Kalau adikku tahu aku makan mie lagi, ia pasti mengomel dengan sangat panjang. Ia akan berceramah betapa tidak baiknya mie untuk aku. Tapi aku tidak peduli, mie makanan yang paling murah sehingga aku bisa mengirit pengeluaranku.
Langit mulai gelap, awan hitam dan tebal sepertinya tak mampu lagi menahan bebannya. Mengambil  uang  dari dompet  dan membayar makanan. Aku segera melarikan motor kembali ke rumah. Belum setengah jalan hujan telah mengguyur. Terpaksa berhenti di tengah jalan. Jas hujan yang kubeli kemarin sore menjadi pembungkus barang daganganku. Aku tak ingin daganganku tersentuh air. Hanya sebuah jaket yang membungkus badanku. Tak perlu waktu lama untuk basah kuyup .
Hujan sangat deras, Air bagai di tumpahkan dari langit. Tubuhku sangat sakit, air tak ubahnya kerikil-kerikil kecil yang dilemparkan. Dua jam aku harus menderita menahan sakit dan dingin. Aku sampai dirumah ketika azan isya telah dikumandangkan. Perjalanan tadi sangat melelahkan. Sampai di rumah aku bersin-bersin, suhu tubuhku mulai tak normal. Sepertinya demam akan menyerang. Semangkuk mie kembali menemani malamku. Aku tak mampu lagi memasak nasi. Kali ini ada telur setengah matang yang menemaninya. Setelah mangkuknya berisi udara kosong, aku mencari sebutir parasetamol di ranselku. Adikku bulan lalu mengirim obat dan multivitamin.
Deringan handphone membangunkan aku. Malam telah larut, tadi aku langsung tertidur setelah makan obat. Suhu badanku kembali  normal. Handphoneku belum berhenti berdering. Dari adikku, tumben ia menelponku malam-malam, biasanya aku yang harus menghubunginya. Ia mendengar suaraku yang parau. Aku tidak bisa membohonginya kalau aku sedang demam. Ia selalu punya firasat yang kuat. Aku tidak dibolehkan begadang malam ini. Begadang akan memperparah sakitku, jadi kalau aku mau cepat sembuh aku harus tidur lebih awal dan besok tiadk boleh keluar. Aku harus kembali ke Malaysia besok. Hari ini aku mendapat untung yang lumayan, bisa sekali bayar cicilan motorku. Ia memintaku me non aktifkan Hpku, katanya biar tidak ada yang menggangguku. Aku tidak akan melakukannya, siapa tau rani mau menghubungiku.
Setengah jam aku medengar ocehannya, aku tidak membantahnya, karena ia memang lebih tahu. Katanya kurang tidur yang membuat kondisi fisikku lemah, jadinya gampang sakit. Ia memintaku istirahat.

###

Dua bulan kemudian aku kembali ke kampung. Aku akan tinggal disana selama sebulan, setelah itu kembali lagi ke kalimantan. Aku dan rani telah berpacaran tanpa pernah bertatap muka. Adikku sangat kaget, katanya aku terlalu ceroboh.  rani sangat senang mendengar kabar aku akan pulang bgitupun keluargaku. Jadwal keberangkatanku belum diketahui siapapu. Aku akan muncul begitu saja di depan kost adikku. Bersama kembali ke kampung. Semuanya telah aku atur. Sudah setahun lebih aku tak melihat mereka, aku sangat merindukannya.
Sampai di rumah kelurgaku berkumpul. Ibu menangis haru bertemu denganku. Kebahagian itu berubah ketika aku mengatakan aku akan kembali ke kalimantan. Mereka melarangku kembali kesana. Aku terpaksa menceritakan cicilan motorku. Selama ini hanya aku dan adikku yang tahu. Adikku bisa juga menyimpan rahasia. Setelah semuanya istirahat aku mendekati adikku dan memaksanya cerita tentang rani. Ia tidak mau bercerita. Aku disuruh melihatnya sendiri. besok aku akan memaksanya menemaniku menemui rani. Ia telah duluan mengenalnya.
Aku ke tempat kerjanya bersama adikku. Ia tak tahu kalau aku akan menemuinya hari ini. Adikku menunjukkan toko tempat rani bekerja. Rani bekerja pada keluarganya sendiri. ia dipercaya mengelola toko itu. Toko itu sangat sepi. Karyawannya hanya duduk bercerita di depan pintu. Aku memperhatikan satu persatu tiga gadis itu. Mungkin salah satu diantaranya adalah rani. Aku tidak akan menyesal. Wajah ketiganya lumayan manis. Salah satunya terkesan genit. Mungkin cewek yang lebih pendiam itu adalah rani.  Salah satunya berdiri melayaniku. Gadis yang pendiam itu. Apa ia raniku? Adikku telah muncul. Kami memang sengaja tidak masuk bersamaan, bahkan pura-pura tidak kenal.
“Rani kemana?”adikku bertanya.
“Tidak tau” jawab salah seorang gadis.
Aku mendengar pembicaraan mereka. Rani sedang keluar, kerumah teman katanya. aku jadi lesu, aku tidak bisa menemui rani. Aku mencari baju yang cocok tapi tak ada lagi yang sesuai seleraku. Setelah sedikit berbasa-basi pada karyawan yang menemaniku, aku keluar dari toko itu. Tak lama adikku menyusul.
Kami menyusuri jalanan. Aku mengajak adikku ke rumah rani. ia tidak mau, katanya rani tidak ada di rumah. Rani  bisa di temui di rumahnya sebentar malam. Berputar-putar tanpa arah di kota. Depan sebuah toko, adikku menarik masuk.  Kemarin aku janji akan membelikannya sebuah baju. Ia sibuk mencari baju, dari rak yang satu ke yang lain. Setengah jam berada dalam toko. belum ada satu bajupun yang menarik minatnya. Adikku keluar dengan wajah cemberut.
Sebuah sepeda motor baru terparkir depan halaman. Adikku terus ke warung. Seorang perempuan setengah baya duduk sendirian di ruang tamu. aku melihatnya sekilas. Perempuan itu kelebihan berat badan beberapa kilogram. Wajahnya merah keunguan. Pasti ia banyak menggunakan bedak pemutih yang membuat kulit terkelupas. Aku mengingat kakakku pernah menggunakannya . Sebulan wajahnya sangat putih tapi setelah beberapa lama terkena sinar matahari, wajahnya tak lagi putih. Mungkin tamu kakakku.
Aku terus ke kamar. Melihat handphoneku yang tadi sedang di chass. Baterainya sudah penuh.
“ran…aku tadi ke tempatmu, kamu lagi dimana?”aku mengirim pesan singkat.
Tak lama sebuah pesan masuk. Aku membacanya. Sekarang aku dirumahmu, kamu kemana sih, udah sejam aku menunggu. Cepat pulang ya…
“dia rani…”pikirku. Aku tertunduk lesu. Semuanya jauh dari yang aku bayangkan. Ini yang dimaksud adikku. Aku memang ceroboh.
Aku menemuinya dan meminta maaf karena tak mengenalinya. Adikku datang juga. ia duduk di sampingku  menemani rani ngobrol. Aku kebingungan sendiri. ntah apa yang ada dipikiranku. Semuanya jadi kacau.  Rani ternyata seumuran kakakku. Tak lama terdengar ibu memanggil adikku.
Kami kembali berdua di ruang tamu. setengah jam adikku tak keluar-keluar juga. aku kira ibu tadi memanggil adik membawakan minum untuk kami. Aku masuk ke dalam, wajah ibu dan kakak cemberut, mereka duduk terpaku depan TV. Aku masuk ke kamar adikku, ia sibuk dengan bacaannya.
“ibu melarangku buat minum, ibu tidak suka, katanya rani tidak cocok”
Tidak cukup sejam aku ngobrol dengan rani, ia sepertinya sadar kalau penghuni rumah itu tak menyukainya.
Aku tahu ibu dan kakak tak menyetujui hubungan kami.

Thursday, September 13, 2012

Karena tak bisa baca tulis


Namanya Dg.Nali, tapi kami tak pernah menyebut nama itu. Kami memanggilnya Mache, kalau mencarinya kami menyebut Mamanya Sudding. Mereka sekeluarga tinggal di belakang BTN Asal mula. Dulu tempat itu adalah rawa-rawa yang sangat hijau, tapi sekarang pelan-pelan telah dibangun menjadi perumahan. Rumahnya tentu tak seperti yang lain, rumah panggung sederhana yang tinggi tiangnya tak lebih dari semester diatas tanah.
Jum’at sore minggu lalu kami berkumpul di pinggir danau UNHAS. Saya, Ibhe, Taufik, Anca, Gina, Tamy, Kak Tenry dan Aliph. Berbincang lepas karena lama tak bertemu sejak lebaran. Taufik bercerita kalau ia pernah ke Sekolah KAMI. ada masalah dengan Dg.Gassing, suami Dg.Nali. motor yang mereka cicil 21 bulan lalu diambil paksa oleh perusahaan financenya. Ponakannya menngendarai motor itu, dan diambil ditengah jalan. Katanya sudah 10 bulan nunggak.  Bukan hanya Dg.Gassing, keluarganya Bagas juga jadi korban penipuan. Motornya juga sementara dicari oleh collector finance.
Kami mendengar cerita Dg.Nali, akhir 2010 keluarga itu mengeluarkan motor Honda. Ponakannya Rahman, menunjukkan seorang keluarganya, tempat ia mengambil motor. Namanya Sulkifli, bekerja sebagai buruh di pelabuhan. Karena mereka tak punya kartu keluarga dan KTP tentu tak bisa melakukannya sendiri, apalagi dengan kondisi rumah yang sangat sederhana. Tentu, tak akan lolos verifikasi finance. Motor itu atas nama Sulkifli, tagihan motor ia minta setiap bulan. Mace tak pernah telat membayarnya, karena takut motornya bermasalah. Selalu pula dia mengingatkan Sulkifli agar tak membodoh-bodohinya.
Mache membayar 560.000 setiap bulan, itu dikumpulkan dari hasil memulung sekeluarga. Mace, Pace, nenek, Sudding, Sultan dan Rahul. Sesekali uang yang mereka kumpulkan tak cukup, sehingga harus mencari pinjaman lain. Motor itu satu-satunya harta berharga dalam rumah itu. Dikumpulkan dari kerja keras sepanjang hari, berkeliling UNHAS dan perumahan untuk mengumpulkan botol-botol dan gelas air kemasan.
Aku melihat bukti-bukti pembayarannya Bersama Anca, Taufik dan Ibhe. 10 tanda bukti masih berasal dari finance, tapi setelah itu bukti yang diberikan ke Dg.Nali adalah fotocopian dari pembayaran ke 10. Tak ada yang beda, begitu terus setiap bulan.
Dg.nali dan Dg.Gassing tak bisa baca tulis, dan mereka baru memeperlihatkan bukti itu setelah motornya ditarik. Mace sama sekali tak paham, bahkan juga tak tahu nama finance tempatnya mengeluarkan motor.
Semua berdasarkan kepercayaan. Kepercayaan Mache pada Sulkifli. Sebenarnya Syamsuddin anak tertua sudah lancar baca tulis, bahkan pernah menginjak bangku sekolah. Syamsuddin mengaku tak pernah melihat bukti pembayaran itu. Mace menyimpannya sendiri, ia sangat percaya pada SUlkifli.
Kami menemani Mache ke LBH, disana mungkin  mendapat harapan agar hak mereka bisa kembali.  
Kali ini mereka belajar, bahwa baca tulis demikian penting. Mereka kehilangan kerja keras selama 10 bulan, hanya karena tak bisa membaca bukti kertas yang diberikan Sulkifli. 

akhirnya ada waktu untuk berbagi cerita
Semangat kawan, langkah kita tak akan berhenti disini
14 September 2012